Lebaran Dalam Titian Kesedihan Dan Persaudaraan

Kamis, 8 Agustus 2013 adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam seluruh dunia terutama Indonesia. Benar, hari itu adalah hari raya Idul Fitri atau biasa disebut Lebaran oleh masyarakat Indonesia. Umat Islam merayakan Idul Fitri penuh dengan kegembiraan karena mereka meyakini Idul Fitri adalah simbol kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh  menahan lapar, haus dan hawa nafsu di bulan Ramadhan.

Tetapi tidak semuanya menyambut dengan kegembiraan. Lebaran tahun ini mungkin bagi keluarga besar Almarhum Asep Sudirman berbeda suasananya dengan tahun-tahun sebelumnya. Dalam rentang waktu 1 tahun keluarga besar Almarhum telah kehilangan dua anggota keluarganya. Yang pertama adalah almarhum Asep Sudirman dan yang kedua adalah ayah kandung almarhum. Suasana duka terasa sekali pada saat saya mengucapkan mohon maaf pada hari raya Lebaran.

Kenangan saat Pak Alit menemani almarhum Asep di CWM Hospital, Suva, Fiji (dok. cech)
Kenangan saat Pak Alit menemani almarhum Asep di CWM Hospital, Suva, Fiji (dok. cech)

Perlu diketahui almarhum Asep Sudirman adalah Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia yang sempat dirawat di Colonial War Memorial Hospital, Suva, Republik Fiji hampir 5 bulan lamanya karena penyakit TBC dan Hepatitis B. Setelah sempat sadar diri dan bertemu dengan kakak iparnya, Pak Alit Supriyatna yang didatangkan langsung oleh Kemlu RI dan difasilitasi oleh KBRI Suva dengan tujuan untuk membangkitkan semangat hidup Asep Sudirman yang memang butuh dukungan psikologis pihak keluarga atas saran dokter. Tetapi takdir berkata lain, Asep Sudirman meninggal dunia dengan tenang pada tanggal 8 Juli 2013 pukul 17.45 waktu Fiji (pukul 12.45 WIB).  Dan lebih menyedihkan lagi, almarhum Asep sampai meninggalnya tidak mengetahui kalau sang Ayah telah meninggal dunia terlebih dahulu karena memang sengaja tidak diberitahu keluarga pada saat almarhum dirawat.

Alhamdulillah dengan kerjasama yang baik antara pihak keluarga, Kementerian Luar Negeri RI, KBRI Suva, Agen Pemilik Kapal dan Agen Tenaga Kerja di Indonesia maka jenazah Asep Sudirman dapat dipulangkan ke tanah air. Pemulangan jenazah ke tanah air bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu lama dalam pengurusan, negosiasi yang apik dari pihak keluarga dibantu oleh Kemlu RI/KBRI Suva dengan kedua agen agar dicapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak dan terpenting adalah Allah memberikan restu dan mengabulkan doa keluarga agar almarhum dapat dimakamkan di kampung halamannya Ciparay, Bandung. Selain itu dari kesepakatan tersebut, agen tenaga kerja yang menaungi almarhum dengan jiwa besar memenuhi hak-hak almarhum seperti gaji, biaya pemulangan dan terakhir sedang dalam pengurusan adalah asuransi bagi almarhum.

DSC_0015
Makam Asep bersebelahan dengan makam Sang Ayah (dok.cech)
DSC_0014
Nenek almarhum Asep (dok.cech)
Pak Alit Supriyatna dengan Sang Bunda (dok.cech)
Pak Alit Supriyatna dengan Sang Bunda (dok.cech)

Akhirnya pada tanggal 22 Juli jenasah almarhum diberangkatkan ke tanah air dari Fiji. Kemudian pada tanggal 26 Juli 2013 jenasah almarhum dimakamkan di pemakaman keluarga di Ciparay, Bandung. Makam almarhum persis bersebelahan dengan makam ayahanda almarhum. Hal ini saya ketahui setelah minggu lalu saya berkunjung ke sana. Kunjungan saya ini merupakan pemenuhan janji saya kepada Pak Alit dan keluarga besar apabila saya pulang ke tanah air. Selain itu kunjungan itu bertujuan untuk mempererat silaturahim antara saya pribadi dengan keluarga besar almarhum. Benar sekali bahwa mencari saudara tidaklah mudah dibandingkan mencari beribu-ribu musuh. Ada ikatan kasih sayang yang terpancar diantara saya dan anggota keluarga besar almarhum walaupun kunjungan saya masih dalam suasana duka. Tetapi bagi saya inilah hikmah puasa Ramadhan dan Lebaran yang dapat dirasakan oleh kami. Lebaran dalam titian kesedihan dan persaudaraan. Ada kalimat yang diucapkan almarhum sebelum pergi berlayar yang selalu dikenang oleh sang bunda. “Mak, alasan Asep pergi kerja ke luar negeri karena Asep ingin menyenangkan Emak “

Selamat Jalan Saudaraku Asep Sudirman …. Salam Metal dari Saya di dunia untukmu yang Insya Allah saat ini Kamu telah mendapatkan tempat yang pantas dan layak yang diberikan oleh Allah SWT.

Terima kasih kepada Keluarga Besar Almarhum Asep Sudirman atas kesediaannya menerima kunjungan silaturahim saya secara dadakan. Semoga Kesedihan terbalaskan oleh Kebahagiaan

Take that look of worry
I’m an ordinary man
They don’t tell me nothing
So I find out what I can
There’s a fire that’s been burning
Right outside my door
I can’t see but I feel it
And it helps to keep me warm
So I, I don’t mind
No I, I don’t mind

Seems so long I’ve been waiting
Still don’t know what for
There’s no point escaping
I don’t worry anymore
I can’t come out to find you
I don’t like to go outside
They can’t turn off my feelings
Like they’re turning off a light
But I, I don’t mind
No I, I don’t mind
Oh I, I don’t mind
No I, I don’t mind

So take, take me home
Cos I don’t remember

Slamet M Ramadhan

Sore hari itu udara cerah sekali. Sepertinya ingin memberikan sinyal betapa bahagianya alam semesta dan isinya dalam merayakan hari nan fitri. Setelah seharian mengunjungi sanak saudara untuk memohon maaf atas kesalahan yang diperbuat baik disengaja maupun tidak disengaja maka inilah saatnya bersantai ria.

Baru beberapa menit duduk di teras rumah menikmati suasana sore itu, tiba-tiba datanglah suara berat yang kedengarannya tidak asing mengucapkan salam.

” Assalamualaikum !!! “

” Wa alaikumussalam ” jawabku

Ternyata yang datang seorang bapak tua berumur 56 tahun dengan seorang anak muda tinggi besar.

” Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir batin, Ploek “

” Sama-sama. Taqabbalallah minna wa minkum, Pak Hamid “

Iya, bapak itu bernama Pak Hamid. Orang tua yang kukenal pada saat mengurus surat-surat kependudukan di kelurahan. Beliau memang pegawai kelurahan yang banyak membantu warga tanpa pamrih dan embel-embel minta uang. Pegawai kelurahan yang menjadi favorit warga karena kebersahajaannya.

” Apa kabar, Ploek ? Lebaran ini tidak kemana-mana ? Ibu dimana ? “

” Kabar saya baik, Pak. Tadi pagi sudah mengunjungi saudara-saudara dan tetangga. Baru saja selesai jam 3. Oh ya, silakan masuk, Ibu lagi nonton di TV di dalam “

kemudian Pak Hamid dan anak muda tersebut masuk ke dalam rumah menyambangi ibuku yang sedang menonton TV. beberapa saat kemudian merekapun menuju teras rumah.

” Sudah salaman dengan Ibu ? Lebaran ini Pak Hamid kemana saja ? Tidak pulang kampung ? ” tanyaku.

” Sudah, Ploek. Lebaran saya dan keluarga tidak kemana-mana hanya silaturahim ke tetangga saja. Mungkin besok kami pulang kampung setelah silaturahim ke rumah-rumah famili. “

” Ohhh gitu, jadi besok pulang kampungnya ? Kemana Pak ? “

” Ya, besok ke Purworejo tempat istri saya. “

” Wah asyik dong. Mudah-mudahan besok perjalanannya lancar dan tidak ketemu macet hehehe “

” Amin. Oh ya saya lupa kenalin dengan anak saya. Kenalkan Ploek, anak saya “

Kamipun bersalaman.

” Namanya siapa mas ? “

” Slamet, mas ” jawab anak muda itu.

” wao ganteng seperti bapaknya hehehehe…. “

” Bisa aja kamu Ploek. Oh ya Ramadhan ini baru saja lulus sebulan yang lalu “

” Lho kok Ramadhan, Pak. Tadi bilangnya Slamet namanya. “

” Iya, saya lupa. Emang kalau di luar teman-temannya biasa memanggil namanya Slamet. Tetapi kalo di rumah panggilannya Ramadhan. “

” Aneh juga kedengarannya. Jauh sekali Slamet dengan Ramadhan, Pak Hamid. Atau bapak lagi bercanda “

” Heheheh tidak Ploek. Saya tidak bercanda “

” Lha memangnya nama sebenarnya siapa, Pak ? “

” Slamet M. Ramadhan “

” Nama yang bagus Pak. Pasti anak bapak ini lahirnya di bulan Ramadhan dan M-nya Muhammad “

” Hehehehehe memang dia lahir di bulan Ramadhan tapi M-nya bukan Muhammad “

” ohhhh, jadi M-nya apa Pak ? “

” M-nya mudik, Ploek “

” Hah ??? “

” Ya Mudik. Anak saya ini lahir dengan Selamat pada waktu Mudik lebaran di bulan Ramadhan sekitar 24 tahun yang lalu. Jadi pas lahir lahir tanpa pikir macam-macam, saya namai anak ini SLAMET MUDIK RAMADHAN

Tjiploekpun terdiam sambil berusaha menahan tawanya.

Hari Orang Tua (Parent’s Day)

Mungkin bagi rakyat Amerika hari Sabtu adalah hari buruh (Labour’s Day) tetapi bagi saya hari Sabtu dan minggu adalah ” Hari Orang Tua “. Mengapa dikatakan demikian ?

Tidak tahu mengapa 2 hari tersebut tiba-tiba saya ingin jalan-jalan berkunjung ke tempat tinggal teman-teman orang tua saya. Memang ada beberapa anak mereka adalah teman-teman saya juga tetapi saya merasa lebih akrab dengan orang tuanya hehehe…

Ada satu kerinduan yang mendalam terhadap almarhum Bapak dan hasrat berkunjung tersebut timbul dengan sendirinya. Beberapa hari sebelumnya saya merasa ada yang kosong bahkan hampa di hati ini. Dulu kalau saya punya masalah maka almarhum yang selalu menjadi tempat saya berdiskusi tentang apapun walau keputusan akhir ada di diri sendiri.

Hari Sabtu, saya berkeliling kampung. Sesekali saya perhatikan rumah-rumah teman orang tua. Kalau pas ada di rumah maka saya mampir dan bersilaturahim. Perlu diketahui, mereka rata-rata telah berumur di atas 65 tahun. Tahu sendiri khan bagaimana kondisi fisik mereka. Ada yang masih segar tetapi sudah tidak bisa duduk lama, ada yang mulai sakit-sakitan bahkan ada yang sudah stroke atau terkena penyakit pikun.

Kunjungan saya pertama di sebuah rumah persis di belakang rumah. Kebetulan pada saat saya datang langsung bisa bertemu dengan seorang wanita tua bernama Emak Ningsih. Kondisinya sudah tua dan memprihatinkan. Beliau sudah tidak bisa melihat karena matanya rabun, kurang pendengaran (bisa mendengar kalau saya mendekat atau berteriak dengan keras) dan kakinya terkena pengapuran. Ya sudah saya datang menghampiri dan menyalaminya.

Awalnya beliau sempat kanget dan bingung siapa gerangan yang datang. Berulang kali saya menyebut nama dengan lantang tapi beliau tetap saya lupa dan berusaha mengingat-ingat. Setelah saya memberitahukan nama saya barulah beliau mengenali dan merangkul saya. Aduh sudah lama sekali saya tidak bertemu Emak Ningsih. Dulu sewaktu muda wanita tua ini sangatlah gesit bekerja dan sauaranya lantang sehingga anak-anak yang merasa preman atau jagoan akan dilawannya. Biasalah khan almarhum  suaminya orang bugis dan tidak kenal rasa takut hehehe.

Selama 30 menit saya bicara ngalor ngidul ke sana kemari sampai menyinggung mengapa saya belum menikah. Beliau sampai tidak percaya dengan alasan saya belum bahkan mau membantu mencarikan calon istri buat saya hehehe… Saya hanya bisa tersenyum mendengar semangatnya mencari jodoh. Tapi itulah orang tua yang selalu ingin memperhatikan anak-anaknya walaupun saya bukan anak kandungnya. Dari Emak Ningsihlah saya mendapatkan spirit hidup yang luar biasa yaitu pantang menyerah dan selalu berusaha untuk sehat kembali serta tidak mau merepotkan orang lain.

Kunjungan berikutnya saya pergi agak jauh dari rumah. Saya bertemu dengan Pak Sutowo, teman kantor almarhum bapak waktu bekerja di PT Pertani. Saya perkirakan umurnya tidak beda jauh dengan umur almarhum. Tubuhnya masih sehat dan gagah walaupun mulai telat mikir hehehe. Beliau masih rajin datang ke mesjid untuk Sholat 5 waktu. Dengan kondisi anak-anaknya yang sudah bekerja semua maka di rumah tinggal beliau dan istrinya yang tinggal setiap hari. Dari obrolan dengan beliau selama 45 menit, banyak hal yang saya peroleh. Salah satunya tentang perjuangan hidup untuk mandiri. Menurut cerita beliau, waktu awal datang ke Jakarta almarhum bapak saya suka bawa telur dari kampungnya di Purwokerto dan berjualan di atas kereta api. Nah uang hasil jualan inilah yang dipakai untuk membayar kuliah almarhum. Saya sendiri sebagai anaknya baru mendengar cerita seperti ini. Beliau sangat mengagumi sosok almarhum bapak, yang dikatakannya sebagai orang yang tidak banyak bicara, workaholic, tidak suka bergunjing dan semangat kerjanya luar biasa. Bahkan pada umur 30 tahun sudah menjadi Kepala Humas di PT Pertani. Sebuah prestasi yang jarang terjadi pada jamannya. Itu kata beliau.

Karena perjalanan yang tidak direncanakan sehingga berbenturan dengan waktu berbuka puasa. Akhirnya perjalanan saya lanjutkan hari minggu ini. Pagi-pagi sekali saya berangkat tetapi jaraknya lebih jauh lagi yaitu di Rawamangun. Di sana saya berhasil bertemu dengan Pak Sudiono, teman sekolah almarhum. Kebetulan pas saya datang, anak-anak beliau sedang berkumpul. Betapa kagetnya saya setelah melihat kondisi Pak Sudiono. Ternyata beliau sedang sakit dan terbaring di tempat tidur. Beliau sudah hampir 3 tahun ini terkena stroke sehingga saya hanya bisa melihatnya dari jauh dan tidak mungkin bicara banyak hal. Setelah melihat beliau maka saya pamit diri.

Selanjutnya saya pergi ke daerah Menteng, saya mengunjungi teman almarhum Bapak yang dulunya pernah menjadi pengusaha sukses. Namanya Pak Muchtar. Pak Muchtar selain pengusaha, beliau juga purnawirawan TNI dengan pangkat Mayjen. Untuk bertemu beliau memang lain dari yang lain. Perlu protokoler ala pejabat. Lapor dulu dengan keamanan dan menyebutkan alasan kedatangan hehehe. Tetapi saya nikmati saja. Ketika saya masuk ke dalam rumahnya. Pak Muchtar sempat diam sejenak dan memperhatikan saya mulai dari kepala sampai kaki. Setelah itu barulah beliau tersenyum sambil mengingat-ingat siapa diri saya sebenarnya. Tetapi beliau dengan cepat mengenal nama saya.

Sebagai seorang mantan purnawirawan dan pengusaha (perusahaannya dilanjutkan oleh anaknya) intonasi bicara beliau membuat saya menjadi pendengar yang baik. Banyak bahan cerita yang diperdengarkan kepada saya hahaha… Mulai dari politik, ekonomi sampai hal-hal remeh temeh. Sebagai pendengar yang baik maka saya hanya bisa bilang ya dan setuju saja walaupun ada beberapa pernyataannya tidak menyambung satu sama lain. Tetapi itulah orang tua yang harus kita hormati. Hal ini dikarenakan beliau menghargai saya sebagai yang muda. Buktinya ada beberapa tamu yang ditolaknya padahal umurnya lebih tua dari saya alias bapak-bapak. Ini artinya beliau memang senang saya menjadi tamunya.

Hampir 2 jam bicara dengan Pak Muctar, akhirnya saya pamit diri walaupun beberapa kali beliau meminta saya tinggal dulu. Dari situ saya mengerti kalau beliau ternyata merasa kesepian dan sudah jarang anak-anaknya mau berdialog dengan beliau dalam kondisi santai. Dari raut mukanya jelas terlihat wajah kesepian apalagi di rumah tinggal beliau sendiri setelah istrinya meninggal sekitar 8 tahun yang lalu.

Ada satu nasehat menarik yang beliau berikan kepada saya yaitu tetaplah berjuang dalam kondisi apapun, yakinlah akan kemampuan sendiri, teruslah istiqomah dan jangan suka mengeluh. Wao nasehat orang tua yang membangkitkan kembali semangat saya yang sempat anjlok sebulan ini.

Selanjutnya saya meneruskan perjalanan ke Depok. Di sana saya ingin bertemu dengan teman almarhum bapak yang dulu sering jalan-jalan bersama almarhum Bapak kemanapun perginya. Beliau bernama Pak Sugeng. Waktu menunjukkan jam 3 sore.  Sesampainya di rumah Pak Sugeng, saya disambut oleh istri beliau. Betapa kagetnya saya saat mendengar kalau Pak Sugeng sudah meninggal dunia sekitar 6 bulan yang lalu. Saya sempat bertanya mengapa saya dan keluarga tidak diberitahu. Rupanya keluarga Pak Sugeng lupa dengan nomor telepon rumah. Beliau meninggal karena serangan jantung di kamar mandi. Setelah hampir 35 menit, saya mengajukan pamit pulang karena hari sudah sore dan saya harus segera sampai di rumah sebelum berbuka puasa.

Sungguh dua hari yang mengesankan bagi diri saya. Begitulah nantinya saya kalau sudah tua nanti. Tidak ada lagi teman sepermainan yang satu per satu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, tidak ada lagi anak yang mulai sibuk dengan urusan masing-masing, tidak ada lagi yang ditakuti karena banyak orang menganggap saya orang tua yang lemah, tidak ada lagi berbagi cerita alais curhat karena sudah tidak mampu lagi bicara lama dan masih banyak lagi. Dari semua itu saya mendapatkan pelajaran yang berharga yaitu yakin kepada diri sendiri, yakin kepada Allah SWT dan selalu ingat pesan/nasehat orang tua.

Benar-benar Hari Orang Tua yang mengesankan (The Real Parent’s Day)

Puasa Dan Potensi Makanan Jajanan Khas Indonesia

Hari ini tepat setengah bulan umat Islam di Indonesia menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Seluruh umat Islam berlomba-lomba meningkatkan kualitas keimanannya dengan mengikuti banyak acara keagamaan yang marak sepanjang bulan ini. Maraknya kegiatan keagamaan tersebut diikuti oleh maraknya makanan jajanan khas Indonesia yang diperdagangkan sebagai makanan pembuka puasa.

Ada beberapa makanan jajanan yang sudah dikenal tetapi ada juga makanan jajanan khas daerah yang selama ini kurang dikenal namanya. Makanan jajanan seperti ini biasanya banyak dicari dan diminati oleh konsumen karena selain memenuhi keingintahuan juga dapat menambah wawasan pengetahuan tentang jenis makanan yang sudah sejak lama ada. Hanya saja selama ini belum banyak dipublikasikan oleh media.

Sayangnya makanan jajanan khas daerah hanya dikenal pada saat bulan puasa saja. Padahal banyak potensi yang dapat dikembangkan oleh bangsa Indonesia dan mendapatkan tempat yang sejajar dengan makanan non Indonesia. Makanan dan minuman seperti kolak, es timun suri, onde-onde, bala-bala, cimplung, Nagasari, Jongkong, ongol, biji salak, bika ambon dan lain-lain.

Berikut saya akan menampilkan beberapa makanan jajanan khas daerah berdasarkan penggunaan bahan baku lokal :

1. Bala-bala, makanan jajanan khas Jawa Barat yang menggunakan 80 % tepung tapioka (singkong) dan dicampur dengan tepung terigu.

bala-bala (hellbellscb175.multiply.com)

2. Cimplung, makanan jajanan khas berbuka puasa di daerah Tulung Agung yang menggunakan 80% Singkong dan dicampur dengan tepung terigu.

cimplung (blogs.unpad.ac.id)

3. Nagasari, makanan jajanan yang menggunakan 70% tepung tapioka (singkong) dan dicampur dengan tepung Maizena (jagung).

nagasari (yusdinar.blogspot.com)

4. Jongkong, makanan jajajan yang menggunakan 50 % tepung tapioka (singkong) dan 50 % berasal dari tepung beras.

jongkong (femina-online.com)

5. Ongol-ongol, makanan jajanan yang menggunakan 65 % tepung tapioka (singkong) dan dicampur dengan tepung terigu.

ongol-ongol (niscayasegera.blogspot.com)

6. Awug, makanan jajanan yang menggunakan 100 % tepung tapioka (singkong).

awug (rinaldimunir.wordpress.com)

7. Biji Salak, makanan jajanan yang menggunakan 100 % tepung tapioka (singkong).

biji salak (ummurifqi.wordpress.com)

8. Bika Ambon, makanan jajanan yang menggunakan 35 % tepung tapioka (singkong) walaupun komponen utamanya adaah tepung sagu.

bika ambon (exhausted08.wordpress.com)

9. Dan masih banyak lagi makanan jajanan khas Indonesia yang sebagian besar bahan bakunya menggunakan tepung tapioka, beras, sagu dan jagung. Seperti onde-onde, combro, colenak dan lain-lain.

Selain itu ada beberapa jenis makanan yang biasa disajikan pada saat Lebaran seperti dodol, wajik, kue kering dan sebagainya. Hal ini menandakan betapa besar potensi dan kayanya jenis makanan khas bangsa Indonesia yang perlu dipikirkan bagaimana mengembangkan, memperkenalkan dan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Beberapa kali saya mengadakan pertemuan (kopdar) dengan beberapa komunitas blogging di beberapa kafe, kantin atau food court tetapi sangat jarang disajikan makanan khas indonesia yang bisa disajikan sebagai makanan menemani obrolan seperti gorengan tahu, pisang, bala-bala, bakwan udang, onde-onde, kue putu atau makanan yang mudah dan siap saji. Kebanyakan makanan yang berasal dari luar modifikasi lokal seperti donat, kentang goreng, hamburger dan sebagainya dimana sebagian besar bahan bakunya menggunakan bahan baku impor terutama tepung terigu.

Dari puasa bulan Ramadhan ini, sudah saatnya makanan jajanan tersebut bukan hanya sekedar tempelan atau latah-latahan setahun sekali yang disajikan sebagai makanan pembuka pada bulan Ramadhan saja tetapi terus dimanfaatkan dan dinikmati sepanjang tahun dan bukan makanan setahun sekali. Dan semua ini menjadi tanggung jawab kita bersama bukan hanya tugas ahli kuliner, gizi, departemen terkait. Mari mulai saat ini kita harus bangga mengkonsumsi makanan jajanan khas Indonesia karena secara tidak langsung membantu peningkatan penggunaan bahan baku lokal seperti singkong, sagu, jagung, ubi jalar dan jagung.

Jadi Kyai Itu Harus “Kaya”

Kiai semar (wayangprabu.com)

Sekitar 8 tahun yang lalu, saya berkunjung ke sebuah pesantren di Jawa Tengah. Kebetulan orang tuanya Pak Kyai yang memimpin pesantren tersebut adalah teman kakek buyut saya yang juga Kyai. Selain silaturahim, saya dan kakak mempunyai kebiasaan berkunjung ke pesantren tersebut setiap tahunnya terutama menjelang puasa bulan Ramadhan.

Kebetulan saat itu saya sedang menjalani puasa 100 hari. Puasa ini dilakukan karena saran dari Uyut di Sumedang untuk membersihkan diri dari segala penyakit baik fisik maupun non fisik dan juga untuk melatih kepekaan diri terhadap lingkungan.  Kedatangan saya dan kakak sebetulnya terlalu cepat yaitu 1 bulan sebelum puasa bulan Ramadhan. Tetapi hanya saat itu saja saya mempunyai waktu luang untuk bepergian kemana saja.

Tepat pukul 10.32 WIB, saya tiba di pesantren tersebut. Dalam kondisi puasa dan perjalanan menggunakan kendaraan umum serta menempuh waktu 3 jam maka cukup membuat kondisi tubuh ini lemah atau keletihan. Setibanya di pesantren, saya melihat di ruang tamu banyak sekali tamu yang datang. Hal ini membuat saya dan kakak harus menunggu di luar. Tepatnya di tangga mesjid. Beberapa orang santri Pak Kyai sempat saya tanyakan tentang keberadaan Pak Kyai. Karena bagi saya suasana saat itu di luar kebiasaan. Biasanya Pak Kyai sudah berada di ruangannya dan menerima tamu. Tetapi saat itu belum ada satupun tamu yang diterima.

Selidik punya selidik ternyata sejak subuh Pak Kyai melakukan tirakat di dalam kamarnya dan belum selesai sampai waktu menjelang siang. Saya langsung berpikir mungkin akan menunggu lama agar bisa ketemu Pak Kyai. Lagipula tidak mungkin juga, kami berdua diterima duluan oleh Pak Kyai karena yang pertama datang itulah yang diprioritaskan.

Sambil menahan lapar, haus dan godaan nafsu seperti melihat orang makan dan minum di depan saya termasuk apa yang dilakukan oleh kakak dan ditambah dengan wajah-wajah bening santriwatinya Pak Kyai membuat saya harus menjaga sikap dan mengendalikan nafsu yang bergejolak di dalam diri.  SEbetulnya kedatangan kami hanyalah untuk meminta doa restu dan permohonan maaf kepada Pak Kyai agar ibadah puasa kami di bulan Ramadhan diterima oleh Allah. Sekaligus mengantarkan kami berziarah ke makam orang tua Pak Kyai yang terkenal sebagai Kyai Sepuh di daerah tersebut.

Saat saya sedang menunggu, tiba-tiba perhatian saya tertuju ke dalam ruangan tamu. Terdengar suara orang yang sedang berdiskusi dan bisik-bisik. Ada apa gerangan yang terjadi di dalam ? Disamping itu ada juga beberapa orang yang bolak-balik membawa kertas seperti amplop. Buat apakah amplop tersebut ?

Karena tertarik dengan apa yang saya lihat itu maka sayapun bergegas ke dalam ruangan tamu. Setelah duduk dan mendengarkan pembicara para tamu di dalam, akhirnya saya baru mengerti apa saja yang dibicarakan di dalam ruangan tersebut. Sekali saya melihat beberapa orang dengan tingkah lucu karena seperti menyembunyikan sesuatu dengan membalikkan badan. Rupanya mereka sedang memasukkan benda ke dalam amplop. Tiba-tiba ada seorang bapak yang menurut perkiraan saya berusia 60 tahun.

” Maaf, mas sudah lama menunggu Pak Kyai ? “

”  Oh tidak Pak. Saya baru menunggu sekitar 20 menit kok “

” Omong-omong Mas dari mana ? “

” Saya dari Jakarta Pak. Kalau Bapak ? “

” Saya dari Pekalongan Mas. Sudah sering kemari Mas “

” Sering sih nggak. Kebetulan saja saya diajak olh kakak saya. Tuh orangnya lagi ngobrol dengan anaknya Pak Kyai dekat tangga mesjid “

” Iya ya… Mas boleh saya tanya ? “

” Tapi tunggu dulu Bapak sudah sering kemari juga ? “

” Saya baru kali ini mas. Kami rombongan dari Pekalongan. Yang di ruangan ini sebagian dari rombongan kami. Hanya beberapa orang saja yang berasal dari daerah sekitar pesantren. “

” Oh gitu, terus bapak mau menanyakan apa ? “

” Begini Mas, kalau datang ke sini dan konsultasi dengan Pak Kyai biasanya pakai itu nggak Mas ? “

” Itu apa, Pak ? “

” Ah jadi malu hehehe ” Tampak beberapa orang menyimak apa yang akan saya ucapkan.

” Kok malu !!! Itu apa pak ? Terus terang saja. Tidak apa-apa kok “

” Biasanya kalau konsultasi tamu memberikan sejumlah uang ala kadarnya buat posantren melalui Pak Kyai “

” Oh yang dimaksud bapak itu…. uang toh ” suara saya terdengar lantang dan membuat orang kaget terkesima.

” Benar Mas… Enaknya dikasih berapa ya ? Biasanya Mas kasih berapa ? “

” hahahahahaha bapak bikin saya tertawa ngakak hahahaaha “

” Memangnya ada kata saya yang salah ?! “

” Nggak Pak. Baoak nggak salah kok. hahahaha cuma membuat saya geli saja hahahaaha “

” Mas kok malah tambah tertawanya “

‘ Begini Pak hehehe Tahu nggak Bapak-bapak…ibu-ibu ” saya mulai berceramah di hadapan para tamu Pak Kyai.

” Ya Massssss ” suara para tamu bersamaan.

” Tahu nggak Bapak-ibu sekalian. Yang namanya Kyai itu adalah pemimpin umat. Karena pemimpin umat maka bisa dianggap sebagai orang tuanya para umat. Disamping itu, yang namanya pemimpin khan harus mengerti dengan kondisi umat….  ” penjelasan saya dengan lantangnya.

” Nggih Mas… “

” Maka itu untuk menjadi Kyai tidak mudah apalagi dianggap sebagai pemimpin atau orang tuanya umat. Jadi untuk menjadi Kyai haruslah kaya. Bukan hanya kaya harta, kaya ilmu, kaya amal, kaya iman, kaya kesabaran dan lain-lain Pokoknya harus kaya. Kenapa harus kaya ??? Hayo jawab bapak-ibu sekalian “

” Nggak ngerti Mas… kenapa Mas ? “

” Karena selain harus mengerti tentang kondisi umat, dia juga harus menyantuni umat yang sedang kesusahan. Misalnya bapak kurang mengerti tentang ilmu agama maka bapak bisa minta kepada Pak Kyai untuk mengajarkannya. Ada umat yang sedang kelaparan maka Kyai harus mencari cara atau membantu untuk menyediakan makanan baginya. Terus ada umat yang kesulitan mencari kerja maka Pak Kyai harus membantu dan mencarikan pekerjaan kepada umatnya yang sedang menganggur. Apa lagi yaaaa…. “

” Kalau ada umat yang nggak punya uang bagaimana Mas ? “

” Nah itu yang penting, betul Pak. Saya baru ingat. Kalau ada umat yang tidak punya uang maka Pak Kyai harus berusaha mencari jalan atau memberikan uang yang dipunyainya kepada umatnya yang tidak punya uang. Saya jadi teringat dengan seorang Habib di daerah Bogor dimana hampir tiap hatri Juma’at selalu membagi-bagikan uang yang ada di kantongnya. Tetapi anehnya uangnya tidak pernah habis dan setiap orang mendapatkan sejumlah uang yang berbeda. Habib tersebut tidak akan berhenti mengambil uang yang ada di kantong bajunya sampai umatnya yang terakhir meminta. Pertanyaannya darimana ya datangnya uang tersebut ? “

” Waduh nggak tahu Mas “

” Itu datangnya dari Allah. Itu bisa terjadi karena kedekatan seorang ulama dengan Allah SWT sehingga Allah tahu apa yang diminta oleh seorang ulama yang sangat mumpuni ilmu agamanya.  Jadi bapak-ibu yang dari tadi menyelipkan uangnya ke dalam amplop secara sembunyi-sembunyi lebih baik disimpan kembali ke dalam tas. “

” Kenapa bisa begitu ? “

” Lha khan sudah seharusnya Kyai yang memberikan uang kepada umatnya bukan umatnya yang memberikan uang kepada Pak Kyai. “

” Tetapi Pak … “

” Udah jangan tapi-tapi. Ikuti saja apa kata saya. Bagaimana ??? “

Semua tamu terdiam dan tertunduk.

” Bapak-ibu mengerti khan maksud saya… Lho kok pada diam semua “

Tiba-tiba terdengar suara mendehem  seorang pria tua dengan  kerasnya di belakang saya.

” Ehemmmmm Assalamualaikum Cech “

Saya langsung berbalik badan, tertanya yang memberikan salam tersebut adalah Pak Kyai, pimpinan pesantren.

” Wa aaaaalaikum salam Pak Kyai. Aaaapa kaaabar Pak Kyai ? hehehe ” nada suara saya berubah.

” Bagus juga kamu ceramah ya Cech “

” Hehehehe khan Pak Kyai yang mngajarkan hehehehe “

Mata pak Kyai melototi saya. Kemudian Pak Kyai langsung menyuruh santrinya mengatur tamu yang datang untuk konsultasi secara bergiliran. Sialnya saya dan kakak dipanggil paling terakhir. Setelah menunggu selama 2 jam lebih, akhirnya kami dipanggil ke dalam ruangan khusus Pak Kyai. Kami berdua langsung mencium tangan Pak Kyai.

” Bagaimana kabarnya kalian ? “

” Baik Pak Kyai “

” Kamu masih puasa khan Cech. Sudah berapa hari ? “

” Kalau dihitung-hitung tinggal 27 hari lagi. “

” Bagus…bagus…kuat juga kamu ya hehehe. Oh ya kebetulan pas makan siang,  jadi maaf ya Cech kami mau makan dulu. Silahkan kamu mau duduk disini atau di luar “

” Ya disini ajalah Pak Kyai. Saya nikmati kok puasa saya. “

Ternyata Pak Kyai benar-benar ngerjai saya. Hidangan makan siang hari itu sungguh lezat dan nikmat. Sate kambing, sate ayam, sop kambing, ikan asin, es jeruk dan masih banyak lagi. Uedan dalam hati saya tetapi saya harus berusaha menahan diri walaupun sempat menelan air liur saat melihat kakak dan Pak Kyai sungguh menikmati makan siang hari itu.

Setelah makan siang selesai, kamipun melanjutkan obrolan dan melakukan ziarah ke makam Kyai Sepuh. Menjelang sore kami pun meminta pamit kepada Pak Kyai. Tetapi sebelum pamit, Pak Kyai sempat berbicara dengan saya.

” Cech, punya uang nggak untuk pulang. Oh ya kapan kamu pulang ke Jakarta ? “

” He he he he saya tidak punya uang Pak Kyai. Ini aja setelah dari sini mau minjam ke saudara biar bisa pulang ke Jakarta “

” Aduh kasihan benar cucunya kyai sepuh. Kamu sich tadi komporin para tamu agar tidak memberikan uang kepada Kyai. Jadinya hari ini tidak ada tamu yang memberikan uang kepada saya. “

” Ahh nggak apa-apa Pak Kyai… “

” Saya nggak bisa kasih uang tapi saya hanya bisa memberikan 2 batang rokok kretek ini. “

” Terima kasih Pak Kyai lumayanlah buat rokok nanti pas buka “

” Apa ??? 2 batang rokok kretek ini ingin kamu pakai buat ngerokok ??? “

” Emangnya kenapa ??? “

” Coba kamu perhatikan baik-baik apa yang ada di dalam lintingan rokok kretek tersebut. “

” Ihhh apa nich. Kelihatannya… hehehe bagaimana bisa … Pak Kyai. Aduh terima kasih ya Pak Kyai “

” Sudahlah   kamu pulang ya. Cukuplah buat pulang ke Jakarta. Salam ya buat Bapak dan Ibu di Jakarta “

” Iya Pak Kyai. Nanti salam Pak Kyai akan disampaikan ke bapak dan ibu. Assalamualaikum “

” Wa alaikumussalam… hati-hati di jalan “

” Terima kasih “

Tahukah benda apa yang ada di dalam lintingan rokok kretek 234 tersebut. Ternyata tiap lintingan rokok tersebut setelah dibuka atau dibuang tembakaunya terdapat uang senilai 100 ribu rupiah. Karena dua linting rokok maka hari itu saya mendapatkan uang dari Pak kyai sebesar 200 ribu rupiah. Lumayanlah buat ongkos kendaraan dan jajan  di jalan besok. Ini baru Kyai dalam hati saya. Iya kalau ngasih uang, kalau nggak ngasih sih bukan Kyai hahahaha

Antara Pak Jalal Dan Saya

Tadi pagi saat sahur saya menonton sinetron ” Para Pencari Tuhan (PPT 4) “. Dalam satu adegan dikisahkan sosok Ahmad Jalaludin atau lebih dikenal dengan panggilan Pak Jalal sedang mengalami kesulitan keuangan. Bahkan bisa dikatakan mendekati kebangkrutan. Dengan nilai utangnya yang mencapai Rp 40 milyar sepertinya tidak mungkin bisa dibayar kecuali menjual aset-aset yang dimiliki. Ternyata keputusan Pak Jalal adalah menjual seluruh asetnya sehingga sejak saat itu Pak Jalal mulai hidup dari nol kembali. Pengertian nol disini bisa dianggap mulai dari awal atau hidup miskin.

Seperti biasa yang kita lihat dari awal sinetron PPT musim pertama sampai keempat ini, Pak Jalal tetap menunjukkan sosok yang kadang-kadang menyebalkan terutama sikapnya kepada orang-orang yang tingkat kehidupannya jauh dibawahnya. Di akhir episeode Pak Jalal mengumumkan kepada jamaah mushola yang dipimpin Bang Jack kalau dirinya sudah tidak punya apa-apa lagi. Sebagian besar jamah merasa kaget dan bercampur rasa dalam menyikapi pengumuman tersebut. Selain itu ada adegan dimana sang isteri akan meninggalkan Pak Jalal dengan membawa anak-anaknya keluar rumah. Apakah itu benar adanya ? Sebagai penonton, saya hanya mengikuti saja alur cerita berikutnya.

Tokoh Pak Jalal ini mengingatkan saya kepada almarhum Bapak dan beberapa orang teman yang pernah mengalami kebangkrutan usaha dan semua aset yang dimiliki ludes. Semua aset dijual untuk membayar hutang kepada pihak ketiga. Ini dilakukan sebagai bentuk pertanggung jawaban. Memang tidaklah mudah untuk dibicarakan karena membutuhkan kekuatan mental yang luar biasa. Bayangkan saja aset-aset yang diperoleh dari hasil kerja keras selama bertahun-tahun tapi dalam sekejap hilang tanpa bekas.

Iya, itu bagi yang mempunyai aset. Bagaimana yang tidak mempunyai aset atau asetnya tidak mencukupi untuk membayar hutangnya yang biasanya 3 kali lipat nilainya dari aset yang dimiliki.  Pasti pusing memikirkannya bahkan sampai sakit. Saya melihat, mengalami, merasakan dan menikmati semua hal tersebut. Ada beberapa pengusaha dulu pada tahun 2003  terutama pengusaha IKM sering minta bantuan kepada Kementerian Koperasi dan UKM dan mereka sempat tinggal beberapa hari di tempat tersebut karena mereka sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi. Mereka berharap Kementerian Koperasai dan UKM bisa mencarikan solusi atau mediator dengan pihak ketiga agar mau meringankan beban hutang mereka. Bisa dibayangkan suasana kebatinannya ?

Banyak orang yang dekat  atau baru kenal dengan saya meracau dengan ungkapan-ungkapan fantastis, bombatis dan fenomenal (maaf ikutin Marcelanya Tukul hehehe) seperti pengusaha hebat adalah pengusaha yang bukan hanya  melihat berapa kali usahanya jatuh tetapi mampu atau tidak dia bangkit dari keterpurukkan. Memang benar ungkapan tersebut, cuma pertanyaannya adalah pernahkan orang-orang yang mengatakan tersebut mengalaminya padahal orang-orang terbut belum pernah jadi pengusaha. Selanjutnya adalah apa solusinya agar cepat lepas mengakhiri keterpurukan tersebut ?

Saya sempat mendengar ucapan Aya kepada Azzam mengenai solusi untuk mengatasi masalah Pak Jalal adalah pendekatan agama. Setuju tapi kembali lagi menjadi pertanyaan. Apakah semudah itu ??? Saya membayangkan kalau kondisi dibalik yaitu Aya yang mengalaminya. Wong Azzam saja bingung untuk memberikan saran, padahal Azzam sendiri seorang pengusaha. Terus bagaimana dong ?

Saya teringat dengan perkataan almarhum Bapak saat menghadapi masalah tersebut dan saat itu bertepatan dengan puasa di bulan Ramadhan.  ” Rud, kita asalnya dari tidak punya apa-apa menjadi punya apa-apa tapi bila harus berubah kembali menjadi tidak punya apa-apa maka kita harus menerimanya dengan ikhlas sebagai kenikmatan tersendiri yang diberikan oleh Allah SWT ” Wao saya sempat terkesima mendengarnya tapi masih menjadi pertanyaan dibenak saya. Apakah saat itu Almarhum Bapak sedang benar pikirannya atau hanya sekedar justifikasi atas ketidakmampuannya menyelesaikan masalah tersebut. Benar, Almarhum kuat dan ikhlas menerima tapi bagaimana dengan keluarga ???

Di hadapan beliau, saya sampaikan begini, ” Kalau Allah menghendaki keluarga ini miskin maka kita harus siap menerimanya. Kalau perlu habiskan semua harta yang dimiliki sampai ke titik nol sehingga selanjutnya kita bisa mencari harta kembali dalam kondisi keimanan yang baik sehingga kita mendapatkan harta yang benar-benar bersih. Siapa yang tahu kalau harta yang dimiliki selama ini berasal dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah SWT. ” Mendengar perkataan saya tersebut, Almarhum Bapak dan Ibu menangis tersedu-sedu sambil memeluk saya. Sementara saya ikut menangis tapi bingung karena heran saja mengapa saya bisa mengatakan demikian. Apakah malam itu merupakan malam Lailatul Qadar (Malam Ketetapan). Wallahu’alam Bishawab.

Sejak malam itu  walaupun dalam kondisi terpuruk dimana untuk makan sahur dan berbuka saja kami kesulitan alias setiap hari berusaha hanya sekedar untuk memenuhinya. Banyak orang yang mengenal keluarga kami tidak akan percaya bila kami menceritakannya karena tidaklah mungkin orang yang tinggal di rumah mewah lantai dua dengan luas tanah 484 meter persegi tidak punya uang untuk membeli makanan. Tetapi itulah kenyataannya dan mereka juga tidak tahu kalau rumah tersebut sudah menjadi jaminan atau agunan kepada pihak ketiga yang memberikan pinjaman modal kerja dan investasi.

Bagaimana kami menjalaninya ? Saya dan Almarhum Bapak hampir setiap malam melakukan diskusi untuk mencari solusi penyelesaian masalah tersebut. Ternyata dengan adanya masalah tersebut membuat saya dan Almarhum Bapak  menjadi semakin dekat dan akrab malah seperti dua orang teman yang saling berbagi. Maka itu saya sangat mengerti sekali apa yang diinginkan oleh beliau. Saya pikir dengan usia beliau yang sudah berumur maka saya yang muda harus menjadi penggeraknya alias orang yang rajin wara wiri kesana kemari sementara beliau bekerja dengan otaknya yang mengarahkan kemana saya harus pergi. Apakah ini sebagai bentuk kasih sayang Bapak dengan Anak ? Saya katakan iya tetapi dikuatkan oleh rasa saling menghargai dan saling menghormati.  Atau istilahnya harus senasib dan sepenanggungan.

Nah, di titik nol itulah maka dituntut kebersamaan berpikir, bergerak dan bersikap. Seiring dengan perjalanan waktu, masalah hutang dengan pihak ketiga dapat diselesaikan dengan baik walaupun ada aset-aset yang kita sayangi selama ini harus terjual. Bukan berarti sayang terhadap harta tetapi sayang karena ada nilai historisnya. Tetapi Almarhum Bapak dan saya mengikhlaskannya dengan selalu menganggap selama ini tidak pernah  terjadi apa-apa. Kata kuncinya adalah Istiqomah dengan balutan Rahman Rahimnya Allah SWT.

Sampai meninggalnya, Bapak tidak punya lagi tanggungan berupa hutang atau apapun kepada pihak lain. Inilah yang membuat saya merasa bahagia dan yakin kalau di alam lain entah dimana Beliau akan menempati tempat yang paling nyaman dalam pandangan Allah SWT. Bagaimana dengan saya ? Teruskan perjalanan Istiqomah  di dunia baik sendiri maupun bersama dengan orang lain.


Ayo Pak Jalal !!! Kamu pasti bisa…..

” Istighfarlah, Ketika Kamu Memberikan Nasehat “

abihafiz.wordpress.com/2010

Kok Istighfar ? Menurut saya, apa yang dikatakan Eyang ada benarnya karena saya sering mengalami kejadian yang kurang mengenakkan setelah saya memberikan nasehat kepada orang lain ibarat pantulan diri pada saat bercermin.

Istighfar dalam perkataan Arabnya astaghfirullah, bermakna “Saya meminta keampunan Allah“. Jadi mengandung makna maaf dan doa permohonan ampun  kepada Allah. Perkataan Istighfar seringkali diucapkan pada kehidupan sehari-hari  terutama dalam pergaulan sesama manusia.

Apa hubungannya dengan nasehat ? Nah ini yang disampaikan oleh Eyang kepada saya. Kadang kala kita merasa mendapatkan penghormatan ketika ada banyak orang yang mempercayai diri kita sebagai tempat meminta saran,  nasehat, curhat atau apapun namanya terhadap masalah yang mereka hadapi. Pada saat kita menyampaikan saran atau nasehat, tanpa disadari kita telah melakukan perbuatan riya (sombong atau pamer diri).

Karena sebetulnya pada saat kita memberikan nasehat maka setan telah masuk ke dalam diri dan menghasut dengan riang gembira. Setan secara terus menerus menggoda diri dengan perkataan, ” Ayo teruskan nasehatmu. Kamu memang orang hebat, pintar dan hebat. Buktinya orang-orang membutuhkanmu, mendengarkan dengan seksama, mengagumi, mempercayai dan menghormati kamu layaknya  seorang alim. “

Hal itulah yang sering saya alami dan menariknya seperti ada pantulan ke diri sendiri. Seolah-olah Allah SWT dengan Rahman RahimNya mengingatkan diri lewat kejadian yang sama persis dengan masalah yang dihadapi oleh orang yang telah meminta nasehat kepada saya. Jadi sepertinya Allah SWT (Astaghfirullah al adzim) ingin mengetahui kemampuan diri apakah sanggup menghadapi dan menyelesaikan masalah yang sama  dengan orang yang telah meminta nasehat kepada saya.

Jadi tidaklah salah, ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha memberikan  kesaksiannya sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

Aisyah radhiyallahu’anha berkata: ”Nabi shollallahu ’alaih wa sallam senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan.” (HR Bukhary 558)

Kesimpulannya adalah seringlah kita mengucapkan Istighfar kepada Allah SWT setiap saat atau setiap detik karena tanpa disadari kita sering melakukan perbuatan yang dapat merusak hati terutama  pada  saat kita berpuasa di Bulan Ramadhan dimana aura kesucian bulan tersebut menjadikan diri berusaha menjadi orang baik. Menurut Eyang, Istighfarlah yang akan membawa diri manusia bisa selamat dunia akherat sampai akhir jaman.

Marhaban ya Ramadhan