” Resep Dokter Tidak Berlaku Di Rumah Sakit Ini “

Satu minggu ini, bangsa Indonesia diramaikan berita tentang masalah pasien,  dokter, rumah sakit dan Mahkamah Agung. Banyak polemik yang terjadi dalam menanggapi masalah tersebut baik yang pro maupun kontra. Terus terang saya tidak begitu mengikuti perkembangan berita tentang hal tersebut. Yang saya ketahui di Indonesia ada demo para dokter di seluruh Indonesia.

Dalam tulisan ini, saya tidak ingin mengomentari tentang polemik tersebut. Saya hanya ingin menceritakan tentang pengalaman pribadi yang dialami selama berhubungan dengan dokter dan rumah sakit. Kisah nyata dalam tulisan ini adalah salah satu pengalaman menarik yang dialami selama berhubungan dengan dokter dan rumah sakit. Silakan para pembaca untuk menilainya sendiri dan berharap bersikap bijak dalam memandang sebuah kejadian.

Kalau bicara tentang dokter dan rumah sakit maka saya boleh dibilang cukup pengalaman. Ada kisah sedih, gembira, sebel, kecewa dan lain-lain bercampur aduk jadi satu. Mengapa saya mengatakan berpengalaman ? Sejak tahun 1996 sampai tahun 2010, interaksi saya dengan dokter dan rumah sakit boleh dibilang intens bahkan bosan juga dibuatnya tetapi ini menjadi pengalaman menarik dalam hidup saya.

Sample Resep Dokter (pharmacy.about.com)

Hampir 14 tahun saya selalu berhubungan dengan dokter dan rumah sakit karena selama itulah saya mengurus penyakit yang diderita almarhumah ibu. Pada awalnya almarhumah teridentifikasi mengidap penyakit diabetes. Nah dari diabetes itulah penyakit almarhumah merambah kemana-mana. Mulai dari jantung, stroke sampai lumpuh kaki beliau. Hampir tiap tahun almarhumah dirawat di rumah sakit dan dalam setahun rata-rata  masuk rumah sakit sampai 3 kali. Bayangkan 3 kali setiap tahunnya dan selama 14 tahun almarhumah mengalami koma sampai 8 kali. Selain itu beberapa rumah sakit di Jakarta sudah pernah didiami almarhumah. Sampai-sampai dokter yang merawat beliau terkaget-kaget melihat track record kesehatan beliau, kok kuat sekali ya ibu anda. Begitulah ucapan beberapa dokter yang merawatnya, Memang almarhumah ibu luar biasa daya tahan tubuh dan semangatnya untuk tetap hidup dan sembuh.

Ada satu waktu almarhumah koma di rumah dan dibawa ke rumah sakit. Sepanjang jalan keponakan dan almarhum bapak menangis dan memperkirakan almarhumah tidak dapat bertahan hidup karena memang sudah tidak sadarkan diri. Tetapi saya tetap tenang dan yakin kalau almarhumah dapat sadar kembali dan hidup lebih lama. Semua orang termasuk dokter yang merawat almarhumah sampai heran dengan keyakinan saya. Mungkin karena saya yang selalu mengurus dan menjaga beliau setiap koma maka saya tahu secara feeling kalau beliau dapat bertahan hidup.

Ok ! saya akan menceritakan kejadian unik pada saat dirawat di sebuah rumah sakit swasta di daerah Kedoya, Jakarta Barat. Kejadiannya sekitar tahun 2002, saya ingat sekali tahunnya karena Jakarta saat itu dilanda banjir hebat dan menggenangi rumah saya juga. Pada saat itu kehidupan keluarga kami morat-marik. Krismon tahun 1998 meluluh lantahkan perekonomian keluarga terutama usaha almarhum Bapak. Usaha Bapak mengalami kebangkrutan sampai tidak mampu membayar kredit bank yang bunganya luar biasa sekali. Rumah yang kami tinggali saat itu masih dalam jaminan bank dan sedang menuju proses pelelangan. Bayangkan sudah bangkrut, rumah mau dilelang, almarhumah masuk rumah sakit. Rumah kami memang besar dan dalam lingkungan perumahan elit tapi kami tidak mempunyai uang sama sekali. Yang tersisa adalah mobil mitsubishi tahun 1972 milik saya dan kondisinya pun tidak layak jalan.

Siang hari itu, almarhum bapak memangil-manggil saya untuk memeriksa kondisi almarhumah ibu yang sudah tidak sadarkan diri alias koma. Saya menduga gula darah almarhumah naik karena beliau memang terkenal tidak disiplin dalam menjaga dietnya. Almarhum Bapak bingung dan tahu harus berbuat apa. Membawa ke rumah sakit sekelas Harapan Kita atau Islam Jakarta atau Pelni kuatir ditolak karena kami memang tidak punya uang sama sekali untuk jaminannya. Untuk makan saja sudah empot-empotan apalagi buat jaminan rumah sakit, darimana dapat uangnya. Akhirnya saya memutuskan untuk membawa almarhumah ke rumah sakit kecil dekat rumah di daerah Kedoya. Saya punya keyakinan bahwa rumah sakit tersebut dapat menerima almarhumah tanpa jaminan uang sama sekali karena saya mengenal beberapa petugas administrasi di rumah sakit tersebut dan yakin almarhumah menjadi pengecualian dalam syarat membayar jaminan.

Benar saja, sesampainya di rumah sakit tersebut almarhumah dapat segera dirawat karena ada petugas administrasi yang saya kenal bertemu saat almarhumah diturunkan dari ambulance yang menjemput almarhumah dan kami di rumah. Hari pertama dan kedua almarhumah belum sadarkan diri dan kami masih dibebaskan untuk membayar tebusan obat alias diambil dulu obatnya dan masalah bayar dapat dilakukan belakangan. Hari ketiga almarhumah sadarkan diri tetapi masih dalam kondisi lemah. Pada saat itu saya masih di rumah karena malam hari saya dapat giliran jaga.

Menjelang sore, almarhum bapak pulang ke rumah dengan wajah lesu dan bingung. Akhirnya saya menanyakan ada apakah gerangan yang membuat almarhum bapak seperti itu. Sebelum cerita almarhum bapak menyerahkan selembar kertas kepada saya. Ooo rupanya resep dokter. Beliau menceritakan bahwa resep dokter tersebut harus dibayar berikut total biaya selama 2 hari perawatan. Dapat uang darimana pikir beliau. Saking sudah tidak bisa berpikir lagi, beliau menyuruh saya untuk mencari cara dan menyelesaikan pembayarannya karena kalau tidak almarhumah ibu tidak dapat lagi dirawat atau diberikan obat. Padahal obat tersebut sangat penting bagi pemulihan kesehatan almarhumah ibu.

Setelah berpikir sejenak dan berdoa dalam hati, saya ambil resep dokter dan bpkb mobil saya. Selanjutnya saya memutuskan berangkat ke rumah sakit segera. Sesampainya di rumah sakit saya ke apotik dan benar saja resep dokter tidak dapat ditebus alias obat tidak dapat diberikan seperti biasanya sampai kami harus bayar administrasi perawatan 2 hari sebelumnya. Petugas apotik menyarankan saya untuk bertemu bagian administrasi. Bergegaslah saya ke bagian administrasi rumah sakit dan berusaha bertemu dengan teman saya di bagian tersebut. Alhamdulillah saya dapat bertemu dengannya dan berharap dapat kompensasi beberapa hari sampai kami mendapatkan uang untuk membayar semua biaya perawatan.

Ternyata o ternyata, petugas administrasi teman saya tidak dapat membantu karena terbentur masalah peraturan manajemen rumah sakit. Saya berusaha negosiasi dengan rumah sakit. Caranya dengan menjamin bpkb mobil mitsubishi tahun 1972, khan lumayanlah nilai buat bayar 2 hari perawatan almarhumah ibu. Tetapi ditolak oleh manajemen rumah sakit karena rumah sakit bukanlah tempat pegadaian. Penolakan rumah sakit tersebut membuat saya bingung dan patah semangat. Dari mana saya mendapatkan uang ? Buntu pikiran saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menengok almarhumah. Pikiran masih saja tidak tenang dan kuatir dengan kondisi almarhumah ke depannya.

Pukul menunjukkan jam 9 malam, tiba-tiba saya mendengar suara dokter yang merawat almarhumah sedang marah-marah kepada perawat. Rupanya dokter tersebut marah kepada perawat karena perawat tidak segera memberikan obat atau injeksi ke almarhumah ibu. Setelah mendapatkan penjelasan perawat, beberapa menit kemudian dokter datang menemui saya.

” Bagaimana sih Mas. kok obatnya tidak segera ditebus ? ” tanya dokter.

” Begini dok… ” saya berusaha menjelaskan.

” Begini apanya, Mas khan tahu bagaimana kondisi ibu mas. Seharusnya jangan ditunda-tunda pengambilan obatnya ” sela dokter.

” Begini dok, terus terang saya sudah datang ke apotik dan berusaha menebus resep dokter. Tetapi ditolak ” jelas saya.

” Ditolak bagaimana ? ” ujar dokter dengan nada meninggi.

” Ya ditolak dok, karena resep dokter tidak berlaku di rumah sakit ini ” terang saya dengan kalem.

” Hah !!! tidak berlaku di rumah sakit ini. Mana resepnya ? ” tanya dokter sedikit teriak.

Segeralah saya menyerahkan resepnya ke dokter. Dokterpun bergegas meninggalkan saya dan langsung menuju apotik di lantai dasar.

Saya pun mulai ketar ketir dengan apa yang terjadi kemudian. Wah bakal diusir saya dan almarhumah ibu dari rumah sakit pikir saya pada saat itu karena saya telah berbohong mengenai resep tersebut.

Apa yang terjadi kemudian saudara-saudara ? Sejam berlalu dan saya pun mendengar langkah kaki menghampiri saya.

” Mas, bisa datang ke ruangan saya ” pinta dokter dengan wajah sedikit dingin.

Segeralah saya mengikuti dokter ke ruangannya.

” Silakan duduk, Mas ” dokter mempersilakan.

” Terima kasih “

” Begini Mas, saya sudah cek ke apotik dan administrasi. Ternyata… “

” Ya dok, saya tahu saya salah dan telah berbohong tentang resep. ” sela saya.

” Tetapi mengapa mas harus melakukan hal tersebut. Khan bisa bicara terus terang dengan saya “

” Maaf dok sekali lagi saya minta maaf. Saat itu saya bingung apalagi saya mendengar dokter habis marahi perawat. Spontanitas aja saya bicara tentang resep tersebut. “

” Terus bagaimana penyelesaiannya Mas. Ibu mas harus dilakukan perawatan intensif dan membutuhkan waktu yang lama “

” Terus terang kami tidak punya uang saat ini. Yang ada hanya bpkp mobil tua saya dan saya sempat menjaminkannya ke rumah sakit tapi ditolak. Kami tahu kalau kami punya kewajiban tetapi tolong kami diberikan waktu karena kami yakin dapat menyelesaikannya. Lagipula yang dirawat itu ibu saya, masak saya akan membiarkan begitu saja. Percaya dok, dalam 2 hari ini saya akan mendapatkan uang untuk menyelesaikan semuanya. “

” Benar ya Mas ? “

” Ya dok, Bismillah dok saya akan menyelesaikan semuanya “

” Ok, begini saja saya akan menjamin seluruh biaya perawatan ibu mas selama dirawat di rumah sakit ini. Jaminannya adalah saya sendiri. Tetapi saya mohon mas dan keluarga tetap berusaha untuk mencari dana agar dapat meringankan saya juga. Bagaimana ? “

” Alhamdulillah, terima kasih. Insya Allah saya dan keluarga tidak akan mengecewakan dokter yang telah berbuat baik kepada kami. “

Setelah itu dokter mengajak saya ke bagian administrasi. Di ruangan administrasi itulah dokter baik hati tersebut menjamin perawatan ibu selama berada di rumah sakit dan menandatangani surat jaminan rumah sakit. Terharu saya melihat kebaikan dokter. Saya pun memeluk beliau sebagai ungkapan rasa sangat berterima kasih.

Kejadian malam itu saya ceritakan kepada almarhum bapak. Beliaupun menangis terharu bahwa  ada orang lain yang dapat membantu masalah kami. Tetapi ada satu pertanyaan beliau kepada saya. ” Kok bisa-bisanya kamu mengatakan kalau resep dokter tidak berlaku di rumah sakit sih ” Saya menjawab dengan tertawa, ” itulah spontanitas dan kreatifitas ” Dalam kondisi kepepet kadangkala keluarlah kreatifitas seorang manusia yang tidak pernah diduga sebelumnya hehehe.

4 hari kemudian saya mendapatkan bantuan uang dari beberapa teman sehingga saya dapat membayar seluruh biaya perawatan rumah sakit almarhumah ibu.  Yang terpenting adalah saya dapat memenuhi janji kepada dokter sehingga tidak membenani dokter yang telah banyak membantu kami sekeluarga. Terima kasih Dokter U di RSUP F (tempat beliau sebenarnya praktek). Biarlah hanya Allah SWT yang tahu kebaikan Pak Dokter karena beliau tidak ingin ada unsur Riya di hadapan Nya.

Iklan

” Ternyata Bukan Siapa-siapa “

fxfq1.vigneshonlione.info

 

 

Senja di hari minggu tampak seorang pria sedang duduk dibangku taman yang menghadap pantai indah di Suva. Pemandangan pantai yang indah dan terbentang hamparan lautan luas yang membuatnya merenung. Pria tersebut sangat menikmati hingga terbawa kedalam hati dan pikirannya. Tiba-tiba datanglah seorang wanita cantik nan seksi mendekati pria tersebut.

” Maaf, pak. Apakah bangku ini kosong ? “

Terkesiap pria tersebut mendengar perkataan lembut seorang wanita.

” oh oh boleh… silahkan tapi ini cukup untuk kita berdua “

” Ya tidak apa-apa. Saya pun hanya ingin duduk sebentar. Karena semua bangku di taman ini penuh. Tampaknya orang-orang mengerti kalau senja ini memang indah. Lihat matahari terbenam dengan manisnya. “

” Iya… “

Kemudian pria itu melanjutkan pandangannya ke lautan jauh dan tampak wajahnya berkaca-kaca.

” Apakah bapak sedang memikirkan sesuatu ? “

Kembali pria tersebut memperhatikan wanita di sebelahnya.

” ahh tidak. Saya hanya sedang menikmati hamparan laut yang indah itu “

” Hmmm hehehe … “

” Mengapa anda tertawa ? “

” Saya tidak tertawa hanya lucu saja melihat bapak “

” Apanya yang lucu ? Apakah saya seperti badut ? “

” Ah tidak… bukan itu maksud saya. Saya pernah mengalami apa yang bapak alami saat ini “

” Hah?? “

” Iya, saya pernah mengalaminya. Apa bapak sedang merindukan seseorang ? “

” Nanti dulu, saya sedang tidak ingin diramal. Apa maksud anda ? “

” Sudahlah Pak, tidak usah pura-pura. Saya tahu apa yang ada dipikiran bapak. Jujur saja siapa orangnya, Pak ? “

” Anda ini… apa tidak mendengar apa yang katakan barusan ?! “

” Ya saya mendengar dan merasakan kerinduan yang bapak alami. Saat ini saya sedang merindukan seseorang juga “

” Siapakah dia ? ” sergh pria tersebut.

” Hehehe bapak ini.. Dia itu anak saya. Satu-satunya anak laki-laki  saya. Umurnya 8 tahun “

” Ohhh memangnya saat ini dimana anak itu berada ? “

” Jauh, Pak. Jauh sekali. Dia berada di Daratan Cina “

” Cina !!! Jauh sekali.  Saya pikir berada di kota lain di Fiji “

” Tidak, Pak. Dia berada di Xinjian. Barat Laut Cina… “

” Wao jauh sekali… Anda disini sendiri ? Bekerja dimana ? “

” Sekarang malah bapak yang banyak bertanya. “

” Hehehe … “

” Saya tidak sendiri tapi bersama teman-teman dari daratan Cina. Saya kerja sebagai PSK dekat dengan taman ini. Itu tempatnya… “

” Situ ?! “

” Ya, sebentar lagi  bapak akan melihat banyak  wanita seperti saya dengan pakaian yang seksi “

” Eits nanti dulu, anda tidak ingin mengajak untuk melakukan prostitusi khan ? “

” Hahhaha bapak ini… Saya mengerti kok siapa bapak ? “

” Oh ya siapa nama anda ? “

” Panggil saja saya Ling “

” Saya Asman “

” Okay Asman, sebetulnya siapa yang Asman  rindukan ? “

” Saya sedang merindukan seorang wanita. “

” Isteri atau anak ? “

” Bukan, saya masih lajang. Saya merindukan kekasih saya “

” Sudah pasti dan Asman selalu merindukannya setiap saat “

” Bagaimana Ling tahu ? “

” Asman, kamu orang baik. Asman pasti sayang, perhatian dan pengertian dengan keksih Asman. Wanita yang ada di HP itukah ? “

Betapa kagetnya Asman setelah mendengar ucapan Ling. Rupanya Ling dari awal memperhatikan dirinya.

” Hehehe, mengapa ? Kamu terkejut ya. Saya suka dengan pria seperti kamu. Hanya saja kamu bukanlah pria yang romantis. “

” Kok kamu tahu Ling ? “

” Dengan pekerjaanku saya mengerti semua watak laki-laki hehehehe “

” Sekali maaf Ling, bukan berarti kamu mau mengajak saya khan ? “

” Hahahah Asman. Saya barusan katakan apa ? Kamu pria yang baik dan sayang dengan pasanganmu “

” Hmm iya “

” Siapa namanya ? Yang pakai kerudung itu ? “

Asmanpun menunjukkan foto wanita kekasihnya yang ada di HP milikya.

” Kamu pria yang beruntung, Asman. Kekasihmu cantik dan muda sekali “

” Iya dia muda sekali. Perbedaan umurkamu jauh sekali “

” Itulah yang saya maksudkan dengan beruntung. Tapi kamu harus banyak bersabar, Asman “

” Maksudnya ? “

” Kekasihmu banyak disukai para pria, banyak keinginan dalam hidupnya, cita-citanya tinggi sekali dan kalian harus bisa saling perhatian. Jangan sampai kalian mengalami nasib seperti saya “

” Maksudnya dengan nasib Ling ? “

” Pokoknya kamu beruntung, Asman hehehe “

” Iya, saya memang beruntung. Dialah wanita yang saya cintai, cantik, dan yang terpenting dia muslimah yang baik. Itulah mengapa saya pergi jauh sampai di sini. Bekerja keras demi kebahagiaan kami berdua untuk membentuk keluarga yang bahagia kelak. “

Tiba-tiba  rona wajah Ling berubah dan menangis tersedu-sedu

” Sungguh beruntung kekasih kamu karena masih ada pria yang mencintainya. Kata-kata kamu tadi membuat saya menangis… hiks hiks hiks… Saya jadi teringat dengan anak saya di Xinjian. Dialah satu-satunya pria yang saya miliki. “

” Memangnya mengapa dengan bapaknya ? “

” Sudahlah Asman. Mengingatnya akan membuka luka lama dan penyesalan saya yang mendalam “

” Maaf maafkan saya. Tidak ada niat untuk mengetahui urusan pribadi Ling “

” Ah tidak apa-apa, Asman. Terima kasih kamu sudah menemani saya di taman ini sehingga sedikit mengobati kerinduan kepada buah hati saya yang tinggal jauh di sana. Saatnya bekerja. Main-mainlah ke tempat kerja saya. Jangan takut dan alergi ya. Saya tahu kamu pria yang baik.  Ok, sampai berjumpa lagi. “

” Okay, terima kasih juga. Kapan-kapan kita berbagai cerita lagi ya “

” Okay !!! “

Asman hanya bisa memandang Ling dengan perasaan haru. Walaupun pekerjaannya demikian dan keterpaksaan diri untuk mengumbar nafsu para pria dengan pakaian nan seksi tetapi ada kelembutan hati seorang ibu.

Tetapi jauh disana, berbeda dengan bayangan Asman dan Ling, kekasih Asman yang dipuja-puji sedang asyik bermasyuk ria bersama dengan  teman-teman prianya di sebuah tempat yang sebetulnya kurang layak bagi seorang muslimah. Itulah surga dunia dan ternyata Asman bukanlah siapa-siapa karena berulang kali Asman menelpon dan mengirimkan sms tidak dihiraukannya.

 

hanya sekedar kata-kata tanpa makna. tak penting untuk disambut. cukup didiamkan, membuang masa kesenangan diri. bagaikan angin lewat layaknya makhluk bernapas. penting mendapatkan materi, tak perlu untuk dijawab. kepuasan diri lebih berarti. saatnya menutup mata dan rasa. tersembul arah siapa butuh siapa.

 

Peran Orang Tua Mempengaruhi Anak Menjadi Seorang Pengusaha

Coba pikirkan kembali apakah  keputusan kita untuk memiliki bisnis  sendiri adalah benar-benar memang keputusan sendiri ? Mungkin tidak. Penelitian baru menemukan bahwa orangtua  memiliki lebih banyak kaitannya dengan pilihan karir kita  daripada yang kita pikirkan. Penelitian   yang  dipublikasikan oleh  Child Development Perspectives edisi Desember 2010 ini    menunjukkan bahwa keputusan  seorang anak ternyata ditentukan  oleh sebagian besar keputusan sehari-hari  yang dibuat oleh orang tua yang telah membimbing pertumbuhannya.

 

Success as an entrepreneur (kingdomstrategist.com)

Sementara itu  peneliti sebelumnya telah menentukan bahwa kecenderungan karir kita  merupakan  warisan genetik dan  yang lainnya mengatakan bahwa kekuatan pendorong adalah pendidikan  dan ajaran  yang  didapatkan dari orang tua. Atau berdasarkan sebuah teori baru perkembangan anak yang merupakan penggabungan kedua model di atas dalam model lintasan  (Trajectory) perjalanan hidup atau karir. Psikolog George Holden dari Southern Methodist University di Dallas yang melakukan penelitian mengatakan model ini  membantu untuk menyelesaikan perdebatan pengasuhan anak.

Holden melakukan hipotesa bahwa  orang tua yang membimbing perkembangan anak mereka dibagi dalam  empat cara yang kompleks dan dinamis :

1. Orang tua mulai   mengarahkan anak  dalam jalur perkembangan pilihan berdasarkan    preferensi orang tua atau observasi karakteristik  dan kemampuan anak, seperti mendaftarkan anak  di kelas khusus,  mengekspos anak  kepada orang lain  dan lingkungannya, atau membawa  anak untuk praktek atau belajar.

2. Orang tua  mendukung kemajuan anak  dengan dorongan dan pujian, dengan memberikan bantuan materi seperti buku, peralatan atau les, dan dengan mengalokasikan waktu untuk berlatih atau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan tertentu.

3. Orangtua menjadi penengah dimana  mempengaruhi  anak  untuk  melihat dan mengerti perjalanan hidupnya, membantu anak untuk  menghindari lintasan negatif dalam perjalanan hidupnya dengan mempersiapkan anak untuk   menangani masalah-masalah potensial.

4. Sejak awal  orang tua selalu  bereaksi terhadap lintasan perjalanan hidup anak.

Lintasan (Trajectory) perjalanan hidup  adalah sebuah penggambaran yang berguna untuk memikirkan perkembangan karir sehingga  kita dengan mudah dapat memvisualisasikan konsep-konsep seperti “jalan memutar (detour)” “hambatan (roadblock)” dan “jalan menurun (off-ramp)”.

Holden menjelaskan bahwa jalan memutar adalah peristiwa transisi yang dapat mengarahkan jalur seperti perceraian. Hambatan adalah  kejadian atau perilaku yang menutup lintasan potensial seperti kehamilan remaja, yang dapat memblokir jalur pendidikan. Jalan menurun adalah lintasan yang keluar dari lintasan  positif seperti penyalahgunaan obat, kekerasan terhadap anak atau bergabung dengan  geng.

Holden juga mengatakan ada cara lain bagi orang tua  mempengaruhi perkembangan anak di lintasan seperti melalui pemodelan perilaku yang diinginkan, atau memodifikasi kecepatan perkembangan dengan mengontrol jenis dan jumlah pengalaman.

 

aifs.gov.au

Beberapa faktor yang juga dapat mempengaruhi lintasan  diantaranya  budaya keluarga, pendapatan dan sumber daya keluarga, dan kualitas hubungan orangtua-anak. Model lintasan pengasuhan ini membantu untuk menunjukkan bahwa  efektifnya peran orangtua  dalam membimbing anak sedemikian rupa sehingga dapat  memastikan anak mereka  berkembang dalam lintasan yang positif.

Hari Orang Tua (Parent’s Day)

Mungkin bagi rakyat Amerika hari Sabtu adalah hari buruh (Labour’s Day) tetapi bagi saya hari Sabtu dan minggu adalah ” Hari Orang Tua “. Mengapa dikatakan demikian ?

Tidak tahu mengapa 2 hari tersebut tiba-tiba saya ingin jalan-jalan berkunjung ke tempat tinggal teman-teman orang tua saya. Memang ada beberapa anak mereka adalah teman-teman saya juga tetapi saya merasa lebih akrab dengan orang tuanya hehehe…

Ada satu kerinduan yang mendalam terhadap almarhum Bapak dan hasrat berkunjung tersebut timbul dengan sendirinya. Beberapa hari sebelumnya saya merasa ada yang kosong bahkan hampa di hati ini. Dulu kalau saya punya masalah maka almarhum yang selalu menjadi tempat saya berdiskusi tentang apapun walau keputusan akhir ada di diri sendiri.

Hari Sabtu, saya berkeliling kampung. Sesekali saya perhatikan rumah-rumah teman orang tua. Kalau pas ada di rumah maka saya mampir dan bersilaturahim. Perlu diketahui, mereka rata-rata telah berumur di atas 65 tahun. Tahu sendiri khan bagaimana kondisi fisik mereka. Ada yang masih segar tetapi sudah tidak bisa duduk lama, ada yang mulai sakit-sakitan bahkan ada yang sudah stroke atau terkena penyakit pikun.

Kunjungan saya pertama di sebuah rumah persis di belakang rumah. Kebetulan pada saat saya datang langsung bisa bertemu dengan seorang wanita tua bernama Emak Ningsih. Kondisinya sudah tua dan memprihatinkan. Beliau sudah tidak bisa melihat karena matanya rabun, kurang pendengaran (bisa mendengar kalau saya mendekat atau berteriak dengan keras) dan kakinya terkena pengapuran. Ya sudah saya datang menghampiri dan menyalaminya.

Awalnya beliau sempat kanget dan bingung siapa gerangan yang datang. Berulang kali saya menyebut nama dengan lantang tapi beliau tetap saya lupa dan berusaha mengingat-ingat. Setelah saya memberitahukan nama saya barulah beliau mengenali dan merangkul saya. Aduh sudah lama sekali saya tidak bertemu Emak Ningsih. Dulu sewaktu muda wanita tua ini sangatlah gesit bekerja dan sauaranya lantang sehingga anak-anak yang merasa preman atau jagoan akan dilawannya. Biasalah khan almarhum  suaminya orang bugis dan tidak kenal rasa takut hehehe.

Selama 30 menit saya bicara ngalor ngidul ke sana kemari sampai menyinggung mengapa saya belum menikah. Beliau sampai tidak percaya dengan alasan saya belum bahkan mau membantu mencarikan calon istri buat saya hehehe… Saya hanya bisa tersenyum mendengar semangatnya mencari jodoh. Tapi itulah orang tua yang selalu ingin memperhatikan anak-anaknya walaupun saya bukan anak kandungnya. Dari Emak Ningsihlah saya mendapatkan spirit hidup yang luar biasa yaitu pantang menyerah dan selalu berusaha untuk sehat kembali serta tidak mau merepotkan orang lain.

Kunjungan berikutnya saya pergi agak jauh dari rumah. Saya bertemu dengan Pak Sutowo, teman kantor almarhum bapak waktu bekerja di PT Pertani. Saya perkirakan umurnya tidak beda jauh dengan umur almarhum. Tubuhnya masih sehat dan gagah walaupun mulai telat mikir hehehe. Beliau masih rajin datang ke mesjid untuk Sholat 5 waktu. Dengan kondisi anak-anaknya yang sudah bekerja semua maka di rumah tinggal beliau dan istrinya yang tinggal setiap hari. Dari obrolan dengan beliau selama 45 menit, banyak hal yang saya peroleh. Salah satunya tentang perjuangan hidup untuk mandiri. Menurut cerita beliau, waktu awal datang ke Jakarta almarhum bapak saya suka bawa telur dari kampungnya di Purwokerto dan berjualan di atas kereta api. Nah uang hasil jualan inilah yang dipakai untuk membayar kuliah almarhum. Saya sendiri sebagai anaknya baru mendengar cerita seperti ini. Beliau sangat mengagumi sosok almarhum bapak, yang dikatakannya sebagai orang yang tidak banyak bicara, workaholic, tidak suka bergunjing dan semangat kerjanya luar biasa. Bahkan pada umur 30 tahun sudah menjadi Kepala Humas di PT Pertani. Sebuah prestasi yang jarang terjadi pada jamannya. Itu kata beliau.

Karena perjalanan yang tidak direncanakan sehingga berbenturan dengan waktu berbuka puasa. Akhirnya perjalanan saya lanjutkan hari minggu ini. Pagi-pagi sekali saya berangkat tetapi jaraknya lebih jauh lagi yaitu di Rawamangun. Di sana saya berhasil bertemu dengan Pak Sudiono, teman sekolah almarhum. Kebetulan pas saya datang, anak-anak beliau sedang berkumpul. Betapa kagetnya saya setelah melihat kondisi Pak Sudiono. Ternyata beliau sedang sakit dan terbaring di tempat tidur. Beliau sudah hampir 3 tahun ini terkena stroke sehingga saya hanya bisa melihatnya dari jauh dan tidak mungkin bicara banyak hal. Setelah melihat beliau maka saya pamit diri.

Selanjutnya saya pergi ke daerah Menteng, saya mengunjungi teman almarhum Bapak yang dulunya pernah menjadi pengusaha sukses. Namanya Pak Muchtar. Pak Muchtar selain pengusaha, beliau juga purnawirawan TNI dengan pangkat Mayjen. Untuk bertemu beliau memang lain dari yang lain. Perlu protokoler ala pejabat. Lapor dulu dengan keamanan dan menyebutkan alasan kedatangan hehehe. Tetapi saya nikmati saja. Ketika saya masuk ke dalam rumahnya. Pak Muchtar sempat diam sejenak dan memperhatikan saya mulai dari kepala sampai kaki. Setelah itu barulah beliau tersenyum sambil mengingat-ingat siapa diri saya sebenarnya. Tetapi beliau dengan cepat mengenal nama saya.

Sebagai seorang mantan purnawirawan dan pengusaha (perusahaannya dilanjutkan oleh anaknya) intonasi bicara beliau membuat saya menjadi pendengar yang baik. Banyak bahan cerita yang diperdengarkan kepada saya hahaha… Mulai dari politik, ekonomi sampai hal-hal remeh temeh. Sebagai pendengar yang baik maka saya hanya bisa bilang ya dan setuju saja walaupun ada beberapa pernyataannya tidak menyambung satu sama lain. Tetapi itulah orang tua yang harus kita hormati. Hal ini dikarenakan beliau menghargai saya sebagai yang muda. Buktinya ada beberapa tamu yang ditolaknya padahal umurnya lebih tua dari saya alias bapak-bapak. Ini artinya beliau memang senang saya menjadi tamunya.

Hampir 2 jam bicara dengan Pak Muctar, akhirnya saya pamit diri walaupun beberapa kali beliau meminta saya tinggal dulu. Dari situ saya mengerti kalau beliau ternyata merasa kesepian dan sudah jarang anak-anaknya mau berdialog dengan beliau dalam kondisi santai. Dari raut mukanya jelas terlihat wajah kesepian apalagi di rumah tinggal beliau sendiri setelah istrinya meninggal sekitar 8 tahun yang lalu.

Ada satu nasehat menarik yang beliau berikan kepada saya yaitu tetaplah berjuang dalam kondisi apapun, yakinlah akan kemampuan sendiri, teruslah istiqomah dan jangan suka mengeluh. Wao nasehat orang tua yang membangkitkan kembali semangat saya yang sempat anjlok sebulan ini.

Selanjutnya saya meneruskan perjalanan ke Depok. Di sana saya ingin bertemu dengan teman almarhum bapak yang dulu sering jalan-jalan bersama almarhum Bapak kemanapun perginya. Beliau bernama Pak Sugeng. Waktu menunjukkan jam 3 sore.  Sesampainya di rumah Pak Sugeng, saya disambut oleh istri beliau. Betapa kagetnya saya saat mendengar kalau Pak Sugeng sudah meninggal dunia sekitar 6 bulan yang lalu. Saya sempat bertanya mengapa saya dan keluarga tidak diberitahu. Rupanya keluarga Pak Sugeng lupa dengan nomor telepon rumah. Beliau meninggal karena serangan jantung di kamar mandi. Setelah hampir 35 menit, saya mengajukan pamit pulang karena hari sudah sore dan saya harus segera sampai di rumah sebelum berbuka puasa.

Sungguh dua hari yang mengesankan bagi diri saya. Begitulah nantinya saya kalau sudah tua nanti. Tidak ada lagi teman sepermainan yang satu per satu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, tidak ada lagi anak yang mulai sibuk dengan urusan masing-masing, tidak ada lagi yang ditakuti karena banyak orang menganggap saya orang tua yang lemah, tidak ada lagi berbagi cerita alais curhat karena sudah tidak mampu lagi bicara lama dan masih banyak lagi. Dari semua itu saya mendapatkan pelajaran yang berharga yaitu yakin kepada diri sendiri, yakin kepada Allah SWT dan selalu ingat pesan/nasehat orang tua.

Benar-benar Hari Orang Tua yang mengesankan (The Real Parent’s Day)

” Kamu Tidak Bisa Menulis. Berhentilah Menulis “

teacherseducation.wordpress.com

Sejak ibu mengetahui rencana keberangkatan ke Fiji, beliau selalu murung dan menyendiri walaupun menutupinya dengan menonton sinetron. Dari kursi rodanya beliau diam saja sambil sesekali memperhatikan segala tingkah laku saya.

Memang beliau pernah bertanya apakah sudah bulat tekad saya untuk pergi ? Dalam beberapa kesempatan beliau sempat mengeluarkan air matanya tetapi berusaha untuk ditutupinya dengan mengatakan kalau sudah tidak ada lagi orang yang akan menemaninya dan bingung dengan mempertanyakan dimanakah beliau akan tinggal.

Berulang kali saya menetramkan hatinya dengan mengatakan kalau beliau tidak akan kesepiaan sepeninggal saya. Dengan mengangguk terpaksa tetap saja beliau mengeluarkan perkataan yang membujuk saya untuk membatalkan keberangkatan saya.

Sampai pada awal puasa rupanya sekuatnya beliau menahan diri  tetap saja beliau tidak mampu sehingga beberapa kali uring-uringan dan mulailah timbul keluhan di beberapa organ tubuhnya mulai dari sakit kepala, perut, jantung dan lain-lain. Melihat gejala itu semua akhirnya saya menyadari kalau beliau tidak menyetujui keberangkatan saya.  Akhirnya  saya memutuskan untuk membatalkan kontrak kerja dengan segala konsekuensinya.

Dua hari ini saya selalu menemani beliau untuk berbicara banyak hal. Rupanya selama ini banyak sekali ganjalan di hatinya yang belum sempat diungkapkan. Ada beberapa hal yang membuat saya terkejut dengan uneg-uneg beliau terutama keseharian saya yang diisi dengan mengutak-atik kertas dengan beberapa coretan. Sampai pada satu waktu beliau bertanya kepada saya,

” Selama ini saya perhatikan kamu sibuk sekali dengan HP mu atau IPhone milik Anti (keponakan. memangnya kamu utak atik apa sih ? “

” Ohhh ini saya sedang cek tulisan di internet “

” Tulisan ? Tulisan apa ? “

” Tulisan saya di beberapa blog “

” Blog ? Tulisan ? Ahhh saya kurang mengerti “

” Iya sudah kalau nggak mengerti. Nich contohnya ” saya menunjukkannya ke ibu.

” Oh tulisan toh. Emang ini tulisan siapa ? “

” Tulisan saya “

” Tulisan kamu ??? yang benar ??? Apa kamu bisa menulis ?

” Ini buktinya. “

” Saya tidak percaya kalau ini tulisan kamu. Kamu khan dari dulu tidak suka menulis. Sudahlah jangan bohongi saya… Kamu berhenti saja menulis. Mana ada yang membaca tulisan kamu. “

” Ibu bagaimana sih ? Ini buktinya masih juga nggak percaya, Nih lihat. “

” Mana ??? Ini khan bukan kamu yang menulis. Tuh lihat yang menulis namanya bukan kamu. “

” Ini tulisan saya… “

” Ahh nggak percaya disitu tertulis nama cechgentong bukan nama kamu.  “

” Cechgengtong itu …

” Ahhh … Saya lebih tahu kalau kamu tidak bisa menulis. Sudahlah berhenti saja. Punya orang kok diaku-aku. Ngabisin duit saja kamu tiap hari buka internet di HP. Pokoknya stop “

” Hmmm … baik bu !!! “

M A R A H

Marah (http://www.freewebs.com/tyranus009/)

” Marah ? “

” Ya, memang saya marah “

” Tapi kamu biasa-biasa saja ekspresimu “

” Biasa ? Ya biasa-biasa saja karena saya marah dalam diam “

” Apa yang membuat kamu marah ? “

” Saya marah bukan karena perbuatan mereka “

” Lantas ? “

” Saya marah karena telah menyerahkannya kepada mereka “

” Memang kenapa dengan mereka “

” Tidak usah dibicarakan karena akan menambah marahku makin menjadi-jadi “

” Tapi apa yang kamu serahkan “

” Seandainya waktu itu saya tidak serahkan kepada mereka, mungkin “

” Mungkin apa ? “

” Mungkin dia tidak akan bernasib seperti ini “

” Tapi mereka khan memang punya hak “

” Ya dan benar sekali, mereka punya hak. Karena mereka adalah orang-orang yang telah melahirkannya. Tapi …. “

” Tapi apa ? :

” Dari sejak lahir sayalah yang merawatnya dengan harapan dia bisa tumbuh besar sebagai insan yang sehat akal dan hati sehingga dapat berguna bagi diri, mereka yang melahirkan dan sebagainya. “

” Ohhhhhhh gitu, terus apa yang terjadi “

” Lihat…lihat kawan, dia sudah tidak seperti manusia lagi. Badan kurus kerempeng, tulang belulang yang tampak di hampir seluruh tubuhnya, diam tanpa ekspresi, menangis kesakitan akibat tidak diberi makan, kulitnya kering kerontang tanpa pelembab, wajahnya sudah mendekati wajah tengkorak. Ya seperti yang ada di negeri-negeri Afrika dalam kondisi kelaparan yang endemik. “

” Saya menangis melihatnya. Apakah benar itu dia ? Dia yang dulu sehat dengan tawa cerianya, merangkak ke sana kemari, menggemaskan dan selalu membuat rindu seisi rumah. “

” Ya itulah dia. Saya sudah tidak sanggup lagi untuk berkata-kata dan air mata ini sudah tidak bisa terbendung lagi “

” Ohhhh, sungguh sayang dirimu kepada dia “

” Saya sayang bukan karena dia dekat dengan saya tapi dia adalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Kok bisa-bisanya mereka yang melahirkan sampai masa bodo dan berbuat tega terhadap dia. “

” Dimanakah mereka sekarang “

” Saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang kutahu salah satu dari mereka telah meninggal karena stres dan tidak mau makan disebabkan oleh percecokan sesama mereka.Yang membuat saya kaget adalah kok mau mati saja harus mengajak dia yang tidak berdosa “

” Berapa lama tidak makan “

” Hampir 2 minggu tapi Alhamdulillah dia selamat dan segera mendapatkan perawatan di rumah sakit. “

” Tragis “

” Ya tragis, semua itu terjadi karena mengatas namakan cinta padahal itu hanyanlah nafsu syahwat yang menyelimuti mereka saat sedang kasmaran “

” Dimana sekarang salah satu dari mereka ? “

” Saya tidak tahu. Kudengar sibuk main futsal “

” Bagaimana dengan dia ? “

” Tidak ada secuilpun dipikirkan oleh salah satu dari mereka tersebut. “

” Kurang ajar, keterlaluan, bangsat …… dst “

” Lho kok malah sekarang kamu yang marah “

” Bagaimana tidak marah, melihat kelakuannya. Akan saya pukul nanti kalau dia pulang “

” Hahahahaaha marah telah menghasutmu. “

” Tapi kamu marah juga khan “

” Ya tapi saya marah karena seharusnya saya rawat dia dan menolak menyerahkan kepada mereka yang tidak punya hati dan idiot “

” Ahhhhhh berarti sama khan marah-marah juga “

” Hahahaahahahahahaahaha marah dalam kegembiraan “

NB: Saya persembahkan tulisan ini kepada seluruh anak di Indonesia yang nasibnya kurang beruntung karena disia-siakan orang tuanya. Khususnya anak-anak yang menderita busung lapar, terkena virus HIV, dan penyakit berbahaya lainnya.