Ketika Mbah Pikulun Menasehati Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

” Yang Muda menghormati Yang Tua dan Yang Tua menghargai Yang Muda ” begitulah nasehat mbah Pikulun kepada saya.

” Masih ingat itu, Cu ? ” tanya mbah Pikulun.

” Ingat sekali, mbah ” jawab saya singkat.

” Bagus, kalau begitu mau pamit dulu. “

” Mau kemana, mbah ” tanya saya

” Mbah mau ke Istana Presiden “

” Istana Presiden ??? Hebat sekali Mbah. Emangnya mbah tahu jalan ke sana ? “

” Ya tahulah, wong mbah dijemput oleh protokol Istana Presiden. “

” Dijemput??? “

” Ya dijemput, khan mbah diundang oleh Presiden SBY “

” Diundang SBY ??? “

” Hush, sembarangan nyebut nama Presiden kita. Mbok yao sebut yang lengkap Presiden SBY. Beliau khan presiden kita, pemimpin kita dan “orang tua” kita juga. “

” OOOO gitu ya mbah “

” Ya iyalah itu namanya yang muda menghormati yang tua. Ngerti, Cu “

” Ngerti mbah “

Beberapa waktu kemudian datang mobil SUV berwarna serba hitam di depan rumah dan turunlah 2 orang bertubuh tegap lengkap dengan lambang garuda di kerah bajunya.

” Mbah sudah dijemput rupanya ” ujar saya.

” Yo wes mbah jalan dulu. Jaga rumah ya “

” Ya mbah. ” saya pun tidak menyangka kalau mbah Pikulun menjadi tamu kehormatan SBY eh Presiden SBY.

Satu jam berlalu, dua jam berlalu dan tanpa terasa hari sudah gelap. Menjelang Isya, saya mendengar pintu rumah ada yang buka. Rupanya Mbah Pikulun sudah pulang. Segeralah saya menyambut mbah Pikulun dan berharap beliau akan menceritakan pertemuannya dengan Presiden SBY.

” Cu, buatin kopi “

” Ya, mbah “

Beberapa menit kemudian saya membawa kopi kesukaan Mbah Pikulun. Tampak Mbah  sedang duduk santai sambil meluruskan kakinya di atas sofa ruang tamu.

” Ini kopinya mbah. 3 sendok kopi dengan 1 sendok kecil gula. “

” Kamu emang cucu Mbah yang terbaik “

Setelah tiga tegukan seruputan kopi barulah saya memberanikan diri bertanya.

” Bagaimana pertemuannya dengan Presiden SBY hari ini ? “

Sebelum menjawab, Mbah Pikulun menyalakan sebatang rokok kretek Jinggo dan sesekali memperhatikan tingkah saya yang sudah tidak sabaran mendengar pengalaman Mbah Pikulun bertemu Presiden SBY di Istana Presiden.

” Begini Cu, ingat ga pesan mbah hari ini. Yang Muda menghormati Yang Tua … “

” Yang Tua menghargai Yang Muda … Saya ingat sekali mbah ” timpal saya.

” Nah itulah topik pembicaraan mbah dengan Presiden SBY “

” Ooo …. ” saya tertegun tanpa mengerti maksudnya.

” Setelah sampai Istana, Mbah diantar oleh protokol ke sebuah ruangan yang ternyata itu adalah ruang pribadi Presiden SBY “

” Terus mbah “

” Ya mbah langsung mengucapkan Assalamualaikum Bapak Presiden dan Presiden SBY membalas salam Mbah Walaikum salam Mbah Pikulun. Selanjutnya Presiden SBY mempersilakan mbah duduk dan menanyakan kabarnya. Ya mbah jawab baik Bapak Presiden ” singkat Mbah Pikulun sambil menghisap dalam-dalam rokok Jinggonya.

” Kayaknya seru ya mbah pembicaraannya “

” Biasa saja, Cu “

” Kalau biasa, mengapa Presiden SBY sampai mengundang Mbah. Pasti ada hal yang luar biasa “

” Hehehe cucu ingin tahu ya … “

” Iyalah sampai deg-degan tungguin mbah seharian ini “

” Intinya begini cu, Presiden SBY awalnya meminta mbah panggil SBY saja karena mbah lebih tua dan sangat dihormati. Tetapi mbah tetap memanggil Presiden SBY “

” Kok begitu mbah ? Khan beliau sendiri yang meminta untuk dipanggil SBY saja “

” Nah itulah tidak ketemunya nilai penghormatan dan penghargaan antara Yang Tua dan Yang Muda. Jadi wajar kalau Presiden SBY resah mengapa selama hampir 10 tahun menjabat Presiden sepertinya beberapa orang tidak menganggapnya sebagai Presiden sekaligus Pemimpin negara “

” Bukan hanya itu aja mbah, beliau dikesankan banyak orang sebagai Presiden yang lambat bertindak dan terlalu banyak pencitraan “

” Stop… stop… mbah ndak mau bicarakan itu.  Hampir 10 tahun beliau menjabat sebagai Presiden saja sudah merupakan neraka bagi diri dan keluarganya. Jado Presiden itu ga boleh salah pokoknya harus benar. Mbah sih menganggap wajar tanggapan tersebut. Presiden itu khan pemimpin negara, nah kalau yang namanya pemimpin maka harus bisa berperan sebagai “orang tua” yang baik bagi anak-anaknya dalam hal ini rakyat Indonesia. “

” Justru itulah mbah … “

” Sudahlah… mbah terusin ya “

” Ya mbah “

” Mbah bilang itulah mengapa mbah tetap memanggil Presiden SBY walaupun umur beliau lebih muda dari mbah. Nah sopan santun penyebutan nama sudah dilupakan oleh bangsa Indonesia. Mereka menyebut orang yang lebih tua seenak udelnya saja. Mereka harusnya tahu bagaimana cara menyebut orang yang lebih tua. Mereka pasti marah kalau ada orang yang menyebut orang tua kandung mereka dengan nama. Nah Presiden SBY secara tidak langsung mengarahkan masyarakat dan orang terdekatnya untuk bersikap tidak santun. Terlepas untuk kepentingan kampanye dulu dan supaya terlihat akrab. Itu tidak benar maka tidak mengherankan orang-orang dekatnya dengan tidak santunnya menyebut SBY saja. Lah beliau khan Presiden sudah seharusnya memberikan contoh. Beliau bisa memerintahkan lembaga-lembaga negara terutama yang berkaitan dengan media untuk mengkampanyekan penyebutan nama-nama mantan Presiden RI dengan tetap menyebut Presiden. Contohnya Presiden Sukarno, Presiden Suharto, Presiden Habibie, Presiden Abdurahman Wahid, dan Presiden Megawati dalam berbagai kesempatan. Kita ini orang Timur mempunyai budaya sopan santun dan penghormatan kepada yang lebih tua. Masak sebagai bangsa yang katanya mempunyai budaya budi pekerti yang luhur sebut mantan presiden dengan namanya saja. Sungguh keterlaluan. Bagaimanapun juga mereka pernah berjasa kepada bangsa dan negara ini terlepas bahwa mereka mempunyai kekurangan.  “

” Ohhhh gitu ya mbah. Segitu pentingkah penyebutan nama “

” Kamu ini gimana sih. Bagaimana kamu mau dihormati orang kalau kamu tidak mau menghormati orang lain. Contoh Amerika Serikat yang dikatakan liberal dan tempat segala kebebasan tetapi rakyatnya mengerti apa itu penghormatan terhadap mantan-mantan presiden. Walaupun sudah tidak menjabat lagi sebagai presiden tetapi rakyat Amerika Serikat tetap memanggil Jimmy Carter dengan sebutan Presiden Carter, George W Bush dengan Presiden Bush, Bill Clinton dengan Presiden Clinton dan seterusnya dalam berbagai kesempatan. Itulah yang namanya nilai penghormatan dan penghargaan warga negara terhadap pemimpinnya. Bahkan mbah pernah mendengar sendiri seorang diplomat asing tetap meyebut Ambassador kepada mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk negara sahabat. Lah menyebut mantan presiden hanya disebut namanya saja. Oh alah jadi benar kalau ada negara tetangga yang suka melecehkan negara kita. Wong kita sendiri aja ga bisa menghormati presiden dan mantan presiden sendiri yang notabene mereka adalah representasi “orang tua” rakyat Indonesia “

” Ya ya mbah, cucu baru sadar dan sekarang paham makna menghormati dan menghargai “

” Itulah mengapa mbah tetap ngotot menyebut SBY dengan Presiden SBY sebagai bentuk penghormatan kepada beliau yang  merupakan pemimpin dan “Orang Tua” bagi bangsa Indonesia. Kalau bukan kita yang menghormati maka siapa lagi hehehe “

” Wao luar biasa sekali mbah Pikulun. Tapi omong-omong kopi mbah udah habis, mau cucu buatin kopi lagi ? “

” Boleh, Cu “

Segeralah saya ke dapur dan 10 menit kemudian kembali ke ruang tamu. Ternyata mbah Pikulun sudah tertidur kaku. Ketika saya memanggil, tidak ada tanda-tanda mbah mendengar panggilan. Segeralah saya mendekat dan memanggil pelan-pelan sambil menggerakkan tubuhnya tetapi mbah tetap tidak bergeming dan bergerak. Ketika saya pegang dadanya… Innalillahi wa innalillahi rojiun Mbah Pikulun telah meninggal dunia. Saya berteriak untuk agar orang di rumah segera datang ke ruang tamu. Saya pun hanya bisa menangis tersedu-sedu dan mendekap erat tubuh mbah. Tiba-tiba ada yang memegang bahu saya…

” Mun… mun… bangun… mengapa kamu tadi teriak-teriak??? Mimpi ya ” teriak Sarman di telinga saya

Saya langsung tersadar. Rupanya saya tadi bermimpi ketemu mbah Pikulun.

10 Presiden Amerika Serikat Yang Wajib Dilupakan

President (stop-obama.org)

Sampai saat ini, negara Indonesia baru memiliki enam orang Presiden yaitu Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Bu Megawati dan Pak SBY (masih menjabat). Jadi kita tidak terlalu sukar untuk menghafal nama-nama Presiden Kita.

Tapi kita sudah sewajarnya dituntut untuk selalu mengingat nama-nama Presiden yang pernah memimpin negeri ini terlepas dari kelebihan dan kekurangan. Bagaimanapun mereka pernah berjasa bagi negeri ini dan mereka adalah orang-orang tua kita juga yang harus dihormati karena secara filosofis presiden sebagai pemimpin negara dianggap sebagai orang yang “dituakan”.

Bisa dibayangkan bagaimana kalau Indonesia memiliki Presiden seperti di Amerika Serika yang sudah berjumlah 44 orang Presiden termasuk Presiden Barack Husein Obama. Sudah pasti kita akan mengalami kesukaran untuk menghafal dan mengingatnya apalagi kalau ditanya pada tahun berapa mereka menjabat Presiden. Mungkin kita akan salah menyebutnya dan bisa kebalik-balik antara nama dan tahun jabatannya.

Bicara Presiden Amerika Serikat, kita pasti mengenal nama George Washington dan Abraham Lincoln karena sering disebut-sebut sebagai tokoh utama berdirinya negara Amerika Serikat sehingga nama mereka diabadikan lewat nama jalan, negara bagian, mata uang Dollar, universitas dan masih banyak lagi.

Karena sudah sangat terkenal nama George Washington dan Abraham Lincoln maka saya tidak akan mengupas tentang siapakah mereka. Saya lebih tertarik kepada nama-nama Presiden Amerika Serikat yang kurang terkenal bahkan hampir dilupakan oleh rakyat Amerika Serikat sendiri. Ada sebuah berita unik yang berhubungan dengan nama-nama Presiden Amerika Serikat.

Menurut Times, ada 10 dari 44 nama Presiden Amerika Serikat yang wajib dilupakan dan dilewatkan dalam sejarah Amerika Serikat. 10 nama Presiden Amerika Serikat tersebut adalah

1. Martin Van Buren (1837-1841, Presiden AS ke-8)

Presiden Amerika Serikat yang pertama untuk dilupakan sejarahnya. Pada masa jabatannya, Van Burenlah yang menyebabkan terjadinya krisis ekonomi akibat dari kemudahan Bank-bank memberikan kredit secara serampangan tanpa regulasi pusat. Gaya hidupnya yang serba mewah dianggap sebagai kambing hitam terjadinya awal krisis ekonomi oleh lawan-lawan politiknya sehingga pada tahun 1841 Van Buren digantikan oleh William Henry Harrison.

2. William Henry Harrison (1841, Presiden AS ke-9)

William Henry Harrison, kita tidak tahu kamu. Begitulah Times menyebutnya.

Harrison adalah Presiden Amerika Serikat yang mempunyai masa jabatan terpendek yaitu hanya 30 hari. Penyakit radang paru-paru (Pneumonia) yang menyebabkan kematian Harrison di kantornya. Kemungkinan radang paru-paru makin parah karena seringnya Harrison duduk di kantor dalam waktu yang lama pada suhu beku tanpa bantuan sebuah mantel atau topi. Prestasi penting Harrison adalah mampu berpidato dalam posisi berdiri selama hampir dua jam. Ini adalah rekor berpidato dalam posisi berdiri yang belum ada tandingannya.

3. John Tyler (1841-1845, Presiden AS ke-10)

Tyler sangat tidak populer selama masa kepresidenannya. Salah satu anggota kabinetnya mengundurkan diri sebagai bentuk protes ketika ia memveto rancangan undang-undang mendirikan bank nasional. Tak lama kemudian, ia dikeluarkan dari partainya sendiri dan Dewan Perwakilan Rakyat berusaha untuk mengeluarkan tuduhan impeachment terhadap dirinya. Tyler tidak mampu merebut kembali nominasi presiden pada tahun 1845 dan meninggalkan dukungan gerakan Konfederasi yang baru lahir. Dia meninggal di gedung DPR Konfederasi.

4. Millard Fillmore (1850-1853, Presiden AS ke-13)

Fillmore menjadi presiden setelah kematian tak terduga Zachary Taylor. Pada tahun 1850 Fillmore menjadi perhatian publik karena kebijakannya mengeluarkan sebuah kompromi untuk mengatur keseimbangan antara negara bagian budak dan negara bebas budak setelah Perang Meksiko-Amerika. Sebagai pengamat The New York Times terkenal, Fillmore telah menunjukkan posisinya berada di sisi sejarah yang salah dalam memperlakukan suatu konflik dan mengedepankan politik dibandingan moral. Bagaimanapun, dia berakhir dengan undang-undang yang menyatukan semua orang dalam ketidaksenangan dan sedikit memperbaiki ketegangan yang akhirnya akan mengarah pada perang saudara.

5. James Buchanan (1857-1861, Presiden AS ke-15)

Dengan alasan tangannya terikat oleh konstitusi, Buchanan tidak dapat melakukan apa-apapun terhadap ancaman pemisahan negara bagian yang tergabung dalam Union. Buchanan mendukung keputusan Dred Scott untuk simpatik ke selatan. Ketika negara-negara Selatan menyatakan niat mereka untuk menarik diri dari Union maka ia menyebutnya sebagai tindakan ilegal, namun ia mengatakan tidak memiliki kewenangan untuk menghentikan mereka. Dia berharap untuk menegosiasikan kompromi tapi tidak mau repot-repot melakukan pemilihan ulang sehingga meninggalkan sedikit catatan prestasi dan Perang Saudara semakin mendekati kenyataan.

6. Rutherford B. Hayes (1877-1881, Presiden AS ke-19)

Seorang mantan Senator dan Gubernur Ohio, Hayes telah menunjukkan sebuah pemerintahan yang baik dengan menunjuk anggota kabinet tanpa memandang ikatan politik. Reputasinya menjadi buruk setelah ia memanggil pasukan federal untuk menghentikan pemogokan kereta api pada tahun 1877. Pasukan federal menembaki para pekerja dan membunuh puluhan pekerja.

Ibu Negara Lucy Hayes, dikenal sebagai “Lemonade Lucy” setelah melarang minuman keras dari Gedung Putih. Presiden Hayeslah yang memelopori acara tahunan White House Easter Egg Roll pada setiap musim semi. Pada acara tahunan inilah, masyarakat AS mengingatnya.

7. Chester A. Arthur (1881-1885, Presiden AS ke-21)

Chester Arthur adalah salah satu dari lima Presiden yang tidak pernah terpilih. Ia menjabat setelah Presiden James Garfield terbunuh karena sebagai Wakil Presiden berdasarkan konstitusi secara otomatis diangkat menjadi Presiden AS.

Ia menjadi salah satu dari sedikit Presiden yang gagal memenangkan nominasi partainya untuk pemilihan kembali. Sejarawan menduga ia tidak melakukan kampanye secara agresif seperti pada awal masa jabatannya karena ia memiliki penyakit ginjal yang fatal. Dia meninggal dunia kurang dari dua tahun setelah meninggalkan kantor kepresidenan.

8. William McKinley (1897-1901, Presiden AS Ke-25)

McKinley adalah seorang politikus cerdas yang mendengarkan dengan cermat keinginan publik. Meskipun pada awalnya ia menentang, McKinley membawa negaranya berperang dengan Spanyol pada tahun 1898. Amerika mengklaim Puerto Rico dan Teluk Guantánamo sebagai bagian warisan perang.

McKinley ditembak oleh seorang anarkis di Pameran Pan-American di Buffalo, NY, pada tahun 1901. Waspada terhadap upaya pembunuhan, ajudan McKinley (Thomas Edison) mengirim mesin sinar-X baru ke Buffalo setelah peluru di dalam tubuh McKinley tidak dapat ditemukan. Tapi dokter berpikir kondisi McKinley membaik dan tidak pernah menggunakannya. Setelah dia digantikan oleh Wakil Presidennya sendiri yaitu Theodore Roosevelt yang jauh lebih mengesankan. Delapan hari kemudian dia meninggal dunia.

9. Warren G. Harding (1921-1923, Presiden AS ke-29)

Warren G Harding secara luas dianggap sebagai salah satu Presiden terburuk.

Harding adalah seorang penerbit surat kabar Ohio yang akhirnya naik menjadi Senator. Ia suka sekali bermain poker, bersosialisasi dan konon suka main perempuan. Harding disukai oleh pimpinan partai republik karena karismatik dan ulet. Pada tahun 1920 dia memenangkan kursi kepresidenan dan berjanji untuk menormalkan kembali kehidupan masyarakat AS setelah Perang Dunia I.

Di kantor, Harding dianggap sebagai pembunuh para pejabat korup dan mengungkap skandal suap Teapot Dome dimana untuk pertama kalinya mengirim sekretaris Kabinet ke penjara. Sebagai penggila perempuan, Harding adalah subjek laris memoir oleh seorang wanita yang mengaku sebagai gundiknya dan ibu dari anak tidak sah.

Harding meninggal dunia di kantor. Dalam bukunya Blink, Gladwell mengatakan “Warren Harding error” yaitu oleh pendukungnya ia dianggap sebagai presiden yang baik hanya karena ia tampak megah dan presiden sejati. Tetapi itu tidak cukup berhasil.

10. Herbert Hoover (1929-1933, Presiden AS ke 31)

Jika Wajah lain yang pernah diukir ke Mount Rushmore, kemungkinan besar tidak akan Herbert Hoover.

Presiden AS ke-31 sangat dikenang karena tanggapan pemerintahannya untuk tidak campur tangan terhadap hancurnya pasar saham pada tahun 1929 yang diikuti dengan depresi secara besar-besaran bagi jutaan rakyat.

Memang aneh kalau kita membaca berita Times tersebut. Para mantan presiden tersebut dianggap tidak memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan negaranya sehingga dianggap tidak penting dan tidak pantas dimasukkan dalam catatan sejarah secara resmi. Kalau dikatakan terlupakan mungkin bisa diterima karena banyaknya nama presiden yang pernah menjabat tapi kalau sengaja/wajib untuk dilupakan apakah dianggap pantas menurut budaya bangsa Indonesia ?

Untungnya… khan untung lagi, Indonesia baru memiliki 6 presiden. Tetapi sebagai bangsa yang besar, kita tetap selalu mengenang para pemimpin bangsa karena mereka adalah bagian dari sejarah bangsa ini. JAS MERAH… Jangan sekali-kali meninggalkan/melupakan sejarah (BUNG KARNO).

Sejarah Pernikahan Presiden Amerika Serikat

Meskipun kasus perselingkuhan banyak terjadi di  tengah masyarakat Amerika Serikat tetapi sepanjang  sejaranya pernikahan presiden-presiden Amerika Serikat tetap stabil. Amerika hanya mempunyai satu orang  presiden yang menceraikan istrinya, tapi ada dua orang presiden berstatus duda dan menikah kembali dengan istri kedua pada saat menjabat. Uniknya ada   satu presiden yang belum pernah menikah sama sekali.

bookbyte.com

Michael Nelson, Profesor Ilmu Politik dari  Rhodes College dan penulis buku  “The American Presidency: Origins and Development, 1776–2007” (CQ Press, 2007) mengatakan bahwa Ronald Reagan adalah satu-satunya presiden  yang pernah menceraikan istrinya. Selanjutnya ia menikah kembali dengan Nancy Reagan sebagai pernikahannya kedua dan perjalanan pernikahannya stabil dan normal.  Tetapi masyarakat pemilihnya tidak peduli dengan itu semua. Beberapa presiden, seperti Franklin Roosevelt sempat menghadapi kemungkinan terjadinya perceraian   setelah istri mereka menemukan adanya perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya, tapi pernikahannya tetap bertahan dan langgeng  demi karir politik mereka.

Seorang presiden, atau siapapun  yang ingin menjadi presiden melakukan apa pun untuk mempertahankan mahligai rumah tangganya. Harga politik sebuah perceraian bagi seorang presiden sangat mahal karena tidak mau dianggap sebagai pihak yang bersalah dan mempunyai implikasi luas dan signifikan bagi karir politiknya.

Salah satu contoh adalah kasus Presiden Bill Clinton. Bagaimana kekuatan politik bekerja keras dengan berbagai macam cara agar tidak terjadi perceraian ? Apabila  Hillary Clinton tidak setia mendampingi  suaminya setelah publik mengetahui perselingkuhan dengan Monica Lewinsky maka ada kemungkinan  Presiden Clinton akan menghadapi pemakzulan (impeachment) dari lawan-lawan politiknya atau terpaksa mengundurkan diri. Kembali lagi, politik pencitraan bermain.

Namun tidak semua presiden mempunyai pernikahan yang langgeng  sepanjang hidup mereka. John Tyler dan Woodrow Wilson adalah contoh presiden yang kehilangan  istri mereka karena meninggal dunia  dan menikah kembali  selama masa jabatannya.

James Buchanan adalah satu-satunya presiden Amerika Serikat yang  tetap membujang sepanjang hidupnya. Tapi Buchanan mempunyai alasan khusus untuk tidak menikah selama masa jabatannya karena dirinya seorang gay. Pada masa itu belum mengenal istilah gay.

Presiden Dan Silaturahim Nasional

Tulisan ini hanya angan-angan dari seorang anak Indonesia yang baru saja lulus dari sekolah menengah. Mungkin saja ini suatu yang absud tapi setidaknya sebagai generasi penerus, saya mempunyai angan-angan agar Indonesia bisa menjadi negara yang besar dan disegani oleh negara-negara di dunia.

Secara tidak sengaja saya menemukan banyak foto perjalanan Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno dan Wapres Muhammad Hatta tadi pagi di google. Betapa bangganya melihat kedua sosok Proklamator bangsa Indonesia ini. Makin saya perhatikan makin membuat saya berangan-angan kemana-mana. Saya membayangkan bagaimana luasnya Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau tapi Bapak Pendiri Bangsa tersebut dapat menyatukan Indonesia dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesai (NKRI).

Presiden Soekarno dan rombongan berada di dalam pesawat terbang dalam perjalanan ke Sumatera (dok. pribadi)
presiden soekarno dan rombongan meninjau daerah tarutung sumatera utara 20 juni 1948 (dok.pribadi)
Bung Hatta di Banyuwangi 28 Mei 1955 (dok.pribadi)

Coba saja bayangkan betapa sulitnya menyatukan dan mengakomodasi keinginan seluruh Indonesia dengan segala keterbatasan yang ada pada saat itu. Berbeda dengan sekarang dengan sarana prasarana yang baik, teknologi yang canggih dan kemudahan transportasi maka tidaklah sulit untuk berkunjung dan bertemu dengan seluruh rakyat Indonesia. Apalagi wilayah Indonesia yang ssebagian besar adalah kepulauan perlu energi dan transportasi yang tidaklah murah dan mudah.

Untuk itu saya berangan-angan seandainya Presiden Indonesia yang sekarang melakukan silaturahim nasional. Silaturahim Nasional bukan sekedar mengumpulkan perwakilan-perwakilan daerah ke Jakarta kemudian diadakan selamatan atau syukuran atau apalah namanya. Maksud saya dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia apakah tidak seharusnya Presiden jemput bola dengan melakukan kunjungan rutin ke seluruh Indonesia dan bukan datang ke daerah sekedar meresmikan proyek pembangunan tetapi menetap dan berkantor sekian hari di setiap wilayah Republik ini. Inilah yanga saya namakan silaturahim nasional yang lebih konkrit.

Persoalan Indonesia begitu kompleks saat ini maka perlu penanganan intensif dan pro aktif . Presiden bukan hanya menunggu permasalahan daerah dengan hanya duduk di Jakarta. Memang sudah ada otonomi daerah tapi perlu ada penguatan dan dukungan moril dari Presiden agar pemerintah daerah lebih optimal kinerjanya.

Dengan 33 propinsi yang ada di Indonesia maka protokoler istana bisa membuat jadwal berkantornya presiden di seluruh Indonesia. Misalnya dalam satu bulan ada 4 minggu maka bisa diatur sebagai berikut minggu pertama Presiden berkantor di Banda Aceh (NAD), minggu kedua di Samarinda (Kaltim), minggu ketiga di Makasar (Sulawesi Selatan) dan minggu ke empat melakukan evaluasi di Jakarta. Bulan berikutnya begitu juga minggu pertama di Medan, kedua di Banjarmasin, ketiga di Palu, keempat evaluasi di jakarta dan seterusnya bergeser ke wilayah Indonesia lainnya. Untuk itu presiden sebaiknya hanya mempunyai 3 menteri koordinator yaitu Menko Perekonomian Indonesia Bagian Barat yang bertanggung jawab atas perkembangan pembangunan di Barat dan berkoordinasi secara fokus dengan pimpinan daerah barat, Menko Perekonomian Indonesia Bagian Tengah yang bertanggung jawab untuk wilayah tengah dan berkoordinasi secara fokus dengan pimpinan daerah tengah, Menko Perekonomian Indonesia Timur yang bertanggung jawab atas perkembangan pembangunan dan berkoordinasi secara fokus dengan pimpinan wilayah tengah. Kita susah mengharapkan adanya pemerataan pembangunan dan fokus kepada pembangunan wilayah per wilayah kalau hanya mengharapkan satu Menko Perekonomian karena luasnya wilayah Indonesia dan butuh waktu lama untukmenjangkaunya.

Selama satu minggu di daerah, presiden berkantor dan melakukan koordinasi dengan pemimpin daerah. Presiden memanggil Gubernur wilayah Indonesia Barat untuk mengetahui dan mempertanyakan perkembangan pembangunan daerahnya. Presiden bisa bertemu langsung dengan rakyat daerah untuk mengetahui permasalahan sebenarnya yang terjadi bisa melalui wawancara di RRI, TV atau tatap muka. Jadi rakyat tidak perlu ke Jakarta untuk melaporkan permasalahannya. Efeknya yang lain adalah semua aparat daerah bergerak aktik dan kinerjanya meningkat. Contohnya Kodam, Kodim, Kepolisian, pamong praja mau tidak mau ikut aktif turun ke bawah karena presiden telah memberi contoh. Rentang pengawasan diperkecil supaya efisien dan efektif.

Secara tidak langsung, presiden ikut memperkenalkan potensi daerah secara nasional dan internasional karena adanya pemberitaan keberadaan Presiden di daerah. Apabila ada kunjungan kepala negara sahabat maka tidak lagi di Jakarta tapi tergantung dimana Presiden berkantor. Ini bisa memperkenalkan daerah-daerah di Indonesia dan Presiden sebagai aktor penggeraknya secara langsung. Selain itu negara lain akan berpikir ulang untuk mengutak atik Indonesia karena Presiden secara kontinu bergerak ke setiap wilayah Indonesia.

Kondisi Indonesia belum 100% normal maka itu Presiden jangan hanya ongkang kaki di Jakarta tapi turun ke daerah serta mengurangi kunjungan ke luar negeri karena di dalam negeri saja sudah terlalu kompleks permasalahannya. Cukup Wapres atau menteri luar negeri yang mewakili dengan alasan Indonesia lebih membutuhkan Presiden sebagai pelopor, motivator, dan motor penggerak pembangunan di seluruh Indonesia.

Kalau Bung Karno dan Bung Hatta mampu dengan segala keterbatasannya, masak Presiden saat ini dan akan datang tidak mampu. Ingat ! Kondisi Indonesia belumlah normal dan maju seperti yang diberitakan selama ini. Saya menganggap inilah yang sebenarnya dinamakan silaturahim nasional yang konkrit.

Mungkin inilah harapan saya sebagai generasi muda yang hanya lulusan SMA dengan keterbatasan ilmu dan pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki.

Ditulis oleh : Rudi Hartanto