Lebaran Dalam Titian Kesedihan Dan Persaudaraan

Kamis, 8 Agustus 2013 adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam seluruh dunia terutama Indonesia. Benar, hari itu adalah hari raya Idul Fitri atau biasa disebut Lebaran oleh masyarakat Indonesia. Umat Islam merayakan Idul Fitri penuh dengan kegembiraan karena mereka meyakini Idul Fitri adalah simbol kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh  menahan lapar, haus dan hawa nafsu di bulan Ramadhan.

Tetapi tidak semuanya menyambut dengan kegembiraan. Lebaran tahun ini mungkin bagi keluarga besar Almarhum Asep Sudirman berbeda suasananya dengan tahun-tahun sebelumnya. Dalam rentang waktu 1 tahun keluarga besar Almarhum telah kehilangan dua anggota keluarganya. Yang pertama adalah almarhum Asep Sudirman dan yang kedua adalah ayah kandung almarhum. Suasana duka terasa sekali pada saat saya mengucapkan mohon maaf pada hari raya Lebaran.

Kenangan saat Pak Alit menemani almarhum Asep di CWM Hospital, Suva, Fiji (dok. cech)
Kenangan saat Pak Alit menemani almarhum Asep di CWM Hospital, Suva, Fiji (dok. cech)

Perlu diketahui almarhum Asep Sudirman adalah Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang sempat dirawat di Colonial War Memorial Hospital, Suva, Republik Fiji hampir 5 bulan lamanya karena penyakit TBC dan Hepatitis B. Setelah sempat sadar diri dan bertemu dengan kakak iparnya, Pak Alit Supriyatna yang didatangkan langsung oleh Kemlu RI dan difasilitasi oleh KBRI Suva dengan tujuan untuk membangkitkan semangat hidup Asep Sudirman yang memang butuh dukungan psikologis pihak keluarga atas saran dokter. Tetapi takdir berkata lain, Asep Sudirman meninggal dunia dengan tenang pada tanggal 8 Juli 2013 pukul 17.45 waktu Fiji (pukul 12.45 WIB).  Dan lebih menyedihkan lagi, almarhum Asep sampai meninggalnya tidak mengetahui kalau sang Ayah telah meninggal dunia terlebih dahulu karena memang sengaja tidak diberitahu keluarga pada saat almarhum dirawat.

Alhamdulillah dengan kerjasama yang baik antara pihak keluarga, Kementerian Luar Negeri RI, KBRI Suva, Agen Pemilik Kapal dan Agen Tenaga Kerja di Indonesia maka jenazah Asep Sudirman dapat dipulangkan ke tanah air. Pemulangan jenazah ke tanah air bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu lama dalam pengurusan, negosiasi yang apik dari pihak keluarga dibantu oleh Kemlu RI/KBRI Suva dengan kedua agen agar dicapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak dan terpenting adalah Allah memberikan restu dan mengabulkan doa keluarga agar almarhum dapat dimakamkan di kampung halamannya Ciparay, Bandung. Selain itu dari kesepakatan tersebut, agen tenaga kerja yang menaungi almarhum dengan jiwa besar memenuhi hak-hak almarhum seperti gaji, biaya pemulangan dan terakhir sedang dalam pengurusan adalah asuransi bagi almarhum.

DSC_0015
Makam Asep bersebelahan dengan makam Sang Ayah (dok.cech)
DSC_0014
Nenek almarhum Asep (dok.cech)
Pak Alit Supriyatna dengan Sang Bunda (dok.cech)
Pak Alit Supriyatna dengan Sang Bunda (dok.cech)

Akhirnya pada tanggal 22 Juli jenasah almarhum diberangkatkan ke tanah air dari Fiji. Kemudian pada tanggal 26 Juli 2013 jenasah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga di Ciparay, Bandung. Makam almarhum persis bersebelahan dengan makam ayahanda almarhum. Hal ini saya ketahui setelah minggu lalu saya berkunjung ke sana. Kunjungan saya ini merupakan pemenuhan janji saya kepada Pak Alit dan keluarga besar apabila saya pulang ke tanah air. Selain itu kunjungan itu bertujuan untuk mempererat silaturahim antara saya pribadi dengan keluarga besar almarhum. Benar sekali bahwa mencari saudara tidaklah mudah dibandingkan mencari beribu-ribu musuh. Ada ikatan kasih sayang yang terpancar diantara saya dan anggota keluarga besar almarhum walaupun kunjungan saya masih dalam suasana duka. Tetapi bagi saya inilah hikmah puasa Ramadhan dan Lebaran yang dapat dirasakan oleh kami. Lebaran dalam titian kesedihan dan persaudaraan. Ada kalimat yang diucapkan almarhum sebelum pergi berlayar yang selalu dikenang oleh sang bunda. “Mak, alasan Asep pergi kerja ke luar negeri karena Asep ingin menyenangkan Emak “

Selamat Jalan Saudaraku Asep Sudirman …. Salam Metal dari Saya di dunia untukmu yang Insya Allah saat ini Kamu telah mendapatkan tempat yang pantas dan layak yang diberikan oleh Allah SWT.

Terima kasih kepada Keluarga Besar Almarhum Asep Sudirman atas kesediaannya menerima kunjungan silaturahim saya secara dadakan. Semoga Kesedihan terbalaskan oleh Kebahagiaan

Take that look of worry
I’m an ordinary man
They don’t tell me nothing
So I find out what I can
There’s a fire that’s been burning
Right outside my door
I can’t see but I feel it
And it helps to keep me warm
So I, I don’t mind
No I, I don’t mind

Seems so long I’ve been waiting
Still don’t know what for
There’s no point escaping
I don’t worry anymore
I can’t come out to find you
I don’t like to go outside
They can’t turn off my feelings
Like they’re turning off a light
But I, I don’t mind
No I, I don’t mind
Oh I, I don’t mind
No I, I don’t mind

So take, take me home
Cos I don’t remember

Iklan

Hikmah Ramadhannya Adalah Sebuah Laptop

Seorang wanita asal Selandia Baru datang menghampiri seorang pria yang sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya di sebuah taman Hotel.

” Pak, bisa tolong saya bayarkan kamar hotel selama 3 hari. Saya lagi kesulitan cash flow. Transferan uang saya dari Selandia baru masuk 3 hari lagi.”

Teman-teman mengatakan ” Hati-hati mas, jangan ditolong. Lihat fisiknya ! Wajar saja tidak punya uang. Wong wajahnya seperti orang mabuk. Sepertinya dia mau menipu, Mas. “

Tetapi dengan keyakinan dan niat baik, dibantulah wanita tersebut. Pria tersebut langsung membayarkan tagihan kamar hotel yang tertunggak selama 3 hari tersebut.

” Niat saya baik. Tolong teman-teman, kalau seandainya kita jadi dia dalam kondisi tersebut bagaimana ? “

” Terserah kamu. Asal jangan menyesal saja ” ujar salah seorang temannya.

3 hari kemudian,

” Pak, saya punya laptop baru dibeli 3 bulan yang lalu dan belum pernah dipakai. Laptop tersebut akan saya berikan kepada bapak sebagai jaminan. Karena sampai malam ini uang transferan belum masuk. “

” Hmm… “

” Atau bapak beli saja ?! Terus terang saya membelinya seharga NZS $ 1670.”

” Maaf saat ini saya tidak mempunyai uang untuk membeli laptop ibu. “

” Bagaimana kalau belinya dicicil ? “

” Berapa ? “

” Tiap minggu $ 20. “

” Waduh… NZ$ 20 perminggu ? Saya tidak mampu.

” Bukan NZ$ tapi FJ$ 20 tiap minggu dan saya jual FJ $ 1200. Bapak mencicilnya setelah dikurangi hutang saya untuk bayar tagihan hotel. Bagaimana ? Sudah termasuk printer dan modem “

” Hmm… OK, sepakat ” tanpa pikir panjang dan kamipun bersalaman.

Keesokan harinya, diceritakanlah semua kejadian semalam kepada teman-temannya.

” Beruntung sekali, Mas. Laptop itu keluaran terbaru harganya di Indonesia 12,4 jt “

Ternyata Tuhan membalas tunai kebaikan manusia yang selalu berpikiran positif. Toshiba Satellite Core i5-2410M 2,3 Ghz, RAM 6 GB, HD 700 GB. Dan hari ini, lunaslah cicilan laptop tersebut dan tanpa terasa sudah puasa bulan Ramadhan lagi.

13439796601613347100
Inilah laptopnya (dok.cech)

Hari Orang Tua (Parent’s Day)

Mungkin bagi rakyat Amerika hari Sabtu adalah hari buruh (Labour’s Day) tetapi bagi saya hari Sabtu dan minggu adalah ” Hari Orang Tua “. Mengapa dikatakan demikian ?

Tidak tahu mengapa 2 hari tersebut tiba-tiba saya ingin jalan-jalan berkunjung ke tempat tinggal teman-teman orang tua saya. Memang ada beberapa anak mereka adalah teman-teman saya juga tetapi saya merasa lebih akrab dengan orang tuanya hehehe…

Ada satu kerinduan yang mendalam terhadap almarhum Bapak dan hasrat berkunjung tersebut timbul dengan sendirinya. Beberapa hari sebelumnya saya merasa ada yang kosong bahkan hampa di hati ini. Dulu kalau saya punya masalah maka almarhum yang selalu menjadi tempat saya berdiskusi tentang apapun walau keputusan akhir ada di diri sendiri.

Hari Sabtu, saya berkeliling kampung. Sesekali saya perhatikan rumah-rumah teman orang tua. Kalau pas ada di rumah maka saya mampir dan bersilaturahim. Perlu diketahui, mereka rata-rata telah berumur di atas 65 tahun. Tahu sendiri khan bagaimana kondisi fisik mereka. Ada yang masih segar tetapi sudah tidak bisa duduk lama, ada yang mulai sakit-sakitan bahkan ada yang sudah stroke atau terkena penyakit pikun.

Kunjungan saya pertama di sebuah rumah persis di belakang rumah. Kebetulan pada saat saya datang langsung bisa bertemu dengan seorang wanita tua bernama Emak Ningsih. Kondisinya sudah tua dan memprihatinkan. Beliau sudah tidak bisa melihat karena matanya rabun, kurang pendengaran (bisa mendengar kalau saya mendekat atau berteriak dengan keras) dan kakinya terkena pengapuran. Ya sudah saya datang menghampiri dan menyalaminya.

Awalnya beliau sempat kanget dan bingung siapa gerangan yang datang. Berulang kali saya menyebut nama dengan lantang tapi beliau tetap saya lupa dan berusaha mengingat-ingat. Setelah saya memberitahukan nama saya barulah beliau mengenali dan merangkul saya. Aduh sudah lama sekali saya tidak bertemu Emak Ningsih. Dulu sewaktu muda wanita tua ini sangatlah gesit bekerja dan sauaranya lantang sehingga anak-anak yang merasa preman atau jagoan akan dilawannya. Biasalah khan almarhum  suaminya orang bugis dan tidak kenal rasa takut hehehe.

Selama 30 menit saya bicara ngalor ngidul ke sana kemari sampai menyinggung mengapa saya belum menikah. Beliau sampai tidak percaya dengan alasan saya belum bahkan mau membantu mencarikan calon istri buat saya hehehe… Saya hanya bisa tersenyum mendengar semangatnya mencari jodoh. Tapi itulah orang tua yang selalu ingin memperhatikan anak-anaknya walaupun saya bukan anak kandungnya. Dari Emak Ningsihlah saya mendapatkan spirit hidup yang luar biasa yaitu pantang menyerah dan selalu berusaha untuk sehat kembali serta tidak mau merepotkan orang lain.

Kunjungan berikutnya saya pergi agak jauh dari rumah. Saya bertemu dengan Pak Sutowo, teman kantor almarhum bapak waktu bekerja di PT Pertani. Saya perkirakan umurnya tidak beda jauh dengan umur almarhum. Tubuhnya masih sehat dan gagah walaupun mulai telat mikir hehehe. Beliau masih rajin datang ke mesjid untuk Sholat 5 waktu. Dengan kondisi anak-anaknya yang sudah bekerja semua maka di rumah tinggal beliau dan istrinya yang tinggal setiap hari. Dari obrolan dengan beliau selama 45 menit, banyak hal yang saya peroleh. Salah satunya tentang perjuangan hidup untuk mandiri. Menurut cerita beliau, waktu awal datang ke Jakarta almarhum bapak saya suka bawa telur dari kampungnya di Purwokerto dan berjualan di atas kereta api. Nah uang hasil jualan inilah yang dipakai untuk membayar kuliah almarhum. Saya sendiri sebagai anaknya baru mendengar cerita seperti ini. Beliau sangat mengagumi sosok almarhum bapak, yang dikatakannya sebagai orang yang tidak banyak bicara, workaholic, tidak suka bergunjing dan semangat kerjanya luar biasa. Bahkan pada umur 30 tahun sudah menjadi Kepala Humas di PT Pertani. Sebuah prestasi yang jarang terjadi pada jamannya. Itu kata beliau.

Karena perjalanan yang tidak direncanakan sehingga berbenturan dengan waktu berbuka puasa. Akhirnya perjalanan saya lanjutkan hari minggu ini. Pagi-pagi sekali saya berangkat tetapi jaraknya lebih jauh lagi yaitu di Rawamangun. Di sana saya berhasil bertemu dengan Pak Sudiono, teman sekolah almarhum. Kebetulan pas saya datang, anak-anak beliau sedang berkumpul. Betapa kagetnya saya setelah melihat kondisi Pak Sudiono. Ternyata beliau sedang sakit dan terbaring di tempat tidur. Beliau sudah hampir 3 tahun ini terkena stroke sehingga saya hanya bisa melihatnya dari jauh dan tidak mungkin bicara banyak hal. Setelah melihat beliau maka saya pamit diri.

Selanjutnya saya pergi ke daerah Menteng, saya mengunjungi teman almarhum Bapak yang dulunya pernah menjadi pengusaha sukses. Namanya Pak Muchtar. Pak Muchtar selain pengusaha, beliau juga purnawirawan TNI dengan pangkat Mayjen. Untuk bertemu beliau memang lain dari yang lain. Perlu protokoler ala pejabat. Lapor dulu dengan keamanan dan menyebutkan alasan kedatangan hehehe. Tetapi saya nikmati saja. Ketika saya masuk ke dalam rumahnya. Pak Muchtar sempat diam sejenak dan memperhatikan saya mulai dari kepala sampai kaki. Setelah itu barulah beliau tersenyum sambil mengingat-ingat siapa diri saya sebenarnya. Tetapi beliau dengan cepat mengenal nama saya.

Sebagai seorang mantan purnawirawan dan pengusaha (perusahaannya dilanjutkan oleh anaknya) intonasi bicara beliau membuat saya menjadi pendengar yang baik. Banyak bahan cerita yang diperdengarkan kepada saya hahaha… Mulai dari politik, ekonomi sampai hal-hal remeh temeh. Sebagai pendengar yang baik maka saya hanya bisa bilang ya dan setuju saja walaupun ada beberapa pernyataannya tidak menyambung satu sama lain. Tetapi itulah orang tua yang harus kita hormati. Hal ini dikarenakan beliau menghargai saya sebagai yang muda. Buktinya ada beberapa tamu yang ditolaknya padahal umurnya lebih tua dari saya alias bapak-bapak. Ini artinya beliau memang senang saya menjadi tamunya.

Hampir 2 jam bicara dengan Pak Muctar, akhirnya saya pamit diri walaupun beberapa kali beliau meminta saya tinggal dulu. Dari situ saya mengerti kalau beliau ternyata merasa kesepian dan sudah jarang anak-anaknya mau berdialog dengan beliau dalam kondisi santai. Dari raut mukanya jelas terlihat wajah kesepian apalagi di rumah tinggal beliau sendiri setelah istrinya meninggal sekitar 8 tahun yang lalu.

Ada satu nasehat menarik yang beliau berikan kepada saya yaitu tetaplah berjuang dalam kondisi apapun, yakinlah akan kemampuan sendiri, teruslah istiqomah dan jangan suka mengeluh. Wao nasehat orang tua yang membangkitkan kembali semangat saya yang sempat anjlok sebulan ini.

Selanjutnya saya meneruskan perjalanan ke Depok. Di sana saya ingin bertemu dengan teman almarhum bapak yang dulu sering jalan-jalan bersama almarhum Bapak kemanapun perginya. Beliau bernama Pak Sugeng. Waktu menunjukkan jam 3 sore.  Sesampainya di rumah Pak Sugeng, saya disambut oleh istri beliau. Betapa kagetnya saya saat mendengar kalau Pak Sugeng sudah meninggal dunia sekitar 6 bulan yang lalu. Saya sempat bertanya mengapa saya dan keluarga tidak diberitahu. Rupanya keluarga Pak Sugeng lupa dengan nomor telepon rumah. Beliau meninggal karena serangan jantung di kamar mandi. Setelah hampir 35 menit, saya mengajukan pamit pulang karena hari sudah sore dan saya harus segera sampai di rumah sebelum berbuka puasa.

Sungguh dua hari yang mengesankan bagi diri saya. Begitulah nantinya saya kalau sudah tua nanti. Tidak ada lagi teman sepermainan yang satu per satu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, tidak ada lagi anak yang mulai sibuk dengan urusan masing-masing, tidak ada lagi yang ditakuti karena banyak orang menganggap saya orang tua yang lemah, tidak ada lagi berbagi cerita alais curhat karena sudah tidak mampu lagi bicara lama dan masih banyak lagi. Dari semua itu saya mendapatkan pelajaran yang berharga yaitu yakin kepada diri sendiri, yakin kepada Allah SWT dan selalu ingat pesan/nasehat orang tua.

Benar-benar Hari Orang Tua yang mengesankan (The Real Parent’s Day)

Puasa Dan Potensi Makanan Jajanan Khas Indonesia

Hari ini tepat setengah bulan umat Islam di Indonesia menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Seluruh umat Islam berlomba-lomba meningkatkan kualitas keimanannya dengan mengikuti banyak acara keagamaan yang marak sepanjang bulan ini. Maraknya kegiatan keagamaan tersebut diikuti oleh maraknya makanan jajanan khas Indonesia yang diperdagangkan sebagai makanan pembuka puasa.

Ada beberapa makanan jajanan yang sudah dikenal tetapi ada juga makanan jajanan khas daerah yang selama ini kurang dikenal namanya. Makanan jajanan seperti ini biasanya banyak dicari dan diminati oleh konsumen karena selain memenuhi keingintahuan juga dapat menambah wawasan pengetahuan tentang jenis makanan yang sudah sejak lama ada. Hanya saja selama ini belum banyak dipublikasikan oleh media.

Sayangnya makanan jajanan khas daerah hanya dikenal pada saat bulan puasa saja. Padahal banyak potensi yang dapat dikembangkan oleh bangsa Indonesia dan mendapatkan tempat yang sejajar dengan makanan non Indonesia. Makanan dan minuman seperti kolak, es timun suri, onde-onde, bala-bala, cimplung, Nagasari, Jongkong, ongol, biji salak, bika ambon dan lain-lain.

Berikut saya akan menampilkan beberapa makanan jajanan khas daerah berdasarkan penggunaan bahan baku lokal :

1. Bala-bala, makanan jajanan khas Jawa Barat yang menggunakan 80 % tepung tapioka (singkong) dan dicampur dengan tepung terigu.

bala-bala (hellbellscb175.multiply.com)

2. Cimplung, makanan jajanan khas berbuka puasa di daerah Tulung Agung yang menggunakan 80% Singkong dan dicampur dengan tepung terigu.

cimplung (blogs.unpad.ac.id)

3. Nagasari, makanan jajanan yang menggunakan 70% tepung tapioka (singkong) dan dicampur dengan tepung Maizena (jagung).

nagasari (yusdinar.blogspot.com)

4. Jongkong, makanan jajajan yang menggunakan 50 % tepung tapioka (singkong) dan 50 % berasal dari tepung beras.

jongkong (femina-online.com)

5. Ongol-ongol, makanan jajanan yang menggunakan 65 % tepung tapioka (singkong) dan dicampur dengan tepung terigu.

ongol-ongol (niscayasegera.blogspot.com)

6. Awug, makanan jajanan yang menggunakan 100 % tepung tapioka (singkong).

awug (rinaldimunir.wordpress.com)

7. Biji Salak, makanan jajanan yang menggunakan 100 % tepung tapioka (singkong).

biji salak (ummurifqi.wordpress.com)

8. Bika Ambon, makanan jajanan yang menggunakan 35 % tepung tapioka (singkong) walaupun komponen utamanya adaah tepung sagu.

bika ambon (exhausted08.wordpress.com)

9. Dan masih banyak lagi makanan jajanan khas Indonesia yang sebagian besar bahan bakunya menggunakan tepung tapioka, beras, sagu dan jagung. Seperti onde-onde, combro, colenak dan lain-lain.

Selain itu ada beberapa jenis makanan yang biasa disajikan pada saat Lebaran seperti dodol, wajik, kue kering dan sebagainya. Hal ini menandakan betapa besar potensi dan kayanya jenis makanan khas bangsa Indonesia yang perlu dipikirkan bagaimana mengembangkan, memperkenalkan dan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Beberapa kali saya mengadakan pertemuan (kopdar) dengan beberapa komunitas blogging di beberapa kafe, kantin atau food court tetapi sangat jarang disajikan makanan khas indonesia yang bisa disajikan sebagai makanan menemani obrolan seperti gorengan tahu, pisang, bala-bala, bakwan udang, onde-onde, kue putu atau makanan yang mudah dan siap saji. Kebanyakan makanan yang berasal dari luar modifikasi lokal seperti donat, kentang goreng, hamburger dan sebagainya dimana sebagian besar bahan bakunya menggunakan bahan baku impor terutama tepung terigu.

Dari puasa bulan Ramadhan ini, sudah saatnya makanan jajanan tersebut bukan hanya sekedar tempelan atau latah-latahan setahun sekali yang disajikan sebagai makanan pembuka pada bulan Ramadhan saja tetapi terus dimanfaatkan dan dinikmati sepanjang tahun dan bukan makanan setahun sekali. Dan semua ini menjadi tanggung jawab kita bersama bukan hanya tugas ahli kuliner, gizi, departemen terkait. Mari mulai saat ini kita harus bangga mengkonsumsi makanan jajanan khas Indonesia karena secara tidak langsung membantu peningkatan penggunaan bahan baku lokal seperti singkong, sagu, jagung, ubi jalar dan jagung.

Jadi Kyai Itu Harus “Kaya”

Kiai semar (wayangprabu.com)

Sekitar 8 tahun yang lalu, saya berkunjung ke sebuah pesantren di Jawa Tengah. Kebetulan orang tuanya Pak Kyai yang memimpin pesantren tersebut adalah teman kakek buyut saya yang juga Kyai. Selain silaturahim, saya dan kakak mempunyai kebiasaan berkunjung ke pesantren tersebut setiap tahunnya terutama menjelang puasa bulan Ramadhan.

Kebetulan saat itu saya sedang menjalani puasa 100 hari. Puasa ini dilakukan karena saran dari Uyut di Sumedang untuk membersihkan diri dari segala penyakit baik fisik maupun non fisik dan juga untuk melatih kepekaan diri terhadap lingkungan.  Kedatangan saya dan kakak sebetulnya terlalu cepat yaitu 1 bulan sebelum puasa bulan Ramadhan. Tetapi hanya saat itu saja saya mempunyai waktu luang untuk bepergian kemana saja.

Tepat pukul 10.32 WIB, saya tiba di pesantren tersebut. Dalam kondisi puasa dan perjalanan menggunakan kendaraan umum serta menempuh waktu 3 jam maka cukup membuat kondisi tubuh ini lemah atau keletihan. Setibanya di pesantren, saya melihat di ruang tamu banyak sekali tamu yang datang. Hal ini membuat saya dan kakak harus menunggu di luar. Tepatnya di tangga mesjid. Beberapa orang santri Pak Kyai sempat saya tanyakan tentang keberadaan Pak Kyai. Karena bagi saya suasana saat itu di luar kebiasaan. Biasanya Pak Kyai sudah berada di ruangannya dan menerima tamu. Tetapi saat itu belum ada satupun tamu yang diterima.

Selidik punya selidik ternyata sejak subuh Pak Kyai melakukan tirakat di dalam kamarnya dan belum selesai sampai waktu menjelang siang. Saya langsung berpikir mungkin akan menunggu lama agar bisa ketemu Pak Kyai. Lagipula tidak mungkin juga, kami berdua diterima duluan oleh Pak Kyai karena yang pertama datang itulah yang diprioritaskan.

Sambil menahan lapar, haus dan godaan nafsu seperti melihat orang makan dan minum di depan saya termasuk apa yang dilakukan oleh kakak dan ditambah dengan wajah-wajah bening santriwatinya Pak Kyai membuat saya harus menjaga sikap dan mengendalikan nafsu yang bergejolak di dalam diri.  SEbetulnya kedatangan kami hanyalah untuk meminta doa restu dan permohonan maaf kepada Pak Kyai agar ibadah puasa kami di bulan Ramadhan diterima oleh Allah. Sekaligus mengantarkan kami berziarah ke makam orang tua Pak Kyai yang terkenal sebagai Kyai Sepuh di daerah tersebut.

Saat saya sedang menunggu, tiba-tiba perhatian saya tertuju ke dalam ruangan tamu. Terdengar suara orang yang sedang berdiskusi dan bisik-bisik. Ada apa gerangan yang terjadi di dalam ? Disamping itu ada juga beberapa orang yang bolak-balik membawa kertas seperti amplop. Buat apakah amplop tersebut ?

Karena tertarik dengan apa yang saya lihat itu maka sayapun bergegas ke dalam ruangan tamu. Setelah duduk dan mendengarkan pembicara para tamu di dalam, akhirnya saya baru mengerti apa saja yang dibicarakan di dalam ruangan tersebut. Sekali saya melihat beberapa orang dengan tingkah lucu karena seperti menyembunyikan sesuatu dengan membalikkan badan. Rupanya mereka sedang memasukkan benda ke dalam amplop. Tiba-tiba ada seorang bapak yang menurut perkiraan saya berusia 60 tahun.

” Maaf, mas sudah lama menunggu Pak Kyai ? “

”  Oh tidak Pak. Saya baru menunggu sekitar 20 menit kok “

” Omong-omong Mas dari mana ? “

” Saya dari Jakarta Pak. Kalau Bapak ? “

” Saya dari Pekalongan Mas. Sudah sering kemari Mas “

” Sering sih nggak. Kebetulan saja saya diajak olh kakak saya. Tuh orangnya lagi ngobrol dengan anaknya Pak Kyai dekat tangga mesjid “

” Iya ya… Mas boleh saya tanya ? “

” Tapi tunggu dulu Bapak sudah sering kemari juga ? “

” Saya baru kali ini mas. Kami rombongan dari Pekalongan. Yang di ruangan ini sebagian dari rombongan kami. Hanya beberapa orang saja yang berasal dari daerah sekitar pesantren. “

” Oh gitu, terus bapak mau menanyakan apa ? “

” Begini Mas, kalau datang ke sini dan konsultasi dengan Pak Kyai biasanya pakai itu nggak Mas ? “

” Itu apa, Pak ? “

” Ah jadi malu hehehe ” Tampak beberapa orang menyimak apa yang akan saya ucapkan.

” Kok malu !!! Itu apa pak ? Terus terang saja. Tidak apa-apa kok “

” Biasanya kalau konsultasi tamu memberikan sejumlah uang ala kadarnya buat posantren melalui Pak Kyai “

” Oh yang dimaksud bapak itu…. uang toh ” suara saya terdengar lantang dan membuat orang kaget terkesima.

” Benar Mas… Enaknya dikasih berapa ya ? Biasanya Mas kasih berapa ? “

” hahahahahaha bapak bikin saya tertawa ngakak hahahaaha “

” Memangnya ada kata saya yang salah ?! “

” Nggak Pak. Baoak nggak salah kok. hahahaha cuma membuat saya geli saja hahahaaha “

” Mas kok malah tambah tertawanya “

‘ Begini Pak hehehe Tahu nggak Bapak-bapak…ibu-ibu ” saya mulai berceramah di hadapan para tamu Pak Kyai.

” Ya Massssss ” suara para tamu bersamaan.

” Tahu nggak Bapak-ibu sekalian. Yang namanya Kyai itu adalah pemimpin umat. Karena pemimpin umat maka bisa dianggap sebagai orang tuanya para umat. Disamping itu, yang namanya pemimpin khan harus mengerti dengan kondisi umat….  ” penjelasan saya dengan lantangnya.

” Nggih Mas… “

” Maka itu untuk menjadi Kyai tidak mudah apalagi dianggap sebagai pemimpin atau orang tuanya umat. Jadi untuk menjadi Kyai haruslah kaya. Bukan hanya kaya harta, kaya ilmu, kaya amal, kaya iman, kaya kesabaran dan lain-lain Pokoknya harus kaya. Kenapa harus kaya ??? Hayo jawab bapak-ibu sekalian “

” Nggak ngerti Mas… kenapa Mas ? “

” Karena selain harus mengerti tentang kondisi umat, dia juga harus menyantuni umat yang sedang kesusahan. Misalnya bapak kurang mengerti tentang ilmu agama maka bapak bisa minta kepada Pak Kyai untuk mengajarkannya. Ada umat yang sedang kelaparan maka Kyai harus mencari cara atau membantu untuk menyediakan makanan baginya. Terus ada umat yang kesulitan mencari kerja maka Pak Kyai harus membantu dan mencarikan pekerjaan kepada umatnya yang sedang menganggur. Apa lagi yaaaa…. “

” Kalau ada umat yang nggak punya uang bagaimana Mas ? “

” Nah itu yang penting, betul Pak. Saya baru ingat. Kalau ada umat yang tidak punya uang maka Pak Kyai harus berusaha mencari jalan atau memberikan uang yang dipunyainya kepada umatnya yang tidak punya uang. Saya jadi teringat dengan seorang Habib di daerah Bogor dimana hampir tiap hatri Juma’at selalu membagi-bagikan uang yang ada di kantongnya. Tetapi anehnya uangnya tidak pernah habis dan setiap orang mendapatkan sejumlah uang yang berbeda. Habib tersebut tidak akan berhenti mengambil uang yang ada di kantong bajunya sampai umatnya yang terakhir meminta. Pertanyaannya darimana ya datangnya uang tersebut ? “

” Waduh nggak tahu Mas “

” Itu datangnya dari Allah. Itu bisa terjadi karena kedekatan seorang ulama dengan Allah SWT sehingga Allah tahu apa yang diminta oleh seorang ulama yang sangat mumpuni ilmu agamanya.  Jadi bapak-ibu yang dari tadi menyelipkan uangnya ke dalam amplop secara sembunyi-sembunyi lebih baik disimpan kembali ke dalam tas. “

” Kenapa bisa begitu ? “

” Lha khan sudah seharusnya Kyai yang memberikan uang kepada umatnya bukan umatnya yang memberikan uang kepada Pak Kyai. “

” Tetapi Pak … “

” Udah jangan tapi-tapi. Ikuti saja apa kata saya. Bagaimana ??? “

Semua tamu terdiam dan tertunduk.

” Bapak-ibu mengerti khan maksud saya… Lho kok pada diam semua “

Tiba-tiba terdengar suara mendehem  seorang pria tua dengan  kerasnya di belakang saya.

” Ehemmmmm Assalamualaikum Cech “

Saya langsung berbalik badan, tertanya yang memberikan salam tersebut adalah Pak Kyai, pimpinan pesantren.

” Wa aaaaalaikum salam Pak Kyai. Aaaapa kaaabar Pak Kyai ? hehehe ” nada suara saya berubah.

” Bagus juga kamu ceramah ya Cech “

” Hehehehe khan Pak Kyai yang mngajarkan hehehehe “

Mata pak Kyai melototi saya. Kemudian Pak Kyai langsung menyuruh santrinya mengatur tamu yang datang untuk konsultasi secara bergiliran. Sialnya saya dan kakak dipanggil paling terakhir. Setelah menunggu selama 2 jam lebih, akhirnya kami dipanggil ke dalam ruangan khusus Pak Kyai. Kami berdua langsung mencium tangan Pak Kyai.

” Bagaimana kabarnya kalian ? “

” Baik Pak Kyai “

” Kamu masih puasa khan Cech. Sudah berapa hari ? “

” Kalau dihitung-hitung tinggal 27 hari lagi. “

” Bagus…bagus…kuat juga kamu ya hehehe. Oh ya kebetulan pas makan siang,  jadi maaf ya Cech kami mau makan dulu. Silahkan kamu mau duduk disini atau di luar “

” Ya disini ajalah Pak Kyai. Saya nikmati kok puasa saya. “

Ternyata Pak Kyai benar-benar ngerjai saya. Hidangan makan siang hari itu sungguh lezat dan nikmat. Sate kambing, sate ayam, sop kambing, ikan asin, es jeruk dan masih banyak lagi. Uedan dalam hati saya tetapi saya harus berusaha menahan diri walaupun sempat menelan air liur saat melihat kakak dan Pak Kyai sungguh menikmati makan siang hari itu.

Setelah makan siang selesai, kamipun melanjutkan obrolan dan melakukan ziarah ke makam Kyai Sepuh. Menjelang sore kami pun meminta pamit kepada Pak Kyai. Tetapi sebelum pamit, Pak Kyai sempat berbicara dengan saya.

” Cech, punya uang nggak untuk pulang. Oh ya kapan kamu pulang ke Jakarta ? “

” He he he he saya tidak punya uang Pak Kyai. Ini aja setelah dari sini mau minjam ke saudara biar bisa pulang ke Jakarta “

” Aduh kasihan benar cucunya kyai sepuh. Kamu sich tadi komporin para tamu agar tidak memberikan uang kepada Kyai. Jadinya hari ini tidak ada tamu yang memberikan uang kepada saya. “

” Ahh nggak apa-apa Pak Kyai… “

” Saya nggak bisa kasih uang tapi saya hanya bisa memberikan 2 batang rokok kretek ini. “

” Terima kasih Pak Kyai lumayanlah buat rokok nanti pas buka “

” Apa ??? 2 batang rokok kretek ini ingin kamu pakai buat ngerokok ??? “

” Emangnya kenapa ??? “

” Coba kamu perhatikan baik-baik apa yang ada di dalam lintingan rokok kretek tersebut. “

” Ihhh apa nich. Kelihatannya… hehehe bagaimana bisa … Pak Kyai. Aduh terima kasih ya Pak Kyai “

” Sudahlah   kamu pulang ya. Cukuplah buat pulang ke Jakarta. Salam ya buat Bapak dan Ibu di Jakarta “

” Iya Pak Kyai. Nanti salam Pak Kyai akan disampaikan ke bapak dan ibu. Assalamualaikum “

” Wa alaikumussalam… hati-hati di jalan “

” Terima kasih “

Tahukah benda apa yang ada di dalam lintingan rokok kretek 234 tersebut. Ternyata tiap lintingan rokok tersebut setelah dibuka atau dibuang tembakaunya terdapat uang senilai 100 ribu rupiah. Karena dua linting rokok maka hari itu saya mendapatkan uang dari Pak kyai sebesar 200 ribu rupiah. Lumayanlah buat ongkos kendaraan dan jajan  di jalan besok. Ini baru Kyai dalam hati saya. Iya kalau ngasih uang, kalau nggak ngasih sih bukan Kyai hahahaha

” Saya Sedang Tidak Dalam Kondisi Berpuasa “

Suatu hari di dalam busway pada bulan puasa Ramadhan. Waktu menunjukkan pukul 14.35 WIB. Udara di Jakarta sangat terik sekali sehingga membuat sebagian penumpang yang sedang berdesak-desakkan menyeka peluh keringatnya dengan sapu tangan. Selain itu lalu lintas sedang macet-macetnya sehingga menambah tekanan batin dari masing-masing penumpang. Berikut adalah dialog yang sempat direkam :

” 480 ? Nggak bisa pak !!! Kalau harga segitu mana bisa saya dapat untung ” teriakan pria berusia 40-an tahun saat menelpon.

” Masuk ke dalam dong Mas khan mengganggu orang yang mau keluar “

” Sebentar lagi saya mau turun “

” Tahu nich orang dari tadi menghalangi orang saja “

” Sabar Mas sabar bulan puasa ini “

” Ibu mau duduk ? Silahkan ! Biar saya berdiri “

” Nggak Mas saya mau turun di pemberhentian berikutnya “

” Lho gimana sich begini aja nggak bisa makanya belajar. Jadi nggak kelihatan begonya “

” Lihat tuh amoy. bodinya aduhai banget “

” Iya kulitnya putih mulus wiiiiiiiihhhhh “

” Lu kalau mau puasa harus sabar dan ingat ama niat lu dari rumah “

” Ehhh keren lho sinetron Ketika Cinta Bertasbih. Si Azzam itu bla bla bla … “

” Kurang ajar nich dibilangin masuk ke dalam masih aja ngeyel. Sudah bawa barang banyak lagi “

” Halo kapan kita bisa bukber… Lu atur ya and kalau sudah siap telpon gw “

” Nanti malam kita mau shalat tarawih dimana ? Pacar lu dibawa nggak “

” Gw ketiduran tadi pas sahur jadinya badan gw lemas “

” Pemberhentian berikutnya halte… “

” Udah penuh nich busway masih aja dimasukkin penumpang. Gelooo “

” Itu gambar orang pakai kursi roda, orang usia lanjut  dan wanita hamil apa benar-benar dijalankan kalau penuh begini penumpangnya “

” Jiaaaaaahhhhh kacau dech ujian gw hari ini “

” Kayaknya gw nggak bisa pulang kampung dech. Abis perusahaan gw belum ada pengumuman pasti tentang pesangon “

” Udah elo terima aja  dengan sabar “

” zzzzzzzzzzzzzz “

Tiba-tiba bis berhenti mendadak  dan suara rem berdenyit. Terdengar suara teriakan para penumpang dari dalam.

” Dasar bego, tolol, bangsat nggak punya otak, !@#$#%$%^^&*&^%$()&*&^)_+#%^%&^&** “

” Sopir juga bego…nggak sadar apa kalau hari ini puasa tuh banyak yang jatuh ke lantai ” teriak penumpang.

” Iya nich nggak tahu kalau kita lagi berpuasa … iya… benar… setuju…dukung…bikin emosi aja….bla bla bla “

Sementara itu ada satu orang pria  dari sejak berada di dalam busway sampai terjadinya peristiwa pengeraman tersebut hanya diam saja. Para penumpang merasa heran dengan diamnya. Tiba-tiba seorang penumpang disebelahnya bertanya.

” Mas kok diam saja sich. Apa Mas lagi sakit “

” Tidak kok, Pak. Saya diam karena saya sedang tidak dalam kondisi berpuasa ” jawab pria tambun itu dengan tenangnya.

” Istighfarlah, Ketika Kamu Memberikan Nasehat “

abihafiz.wordpress.com/2010

Kok Istighfar ? Menurut saya, apa yang dikatakan Eyang ada benarnya karena saya sering mengalami kejadian yang kurang mengenakkan setelah saya memberikan nasehat kepada orang lain ibarat pantulan diri pada saat bercermin.

Istighfar dalam perkataan Arabnya astaghfirullah, bermakna “Saya meminta keampunan Allah“. Jadi mengandung makna maaf dan doa permohonan ampun  kepada Allah. Perkataan Istighfar seringkali diucapkan pada kehidupan sehari-hari  terutama dalam pergaulan sesama manusia.

Apa hubungannya dengan nasehat ? Nah ini yang disampaikan oleh Eyang kepada saya. Kadang kala kita merasa mendapatkan penghormatan ketika ada banyak orang yang mempercayai diri kita sebagai tempat meminta saran,  nasehat, curhat atau apapun namanya terhadap masalah yang mereka hadapi. Pada saat kita menyampaikan saran atau nasehat, tanpa disadari kita telah melakukan perbuatan riya (sombong atau pamer diri).

Karena sebetulnya pada saat kita memberikan nasehat maka setan telah masuk ke dalam diri dan menghasut dengan riang gembira. Setan secara terus menerus menggoda diri dengan perkataan, ” Ayo teruskan nasehatmu. Kamu memang orang hebat, pintar dan hebat. Buktinya orang-orang membutuhkanmu, mendengarkan dengan seksama, mengagumi, mempercayai dan menghormati kamu layaknya  seorang alim. “

Hal itulah yang sering saya alami dan menariknya seperti ada pantulan ke diri sendiri. Seolah-olah Allah SWT dengan Rahman RahimNya mengingatkan diri lewat kejadian yang sama persis dengan masalah yang dihadapi oleh orang yang telah meminta nasehat kepada saya. Jadi sepertinya Allah SWT (Astaghfirullah al adzim) ingin mengetahui kemampuan diri apakah sanggup menghadapi dan menyelesaikan masalah yang sama  dengan orang yang telah meminta nasehat kepada saya.

Jadi tidaklah salah, ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha memberikan  kesaksiannya sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

Aisyah radhiyallahu’anha berkata: ”Nabi shollallahu ’alaih wa sallam senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan.” (HR Bukhary 558)

Kesimpulannya adalah seringlah kita mengucapkan Istighfar kepada Allah SWT setiap saat atau setiap detik karena tanpa disadari kita sering melakukan perbuatan yang dapat merusak hati terutama  pada  saat kita berpuasa di Bulan Ramadhan dimana aura kesucian bulan tersebut menjadikan diri berusaha menjadi orang baik. Menurut Eyang, Istighfarlah yang akan membawa diri manusia bisa selamat dunia akherat sampai akhir jaman.

Marhaban ya Ramadhan