Giri Tirta : Mini Touring dan Halal Bihalal Forescom Bandung

Sejak pengukuhan pengurus Forescom Chapter Bandung masa 2017-2020 oleh Om Dudi, Ketua Umum Forescom Pusat, Giri Tirta Purwakarta merupakan  program mini turing pertama sekaligus halal bihalal DForescom (sebutan Forescom Chapter Bandung) pada tahun 2017. Pada awalnya terdaftar 18 member yang turut serta dalam kegiatan ini. Karena ada kegiatan lain maka 2 member dari Bandung, 1 member dari Cianjur dan 1 member dari Subang membatalkan keikutsertaannya.

IMG_20170719_110126
Pengurus DForescom 2017-2020 (dok. Cech)

Pada mini touring ini diadakan beberapa kegiatan antara lain wisata dan berenang di Giri Tirta Kahuripan, Presentasi tentang Asuransi Syariah Chubb, peluncuran dan pembagian baju resmi DForescom di Rumah Makan Kebon Tjengkeh.  Secara keseluruhan ada 14 mobil Ford Ecosport yang terlibat dengan total jumlah personil 36 orang.

Sesuai dengan kesepakatan, mini touring diadakan pada tanggal 16 Juli 2017 dengan titik kumpul Rest Area 125 tol Cileunyi bagi member yang berdomisili di Bandung dan pintu tol Jatiluhur bagi member berdomisili di Purwakarta.  Tepat jam 08.00 rombongan 12 mobil bergerak menuju pintu tol Jatiluhur dimana ada 2 mobil dari Purwakarta yang sudah menunggu. Dari titik kumpul Rest Area 125 menuju lokasi Giri Tirta Kahuripan membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan.

IMG-20170716-WA0025
Bentuk Silaturahim (dok. Panggih)
IMG_0112
Dok. Cech
IMG_0105
Dok. Feby
IMG_0109
Dok. Cech
DJI_0122
Kolam renang Giri Tirta kahuripan (Dok. Cech)

Setibanya di parkiran, mobil Ecos diparkir rapih dan berderet untuk persiapan pengambilan gambar baik dengan kamera maupun dengan drone. Sebagai seksi dokumentasi, fotografer andal om Panggih dan Om Feby bergerak cekatan dalam pengambilan foto sehingga diperoleh hasil foto yang memuaskan.

Setelah itu seluruh personil diberikan briefing oleh Om Budi atau Om Depz atau Om Zie Bunsu (banyak ya namanya). Diantaranya tiket masuk Giri Tirta seharga Rp. 25 ribu per orang dan tiket parkir Rp. 5 ribu per mobil sudah dibayarkan oleh kas pengurus DForescom. Sedangkan tiket masuk kolam renang bagi yang ingin berenang menjadi tanggung jawab sendiri. Bagi yang tidak berenang melakukan tour Giri Tirta yang dikelilingi oleh kebun buah manggis nan luas.

Pada pukul 13.00 seluruh personil harus sudah berada di Rumah Makan Kebon Tjengkeh untuk makan siang yang sudah disiapkan oleh pengurus DForescom. Setelah makan siang, khusus member DForescom mengikuti presentasi tentang Asuransi Syariah Chubb  yang disampaikan secara bergiliran oleh 4 orang dari pihak perusahaan asuransi.

IMG-20170716-WA0048
Suasana presentasi (dok. Panggih)
IMG_3282
Om Budi aka Om Depz aka Om Zie Bunsu memperkenalkan dan membagikan baju resmi DForescom (dok. Feby)
IMG_3285
Tampak Belakang Baju Resmi DForescom  (Dok. Feby)

Selama presentasi, banyak hal yang diperoleh oleh member DForescom terutama tentang Total Loss Only dan Comprehensive (dikenal dengan istilah All Risk). Banyak penawaran menarik dari pihak asuransi sehingga ada beberapa member yang berminat untuk mengikuti Asuransi Syariah Chubb pada saat asuransi mobil terdahulunya telah habis masa berlakunya. Satu jam lebih waktu presentasi yang tidak sia-sia.

Tepat pukul 15.00 Om Budi memperkenalkan  dan membagikan baju resmi DForescom. Segeralah member yang hadir saat itu antusias mencoba baju resmi tersebut. Walaupun ada sedikit masalah ukuran tetapi dapat diatasi dan member memberikan 2 jempol terhadap baju resmi tersebut sebagai tanda puas.

IMG_3294
Foto bersama member DForescom (dok. Feby)
IMG_3300
Foto bersama keluarga DForescom (dok. Feby)

Selanjutnya dengan mengenakan baju resmi DForescom, member mini touring melakukan pengambilan foto bersama dan diikuti pula oleh seluruh keluarga member DForescom. Wajah ceria, bahagia, puas dan sumringah terlihat jelas dalam foto yang menandakan tujuan mini touring tercapai yaitu meningkatkan tali silaturahim dan persaudaraan. Inilah yang dinamakan Bandung Kudu Kahiji, Lamun Teu Cabok Siah hahahaha…

Pukul 16.00 seluruh mobil ecos bergerak meninggalkan Rumah Makan Kebon Tjengkeh untuk kembali ke tempat tinggalnya masing-masing dan makin berharap acara mini touring selanjutnya segera diadakan.

Pahawang, Secuil Penerawangan Tentang Lampung Akhir Tahun 2016

Tanggal 23 Desember 2016 pukul 11.00 dengan diiringi lagu  Coldplay ” A Sky Full of Stars “, saya, istri, teman istri dan anaknya mulai bergerak meninggalkan kota Bandung menuju Rest Area KM 42 Tol Tangerang – Merak sebagai titik kumpul rombongan Mini Touring Pahawang Forescom 23-26 Desember 2016.

Pembicaraan tentang Mini Touring ini sudah berlangsung sebulan, berbagai rencana telah dibicarakan dengan detil. Dikatakan Mini Touring karena peserta yang turut serta berjumlah 8 mobil yang terdiri dari 6 mobil Ford Ecosport, 1 mobil Ford Everest anyar dan 1 mobil Mitsubishi Pajero.Sport dengan total jumlah 28 orang. Delapan mobil akan berkumpul di Rest Area KM 42 dan bergerak menuju pelabuhan Merak pada pukul 21.00. Selain itu ada 1 mobil Ford Ecosport menunggu di Bandar Lampung.

Rencana awal kami meninggalkan Bandung pada pukul 17.00 tetapi kami mendapatkan kabar bahwa ada satu jembatan di Tol Cipularang yaitu Jembatan Cisomang KM 100 dengan panjang 250 meter mengalami pergeseran jembatan dan ada beberapa tiang yang retak. Oleh karena itu pertimbangan waktu dan keselamatan, kami memutuskan berangkat jam 11.00. Karena pada siang hari kami dapat mendapatkan informasi dan melihat dengan jelas apa yang terjadi dengan jembatan tersebut. Selain itu saya memperkirakan akan terjadi kemacetan parah apabila berangkat diatas jam 14.00 karena waktu keberangkatan bersamaan dengan liburan panjang Hari Natal 2016 yaitu 24-26 Desember 2016 libur nasional.

Setelah mampir beberapa tempat di Jakarta, pukul 16.25 kami tiba di Rest Area KM 42. Kemudian saya mulai memantau pergerakan beberapa teman yang akan menuju ke Rest Area KM 42 melalui WA Group Mini Touring. Apa yang saya perkirakan ternyata terjadi yaitu kemacetan di beberapa lokasi. Yang berangkat dari Cikarang mulai mengalami kemacetan walaupun masih berjalan lambat. Yang dari Kelapa Gading, berangkat sebelum Maghrib mengalami kemacetan di daerah Pasar Senen. Secara keseluruhan lokasi Karang Tengah merupakan lokasi dimana kendaraan yang menuju ke Merak bergerak lambat.

Menjelang pukul 21.00 beberapa peserta Mini Touring mulai berdatangan dan mulai lengkap kehadirannya 21.30. Segera saya memberitahu mereka bahwa pembelian tiket kapal dapat dilakukan di Rest Area KM 42. Ternyata di Rest Area KM 42 terdapat loket resmi ASDP yang menjual tiket kapal dengan harga Rp. 320.000. Setelah seluruh peserta memperoleh tiket maka kami segera berangkat menuju pelabuhan Merak. Pukul 23.35 kami tiba di pelabuhan Merak dengan antrian panjang kendaraan baik motor, mobil pribadi, angkutan barang dan bus. Tetapi tidak seramai pada saat liburan Lebaran/Idul Fitri. Setelah menunggu antrian selama 40 menit akhirnya seluruh kendaraan Touring sudah menaiki kapal. Jumlah penumpang yang membludak sehingga ruang ekonomi dan bisnis sudah penuh dengan penumpang sehingga kami memutuskan untuk istirahat di dalam mobil walaupun resikonya terkena kencangnya angin laut di malam hari.

Setelah 3 jam lebih perjalanan via laut, pukul 03.50 kami sudah mendarat di pelabuhan Bakauheni Lampung. Selanjutnya kami bergerak menuju kota Bandar Lampung tetapi memasuki waktu subuh kami istirahat sejenak di sebuah mesjid di daerah Kalianda. Ada beberapa peserta yang melakukan sholat Subuh. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan kembali.

dscn3608
Sarapan pagi di Nasi Uduk Aris (dok. Cech)

Sesuai rencana semula, rombongan bertemu dengan peserta dari Lampung yaitu Om Denny di Teluk Betung.  Kemudian Om Denny membawa kami ke sebuah warung makan dengan menu Nasi Uduk Aris khas Lampung untuk sarapan dulu sebelum menuju Dermaga 4 Ketapang (dermaga dimana berlabuhnya beberapa kapal yang mengangkut penumpang ke Pulau Pahawang).

Satu jam kemudian rombongan berangkat menuju Dermaga 4 Ketapang dengan perut yang sudah kenyang. Butuh waktu kurang lebih 1 jam perjalanan menuju Dermaga 4 Ketapang. Ternyata Dermaga telah dipenuhi oleh mobil pribadi, bus wisata dan para wisatawan baik domestik maupun asing. Segera kami mengganti pakaian dan mempersiapkan apa saja yang dibawa selama Tour Pulau Pahawang. Kemudian satu per satu kami diberikan pelampung keselamatan sebelum menaiki kapal. Kami membutuhkan 2 kapal untuk Tour Pulau Pahawang ini.

dscn3566
Dermaga 4 Ketapang (dok. Cech)
dscn3563
Dok. Cech
dscn3565
Kapal sewa menuju Pulau Pahawang (dok. Cech)

Tidak sampai satu jam, rombongan tiba di Pulau Pahawang Kecil. Segeralah beberapa peserta menceburkan diri ke laut. Ada yang berenang, snorkeling atau menyelam sambil menikmati indahnya pemandangan bawah laut. Suasana pulau Pahawang Kecil ramai sekali. Tiap 30 menit silih berganti kapal datang dan pergi. Dengan air laut yang jernih dan transparan maka terlihat kasat mata dasar laut sehingga menarik untuk menyelam.

Setelah berpuas diri menikmati alam bawah laut pulau Pahawang, rombongan melanjutkan perjalanan menuju pulau Pahawang Besar. Di Pulau Pahawang Besar ini kami makan siang bersama. Oh ya biaya per orang untuk sewa kapal mengelilingi pulau Pahawang Kecil, Pahawang Besar, Taman Nemo dan makan siang adalah Rp. 175.000.

15672757_1478080932220287_641018424522469071_n
Pulau Pahawang Besar (dok. Yulia Setiati)

Menu makan siang berupa sayur asem, gulai ikan, kerupuk, nasi dan buah-buahan menimbulkan selera makan setiap anggota rombongan.Mungkin mereka merasa lelah dan lapar setelah menempuh perjalanan jauh dan menikmati alam bawah laut Pahawang Kecil tadi. Selain itu kami disuguhi air kelapa yang langsung diambil dari pohon.

Hampir dua jam rombongan berada di Pulau Pahawang Besar. Udara panas sekali dan repotnya hanya ada satu warung kopi tetapi tidak menyediakan es batu. Hal ini sangat wajar karena di pulau tersebut belum ada aliran listrik. Listrik diperoleh dari generator yang menyala hanya pada malam hari dan itupun hanya 2 jam lamanya. Kecuali liburan panjang dimana banyak wisatawan yang menginap di vila sekitaran pulau maka generator dinyalakan 24 jam penuh.

Taman Nemo (dok. Forescom)

Pasir Putih (dok. Forescom)

Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Taman Nemo dan Pasir Putih. Di Taman Nemo kita dapat melihat pergerakan ikan Nemo dan sekumpulan ikan lainnya dengan cara menyelam atau snorkeling. Karena ramainya  wisatawan maka memberikan kesan riuh dan ramai sehingga mengurangi kenikmatan indahnya Taman Nemo. Setelah itu rombongan ke Pasir Putih. Pasir Putih adalah sebuah daratan yang timbul di tengah laut dimana daratan tersebut mempunyai pasir putih dan dikelilingi oleh tanaman bakau. Ada beberapa wahana bermain yang menarik seperti boat menarik perahu karet dengan kecepatan tinggi sehingga membuat penumpang di perahu karet terpelanting ke sana kemari.

Tanpa terasa hari mendekati senja sehingga rombongan memutuskan untuk mengakhiri wisata pulau Pahawang dan kembali menuju Dermaga 4 Ketapang. Sesampainya di Dermaga setiap anggota rombongan membersihkan diri dan mencari makanan kecil untuk mengisi perut yang sudah terasa kosong.  Tepat pukul 16.45, rombongan meninggalkan dermaga menuju tempat penginapan di Bandar Lampung yaitu Hotel Grand Anugrah. Ada 2 mobil yang memisahkan diri sesampainya di hotel yaitu mobil Om Denny karena ada urusan keluarga dan Om Yulianto karena menuju Bandar Jaya menjenguk orang tuanya.

Setelah mendapatkan kepastian kamar hotel saya dan istri langsung istirahat karena keletihan sangat. Ada beberapa panggilan telpon yang diabaikan karena kami ketiduran. Saya menduga anggota rombongan lain pasti langsung tertidur setibanya tubuh menyentuh kasur kamar hotel.

Esok hari adalah hari Natal sehingga ada beberapa anggota rombongan merayakan natal di gereja. Tetapi pukul 10.00 kumpul kembali karena rombongan berencana wisata ke Muncak Teropong Laut dan makan Pempek serta mencari durian karena Lampung sudah diserbu oleh para pedagang durian alias sudah masuk musim durian.

img-20161225-wa0008
Foto bersama di Muncak (dok. Forescom)

Pukul 10.00 rombongan berangkat ke Muncak. Muncak adalah lokasi wisata di atas bukit dimana kita dapat melihat pemandangan laut dan sekeliling kota Bandar Lampung. Pemandangannya indah sekali dan layak untuk diabadikan dalam bentuk foto.Setelah ambil beberapa foto dan menikmati gorengan di sebuah warung, rombongan memutuskan untuk makan Pempek di Pempek 123 yang konon terkenal enaknya. Di Pempek 123 beberapa anggota rombongan membeli oleh-oleh untuk dibawa ke tempat asalnya.

Setelah itu rombongan bergerak menuju daerah Way Halim. Sepanjang jalan Way Halim, pedagang menjajakan buah durian sehingga pengunjung mempunyai banyak pilihan durian yang disukai. Harga durian ada disekitaran Rp 100.000 untuk 4 buah durian berukuran normal. Sedangkan yang besar dihargai di atas Rp. 40.000 per buah. Beberapa biji saya mencoba enaknya durian yang infonya berasal dari daerah Bengkulu.

Tak salahlah ikut Mini Touring ini karena banyak kenikmatan yang kami peroleh terutama pempek dan duriannya. Di Way Halim, om Chandra memisahkan diri karena ingin merayakan natal dengan keluarga besar di Bandar Jaya. Tanpa terasa jumlah mobil berkurang menjadi 5 mobil saja. Segeralah rombongan yang tersisa kembali ke hotel dan acaranya bebas.

Saatnya tiba, hari terakhir rombongan berada di Bandar Lampung dan mempersiapkan diri untuk pulang ke pulau Jawa. Di hari terakhir, Om Ketum dan keluarga memisahkan diri karena ada urusan keluarga di Bandar Lampung. Tersisa 4 mobil, rombongan berangkat pukul 11.00 menuju pelabuhan Bakauheni. Butuh waktu 3 jam untuk sampai di Bakauheni. Tetapi sebelum masuk ke pelabuhan, kami singgah sejenak di Menara Siger yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan. Di Menara Siger, kita dapat menikmati keindahan pemandangan laut dan aktifitas kapal di pelabuhan Bakauheni.

Satu jam berada di Menara Siger, rombongan segera menuju pelabuhan Bakauheni untuk menuju pelabuhan Merak. Tepat pukul 18.20 rombongan meninggalkan pelabuhan Merak dan bergerak menuju Rest Area KM 68 tol Merak – Jakarta.Selain istirahat dan makan malam, kesempatan tersebut juga dipakai untuk membubarkan rombongan Mini Touring Pahawang dan kembali ke daerah asalnya masing-masing.

Begitu menyenangkan dan penuh suasana kekeluargaan dalam Mini Touring Pahawang ini. Walaupun hanya secuil penerawangan tentang Lampung tetapi cukup bagi kami, Komunitas Forescom untuk menerawang lebih luas lagi yaitu pulau Sumatera. Mungkin saja dari penerawangan tersebut Komunitas Forescom dapat melakukan Touring ke Bukittinggi atau Danau Toba di kemudian hari. Insya Allah.