” Tulisanmu Adalah Harimaumu “

1290714851384235522
shintiahotono.com

 

Pasti kita pernah mendengar peribahasa ” Mulutmu Adalah Harimaumu ” yang mengandung arti kalau berbicara harus berhati-hati karena akan berakibat fatal bila tidak dikontrol dan sembarangan. Ternyata peribahasa tersebut berlaku juga bagi sebuah tulisan sehingga saya menyamakan istilahnya menjadi ” Tulisanmu Adalah Harimaumu” .

Beberapa hari ini saya jarang menulis dan lebih banyak membaca kembali tulisan-tulisan lama yang pernah dibuat. Dari sekian banyak tulisan yang dibaca dan direnungkan, ternyata hampir sebagian besar tulisan saya yang awalnya dianggap sebagai ide atau ungkapan rasa malah menjadi kenyataan, pantulan diri, dan kadang kalai mengalami kejadian yang kurang mengenakkan. Langsung saja saya berpikir apakah benar sebuah tulisan bisa memberikan efek balik bagi yang menulisnya.

Saya berusaha berpikir dan mencari tahu apakah hal tersebut benar adanya. Ternyata saya mengambil kesimpulan bahwa hal ini berkaitan dengan apa yang ada di dalam batin. Kalau bicara batin maka tidaklah salah bila apa yang ada di dalam batin adalah ungkapan perasaan yang identik dengan doa.

Doa ? Ya doa. Seperti kita melakukan doa kepada Yang Maha Kuasa maka kita harus mengucapkan dan memohonnya dengan hati (batin) yang tulus dan ikhlas. Apabila batin kita banyak berbicara tentang hal yang baik maka yang terjadi adalah kebaikan. Sebaliknya bila batin banyak bicara tentang hal yang buruk maka hasilnya adalah keburukan.

Memang banyak orang mengatakan ide sebuah tulisan bukan hanya berasal dari banyak bacaan tetapi bisa saja dari apa yang dilihat. Apa yang dilihat tidak langsung dapat menjadi tulisan tanpa diolah terlebih dahulu dari akal pikir dan hati (batin) sehingga dihasilkan sebuah tulisan yang menarik, mengalir, runtun dan menyebarkan kebaikan atau keluar aura positif dari tulisan yang dibuat.

Untuk itu tidaklah salah kalau tulisan bisa memberikan berbagai macam dampak bagi banyak orang. Tetapi semuanya tergantung kepada sang penulis, apakah mau menggunakan hati/batinnya untuk kebaikan atau tidak.

Seperti pada tulisan saya tentang sebuah nasehat, maka berhati-hatilah dalam menulis dan memperbanyak “Istighfar” dengan harapan apa yang ditulis tidak menimbulkan efek samping atau pantulan yang kurang baik bagi diri. Karena ‘Tulisanmu adalah Harimaumu’

 

IPTEK dan Kompasiana

Beberapa hari ini banyak teman yang bertanya kepada saya. Mengapa sekarang ini saya lebih banyak mempublikasikan tulisan-tulisan ilmiah atau lebih dikenal dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)? Puncaknya adalah kemarin sore setelah saya berdiskusi dengan salah satu kompasianer. Kompasianer tersebut mengatakan apakah saya mengetahui dampak dari tulisan Iptek berkaitan dengan berkurangnya pembaca dan komentar di lapak saya. Saya hanya bisa tersenyum dan diam sejenak.

ldcsb.on.ca

Saya sudah sangat mengerti konsekuensi dari tulisan iptek yang dibuat terutama masalah jumlah pembaca dan komentar. Perlu diketahui tujuan saya menulis tentang iptek di Kompasiana bukan tanpa maksud. Semua ini saya lakukan sebagai penyeimbang tulisan yang banyak beredar di Kompasiana. Kalau kompasianers pernah membaca tulisan saya berupa survei kecil-kecilan tentang tulisan-tulisan yang ada di Kompasiana maka dapat disimpulkan telah terjadinya ketimpangan tema tulisan. Memang benar kalau menulis disesuaikan dengan apa yang dikuasai dan hak seseorang untuk menulis tema apapun yang disukai. Saya menghormati itu.

Tetapi ada satu yang mengganjal dan ini harus saya sampaikan untuk menyadarkan kita tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi bagi perkembangan bangsa dan negara. Apalagi IPTEK berkaitan erat dengan dunia pendidikan. Banyak orang yang mengamini dan mengatakan kalau pendidikan adalah salah satu kunci kemajuan sebuah bangsa. Maka itu Iptek dan pendidikan adalah dua mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Kalau kita mau memperhatikan banyaknya diskusi yang berjalan dan berkembang di mana saja atau khususnya di Kompasiana ini maka tanpa sengaja kita akan menemukan banyaknya opini yang berkembang tanpa disertai dengan data dan informasi yang valid, ajeg dan lengkap. Sebagian besar berdasarkan opini media atau “katanya”. Ini sangatlah memprihatinkan apalagi yang mengatakan atau berargumen kebanyakan dari kaum intelektual dan terpelajar dimana sebagian besar adalah lulusan perguruan tinggi. Bukan saya ingin memandang remeh kompasianers tapi dengan rasa kerendahan hati saya ingin mengajak kompasianers untuk berargumen dan berbicara dengan data, fakta dan informasi yang ajeg dan terpercaya.

Ahhh saya tidak punya waktu ? Saya maklumi itu tetapi apakah tidak sebaiknya diam dan menghindari argumen-argumen yang tidak produktif. Memang kelihatannya ideal sekali tetapi itulah harapan saya di kompasiana ini.

Coba kita perhatikan mengapa sampai saat ini negara kita belum kelihatan adanya perubahan dan kemajuan yang memadai serta dibanggakan. Tampak berjalan di tempat padahal banyak sekali penelitian-penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi, institusi riset dan pengembangan, lembaga pemerintah yang berkaitan dengan iptek tetapi belum banyak mendapatkan tempat untuk mempopulerkan hasil penelitiannya. Kalaupun ada itu hanya bersifat eksklusif. Jarang sekali saya menemukan sebuah wadah baik off maupun on line yang menyediakan wadah bagi jurnal-jurnal penelitian. Aplikasi tidak akan ada tanpa didasari oleh studi awal yaitu penelitian.

Contoh yang mudah dan sederhana adalah banyak komentar di tulisan-tulisan saya baik mengenai pemerintahan, psikologi, seks dan lain-lain yang mempertanyakan bagaimana kondisi yang sebenarnya terjadi di Indonesia. Apakah ada penelitian yang sama di negeri tercinta. Mengapa harus mempublikasikan penelitian dari luar ? Saya hanya bisa menjawab begitulah yang terjadi di negeri ini tetapi dengan mempublikasikan penelitian dari luar Indonesia maka setidaknya dapat membuka mata kita kalau sebenarnya banyak hal-hal kecil dan tampak di depan mata yang sering diabaikan. Dan satu hal yaitu sebenarnya banyak hal yang belum diketahui oleh kita mengenai kehidupan di dunia apalagi kita sudah menjadi bagian dari warga dunia.

Selain itu banyak orang yang mengatakan betapa tingginya biaya yang harus dilakukan untuk mengadakan sebuah penelitian. Ya kalau kita selalu berkiblat dengan penelitian di luar negeri maka memang membutuhkan teknologi canggih. Masyarakat Indonesia yang masih hidup dalam kesederhanaan sangat membutuhkan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna dan bersentuhan langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari. Jadi banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengungkapkan banyak masalah dan pertanyaan yang ada di tengah masyarakat. Sederhana saja, lihat bagaimana perkembangan dunia pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan di negeri ini. Silahkan menjawab sendiri.

Jadi dengan memanfaatkan pesatnya perkembangan teknologi informasi maka sudah saatnya kita mau memperkenalkan dan mempublikasikan hasil karya para ilmuwan negeri ini. Perlu ada wadah atau fasilitator yang menjadi perekat semua hasil penelitian unggulan yang pernah dilakukan oleh para peneliti bangsa ini dari manapun di seluruh Indonesia. Dan itu harus dimulai dari tulisan-tulisan sederhana tentang iptek di Kompasiana ini. Bagaimanapun juga sebenarnya para peneliti tersebut adalah kepanjangan tangan Tuhan untuk memberikan petunjuk kepada manusia tentang kebesaranan ciptaanNya melalui hasil-hal penelitiannya. Dengan ilmu dan amalnya maka dapat menunjukkan “jalan yang lurus” agar manusia beriman kepada Yang Maha Kuasa.