Mengetahui Kadar Emosional Seseorang Dari Tulisannya

Bagi saya, Kompasiana adalah tempat yang tepat untuk mengembangkan kemampuan menulis. Saya merasakannya sendiri. Seiring perjalanan waktu tanpa disadari, tulisan yang dibuat telah mencapai ratusan judul. Selain itu ada perkembangan yang menarik dari Kompasiana setelah makin bertambahnya penulis yang menuangkan pemikiran dan idenya dalam 2 tahun ini.

Dalam perkembangannya tersebut, ada satu yang menarik perhatian saya yaitu masalah emosional. Emosional ? Dari beberapa tulisan yang telah dipublikasikan, saya banyak mendapatkan pengetahuan tentang kadar emosional seseorang dari tulisannya. Ada yang kadar emosional tinggi dan cenderung meledak-ledak ataupun sebaliknya.

Hal ini mengingatkan saya pada saat saya mulai memberanikan diri membuat sebuah tulisan. Tulisan pertama yang membutuhkan energi diri agar dapat menjadi sebuah karya yang membanggakan karena ini dapat menjadi bukti bahwa saya bisa menulis.

Tulisan saya pertama tersebut didasari oleh fakta yang ada di negeri tercinta Indonesia yaitu masalah pemilu, ulama, umarah dan agama. Tulisan tersebut sempat diapresiasi oleh seorang teman yang bekerja di sebuah media cetak. Teman mengatakan kalau saya sebetulnya mempunyai kemampuan menulis dan sempat meminta saya untuk mengirimnya ke beberapa media cetak nasional karena dianggap sesuai dengan kondisi yang terjadi pada saat itu.

Dengan inisiatif teman maka tulisan pertama tersebut dikirim ke beberapa media cetak/eletronik. Hasilnya adalah penolakan. Tetapi saya tidak merasa kecewa karena dari awal saya telah menduga akan ditolak. Siapa sih saya?  Hanya orang biasa yang masih bau kencur dalam hal tulis menulis. Semua itu tidak menyurutkan keinginan saya untuk menulis bahkan dari tulisan pertama tersebut, saya mendapatkan banyak masukan. Salah satu adalah masalah emosional.

Ada beberapa kalimat dalam tulisan tersebut dianggap kasar dan cenderung menunjukkan keegoan penulisnya. Kasar dan ego inilah yang dikatakan oleh beberapa pengkritik tulisan tersebut sebagai penggambaran tentang tingkat emosional saya. Mereka menyarankan untuk mulai belajar sedikit demi sedikit tentang mengontrol emosi saya pada saat menulis. Berikanlah kenyamanan bagi pembaca sehingga pembaca bisa mengikuti alur tulisan dengan mudah dan paham dengan apa yang penulis inginkan. Hal ini berlaku juga dalam memberikan dan menjawab komentar tulisan.

Nah, untuk mengenang kembali bagaimana saya membuat tulisan pertama kali maka saya akan menunjukkannya dan silahkan untuk memberikan opini atau pendapatnya. Lebih baik dipublikasikan untuk umum daripada hanya menjadi tulisan bisu tanpa makna pada sebuah file pribadi di hard disk komputer saya.

HUBUNGAN TIMBAL BALIK ULAMA DAN UMARA : HAK ATAU KEWAJIBAN ?

Sering kita menyaksikan bagaimana para calon pemimpin seperti calon presiden, gubernur, bupati, anggota MPR/DPR/DPD maupun pejabat di pemerintahan terutama yang nyata sekali adalah calon presiden dan wakil presiden. Setiap pemilihan umum selalu mendatangi madrasah/pesantren bertemu ulama/kyai untuk meminta doa restu agar dapat memenangkan pemilihan. Pada kenyataannya mereka melakukan itu untuk meminta dukungan dari para ulama/kyai yang jelas mempunyai basis massa yang cukup besar. Tetapi hal ini hanya dilakukan setiap 5 tahun sekali, setelah terpilih jarang para pemimpin kita meminta doa restu, saran dan kritik tentang segala kebijakan, prilaku mereka yang berimplikasi kepada rakyat secara nyata.

Itulah kenapa tulisan ini menggarisbawahi tentang hubungan antara pemerintah dan ulama/kyai. Bagaimana dengan fatwa ulama dan apa hubungannya dengan pemerintah? Apakah fatwa itu menjadi hak atau kewajiban ulama? Setahu penulis fatwa selalu berkaitan kemaslahatan umat beragama terutama umat Islam (tinjauannya adalah penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam).

Ulama/kyai kita sering berdakwah tentang kebaikan, surga-neraka, pahala-dosa, beribadah yang baik. Bahkan setiap hari terutama hari Jumat, mereka berdakwah di media cetak, elektronik dan sebagainya. Tetapi jarang mereka mengajarkan kepada umatnya tentang membaca (Iqra) seperti malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW pada peristiwa Isra Mi’raj. Membaca disini bukan hanya sekedar membaca teks di buku tetapi membaca dalam arti yang luas terutama membaca rasa kita sebagai manusia supaya mempunya empati terhadap lingkungan sekitar sehingga kita dapat bersimpati.

Selama kurun waktu empat tahun ini, bangsa Indonesia mengalami banyak bencana, musibah, dan sulitnya ekonomi masyarakat terutama kaum papa. Kita selalu menganggap bencana, musibah, dan susahnya kehidupan ekonomi datangnya dari ALLAH SWT. Padahal ALLAH sudah Kun Faya Kun seperti yang tercantum dalam Al Quran Surat Yaasin. Kalau manusia bisa menciptakan komputer super canggih dengan segala kelebihannya sehingga kalau salah memasukkan data, komputer bisa tidak jalan (hang). Apalagi ALLAH SWT menciptakan komputer Maha Canggih dengan segala kebesaranNya. Arahnya (Flow Chart) sudah jelas kalau kita ingin masuk surga atau neraka jalannya sudah sangat jelas tanpa perlu bertanya-tanya lagi. Kesimpulannya musibah, bencana, susah, senang, dan sebagainya datang dari diri manusia. Membaca (Iqra) kita sudah dilakukan atau belum? Dalam hal ini tafakur (perenungan) selalu dilakukan setiap saat atau belum?

Bencana gempa bumi dengan gelombang tsunami, gunung meletus, banjir, longsor, pesawat terbang jatuh, kapal laut tenggelam, tabrakan kereta api dan kecelekaan lalu lintas selalu akan menghantui kita apabila kita tidak beriman kepada Yang Maha Kuasa. Tanpa disadari ini disebabkan oleh ulah manusia yang kurang beriman.

Selain itu ada kesulitan yang dialami oleh bangsa Indonesia dan selalu dikeluhkan oleh masyarakat pada saat ini seperti banyaknya pengangguran, kemiskinan, sulitnya ekonomi. Awalnya dimulai dari kebijakan pemerintah berupa kenaikan BBM tanpa mengukur kemampuan masyarakat sehingga biaya-biaya produksi, distribusi, dan harga jual naik secara dratis. Sementara pendapatan masyarakat tidak menjangkau kenaikan tersebut akibatnya daya beli masyarakat berkurang. Masyarakat sudah tidak mampu untuk menabung bahkan tabungan yang ada habis dipakai untuk mencukupi kebutuhan saat ini. Kita melihat masyarakat kesulitan mendapatkan minyak tanah, kalaupun ada juga menunggu dan mengantri berhari-hari. Harga-harga bahan pokok meningkat tajam seperti beras, minyak goreng, tepung terigu, telur, gula pasir, kedelai untuk bahan baku tempe (makanan trdisional masyarakat Indonesia) dan terakhir adalah daging sapi. Lucunya bukan pembeli yang melakukan demonstrasi kepada pemerintah tetapi pedagang daging yang protes. Belum lagi mengenai pembatasan BBM kendaraan bermotor dan masalah program insentif listrik disertai dengan pemadaman listrik secara bergilir. Sepertinya pemerintah tutup mata dan tidak jelasnya program pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah diatas.

Apa hubungannya dengan fatwa ulama/kyai? Setahu penulis fatwa adalah perintah ulama/kyai mumpuni ilmu agamanya mengenai suatu hal yang berhubungan erat dengan kehidupan umat sehari-hari berdasarkan manfaat/mudharat, halal/haram dengan patokan Al Quran dan Hadits. Fatwa merupakan hak dan kewajiban ulama dan umat untuk menjalankannya. Hak ulama/kyai untuk mengingatkan umat tentang suatu hal yang dapat menyesatkan, menyengsarakan umat dan lain-lain tanpa ada sponsor dibelakangnya karena adanya tanggung jawab dihadapan ALLAH SWT. Kewajiban bagi umat untuk mematuhi dan menjalankan fatwa ulama/kyai yang mumpuni dan terpercaya.

Bagaimana dengan kebijakan para pemimpin di pemerintahan, apakah perlu ada fatwa ulama/kyai? Penulis belum pernah mendengar, melihat para ulama/kyai mengeluarkan fatwa tehadap kebijakan pemerintah. Sepertinya ulama/kyai menganggap kebijakan pemerintah bukan wilayah ulama untuk mengingatkan, menegur bahkan melarang pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dapat membuat sengsara dan memiskinkan umat. Banyak kebijakan pemerintah yang menyengsarakan dan memiskinkan umat seperti kenaikan BBM dengan segala implikasinya dan ulama/kyai seperti masa bodo tentang kesulitan hidup umat sehari-hari akibat kebijakan pemimpin di pemerintahan. Ulama/kyai sibuk dengan dunianya sendiri berekstasi ria dengan surga-neraka, pahala-dosa dan lain-lain. Sementara pemimpin legislatif, yudikatif maupun eksekutif asyik memperkaya diri dan tutup mata dengan kesulitan masyarakat mencari nafkah. Apakah ulama/kyai hanya bisa mengeluarkan fatwa tentang haram merayakan hari valentin (merupakan budaya barat) yang kurang berpengaruh buruk kepada umat tetapi tidak pernah mengharamkan merayakan Tahun Baru Masehi secara berlebihan karena lebih banyak mudharatnya, dan fatwa tentang wajib merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharram (sepertinya hari raya ini sebagai hari libur biasa).

Sepertinya ulama/kyai sebagai alat memperoleh suara tiap 5 tahunan bagi calon pemimpin tanpa pernah menanyakan imbal baliknya apabila terpilih ,tiap pemimpin harus menanyakan terlebih dahulu kepada ulama/kyai untuk menghindari implikasi buruk dari kebijakan yang akan dikeluarkan. Kesimpulannya adalah ulama/kyai harus kaya artinya harus kaya harta, kaya ilmu, kaya segala-galanya agar dapat membaca (Iqra) kehidupan dan selalu tafakur karena ciri orang yang beriman adalah orang yang selalu berpikir dan berpegang pada prinsip kemiskinan awal dari kekufuran sehingga umat selalu melihat ulama/kyai bukan hanya sebagai pemimpin umat tetapi sebagai orang tua yang dapat dipercaya (ulama/kyai mempunyai tanggung jawab besar kepada ALLAH SWT) sehingga umat tidak kehilangan pegangan apabila pemimpin membuat kebijakan berdampak buruk kepada umat.

Raja Galeuh Pakuan Pajajaran, Prabu Tajimalela bersemboyan : TIDAK BUTUH MUSUH, TIDAK BUTUH TEMAN, HANYA BUTUH KEBENARAN.Penulis bersemboyan :TIDAK BUTUH ULAMA/KYAI, TIDAK BUTUH PEMIMPIN, HANYA BUTUH KEBENARAN DAN KEBERANIAN HATI NURANI. Amin.

Luar Negeri, Menulis Dan Berbisnis

13168190181093520475
thesun.co.uk

Pernahkah anda mendengar kisah perjalanan Marcopolo? Pernakah anda membaca tentang “Jalan Sutera (Silk Road)” ? Apa yang anda dapatkan dari semua itu ? Kisah sejarah ? Itu pasti. Tetapi pernahkan anda membayangkan seandainya kita menjadi Marcopolo pada jaman modern ini ? God, Gold, Glory. 3 kata yang saya yakin para pembaca mengerti apa maknanya. Tetapi saya tidak akan mengulas tentang hal tersebut walaupun ada kaitannya juga.

Beberapa minggu saya membaca tulisan yang menceritakan tentang kehidupan orang-orang Indonesia yang bekerja, sekolah dan menetap di luar negeri dengan segala pernak-pernik kehidupannya. Ada yang mengatakan betapa enaknya bisa tinggal di luar negeri. Itupun sudah pernah ditulis bahwa di luar negeri tidak seenak yang dibayangkan. Saya merasakan hal yang sama. Tetapi saya banyak melihat hal-hal baru dan menambah pengalaman dan pengetahuan saya tentang dunia. Walaupun tetap tinggal di negara sendiri lebih enak dan tidak jauh dari orang-orang yang dicintai.

Tinggal di luar negeri mempunyai tantangan tersendiri. Tetapi tantangan itulah yang membuat saya dipaksa untuk berpikir keras agar bisa bertahan hidup dan berusaha untuk menangkap peluang yang ada di negara dimana saya tinggal. Nah inilah yang belum pernah ada yang mengupas dalam bentuk tulisan.

Manusia diberikan Tuhan berupa akal dan pikiran. Tetapi semuanya berawal dari mata yang berfungsi untuk melihat  dan selanjutnya diterima oleh akal dan pikiran untuk diolah menjadi sesuatu (bukan sesuatu banget). Saya membayangkan bagaimana Marcopolo dan saudagar-saudagar jaman dulu dengan kemampuan akal dan pikirannya mampu membaca peluang menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan walaupun pada jamannya masih berlaku istilah barter dan yang ditukar adalah barang-barang yang berasal dari negeri mereka. Secara tidak langsung mereka telah menjadi agen pemasaran bagi produk-produk negeri mereka.

Bagaimana dengan orang Indonesia di luar negeri ? Seharusnya orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri bisa juga berperan sebagai agen pemasaran produk-produk nasional. Wah saya tidak punya bakat dagang? Khan bisa memberikan informasi kepada saudara, teman atau siapapun tentang barang-barang yang dibutuhkan oleh negara tempatan dimana Indonesia memiliki barang-barang tersebut. begitu juga sebaliknya.

Baru-baru ini saya mendapatkan permintaan barang-barang dari Indonesia dari beberapa pengusaha di Fiji. Mereka mengatakan produk-produk Indonesia berkualitas dan tidak kalah dengan produk-produk negara lain. Hanya saja mereka kebingungan mendapatkan informasi tentang produsen yang ada di Indonesia. Sebagai contoh adalah makanan kaleng. Ada seorang pengusaha Muslim meminta saya mencarikan corned beef (kornet sapi) dan corned mutton (kornet kambing atau biri-biri). Dia mengatakan selama ini produk-produk tersebut dipasok dari Australia dan New Zealand tetapi umat muslim di Fiji merasa ragu tentang kehalalan produk tersebut sehingga dia merasa yakin produk-produk tersebut yang berasal dari Indonesia dapat dijual di Fiji. Selain murah, produk-produk tersebut aman dikonsumsi karena ada jaminan halal dan BPOM. Belum lagi dengan produk makanan lainnya yang selama ini dipasok dari pihak ketiga (kebanyakan berasal dari Malaysia).

Selanjutnya ada juga pengusaha bus di Fiji minta dicarikan bis-bis asal Indonesia baik baru maupun bekas pakai karena bisnis transportasi di Fiji sangatlah menguntungkan. Dan baru-baru ini telah datang 5 bis asal Indonesia (2 bus baru dan 3 bus bekas pakai). Itupun masih belum mencukupi kebutuhan bagi penumpang karena di Fiji sedang dilakukan peremajaan bis-bis tua yang selama ini banyak berasal dari India. Dikatakan oleh mereka, bis asal Indonesia cukup kompetitif harganya. Itu baru bus dan masih ada lagi berupa suku cadang kendaraan. Perlu diketahui, di Fiji sangatlah sukar mencari suku cadang kendaraan bermotor. Kalaupun ada, kita mesti menunggu pasokan barang tersebut datang dari Australia atau New Zealand selama 2-3 bulan.

Masih banyak lagi produk-produk Indonesia yang bisa dijual seperti kertas, pakaian, alat-alat pertanian, mesin-mesin pengolahan makanan, kerajinan tangan, furnitur, anyaman dari bahan plastik dan lebih membanggakan lagi tenaga-tenaga ahli di bidang pertanian dan perikanan (sedang dijajaki).

Jadi kita bukan sekedar tinggal di luar negeri, tapi kita bisa membaca dan menangkap peluang yang ada. Selanjutnya menyebarkan informasi tentang peluang tersebut lewat tulisan. Siapa tahu Tuhan memberikan jalan kepada  kita  untuk  mempunyai usaha sendiri (berbisnis).

Jangan tanyakan apa yang Negara telah berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kamu berikan untuk negaramu  (John F. Kennedy)


NB: Selain mengajarkan tentang “RAHMATAN LIL ALAMIN”, Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan kita untuk berdagang.

” Kamu Tidak Bisa Menulis. Berhentilah Menulis “

teacherseducation.wordpress.com

Sejak ibu mengetahui rencana keberangkatan ke Fiji, beliau selalu murung dan menyendiri walaupun menutupinya dengan menonton sinetron. Dari kursi rodanya beliau diam saja sambil sesekali memperhatikan segala tingkah laku saya.

Memang beliau pernah bertanya apakah sudah bulat tekad saya untuk pergi ? Dalam beberapa kesempatan beliau sempat mengeluarkan air matanya tetapi berusaha untuk ditutupinya dengan mengatakan kalau sudah tidak ada lagi orang yang akan menemaninya dan bingung dengan mempertanyakan dimanakah beliau akan tinggal.

Berulang kali saya menetramkan hatinya dengan mengatakan kalau beliau tidak akan kesepiaan sepeninggal saya. Dengan mengangguk terpaksa tetap saja beliau mengeluarkan perkataan yang membujuk saya untuk membatalkan keberangkatan saya.

Sampai pada awal puasa rupanya sekuatnya beliau menahan diri  tetap saja beliau tidak mampu sehingga beberapa kali uring-uringan dan mulailah timbul keluhan di beberapa organ tubuhnya mulai dari sakit kepala, perut, jantung dan lain-lain. Melihat gejala itu semua akhirnya saya menyadari kalau beliau tidak menyetujui keberangkatan saya.  Akhirnya  saya memutuskan untuk membatalkan kontrak kerja dengan segala konsekuensinya.

Dua hari ini saya selalu menemani beliau untuk berbicara banyak hal. Rupanya selama ini banyak sekali ganjalan di hatinya yang belum sempat diungkapkan. Ada beberapa hal yang membuat saya terkejut dengan uneg-uneg beliau terutama keseharian saya yang diisi dengan mengutak-atik kertas dengan beberapa coretan. Sampai pada satu waktu beliau bertanya kepada saya,

” Selama ini saya perhatikan kamu sibuk sekali dengan HP mu atau IPhone milik Anti (keponakan. memangnya kamu utak atik apa sih ? “

” Ohhh ini saya sedang cek tulisan di internet “

” Tulisan ? Tulisan apa ? “

” Tulisan saya di beberapa blog “

” Blog ? Tulisan ? Ahhh saya kurang mengerti “

” Iya sudah kalau nggak mengerti. Nich contohnya ” saya menunjukkannya ke ibu.

” Oh tulisan toh. Emang ini tulisan siapa ? “

” Tulisan saya “

” Tulisan kamu ??? yang benar ??? Apa kamu bisa menulis ?

” Ini buktinya. “

” Saya tidak percaya kalau ini tulisan kamu. Kamu khan dari dulu tidak suka menulis. Sudahlah jangan bohongi saya… Kamu berhenti saja menulis. Mana ada yang membaca tulisan kamu. “

” Ibu bagaimana sih ? Ini buktinya masih juga nggak percaya, Nih lihat. “

” Mana ??? Ini khan bukan kamu yang menulis. Tuh lihat yang menulis namanya bukan kamu. “

” Ini tulisan saya… “

” Ahh nggak percaya disitu tertulis nama cechgentong bukan nama kamu.  “

” Cechgengtong itu …

” Ahhh … Saya lebih tahu kalau kamu tidak bisa menulis. Sudahlah berhenti saja. Punya orang kok diaku-aku. Ngabisin duit saja kamu tiap hari buka internet di HP. Pokoknya stop “

” Hmmm … baik bu !!! “

” Mas, ajarkan saya menulis “

dianrose.blogspot.com

Sore itu aku berada di sebuah warnet dekat rumah. Suasana warnet yang sepi membuat aku makin bergairah untuk menulis. 30 menit kemudian seorang wanita muda masuk ke dalam warnet dan duduk di sebelahku. Tiap ruang komputer yang hanya dibatasi oleh sepotong papan triplek memudahkanku untuk memperhatikannya sesekali. Manis juga wanita itu, pikirku. Sepertinya wanita muda yang baru pulang kerja dan mampir sejenak ke warnet. Ku lihat dia sibuk dengan statusnya dan berkomentar di Facebook-nya.

Setiap aku melihatnya, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Akupun menyadari ketidak sopananku. Mengapa aku tidak berkenalan saja tapi aku merasa tidak suka dengan sikapnya yang sombong. Apakah karena aku tidak tampan, tidak menarik atau biasa-biasa saja ?

Ahhh masa bodo, lebih baik kuteruskan tulisan yang belum selesai. !5 menit kemudian selesailah tulisanku dan aku harus rehat sebentar karena aku sudah tidak mampu menahan rasa ingin buang air kecil. Setelah itu aku akan menulis kembali dengan tema tulisan berikutnya.

Begitu aku kembali ke komputerku, tampak secarik kertas. Siapa gerangan yang mengirimkannya. Di carik kertas tersebut tertulis :

” Mas, maukah mengajarkan saya menulis. Saya suka tulisan-tulisan Mas. Tertanda Gadis Sebelah “

———–

NB : Rupanya gadis itu sedang membuka dan membaca tulisan-tulisanku yang ada di blog pribadiku. Ternyata oh ternyata 😀

Yang Membaca Tulisan Ada Orang Awam Juga Lho

serenitysblog.wordpress.com

Ini lagi ini lagi !!! Apa tidak ada tema yang lebih bagusan sedikit sich ? Tetapi ini harus dituliskan kembali tema ini agar tidak memberi kesan kalau menulis itu hanyak diperuntukkan bagi kalangan intelektual saja.

Maksudnya apa nich ? Tidak ada maksud apa-apa hanya sekedar memberikan penyegaran sedikit tentang menulis yang memang enak dibaca dan perlu hehehehe seperti jargon majalah saja.

Menurut dosen pembimbing skripsi saya dulu, menulis itu harus dari hati. Nah lho menulis itu khan asalnya dari mata yang melihat kehidupan sehari-hari. Ya iyalah katanya masa dari dengkul hehehe. Begini maksudnya dari hati ya harus mengalir apa adanya dan jujur saja.

Jadi mulai dari melafalkan huruf, menyusun kata sampai merangkai kalimat yang baik dan enak dibaca bahkan bisa dinikmati. Banyak khan tulisan yang panjang-panjang dengan kata/kalimat/bahasa yang menjlimet. Padahal dalam menulis itu kita harus menyadari kalau tulisan kita bukan hanya untuk satu golongan atau kaum saja. Beda kalau menulis untukdiri sendiri maka penyalurannya di buku harian dan hanya diri sendiri yang menikmati.

Nah kalau sudah tahu kalau tulisan kita bukan untuk golongan tertentu berarti untuk orang banyak dari segala level mulai dari awam sampai yang canggih. Itulah susahnya kalau sudah begitu. Memang tidak mudah menjabarkan sesutu tema dengan bahasa yang lugas, sederhana dan mudah dicerna terutama untuk orang awam.

Perlu diketahui makin berkembangnya social blog seperti kompasiana, wordpress, blogspot dan lain-lain maka pembaca tulisan bukan lagi menjadi porsi golongan tertentu misalnya kaum intelektual. Perlu juga diperhatikan orang awam yang memang haus untuk mendapatkan informasi dan bacaan yang bermutu dan bermanfaat. Sudah pusing memikirkan kebutuhan ekonomi sehari-hari, tidak tahunya tepat ingin memyegarkan pikiran dengan membaca sebuah tulisan ternyata bahasanya terlalu canggih dan sekali jlimet. Ya sudah komentarnya paling hahahaha hihihi hehehehe atau cukup beri rating langsung kabur hahahaha…

Terus bagaimana dong cara mengatasinya ? Gitu saja repot, tinggal tidur saja atau menonton film porno ups maksudnya film dokumenter saja lebih ada manfaatnya walaupun kurang mengerti tapi setidaknya ada terjemahannya di televisi.

Sudah ya tidak ada yang istimewa dari tulisan ini hanya sekedar mengingatkan kalau tulisan-tulisan yang ada ini dibaca juga oleh orang awam. Sayonara….