Mesjid Bayan Beleq Yang Membuat Mata Melek

Suhu Lombok yang mendekati 33 derajat Celcius berimbas kepada kepala saya sakit. Selesai makan pagi di hotel, saya segera konsumsi obat sakit kepala. Akibatnya selama perjalanan menuju Pusuk Sembalun saya lebih banyak tertidur sehingga kurang dapat menikmati indahnya alam yang menuju ke sana.

Tanpa terasa kurang lebih 2 jam perjalanan terlewati dan saya terbangun karena mobil berhenti di satu tempat. Terpampang tulisan ” Taman Nasional Pusuk Sembalun “, segera saya keluar dari mobil dan mengikuti istri ke satu tempat yang kelihatannya bagus untuk foto-foto. Untungnya cuaca di Sembalun cerah tapi tidak panas menyengat bahkan boleh dikatakan sejuk.

DSCN2879
Dok. Cech 2016
DSCN2880
Dok. Cech 2016

Setelah 2 jam kami menikmati udara sejuk di Sembalun, perjalanan dilanjutkan menuju tempat pembuatan dan penjualan mutiara khas Lombok. Kembali saya tertidur rupanya pengaruh obat belum hilang juga.

Tiba-tiba mobil berhenti di satu tempat dan tanpa terasa kurang dari satu jam saya tertidur.

“Ini tempatnya Mas Cech yang kemarin saya ceritakan”  ujar Pak Nasib, sang supir.

” Tempat apa ya Pak? ” tanya saya.

” Mesjid tertua di Lombok, Mesjid Bayan Beleq ” jelasnya.

Segera saya keluar dari mobil, panas mulai terasa di badan. Letak mesjid tersebut berada di pinggir jalan utama Lombok Utara. Sebelum masuk terpampang tulisan Mesjid Kuno Bayan Beleq Yang termasuk National Heritage atau dilindungi negara. Tepatnya mesjid ini ada di Desa Bayan, Kecamatan Bayan Lombok Utara.

DSCN2904
Dok. Cech 2016

Di pintu masuk kami langsung dipandu oleh seorang anak muda yang sepertinya pemandu wisata mesjid tersebut. Kami diharuskan mengisi buku tamu dan dipersilakan untuk memberikan sumbangan sukarela karena tidak ada ketentuan membayar tiket masuk ke area mesjid tersebut.

Dari tempat pengisian buku tamu, bangunan tua seperti bangunan mesjid pada umumnya jelas terlihat. Posisinya berada di dataran tinggi, bentuk bangunan mesjid tersebut serupa dengan bentuk bangunan rumah-rumah tradisional asli masyarakat Bayan. Bangunan mesjid berbentuk bujursangkar berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah liat yang dikeraskan dan dilapis dengan anyaman tikar bambu. Atap tumpangnya dibuat dari bilah-bilah bambu. Pondasi mesjid menggunakan batu kali tanpa semen.

DSCN2895
Tampak depan mesjid (Dok. Cech)
DSCN2891
Tampak belakang (Dok. Cech)
DSCN2893
Gentong penampung air wudhu (Dok. Cechgentong)

Di depan pintu mesjid terdapat gentong yang diikatkan pada sebuah pohon. Mungkin fungsinya untuk penyimpanan air wudhu. Seperti diketahui Lombok merupakan wilayah kering dan tadah hujan. Selanjutnya ketika saya ingin berjejak ke dalam mesjid. pintu mesjid tertutup dan istri ingin kembali ke mobil karena suhu udara saat itu panas sekali.

Menurut pemandu, Mesjid tidak lagi dipakai untuk umum dan hanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti acara Maulid Nabi SAW Itupun dengan peraturan yang sangat ketat karena daya tampungnya hanya untuk 40 orang saja dan sebagian besar adalah kyai. Itulah mengapa pintu mesjid terkunci rapat. Tetapi wisatawan masih diperkenankan mengambil foto dari celah dinding bambu yang seperti sengaja diberi celah yang cukup untuk kamera.

Selain itu pemandu juga menjelaskan tentang adanya makam besar (Beleq) yang terdapat di dalam tersebut yaitu makam Syekh Gaus Abdul Rozak, salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan Bayan. Ada 4 tiang soko guru dari pohon nangka yang menyangga bangunan mesjid. Beduk kayu terlihat juga didalam mesjid dan tergantung di tiang atap mesjid. Di belakang kanan dan depan kiri mesjid terdapat 2 gubuk kecil. Di dalam kedua gubuk tersebut terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus mesjid ini sedari awal. 

DSCN2897
Beduk kayu (Dok. Cech)
DSCN2899
Atap mesjid (Dok. Cech)
DSCN2902
Bangunan belakang kanan (Dok. Cech
DSCN2896
Bangunan depan kiri (Dok. Cech)

Berdasarkan informasi dari pemandu, Mesjid Bayan Beleq didirikan pada abad ke-17 oleh Sunan Ampel. Dalam penyebaran agama Islam di Lombok Sunan Ampel dibantu oleh salah satu muridnya Syekh Gaus Abdul Rozak yang berasal dari Irak. Tetapi berdasarkan beberapa literatur belum jelas diketahui siapa yang pertama kali membangun Mesjid Kuno Bayan Beleq.

Tidak terasa 1 jam saya berada di lingkungan mesjid tersebut. Setelah itu saya memberikan salam perpisahan kepada pemandu dan segera menuju ke mobil. Baru saja saya membuka pintu,  tiba-tiba istri mengatakan, “Serem Mas tempatnya maka itu tadi saya kabur duluan ke mobil. Kalau menurut mas bagaimana?” Saya pun menjawab ” Hmmm, justru Mesjid Kuno Bayan Beleq ini membuat mata saya melek. Melek adanya bukti penyebaran Islam di Lombok dan melek terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kasat mata seperti…. Iiiihhh serem!!!  “

Mobil langsung digas oleh Pak Nasib menjauhi lokasi mesjid kuno tersebut menuju Pantai Nipah untuk kembali melek menikmati Sunset.

DSC_0057
Sunset di Pantai Nipah (Dok. Cech)

PERISIEAN Beradu Maka Hujanpun Datang

DSCN3050

” Pak, acara gebuk-gebukan khas Lombok apa namanya ya?  Tanya saya kepada Pak Nasib, Supir mobil sewa yang mengantar kami keliling pulau Lombok.

” Oh PERISIEAN namanya. Mau melihat? Saya akan antar ke lokasinya. Seminggu diadakan 4 kali dan Dinas Pariwisata Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat yang menyelenggarakannya. Biasanya dimulai pada pukul 16.00. ” jelas Pak Nasib.

” Menarik, kami ingin melihatnya, Pak ” pinta kami.

” Oke, Mas Cech ”

Ternyata lokasinya berada di daerah Cakranegara Utara, Mataram. Lokasinya cukup strategis di tengah kota Mataram dan berada di dalam area kuil Hindu yang berdekatan dengan mesjid. Walaupun hujan, tak menyurutkan kami untuk menyaksikan PERISIEAN. Dengan membeli tiket VIP Rp. 20.000 per orang segera kami diantar menuju panggung sehingga kami dapat melihat dengan jelas pertarungan para pepadu. Sementara Pak Nasib dipersilakan masuk secara gratis karena berhasil membawa wisatawan luar Lombok untuk menyaksikan PERISIEAN.

DSC_0059

image

image

Arena pepadu masih lengang walaupun para penonton memasuki area kuil. Penonton masih masih mencari tempat berteduh karena hujan masih deras. Walaupun hujan, panitia telah menyiapkan segalanya mul dari alat musik tradisional, tongkat pepqdu, tamèng,  kursi pengamat, karpet untuk masing-masing kubu pepadu dan lain-lain.

Saat kami menunggu hujan reda, seorang tetua menghampiri kami dan menjelaskan bahwa PERISIEAN adalah acara adat suku Sasak. Nenek moyang suku Sasak melakukan PERISIEAN dengan tujuan mendatangkan hujan karena sebagian besar wilayah suku Sasak daerah jarang hujan atau daerah kering. Hujan dipercayai akan datang apabila kepala salah satu pepadu bocor berdarah akibat kena pukulan tongkat rotan yang keras sekali. Tetapi saat ini PERISIEAN diselenggarakan sebagai acara budaya saja supaya abadi dan lestari.

image

image

Tepat pukul 16.00 acar dimulai. Pembawa acara meminta penonton untuk mendekati arena. Kebetulan hujan telah berhenti. Musik tradisional dimainkan, wasit utama berkaos kuning, 2 pengumpul sawer dan manajer kedua kubu memasuki arena sambil menari dengan girangnya.

Ada 3 sesi acara PERISIEAN hari itu yaitu sesi pertama untuk pepadu pemula, kedua untuk 2 pasang pepadu remwjw dan terakhir sesi utama 5 pepadu dari Narmada melawan 5 pepadu dari Semoyang. Menariknya sebelum dimulai, pembawa acara mengingatkan para hadirin tentan 4 pilar kebangsaan Indonesia yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI. Dan suku Sasak adalah salah satu suku di Indonesia yang akan mempertahankan 4 pilar kebangsaan Indonesia tersebut.  Para hadirin menyambut dengan semangat, bersorak sorai dan bertepuk tangan sebagai tanda kesetiaannya. Luar biasa.

image

image

Panitia mengumumkan aturan main dalam PERISIEAN diantaranya pepadu dilarang menusut tongkat ke tubuh lawan, pepadu dilarang memukul apabila lawan terjatuh, dan pepadu dinyatakan menang apabila kepala lawan bocor berdarah terkena pukulan tongkat rotan. Pertarungan dinyatakan seri apabila tidak ada pepadu yang bocor berdarah kepalanya. Ada 4 ronde dalam satu pertarungan. Waktu setiap ronde 60 detik.

image

image

Tanpa terasa sesi pertarungan pertama dan kedua berakhir seri. Selanjutnya acara utama yang mempertemukan 5 pepadu dari wilayah Narmada dan Semoyang dimulai. kelima pepadu dari kedua kubu diperkenalkan di sudutnya masing-masing. Kemudia Manajer dan dukun kedua kubu dikumpulkan oleh wasit utama di tengah arena. Wasit utama mempersilakan kedua kubu bersalaman. Kemudian wasit utama menjelaskan aturan main secara detil kepada kedua kubu.

image

image

image

Kelima pepadu bertarung dengan semangatnya. Kedua pendukung bersorak sorai memberi semangat pepadu jagoannya. Ngeri juga melihatnya tetapi para pepadu tidak terlihat kesakitan walaupun jelas terlihat badannya lembam terkena sabetan tongkat rotan nan keras. Senyum seringai dan kepuasan dari wajah penonton tampak sekali walaupun pertarungan berakhir dengan seri.

” Ini bukan masalah menang atau kalah tapi peninggalan leluhur tetap lestari dan terjaga. Persaudaraan suku Sasak tetap kuat ” terang tetua pertarungan.