Nasionalisme Itu Dengan Laku Lampah Bukan Dengan Omongan

” Dengar kata Uyut, Cech. Jangan pernah berpikir ingin jadi orang Sakti. Karena apa? SAKTI itu sama dengan meruSAK haTI. Contohnya mudah. Lihat Superman. Saking SAKTInya pakai celana dalam di luar bukan di dalam. “

” Manusia itu yang dinilai bukan dari kaya dan kepintarannya. Tetapi yang dinilai adalah apa yang telah dilakukan dengan kekayaan dan ilmunya bagi banyak orang. “

Begitulah 2 nasehat yang diberikan oleh almarhum Kakek Buyut (Uyut) dan almarhum bapak saya.

Seiring waktu, saat ini saya tinggal dan bekerja di Fiji. Banyak orang yang mengenal saya terkejut dan kaget.

” Ngapain kamu di Fiji “

” Fiji itu dimana ? “

” Kalau hanya untuk cari uang sih oke oke saja ! “

” Negeri antah berantah, ndak jelas “

” Fiji, negara kecil dan apa yang bisa  kamu perbuat dari negara yang jumlah penduduknya hanya 800 ribuan. “

Tak disangka sudah hampir satu tahun saya di Fiji. Banyak peristiwa dengan segala duka dan citanya. Saya menikmati keberadaan di Fiji. Walaupun jauh dari tanah air tetapi tidak melunturkan semangat untuk berbuat sesuatu untuk diri, keluarga, bangsa dan negara. Wuidihhh hebat banget… bangsa dan negara coy (ikutan kang Mukti ah heheheh)

Ya benar 2 kata yang melekat yaitu bangsa dan negara menjadi penyemangat dan menambah keyakinan diri kalau saya bisa berbuat sesuatu yang bermanfaat dan memberikan energi positif bagi tanah air walaupun masih terbilang redup-redup energi positifnya.

Terlepas dari hiruk pikuknya pemberitaan mengenai tanah air terutama masalah korupsi, kekuasaan dan sebagainya tetap tidak melunturkan semangat untuk memberikan sesuatu sebagai kenang-kenangan untuk anak cucu saya nanti. Bagaimana ? Bagaimana ya !!! Hmm banyak yang bisa dilakukan.

Indonesia belum habis, Indonesia belum tamat, Indonesia tak akan bubar. Lihat saja boleh saja Indonesia berganti pemimpin mulai dari tingkat RT sampai Presiden tetapi tetap saja Indonesia kokoh berdiri. Tetapi Mas, korupsi yang merajalela dan lemahnya hukum di negeri ini bisa membuat kita putus asa lho. Begitulah kata seorang teman.

” Mas… mas … mas pernahkah mendengar orang kecil bicara seperti ini berkali-kali kita pemilu dan ganti pejabat tetap saja hidup saya masih seperti ini. Jaman pak Harto  tukang burjo ehhh reformasi tetap tukang burjo. Tidak ada perubahan “

Ya jelas tidak berubah karena emang belum mau berubah.Ingat Allah tidak akan mengubah suatu kaum apabila kaum itu tidak mau mengubahnya. Jadi kita harus berubah. Berubah menjadi lebih baik dan itu dimulai dari diri sendiri. Klise ya hehehehe

Apa hubunganya dengan Fiji ? Saya akan menceritakan pengalaman  saya selama di Fiji. Awal kedatangan, saya membayangkan Fiji sebagai negara yang maju karena Fiji terkenal dengan resort, pantai dan tujuan wisata yang eksotik bagi turis-turis seluruh dunia. Sesampainya di Fiji, lho kok seperti ini. Pernah ke Kupang ? Ya seperti itulah Suva, ibukota Fiji. Penduduknya hampir sama dengan saudara-saudara kita di Papua karena mereka memang satu ras yaitu ras Melanesia. Walaupun di Fiji hampir 36% penduduknya keturunan India yang dibawa oleh kolonial Inggris untuk menggarap tebu sekitar 100 tahun yang lalu. Seth.

Makanan pokok penduduk asli Fiji adalah singkong, talas, ubi, dan sukun. Sedangkan beras banyak dikonsumsi penduduk Fiji keturunan India. sebagian besar beras diimpor dari Vietnam, Thailand danIndia. Nah inilah menariknya dan ada kaitannya dengan demi bangsa dadn negara.

Sebuah pertemuan yang tidak disengaja pada saat KBRI mengadakan kegiatan Bula Indonesia. Pada saat itu saya memperkenalkan produk bumbu untuk makanan ringan. Saya pikir bumbu tersebut sudah sangat familier bagi masyarakat Fiji. Ternyata salah dugaan saya. Mereka terbengong-bengong ingin mengetahui dan mencicipi bumbu tersebut. Gara-gara bumbu itulah saya diperkenalkan oleh seorang Suster asal Indonesia kepada Kepala Agriculture Research Center Koronivia dan salah seorang staf peneliti yang biasa menangani masalah kimia pangan.

Perkenalan tersebut berlanjut hingga sekarang ini. Kita saling berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang produk-produk olahan pertanian. Ketika saya bercerita tentang teknologi pengolahan hasil pertanian di Indonesia, mereka semakin merasa heran dan terkagum-kagum. How come ? kata mereka. Padahal apa yang saya ceritakan baru teknologi sederhana yang sudah banyak dikerjakan oleh industri kecil dan menengah di Indonesia.

Contohnya adalah singkong. Singkong bisa diolah menjadi gaplek, tepung gaplek, tapioka, tepung Mocal, keripik singkong berbagai rasa, tape sampai bio fuel. Makin terbengong-bengong saja mereka. lah kok pada bengong pikir saya pada saat itu. Artinya…. Ya mereka jauh tertinggal dari Indonesia dalam teknologi pertanian.

Sebagai orang yang mempunyai basic ilmu teknologi pertanian bolehlah berbangga sedikit walaupun ilmu yang saya miliki masih belum apa-apanya dibandingkan dengan ahli-ahli teknologi pertanian di Indonesia.

” Cech, memang di Fiji sudah ada fakultas teknologi pertanian terutama teknologi hasil pertanian. Tetapi lulusannya hanya diajarkan teori saja karena keterbatasan tenaga pengajar yang mampu mempraktekkan ilmunya untuk mengolah dan mengembangkan potensi pertanian dan perikanan yang ada di Fiji. Cech tahu sendiri khan bagaimana saya sempat kagum ketika Cech cerita tentang singkong, talas, ubi dan sukun bisa diolah menjadi berbagai produk yang bernilai ekonomis. Serius Cech saya kagum dan bersyukur bertemu dengan Cech ” Itulah yang dikatakan oleh  salah satu staf peneliti Agriculture Research Center.

Wao kata saya dalam hati. Dan benar saja sewaktu saya diajak oleh seorang pengusaha Fiji bertemu dengan seorang kepala suku dan tuan tanah (Magali) dimana saya disuruh untuk mempresentasikan teknologi pengolahan hasil pertanian yang ada di Indonesia. langsung beliau memeluk saya dan mengatakan bahwa saya lah orang yang dicari-cari selama ini. Waduh makin besar saja hidung saya ini hehehehe.  Beliau mengatakan banyak lahan di Fiji yang belum dimanfaatkan. Penduduk hanya mengandalkan tanaman singkong dan talas sebagai sumber pendapatan. Itupun dijual dalam bentuk mentahnya saja dan belum diolah menjadi berbagai macam produk olahan.

Ini baru singkong dan talas bagaimana dengan sukun, pisang, pepaya, nangka, ubi, coklat, kelapa dan lain-lain. Sari buah mengkudu saja  baru sekarang diperkenalkan dan itupun yang mengerjakan orang asing. Terus jahe yang diolah menjadi dried ginger, slice ginger dan asinan jahe tetapi yang mengerjakannya justru pengusaha dari Cina. Jadi bagaimana dong Cech ? Bisa bantu kami ?

Langsung saja otak saya bekerja. Bagaimana caranya agar bisa membantu mereka tetapi konsep demi bangsa dan negara dijalankan ? Ahah akhirnya saya mendapatkan caranya. Indonesia adalah negara pertanian tetapi pada saat ini belum memungkinkan Indonesia melakukan investasi besar-besaran di Fiji seperti yang dilakukan Cina. Sebagai negara bekas jajahan Inggris (Commowealth), Fiji banyak mendapatkan bantuan ekonomi dari Australia, Selandia Baru, Inggris dan Uni Eropa walaupun pada saat ini keanggotaan Fiji dibekukan karena aksi kudeta tahun 2006 dan pemerintah sekarang menolak permintaan negara-negara Barat untuk segera melaksanakan pemilu.

Banyak alat pertanian seperti traktor didatangkan dari Australia dan Selandia Baru tetapi banyak pula yang jadi besi tua karena keterbatasan pengetahuan dan suku cadang. Ini semua berkaitan dengan rendahnya tingkat pendidikan di Fiji. Ini menjadi peluang yang baik untuk Indonesia. Mengapa tidak menerapkan teknologi tepat guna ala pertanian Indonesia yang mudah, praktis dan relatif terjangkau bagi masyarakat Fiji seperti teknologi pengolahan singkong, talas, ubi dan sebagainya. Mulai dari alat dan mesin pencuci singkong, pengupas kulit singkong, pengiris singkong, pengering singkong, penggilingan chip singkong, sampai pengemasan tepung dan keripik singkong. Itu baru singkong dan belum yang lainnya.

Selain itu Fiji membutuhkan tenaga ahli pertanian mulai dari ahli tanaman sampai ahli pengolahan pertanian. Indonesia boleh berbangga karena bisa mengirimkan TKI yang mempunyai kemampuan dan berkualitas.

Langsung pikiran saya tertuju kepada sosok Bung Karno. Apa maksud beliau mempelopori Gerakan Non Blok dan Konferensi Asia Afrika. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan konstelasi polkam pada saat itu dimana terjadi perang dingin antara AS dan Uni Soviet. Ada tujuan dibalik itu yaitu dengan kekuatan 2/3 penduduk dunia (penduduk Asia Afrika) merupakan potensi pasar bagi produk-produk Indonesia. Sayangnya semua itu hanya cerita sejarah. Ibarat orang yang selalu melihat ke atas tetapi tidak memperhatikan apa yang ada di depan, di belakang bahkan di bawah. Ingin seperti lompatan katak dan serba instan yang mengabaikan proses.

Di tulisan ini saya mengajak seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada  untuk menjadi agen pemasaran produk-produk Indonesia. Sekecil apapun nilainya, setidaknya kita telah melakukan karena nasionalisme bukan dengan omongan tetapi dengan laku lampah dalam konsep “demi bangsa dan negara”.

13222163621276022056
Bus buatan Indonesia di Fiji (flickr.com)

NB: sekedar info beberapa pengusaha bus di Fiji sampai tahun 2012 telah memesan 40 bus buatan Indonesia dan baru terpenuhi 14 bus pada tahun 2011. Ini sebuah kebanggaan bagi Indonesia walaupun banyak yang mengatakan Indonesia hanya merakit saja tetapi jangan salah kalau bus yang dikirim tersebut 80% komponennya asli buatan Indonesia.

Potensi Kunyit Kering Dan Kebiasaan Lama

tanamanjamu.wordpress.com

 

Kami menjual KUNYIT KERING RAJANG kualitas export dengan spesifikasi sebagai berikut :

1. KUNYIT KERING RAJANG
2. Kadar air max.10%
3. Kadar Curcuma max. 3,4%
4. Kadar Curcumanoid 5,8%
5. Warna kuning orange cerah tanpa jamur, kering patah
6. Kemasan PP bag
7. Disertai hasil tes.

Begitulah bunyi iklan di dunia maya mengenai pemasaran kunyit kering. Mungkin kita sudah sering membaca iklan demikian tetapi pertanyaannya adalah apakah spesifiksai yang disampaikan dan jumlah kunyit kering yang disampaikan tersebut benar adanya.

Sebelum menjawabnya maka saya ingin menceritakan sedikit pengalaman selama 12 tahun berkecimpung di dunia empon-empon atau bahan baku untuk jamu. Terus terang saya kurang begitu menguasai produksi dan kebutuhan kunyit kering untuk bahan baku jamu secara nasional. Tetapi saya merasa yakin bahwa belum ada satu institusi/perorangan yang dapat memastikan seberapa besar kebutuhan dan produksi kunyit kering secara nasional sekalipun Departemen Pertanian atau Pusat Data Statistik.  Jadi belum ada database yang valid, ajeg dan sahih mengenai kunyit kering pada khususnya dan empon-empon pada umumnya.

 

Kunyit Kering Iris Super (dok. Cech)

Baru-baru ini saya membantu seorang pengusaha yang sedang mencari kunyit kering untuk produk jamunya. Dengan sedikit pengalaman dan pengetahuan akhirnya saya bisa menemukan salah satu perusahaan yang menyatakan dirinya sebagai suplier bahan-bahan baku jamu terutama kunyit. Dikatakan kalau perusahaannya memproduksi kunyit kering 3-5 ton per minggu. Dengan data yang diberikan dan tampaknya meyakinkan, akhirnya saya dan teman pengusaha melakukan janji serta deal harga dengan perusahaan tersebut. Kemudian seminggu lagi kami akan datang berkunjung ke tempatnya di luar kota Jakarta. Kami pikir waktu seminggu adalah waktu yang cukup untuk mereka mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik diantaranya kunyit kering sebanyak 2 ton dulu dan angkutan yang katanya bisa membantu mencarikan angkutan ke Jakarta.

Tepat seminggu, kami datang ke tempatnya, dengan wajah gembira sang teman pengusaha sudah bisa membayangkan dengan adanya pasokan kunyit tersebut maka produksi jamunya dapat berjalan lancar. Apalagi dia telah dikirim sampel kunyit kering dengan speksifikasi yang ditawarkan dan sesuai dengan yang diinginkan.

Tetapi apa lacur ? Sesampainya di perusahaan tersebut, kunyit yang kami cari hanyalah 2 kuintal. Bayangkan permintaan 2 ton dan dikatakan siap ternyata hanya ada 2 kuintal alias 200 kg. Kami sempat berpandangan satu sama lain dan bertanya ada apa gerangan yang terjadi ? Apakah waktu seminggu tidak cukup ? Apakah kami salah mendengar penawaran seminggu yang lalu? Apakah kami salah waktu datangnya ? Apakah kami dianggap bukan pembeli yang potensial bagi perusahaan tersebut ?

Ternyata pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah pertanyaan semu yang dijawab dengan entengnya dan klasik. Kok klasik ? Ya klasik karena dari 12 tahun saya terjun ke duania empon-empon selalu saja jawabannya sama yaitu menyalahkan musim hujan dan bukan musim panen kunyit. Saya hanya bisa tersenyum kecut dan untuk tidak stres maka saya tertawa meledak-ledak hahahahaha… Abisnya kalau yang meledak-ledak marahnya tho tidak akan menyelesaikan masalah juga.

 

Kunyit Kering Iris Standar (dok. Cech)

Mengapa hal itu bisa terjadi ? Klasik dan selalu klasik jawabannya. Apakah mereka tidak tahu musim panen kunyit ? Apalagi saya sempat perhatikan kunyit yang dipanen belum waktunya atau belum berumur 7 bulan sehingga hasil pengeringan kunyit tidak baik yaitu hitam dan berjamur karena kadar air yang masih tinggi dan ditambah musim penghujan juga.  Intinya adalah mereka tidak memperhatikan atau mengajarkan petani untuk melaksanakan pola tanam yang baik berdasarkan kondisi tanah dan musim di daerah dimana petani binaan mereka tinggal.

Sudah hanya 200 kg ehhh penampakan kunyit kering tidak cerah alias kusam, berjamur dan cepat layu serta tidak getas pada saat dipatahkan. Bagaimana solusinya ? Akhirnya kami meminta kepada perusahaan untuk diajak ke petaninya langsung agar kami bisa melihat proses produksi pengeringan walaupun kami harus menambah waktu menginap di hotel (sampai 3 hari dari 1 hari yang direncanakan).

Kunyit Utuh Kering (Finger) (dok.cech)

 

Benar saja, apa yang saya lihat sesuai dengan dugaan. Bagaimana bisa memenuhi permintaan 2 ton kunyit kering kalau petani melakukan pengeringan dengan hanya mengandalkan matahari di musim penghujan di akhir tahun. Terus pertanyaannya adalah apa fungsi perusahaan sebagai penampung hasil pengeringan kalau tidak mau membantu petani dengan memberikan atau menyewakan alat pengeringan atau oven dengan kapasitas sedang 200-300 kg kunyit basah. Padahal perusahaan tersebut sudah sangat diuntungkan dari selisih harga yang jauh dari harga petani.  Dimanakah simbiose mutualismenya ? Embuhlah jawaban saya dalam hati…. Kok tidak berubah ya cara kerja, pola pikir dan kinerjanya. Semuanya masih mengikuti kebiasaan lama yang tidak pernah belajar dari kekurangan-kekurangan yang ada selama ini.

Saya pikir waktu 12 tahun akan terjadi perubahan besar dalam kinerja dan hasil produksi kunyit kering. Ternyata perubahannya tidak signifikan dan mengandalkan sistem konvensional terutama di tingkat petani.

Selain itu semuanya menyamaratakan. Maksudnya ? Para petani tidak diberitahukan mengenai jenis kunyit yang laku di pasaran. Karena penggunaan kunyit kering di pasaran ada 2 pangsa yaitu pangsa pertama untuk industri makanan, minuman, dan jamu. Yang kedua untuk industri kosmetik. Kedua pangsa tersebut masih dibagi lagi berdasarkan kualitas. Jadi harus dipahami dengan benar oelh petani atau pengepul agar mendapatkan pangsa pasar yang bagus dengan harga yang tinggi.

Sebagai penutup, potensi kunyit baik dalam bentuk basah, kering dan bubuk sangatlah besar. Sayangnya belum ada database yang jelas dan benar tentang supply and demand. Segala suatunya masih meraba-raba alias baru katanya. Katanya negeri pertanian tetapi bangsa ini tidak mengerti potensi yang dimiliki. Bagaimana ini ? Salahkah Departemen Pertanian ? Perusahaan jamu ? Pemerintah Daerah ? Pemerintah Pusat ? Perguruan TInggi ? Kuncinya adalah GOODWILL dari pihak-pihak yang berkompeten terhadap kemajuan pertanianan bangsa Indonesia terutama komoditi empon-empon.

Peningkatan Kebutuhan Lahan Pertanian Secara Global, Siapa Yang Diuntungkan ?

Krisis harga pangan baru-baru ini memungkinkan  suatu kepentingan untuk memperoleh tanah pertanian di luar negeri untuk mengamankan pasokan pangan. Bersama dengan boomingnya  biofuel dan krisis keuangan, hal itu mengarah pada suatu penemuan kembali sektor pertanian sebagai sektor yang menggiurkan  dengan berbagai jenis investor. Namun, ada kekhawatiran bahwa gelombang investasiini  bisa menghilangkan hak-hak masyarakat lokal dan mata pencaharian mereka. Data yang terpercaya  pada akuisisi tanah sangatlah langka sehingga  menyebabkan spekulasi dan membuat sulit bagi para stakeholder untuk membuat keputusan berdasarkan  informasi yang baik.

Clear cutting for agriculture in Brazilian Pantanal (physorg.com)

Untuk mengisi gap ini, Bank Dunia melakukan kajian komprehensif, melakukan dokmentasi  pengalihan tanah secara aktual  di 14 negara, memeriksa  19 proyek, me-review kembali laporan media  dan mengeksplorasi potensi yang ada  untuk meningkatkan hasil pertanian.

Permintaan akan lahan sangat  besar. Dilaporkan bahwa jumlah transaksi tanah pertanian skala besar pada tahun 2009 saja sebesar 45 juta hektar. Itu sebanding  dengan tingkat ekspansi rata-rata 4 juta hektar per tahun dalam satu dekade menjelang tahun 2008. Ada indikasi yang kuat, para investor mengarahkan fokusnya  pada negara-negara Afrika dengan alasan lemahnya aturan pemerintah dalam mengolah lahan. Selain itu tanah sering ditransfer dengan cara  mengabaikan hak atas tanah yang ada dan tidak berkelanjutan secara sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Berikut ini adalah rekomendasi dari laporan Bank Dunia yang  meliputi :

1.  Melindungi dan mengakui hak atas tanah yang ada, termasuk  hak sekunder seperti penggembalaan.

2.  Buatlah upaya yang lebih besar untuk mengintegrasikan strategi investasi ke dalam strategi nasional pembangunan pertanian dan pedesaan, memastikan bahwa standar sosial dan lingkungan telah  diikuti.

3. Meningkatkan kerangka hukum dan kelembagaan untuk menangani meningkatnya sengketa lahan.

4. Meningkatkan penilaian atas kelayakan ekonomi dan teknis proyek-proyek investasi.

5. Terlibat dalam proses yang lebih konsultatif dan partisipatif untuk membangun inisiatif sektor swasta yang ada dan standar hibah seperti Equator Principles and the Forest Stewardship Council (penerapan standard lingkungan oleh bank dan lembaga keuangan internasional)

6. Meningkatkan transparansi akuisisi tanah, termasuk mekanisme keterbukaan sektor swasta secara efektif.

Pada tanggal  13 September – 8 Oktober 2010 secara bersama-sama  akan diadakan diskusi secara online (eDiscussion) untuk membahas laporan BankDunia tersebut. eDiscussion yang terbuka untuk umum  ini diselenggarakan oleh Global Donor Platform untuk Pembangunan Pedesaan  (Global Donor Platform for Rural Development) dan Institut Internasional untuk Pembangunan Berkelanjutan (International Institute for Sustainable Development)

Tujuannya adalah untuk mengumpulkan masukan dan rekomendasi untuk langkah selanjutnya dari perspektif tiga kelompok kunci stakeholder  yaitu masyarakat madani, sektor publik dan sektor swasta. Hasil eDiscussion akan dibahas pada Pertemuan Tahunan Bank Dunia pada bulan Oktober 2010 dan sejumlah acara berikutnya.

Laporan Bank Dunia tersebut secara lengkap dapat dibaca di Rising Global Interest in Farmland bulan September 2010.

Dampak Penggunaan Mikroba Bagi Kesehatan, Pertanian Dan Industri Biofuel

Untuk pertama kalinya, para peneliti dari Universitas Illinois  telah menemukan cara  bagaimana mikroba memecah senyawa hemiselulosa tanaman menjadi gula sederhana. Bakteri yang dipakai sebagai model adalah bakteri rumen sapi. Penelitian ini dipublikasikan dalam Journal of Biological Chemistry tanggal 9 Juli 2010.

Isaac Cann, profesor  Department of Animal Sciences University of Illinois dan anggota Energy Biosciences Institute (EBI) di Institute for Genomic Biology mengatakan hasil penelitian ini memberikan implikasi yang sangat luas dan  semuanya dimulai dengan mikroba rumen sederhana. Sungguh menakjubkan bagaimana penelitian ini dapat memberikan manfaat terhadap kesehatan dan nutrisi manusia, produksi biofuel dan gizi hewan.

Rumen sapi adalah model yang sangat baik untuk  penelitian  dan sebagai salah satu mesin yang paling efisien untuk membongkar  materi  tanaman. Mikroba dalam rumen memecah materi tanaman  menjadi glukosa dan xilosa yang digunakan sebagai nutrisi untuk fermentasi dan akuisisi energi.

Peneliti Universitas Illinois  memanfaatkan DNA Sequencing dan transcriptomics (pendekatan RNA Sequencing) untuk menentukan semua enzim organisme Prevotella bryantii yang digunakan untuk mendekonstruksi hemiselulosa menjadi gula sederhana.

Memecah hemiselulosa adalah  salah satu proses yang rumit dalam industri biofuel. Saat ini industri hanya memiliki mikroba yang dapat memfermentasi gula-gula sederhana menjadi bahan bakar cair seperti etanol dan butanol. Tapi mereka harus berjuang untuk memecah bahan baku seperti bonggol jagung, switchgrass dan miscanthus.

Switchgrass/Panicum virgatum (en.wikipedia.org)
Miscanthus sinensis (en.wikipedia.org)
Miscanthus sinensis (en.wikipedia.org)

Meskipun peneliti menggunakan bakteri dari perut sapi, hasil mereka berlaku juga untuk mikroba dalam usus besar manusia. Para peneliti  kesehatan dan gizi manusia juga  tertarik pada pemanfaatan  bakteri rumen tertentu dan bakteri usus manusia untuk memperoleh  energi dari serat makanan. Mikroba dalam usus besar mampu  menyediakan sekitar 10 persen dari kebutuhan energi sehari-hari.

Cann menambahkan bahwa pemahaman yang lebih besar populasi mikroba dalam usus besar dapat mempengaruhi kesehatan dan status gizi manusia. Misalnya perubahan sederhana dalam populasi mikroba usus besar yang dapat berkontribusi bagi perkembangan penyakit radang usus. Hal ini juga berlaku bagi hewan ternak.

Jadi  tidak mungkin dapat  memahami gizi hewan ternak tanpa memahami gaya hidup populasi mikroba dalam ususnya. Sapi tergantung pada mikroba untuk memperoleh energi dari  rumput dan konsentrat pakan. Pemahaman yang lebih baik bagaimana mikroba menangkap nutrisi dari materi tanaman dapat  membuat peternakan hewan lebih efisien.

Para peneliti Universitas Illinois juga sedang  melakukan penelitian terhadap dua bakteri rumen utama lainnya dalam memperoleh  energi dari selulosa dan  hemiselulosa.

Pengolahan Makanan Skala Kecil

Sebagian besar pengolahan makanan skala kecil di Indonesia dikerjakan oleh para petani dengan berbagai macam produk pengolahan makanan. Berikut adalah pengolahan makanan skala kecil yang menggunakan komoditi pertanian :

Pengolahan Makanan Skala Kecil Di Cileungsi (doc. cech)

1. Pengolahan Kacang Kedelai

Perajin Tahu Dari Bahan Kedelai (properti.kompas.com/read)

Sebagian besar protein nabati di Indonesia berasal dari kacang kedelai. Meskipun ada jenis kacang-kacangan lainnya seperti kacang tanah dan kacang hijau yang bisa menghasilkan protein nabati tapi kedelai tetaplebih populer.

90 persen kacang kedelai digunakan untukkeperluan pangan manusia. Berdasarkan proses pengolahannya maka kacang kedelai dibagi menjadi fermentasi (fermented) dan tanpa fermentasi (unfermented). Produk pengolahan kedelai yang mengalami fermentasi adalah tempe, oncom, tauco, dan kecap. Sedangkan yang tanpa fermentasi adalah tofu (tahu), tauge, susu kedelai, keripik kedelai dan bubuk kedelai.

Peningkatan industri pengolahan kedelai membutuhkan pengetahuan bahan baku, tehnik pengolahan, pengembangan produk baru, pengawasan mutu dan higienis, penangan limbah dan manajemen pemasaran.

2. Pengolahan Ubi Kayu

Ubi Kayu (doc.cech)

56,7 persen dari total produksi ubi kayu (15,95juta ton) dikonsumsi oleh manusia. 20 persen dimanfaatkan untuk pembuatan keripik singkong, 41,2 persen untuk pelet ekspor, dan 48,8 persen untuk industri. (BPS 1992). Sekitar 7,7 persen diolah menjadi tepung tapioka yang kebanyakan diekspor keluar negeri.

Di Jawa 60 persen dari populasi memanfaatkan ubi kayu untuk bahan makanan. Masyarakat pinggiran yang memproduksi dan mengkonsumsi ubi kayu banyakmenggunakan 62 persen ubi kayu segar dan 49 persen ubi kayu kering. Ubi kayu tersebut di manfaatkan untukkonsumsi keluarga mereka.

3. Pengolahan Pisang

Aliran Proses Pengolahan Sale Pisang (www.iptek.net.id/ind/warintek)
Banana Chip (bananasrepublik.blogspot.com)

Selain dijual dalam bentuk segar, pisang juga bisa dimanfaatkan menjadi jus, keripik, tepung dan sale. Khusus pisang segar membutuhkan penanganan khusus pada transportasi seperti adanya alat pendingin dan penyimpanan dalamudara terkendali. Hali ini diperlukan karena buah pisang cepat sekali membusukdengan ditandai warna hitam di kulitnya.

4. Pengolahan Dodol

http://www.iptek.net.id/ind/warintek
Dodol (yppt.wordpress.com/about/)

Dodol terkenal sebagai panganan yang menggunakan tepung beras ketan, santan, dan gula pasir.Kadang-kadang menggunakan juga bahan tambahan makanan (Food Aditive sesuai dengan Standar Nasioanal Indonesia 1616-90). Dodoldapat dibuat dalam berbagai bentuk dan rasa. Tiap daerah di Indonesia mempunyai berbagai macam dodol dan biasanya dikonsumsi pada acara-acara tertentu seperti acara pernikahan, hari raya, kelahiran anak dan camilan. Saat ini dodolsudah banyak yang diekspor ke negara-negara tetangga Indonesia terutama negara Timur Tengah.

Industri pengolahan makanan skala kecil di Indonesia secara umum mempunyai karakteristik sebagai berikut :

1. Minimnya modal, kadang hanya buruh yang menjadi faktor produksi.

2. Biaya perawatan yang tidak ekonomis.

3. Menggunakan teknologi sederhana dan tradisional.

4. Mutu produk yang rendah.

5. Keterbatasan akses pasar,

6. Sulitnya melakukan ekspansi pasar.

7. Sulitnya mendapatkan fasilitas kredit bank.

8. Kurang fasilitas yang dimiliki.

9. Ketersediaan suplai bahan baku yang belum terjamin.

Protected by Copyscape Plagiarism Software

Aku Dan Pertanian

bumiganesa.com

Beberapa hari ini tanpa sengaja saya melihat berita di televisi tentang kisruhnya sebuah organisasi yang bergerak di dunia pertanian yaitu Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Saya kurang mengerti sebenarnya apa yang menyebabkan terjadinya kekisruhan tersebut. Ada dua kubu yang saling mengklaim yaitu Kubu Prabowo Subijanto dan Kubu Oesman Sapta Odang. Alasan kekisruhan tersebut disebabkan oleh satu kata yaitu demokratis. Kubu satu dianggap terlalu otoriter dan membatasi kebebasan berdemokrasi kubu lain di organisasi tersebut.

Melihat itu semua, saya hanya merasa heran dan berpikir apakah benar para petani/nelayan/peternak butuh demokrasi dan merasa terwakili oleh organisasi tersebut. Sebagai orang yang pernah bergelut dengan dunia pertanian walaupun lebih banyak di pasca panennya maka saya merasa miris dengan kegaduhan tersebut. Tapi saya tidak akan membicarakan kekisruhan organisasi tersebut. Bagi saya yang terpenting adalah adanya perlakuan yang adil bagi petani/nelayan/peternak dan kehidupan mereka tiap tahunnya makin membaik serta tidak terpuruk. Itu saja yang ada dalam pikiran saya.

Terus terang waktu awal-awal saya lulus kuliah dulu, saya pernah merasakan bagaimana bersinggungan langsung dengan kehidupan petani. Kalau dikatakan membina petani, saya pikir apa yang saya lakukan jauh dari kata membina. Karena memang tidak mudah dan butuh kearifan dalam bentuk waktu, energi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Saat itu kebetulan saja saya punya usaha pemasok bahan baku untuk jamu. Tanpa sengaja pada saat saya istirahat di Bojonglopang, Jampang kulon Kabupaten Sukabumi melihat beberapa orang yang mengangkut jahe dalam jumlah terbatas untuk kebutuhan pasar tradisional di Sukabumi. Jahe yang dijualpun hanya sebagai komoditi tambahan bagi komoditi pertanian lainnya. Di sana jahe tersebut terkenal dengan jahe kapur (daerahnya memang berkapur) atau saya mengatakannya jahe emprit. Saat itu jahe kapur tersebut sangat murah bahkan dihargai seadanya asal cukup untuk menutupi ongkos ke pasar.

Besarnya potensi yang dimiliki daerah tersebut maka saya berinisiatif untuk membeli jahe kapur tersebut dengan harga yang lebih bernilai yaitu dari harga hanya Rp 75 menjadi Rp 175. Itupun saya yang mengambil langsung di tempat. Jadi petani tidak usah lagi direpotkan oleh masalah pengiriman. Tiap minggu saya mengambil jahe tersebut satu truk engkel yang bobotnya hampir 5-6 ton. Jahe-jahe tersebut saya proses lagi menjadi jahe kering dan selanjutnya disuplai ke pabrik-pabrik jamu.

Tanpa dinyana hubungan saya dengan petani berlangsung hingga 2 tahun dan saya sempat arahkan untuk melakukan penanaman tumpang sari dan bergilir (diatur pola penanamannya) agar pasokannya terjaga sepanjang tahun. Untungkah? Kalau bicara untung secara ekonomis maka saya hanya bisa tersenyum. Saya hanya mengatakan ini bagian dari idealisme saya sebagai sarjana teknologi pertanian. Hebatkah ? Ini lagi satu pertanyaan yang akan saya jawab dengan entengnya yaitu saya masih jauh dari kata hebat dibanding para penyuluh pertanian yang ada di pelosok negeri ini yang katanya negeri agraris. Mereka itulah orang-orang hebat dimana mau mengabdi untuk kepentingan dan kemajuan dunia pertanian di Indonesia.

Apa yang terjadi kemudian dengan petani jahe di Sukabumi tersebut ? Ibaratnya sudah capek-capek mengarahkan dan mulai tercipta keseimbangan pasokan. Tiba-tiba datanglah orang-orang dari Jakarta yang kebanyakan adalah broker dari buyer luar negeri dan kerjanya hanya menekan petani. Saat itu di Indonesia sedang maraknya jahe gajah. Karena harganya dianggap tinggi sehingga orang-orang tersebut berlomba-lomba mencari jahe gajah ke pelosok nusantara. Perlu diketahui jahe gajah di Indonesia hanya cocok ditanam di daerah Bengkulu. Sedangkan jahe gajah yang ada di tanah Jawa berasal dari bibit jahe Bengkulu. Berbondong-bondongnya broker tersebut merusak tatanan yang telah saya bentuk. Mereka menghasut petani untuk menanam jahe gajah dan meninggalkan jahe emprit yang harganya lebih murah. Bayangkan bagaimana tidak tergiurnya para petani, harga jahe emprit Rp 675 dibandingkan dengan harga jahe gajah berkisar Rp 1750-2200. Sementara lama panennya sama. Ya jelaslah petani akan beralih menanam jahe gajah sampai-sampai jahe gajah yang seharusnya untuk bibit lagi dijual semua.

Perlu diketahui karakteristik pemasaran jahe gajah berbeda dengan jahe emprit. Jahe gajah yang berorientasi ekspor membutuhkan spesifikasi tertentu disesuaikan dengan negara tujuan ekspornya. Misalnya untuk Singapura, Korea dan Jepang membutuhkan jahe gajah berukuran 250 gram tanpa patah. Rusia membutuhkan jahe gajah ukuran dibawah 250 gram karena memang dipakai untuk bibit. Semenatara untuk negara-negara Eropa membutuhkan jahe gajah berukuran diatas 650 gram dan perlu penanganan khusus selama perjalanan. Jadi wajar kalau harganya tinggi dan petani tidak mengetahuinya. Apalagi saat Vietnam dan Thailand dilanda banjir besar maka Indonesia diserbu oleh para buyer luar negeri. Akibatnya terjadilah kanibalisme besar-besaran sehingga petani tidak mempunyai lagi bibit untuk ditanam alias semuanya dijual. Parahnya untuk menanam kembali jahe gajah tersebut petani harus membeli bibit dengan harga lebih mahal daripada jahe gajah yang dijualnya.

Berbeda dengan jahe emprit atau kapur yang spesifik pemasarannya untuk pabrik jamu. Walaupun murah tetapi terjamin harga dan pembeliannya. Tetapi sekali lagi banyak petani yang tergiur. Bukan hanya itu saja banyak petani dan orang-orang yang belum mengerti serta coba-coba terjun di bisnis jahe gajah balapan kere alias kejar-kejaran bangkrut. Salah satu korbannya adalah teman saya sendiri yang kehilangan rumah dan mobilnya sampai-sampai hidup menggelandang bersama anak istrinya.

Dari apa yang saya sampaikan di atas maka tidaklah mudah untuk membina dan memajukan pertanian kalau tidak dibekali oleh keikhlasan dan kepuasan batin. Contoh yang paling mudah dan sukses adalah Muhammad Yunus dengan Garmeen Banknya. Memang bidang yang digelutinya lebih kepada usaha kecil menengah tapi setidaknya apa yang dilakukan oleh beliau dapat diterapkan kepada petani. Kata kuncinya adalah Goodwill dan memberikan kepercayaan tapi terkontrol dalam manajemen yang baik. Dan satu hal lagi adalah jangan sekali-kali pikiran pertama kita mencari untung. Bantu petani dengan tulus ikhlas dan pada akhirnya kita sendiri yang akan menikmatinya. Jadi jangan cekoki petani/nelayan/peternak dengan kata demokrasi. Itu yang saya rasakan dan alami.

Untuk menambah wawasan mengenai kondisi pertanian kita bisa baca:

KERJA KERAS PETANI DAN LEMAHNYA DUKUNGAN SEKTOR LAIN

BANK PETANI, BELAJAR KE NEGERI CHINA

KRIMINALISASI PERTANIAN

IRONI NEGARA AGRARIS

SARJANA PENGUSAHA

BERKACA KEPADA NEGERI TANDUS

Peran Penting Ekonomi Pedesaan di Uni Eropa

Stasiun Televisi Pertanian

equal-life.blogspot.com/

Baru-baru ini saya menonton sebuah tayangan di saluran berbayar (cabel television) tentang pertanian di sebuah desa di negara Spanyol. Banyak sekali informasi yang didapat. Tetapi setelah itu pikiran saya melayang-layang seandainya saja Indonesia mempunyai televisi khusus pertanian maka banyak sekali informasi yang bermanfaat diperoleh oleh para petani, mahasiswa, pemerhati pertanian dan lain-lain. Dengan adanya Stasiun Televisi Khusus Pertanian makin menguatkan posisi bangsa Indonesia sebagai negara agraris. Memang sudah banyak media baik cetak maupun elektronik yang mengupas tentang pertanian, perikanan, peternakan dan perkebunan tapi masih belum cukup karena masih ada keterbatasan penyampaian informasi ke petani/nelayan. Sudah saatnya pemerintah, pengusaha atau apa namanya peduli dan berani menginvestasikan uangnya untuk membuat stasiun televisi pertanian ini.

Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk merasa malu melihat kondisi dan potensi pertanian, perikanan serta perkebunan Indonesia yang semakin terpuruk. Banyaknya komoditi pertanian dari luar Indonesia terutama India, Cina, Thailand, Eropa, Australia dan Amerika dengan harga murah dan berkualitas makin merajai dan mempersempit peluang produk pertanian dalam negeri untuk bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Sebuah keironian yang seharusnya tidak perlu terjadi kalau pemerintah punya keinginan yang kuat untuk mengembangkan dan fokus menggarap potensi pertanian untuk menjadi skala prioritas utama dalam perencanaan pembangunannya.

Selama ini kelemahan bangsa Indonesia adalah menggarap data base yang akurat, valid dan sahih sehingga orang-orang yang bergerak di dunia pertanian seringkali kesulitan memperoleh informasi yang jelas antara produksi dan kebutuhan hasil-hasil pertanian/perikanan/perkebunan. Semuanya berjalan meraba-raba. Ada informasi kalau di daerah A punya banyak cengkeh tapi berapa banyak jumlahnya. Apakah bisa memenuhi kebutuhan untuk dalam negeri atau luar negeri tiap bulannya ? Inipun terjadi juga di dunia perikanan.

Sebagai cucu dari seorang petani dan yakin sebagian besar kakek-kakek para pembaca juga seorang petani maka sudah sewajarnya memikirkan bagaimana caranya agar informasi yang akurat dan lengkap bisa diperoleh oleh parapetani di seluruh Indonesia. Seperti kita ketahui bersama, lebih dari setengah rakyat Indonesia masih tergantung kepada sektor pertanian dalam kehidupan sehari-harinya. Menurut data BPS, jumlah petani mencapai 44 persen dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 46,7 juta jiwa. Lebih dari separuhnya merupakan petani gurem dan buruh tani dengan kepemilikan lahan dibawah 0,5 hektar atau mencapai 38 juta keluarga tani.

Sudah saatnya ada lembaga baik pemerintah atau swasta menggarap informasi tentang pertanian ini dengan membuat stasiun televisi khusus pertanian. Memang banyak yang mengatakan kalau berita pertanian terkendala masalah rating alias kurang menguntungkan. Tetapi nanti dulu, menurut saya kalau acaranya digarap dengan baik, apik dan menarik maka stasiun televisi khusus pertanian mempunyai banyak pemirsanya. Contoh yang paling mudah dilihat adalah betapa bagusnya penggarapan tayangan di National Geographic TV, Discovery Channel, Agro TV (Spanyol), TV Agro (Equador) dan Televisi Pertanian Israel (saya kurang hafal namanya). Contoh yang lain adalah mulai banyaknya orang kota berkunjung ke tempat-tempat outbound yang menyajikan kegiatan pertanian bagi anak-anak sekolah. Misalnya Taman Mekar Sari. Jadi ada potensi dan peluang bisnis di dunia pertelevisian negeri ini.

Pada jaman orde baru, pemerintah telah berhasil menyelenggarakan klompencapir (kelompok pendengar, pembaca, dan pirsawan). Para petani dibuat beberapa kelompok untuk kuis atau cerdas cermat. Betapa dulu para petani kita demikian pintar, bisa menjawab beberapa macam jenis pupuk dan cara-cara bercocok tanam. Para mahasiswa pertanian dan sarjana pertanian tidak enggan turun ke desa-desa. Ada acara potong padi dan dialog. Lucu dan informatif. Sudah saatnya para pengusaha pertelevisian nasional mempunyai tanggung jawab sosial dan moral untuk memberikan tayangan yang bermanfaat dengan mendirikan stasiun televisi khusus pertanian. Yakinlah akan banyak sekali manfaat dan keuntungan yang diperoleh.

Apakah ini sekedar angan-angan ? Saya hanya bisa berdoa dan membayangkan kalau suatu saat saya bisa mendirikan stasiun televisi pertanian. Amin.