Unjuk Gigi

kotamabouabane.com

 

suaranya menggelegar kemana-mana

mengeluarkan sinar yang menggelora

menyambar kesana kemari mencari dilusi kesatuan

terhempas kemarahan diri

 

kilat itu menunjukkan kegagahannya

berani merentang dan merentas kegundahan

tumpah ruah rasa marah

mengingatkan manusia akan datangnya azab

 

air itu turun terus menerus

tanpa henti untuk menahan

inilah aku katanya tenang

kekuatan yang disepelekan

 

sambar dan sambar terus

jangan berhenti

sampai datangnya kesadaran akan kelemahan

biarkan cambuk-cambuk cahayamu di sebatkan kemana-mana

bagaikan algojo menjalankan perintah

menuntaskan apa yang belum tertuntaskan

Iklan

Marah Dalam Diamku

in silent rage (www.artbyjana.com)

Kami tahu kalau kau marah sekali. Tetapi kami memohon kepadamu untuk menahannya. Karena kami tahu kalau kau marah maka kau diam. Itulah yang kami takutkan. Tertawalah dan nikmati hidup ini dengan canda. Sekali lagi kami mohon karena kami tahu dan takut kalau kau marah dalam diammu. Amarah batinmu itulah yang kami takutkan karena semuanya bisa menjadi kenyataan. Kami telah menyaksikan semua akibat dari amarah batinmu. Seceduk metu seucap nyata.

Kau datang dalam kondisi yang mengenaskan. Kuterima semua kekuranganmu dan aku tahu kau dalam kondisi susah walaupun sebetulnya aku muak melihat bila mengingat masa lalu.

Ingatkah ? Saat kau berada di puncak karirmu. Sekali ku menelponmu dan meminta bertemu denganmu agar kawanku bisa dicarikan kerja. Tapi apa yang kau katakan kepadaku. ” Ahhh kau ini bagaimana ? Hidup kau saja sudah susah dan luntang lantung masih saja memikirkan orang lain. Pikirkan saja dulu hidupmu. “

Ingat khan ?! Tapi apa yang terjadi kemudian, aku masih bisa menerimamu sebagai keluarga. Kau datang hanya dengan sendal jepit butut, kurus kering dan menangis di hadapanku kalau kau dan keluargamu sudah seminggu tidak makan. Apalagi saat itu bulan suci Ramadhan. Aku selalu mengingat kejadian tersebut. Bukan aku ingin dipuji atau dianggap riya. Aku ikhlas dan kau tahu sendiri kalau saat itu hidupku juga sama denganmu, Tetapi aku lebih beruntung karena aku mempunyai banyak teman yang membantu. Itulah buah dari silaturahim yang selalu kujalani. Susah atau senang kondisi teman tetap saja ku usahakan untuk mengunjungi. Bagaimana dengan kau ?!

Lihat kondisimu saat itu. Tak ada yang menolongmu bahkan saudara kandung sekalipun. Tetapi aku masih punya hati nurani. Karena aku merasa yakin kalau manusia itu pada dasarnya baik dan yang kubenci dari manusia itu adalah perbuatannya.

Dengan segala cara kubantu agar pada bulan suci itu kau dan keluargamu mendapatkan kenikmatan dan kemurahan dari Allah SWT. Bukan aku yang menolongmu tapi Allah SWT karena aku hanyalah perantara yang tidak punya apa-apa.

Seiring jalannya waktu, kau selalu datang ke tempatku. Dengan seringnya kau bersilaturahim maka kau mendapatkan cahaya kehidupan. Kau bisa bekerja kembali dan keluarga besarmu kembali memandangmu. Tidak lagi mengecilkanmu.

Tapi apa balasanmu kepadaku ? Kau berkhianat dan tidak amanah. Kau ingkari semua dan tidak menganggap segala kebaikan yang diberikan dari aku dan teman-temanku. Kau katakan kepada semua orang kalau kami telah menjerat dan mengikatmu sehingga kau tidak bisa berbuat apa-apa. Seolah-olah kami menghambat perkemabngan karirmu. Kami akan sangat berbahagia kalau kau sukses. Ya sudah kalau kau menilai kami sebagai orang-orang yang tidak berguna dan mematikan rejekimu. Kami terima semuanya dengan ikhlas bahkan ikhlas kalau segala apa yang kami berikan selama ini tidak ada pahalanya. Ambil dan ambillah pahala itu Asal kau tahu kalau kami tidak iri dan cemburu melihat keberhasilanmu. Karena kami tahu Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.  Rahman Rahim Nya itulah yang menjadi dasar kami berbuat.

Marahkah aku ? Kalau ku ingat semua pengkhianatan ini maka aku akan marah. Tetapi aku tidak bisa karena kau telah kuanggap saudara. Tapi aku juga merasa kuatir kalau kau tiba-tiba membuatku diam. Itulah yang kutakutkan yaitu MARAH DALAM DIAMKU

Meluap

Overflow (steamwaycarpetcare.com)

Kuterdiam, kuterduduk, kutermenung

Hujan mulai menunjukkan giginya

Air terus menerus menyirami bumi

Tanpa sadar kelembaban menyentuhku

Tak ada lagi alasan untuk menolaknya

Sebuah rahmat yang Tuhan berikan

Memberi arti saatnya untuk bersikap

Arah mana yang akan dituju

Aliran itu terus bersorak

Menandakan adanya pemufakatan

Diterima atau tidak sudah menjadi kuasaNya

Berdiri menyaksikan kebesaran hikmah

Kutahu saatnya datang

Kekuatan alam yang bergelora

Menyemangati semua yang mengelilinginya

Pertunjukkan akan segera dimulai

Tepuk tangan alam terdengar riuh rendah

Menggema dengan kerasnya

Bersahut-sahutan di setiap waktu

Suara pilu berdendang di mana-mana

M A R A H

Marah (http://www.freewebs.com/tyranus009/)

” Marah ? “

” Ya, memang saya marah “

” Tapi kamu biasa-biasa saja ekspresimu “

” Biasa ? Ya biasa-biasa saja karena saya marah dalam diam “

” Apa yang membuat kamu marah ? “

” Saya marah bukan karena perbuatan mereka “

” Lantas ? “

” Saya marah karena telah menyerahkannya kepada mereka “

” Memang kenapa dengan mereka “

” Tidak usah dibicarakan karena akan menambah marahku makin menjadi-jadi “

” Tapi apa yang kamu serahkan “

” Seandainya waktu itu saya tidak serahkan kepada mereka, mungkin “

” Mungkin apa ? “

” Mungkin dia tidak akan bernasib seperti ini “

” Tapi mereka khan memang punya hak “

” Ya dan benar sekali, mereka punya hak. Karena mereka adalah orang-orang yang telah melahirkannya. Tapi …. “

” Tapi apa ? :

” Dari sejak lahir sayalah yang merawatnya dengan harapan dia bisa tumbuh besar sebagai insan yang sehat akal dan hati sehingga dapat berguna bagi diri, mereka yang melahirkan dan sebagainya. “

” Ohhhhhhh gitu, terus apa yang terjadi “

” Lihat…lihat kawan, dia sudah tidak seperti manusia lagi. Badan kurus kerempeng, tulang belulang yang tampak di hampir seluruh tubuhnya, diam tanpa ekspresi, menangis kesakitan akibat tidak diberi makan, kulitnya kering kerontang tanpa pelembab, wajahnya sudah mendekati wajah tengkorak. Ya seperti yang ada di negeri-negeri Afrika dalam kondisi kelaparan yang endemik. “

” Saya menangis melihatnya. Apakah benar itu dia ? Dia yang dulu sehat dengan tawa cerianya, merangkak ke sana kemari, menggemaskan dan selalu membuat rindu seisi rumah. “

” Ya itulah dia. Saya sudah tidak sanggup lagi untuk berkata-kata dan air mata ini sudah tidak bisa terbendung lagi “

” Ohhhh, sungguh sayang dirimu kepada dia “

” Saya sayang bukan karena dia dekat dengan saya tapi dia adalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Kok bisa-bisanya mereka yang melahirkan sampai masa bodo dan berbuat tega terhadap dia. “

” Dimanakah mereka sekarang “

” Saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang kutahu salah satu dari mereka telah meninggal karena stres dan tidak mau makan disebabkan oleh percecokan sesama mereka.Yang membuat saya kaget adalah kok mau mati saja harus mengajak dia yang tidak berdosa “

” Berapa lama tidak makan “

” Hampir 2 minggu tapi Alhamdulillah dia selamat dan segera mendapatkan perawatan di rumah sakit. “

” Tragis “

” Ya tragis, semua itu terjadi karena mengatas namakan cinta padahal itu hanyanlah nafsu syahwat yang menyelimuti mereka saat sedang kasmaran “

” Dimana sekarang salah satu dari mereka ? “

” Saya tidak tahu. Kudengar sibuk main futsal “

” Bagaimana dengan dia ? “

” Tidak ada secuilpun dipikirkan oleh salah satu dari mereka tersebut. “

” Kurang ajar, keterlaluan, bangsat …… dst “

” Lho kok malah sekarang kamu yang marah “

” Bagaimana tidak marah, melihat kelakuannya. Akan saya pukul nanti kalau dia pulang “

” Hahahahaaha marah telah menghasutmu. “

” Tapi kamu marah juga khan “

” Ya tapi saya marah karena seharusnya saya rawat dia dan menolak menyerahkan kepada mereka yang tidak punya hati dan idiot “

” Ahhhhhh berarti sama khan marah-marah juga “

” Hahahaahahahahahaahaha marah dalam kegembiraan “

NB: Saya persembahkan tulisan ini kepada seluruh anak di Indonesia yang nasibnya kurang beruntung karena disia-siakan orang tuanya. Khususnya anak-anak yang menderita busung lapar, terkena virus HIV, dan penyakit berbahaya lainnya.