Menangkap Esensi Kehidupan

Saya yakin sudah banyak tulisan yang menceritakan pernak pernik kehidupan. Tapi ada satu yang menarik dari kehidupan yaitu pengalaman kehidupan orang. Ujung-ujungnya bicara tentang cinta. Cinta asmara, cinta keluarga, cinta saudara, cinta teman, cinta tanah air, cinta manusia sampai cinta terlarang. Cinta menjadi rumit apabila manusia belum mampu menangkap esensi kehidupan.

Esensi? Ya, begitulah saya menamainya atau mungkin juga bisa dipakai kata inti. Rahmatan lil alamin, itulah yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Atau bahasa kerennya PEACEFUL LIFE. Sebenarnya kalau kita pelajari lagi lebih dalam maka ada keterkaitan dengan 10 Perintah Tuhan-nya Nabi Musa. Ini juga berkaitan dengan keadilan. Keadilan versi Nabi Musa memang agak berbeda dan rasanya berat untuk dijalankan oleh manusia saat ini. BERSEDIA MENDERITA DEMI KEBAHAGIAAN ORANG LAIN. Menarik dan butuh perenungan untuk memahami kalimat di atas.

Image

Pada akhirnya kita menyadari, kalau esensi kehidupan bukan hanya mempelajari kitab-kitab suci sampai ngelotok tetapi kuncinya adalah istiqomah atau terus melakukan atau just do it sesuai aturan yang diperintahkan Tuhan dengan keyakinan penuh atau haqqul yaqin. Kembali lagi ujungnya adalah WHAT YOU HAVE DONE. Kalau sudah begitu kebenciaan terhadap sesama, sekelompok atau seluruh manusia dapat dihindari. Semua tergantung kepada manusianya.

Mau ke kiri atau ke kanan, atas atau bawah, surga atau neraka, senang atau susah dan seterusnya. Benturan-benturan terjadi karena merasa “ter” atau mengagungkan egosentrisme atau tertutupnya empati dan simpati atau masa bodo dengan situasi kondisi orang di sekitarnya. Yang penting saya senang. Kalau hal tersebut tidak bisa terkontrol maka akan ada “kitab suci” baru versi manusia yang lupa keberadaannya di dunia. Ayat-ayat bisa dibuat seenak udelnya sampai mengabaikan esensi kehidupan yang hakiki. Tidak mau tahu dengan apa yang telah Tuhan perintahkan. Nilai-nilai ibadah ritual dan sosial diabaikan demi kepentingan pribadi. Ketakutan dan keserakahan menjadi sesembahan. Ketakutan akan kehilangan kekuasaan, harta dan “miliknya”. Keserakahan yang merajalela karena tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki atau lebih tepatnya tidak pernah bersyukur. Keegoan, emosi, spiritualitas harus terukur dan terjaga agar mengerti makna kehidupan, MENGERTI DIMANA POSISINYA DAN BERAPA PORSINYA.

Di negeri kita sudah banyak orang “pintar” dan menduduki tempat empuk. Menariknya umur mereka muda-muda tetapi secara mental dan spiritual mereka rendah atau nol. Yang terjadi kesemena-menaan, nilai menghormati-menghargai antara yang tua dan muda terabaikan, rasa sopan santun hanya kata di mulut tanpa perbuatan sehingga yang ada kenaifan dan omong kosong belaka. EGP dan DL menjadi tren. Berbeda dengan orang tua kita dulu yang ditempa dan terasah intelektual, emosi dan spiritualnya melalui kawah candradimuka kehidupan sesuai Standard Operation Procedure (SOP) Tuhan dan nilai-nilai budaya luhur nenek moyangnya. Satu hal apa yang dijalani mereka lebìh modern dan lebih peaceful life dibandingkan dengan generasi sekarang.

Akhir kata, tak ada kata akhir dalam mengerti kehidupan dan semuanya akan berakhir tatkala telah datang hari akhir pada setiap manusia.

Sekilas Tanpa Rasa (Glance Without Feeling)

tumblr.com

 

Perjalanan yang melelahkan

Semua energi telah dikeluarkan

Tak ada yang tersisa

Semuanya demi sebuah harapan

Tak lagi penghormatan dan penghargaan

Segalanya disama ratakan

Membanding-bandingkan perbedaan

Saatnya merenungkan apa itu kehidupan

Semuanya menuju kepada nilai kebendaan

Terkikis sudah rasa  kemanusiaan dalam diri yang beriman

Karena dianggap tidak ada



Ramaditya Adikara, Ada Apa Denganmu ?

Tadi siang saya sempat terkejut ketika melihat sebuah tulisan di headline Kompasiana yang ditulis oleh Mas Syaifuddin Sayuti dan diteruskan dengan tulisan Kang Pepih Nugraha yang menceritakan tentang sebuah sknadal yang dilakukan oleh seorang blogger tuna netra bernama Ramaditya Adikara. Berita tersebut langsung saja saya share kepada teman-teman blogger khususnya komunitas Multiply dimana Ramaditya Adikara turut aktif di dalamnya.

Ramaditya dengan pedang Star Warsnya di Foodism akhir tahun 2008 (dok.cech)

Berbagai komentar diutarakan mengenai berita ini. Ada yang mencaci maki, prihatin, menyayangkan, berpikiran postif dan lain-lain. Semuanya menyatu dalam satu bentuk ketidakpercayaan atas apa yang telah dilakukan oleh Ramaditya Adikara.

Terus terang beberapa kali saya pernah bertemu dengan Ramaditya dalam berbagai kesempatan. Diantaranya adalah pada saat peluncuran bukunya berjudul “Blind Power” dan kopdar dengan komunitas Multiply di Foodism, FX Senayan. Pertama kali saya bertemu dengan Ramaditya, ada rasa kekaguman yang mendalam terhadap apa yang telah dihasilkan olehnya walaupun mempunyai keterbatasan fisik. Kemampuan yang dimilikinya menjadi semacam motivasi bagi kami para blogger untuk menghasilkan karya yang baik dan bermanfaat bagi banyak orang.

Selain menulis, Ramaditya mempunyai beberapa kelebihan diantaranya menciptakan lagu dan mampu mengobati atau membersihkan energi negatif yang ada dalam tubuh lewat transfer energi (saya kurang mengerti istilahnya). Dalam hal membuat lagu, Ramaditya membuktikannya dengan membuat satu lagu untuk seorang teman wanita dalam waktu kurang dari 45 menit. Dan lagu tersebut sempat diperdengarkan lewat postingan di multiply. Sedangkan kemampuan transfer energi, seringkali diperagakan oleh Ramaditya pada setiap kami mengadakan kopdar. Hampir semua teman blogger pernah merasakan dan menjadi semacam pasien dari Ramaditya.

Ramaditya melakukan transfer energi kepada seorang rekan blogger di Foodism akhir tahun 2008 (dok.cech)

Uniknya setiap giliran saya yang meminta untuk dilakukan pembersihan lewat transfer energi tersebut, Ramaditya kelihatan keletihan dan kebingungan karena tidak bisa konsentrasi. Tetapi saya pikir kemungkinan Ramaditya mulai kehabisan energi setelah melakukan transfer energi kepada banyak teman blogger atau ada kemungkinan terlalu luas areal tubuh saya yang harus ditransfer energi hehehe.

Memang saya kurang begitu akrab dengannya tapi sejak melihatnya memang Ramaditya sering dinilai bertingkah berlebihan atau dianggap lebay tapi bagi saya itu adalah bagian dari eksistensi di hadapan banyak orang. Dan itu saya bisa maklumi.

Setelah kejadian hari ini yang memberitakan tentang kebohongan publik maka bermunculanlah ketidak percayaan dengan kemampuan Ramaditya. Saya sempat ditanya oleh beberapa teman tentang bagaimana pendapat saya dengan kejadian ini. Saya menjawab apa yang dilakukan oleh Ramaditya sangatlah fatal apalagi dibuktikan adanya Surat Pernyataan yang menguatkan kalau Ramaditya telah melakukan plagiat atas karya orang. Waduh sangat disayangkan dan saya tidak tahu apa motivasi Ramaditya melakukan ini semua.

Sebagai orang yang pernah bersinggungan dengan Ramaditya, saya merasa kasihan dan berharap kejadian ini makin menyadarkan Ramaditya khususnya dan teman-teman blogger pada umumnya untuk kembali merenungkan kembali tentang apa misi, visi dan tujuan kita melakukan blogging. Saya tidak membenci Ramaditya sebagai manusia ciptaan Tuhan tetapi yang saya tidak sukai adalah perbuatannya yang telah mencoreng dunia blogger. Ada ungkapan yang menurut saya sangatlah menarik yaitu ” Dunia Itu Tak Selebar Daun Kelor “. Ternyata ungkapan ini bisa berlaku di dunia maya. Bisa saja orang melakukan perbuatan tercela di tempat lain dan ditutup rapat-rapat tetapi yang namanya informasi selalu bertebaran dimana-mana tetapi sebetulnya tidak kemana-mana. Pasti semua orang akan mengetahui juga.

Foto bersama dengan Geng of Borju Komunitas Multiply di Foodism akhir tahun 2008 (dok.cech)

Sebagai penutup, saya meminta kepada para blogger untuk memaafkan perbuatan Ramaditya karena bagaimanapun juga Ramaditya adalah manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan. Disamping itu dengan beraninya Ramaditya membuat Surat Pernyataan tersebut menandakan kalau Ramaditya cukuplah gentle untuk mengakui kesalahannya. Mumpung kita masih puasa di bulan Ramadhan maka tidaklah salah kalau mau memaafkannya dan mulai mau berpikir kalau perbuatan menjiplak (plagiat) karya orang lain sama saja dengan merendahkan cipta, rasa dan karsanya sendiri dan Tuhan yang akan menghukumnya.

Lepaskan Rasa

Hujan turun mencurahkan semuanya. Bersorak sorai tumbuhan dan hewan. Mereka telah lama menanti datangnya kucuran air dari langit. Cukup sudah kesengsaraan dalam kekeringan rasa, Beberapa ada yang menikmati dan yang lainnya bersyukur. Pupus sudah sumpah serapah yang diteriakkan. Semuanya bahagia dan malu untuk mengenang apa yang dikecamnya.

Di tempat yang lain. sekelompok anak muda berkumpul di emperan toko. Berbagai perasaan dikeluarkan. Sementara air tidak berhenti dalam waktu sekejap. Daerah pegunungan yang makin dingin dengan turunnya berkah dari langit tersebut.

” Gareng, kelihatannya kau tenang sekali “ujar anak muda sebelah kirinya.

” Iya kuperhatikan dari tadi kau menikmati cuaca hari ini ” celoteh anak muda sebelah kanannya.

” Padahal aku tahu kamu seringkali masuk angin kalau berada di dalam ruangan AC ” kata anak muda di sebelah belakang Gareng.

” Ahhhh, kalian tak tahu saja kalau Gareng sebentar lagi mukanya pucat tidak kuat menahan cuaca dingin dan hujan ini ” teriak anak muda di sebelah depan Gareng.

Gareng hanya tersenyum dan memperhatikan lingkungan sekitarnya.

” Reng… reng kenapa kau diam saja. Jangan-jangan kau sakit. Bikin repot saja ” sahut teman-temannya.

” Terima kasih atas perhatian kalian berempat. Aku tidak sakit dan tidak apa-apa kok ” ucap Gareng dengan nada kalem.

” Benar nich. Tapi aku heran kenapa kau tenang saja. Sementara kami berempat menggigil dan menahan cuaca dingin yang menusuk tulang kami. ” tanya anak muda sebelah depannya.

” Tahukah ? Mengapa aku biasa-biasa saja dan menikmati suasana hujan hari ini ? “

” Apa itu Reng ? ” tanya anak muda di sebelah kanannya.

” Aku sedang menemui Cinta dan melepaskan Rasa “

Keempatnya saling berpandangan dalam kebingungan.

” Sudahlah jangan begitu tatapan kalian kepadaku. Lihat tumbuhan di sudut sana dan hewan yang ada di kandang itu. Mereka menikmati suasana hari ini karena mereka sedang menemui Cinta dan melepaskan Rasa mereka. Sama seperti aku yang sedang menemui pemberian Kekasihku dengan cara melepaskan rasa Kemanusiaanku. Kalau tidak begitu aku akan seperti kalian. Kedinginan, kegelisahan, ketodak nyamanan, kegalauan dan sebagainya. Karena air yang mengucur hari ini adalah ciptaan Kekasihku yang harus aku syukuri “

http://www.greenprophet.com

Tak lama kemudian air hujan berhenti dengan ditandai datangnya pelangi. Indahnya.

Apakah Romantisme Bercinta Adalah Sebuah Candu ?

Love Addiction (midliferocksblog.com/2009/06/)

Journal of Neurophysiology edisi bulan Juli 2010  merilis sebuah studi yang pertama kali  memeriksa otak manusia yang baru patah hati dan mengalami kesulitan melepaskan hubungan mereka.

Untuk pria dan wanita patah hati, para peneliti menemukan bahwa  dengan diperlihatkannya foto-foto dari mantan pasangan dapat mengaktifkan daerah otak tertentu yang berhubungan dengan penghargaan, kecanduan cinta , pengendalian emosi, perasaan dan penderitaan fisik.

Hasil memberikan pemahaman tentang mengapa bagi sebagian orang sulit untuk melupakan perpisahannya dengan mantan pasangannya. Dalam beberapa kasus, orang terdorong untuk melakukan perilaku yang ekstrim, seperti mengintai dan membunuh pasangannya setelah kehilangan cinta.

Helen E. Fisher, seorang antropolog biologi di Rutgers University  mengatakan cinta yang romantis adalah candu yang mempunyai efek  ketergantungan yang luar biasa kuatnya.

Sirkuit otak untuk romantisme bercinta  telah berevolusi jutaan tahun lalu, sehingga memungkinkan nenek moyang kita untuk memfokuskan energi mereka untuk nikah hanya pada satu orang dalam  suatu waktu. Sistem otak ini  menjadi aktif untuk membantu manusia merebut kembali cinta pasangannya.

Fisher dan rekan-rekannya melakukan  scan otak terhadap 15 relawan  mahasiswa perguruan tinggi (10 perempuan dan 5  pria) yang baru saja mengalami patah hati, tapi masih mencintai orang yang telah menolaknya. Panjang rata-rata hubungan cinta mereka sekitar 2 tahun dan hubungan cinta mereka baru berakhir  sekitar 2 bulan.

Semua relawan diukur skornya  dengan Passionate Love Scale yang digunakan untuk mengukur intensitas perasaan romantis. Para relawan menghabiskan lebih dari 85 persen dari waktu bangun untuk memikirkan orang-orang yang telak menolak cinta mereka.

Dalam percobaan, subyek diperlihatkan   foto mantan pasangan dan diminta untuk berpikir tentang peristiwa yang terjadi dengannya. Subyek juga diperlihatkan  gambar orang-orang  yang akrab dengan subyek seperti teman sekelas atau teman dari teman. Pada paruh pertama percobaan, peserta  diteliti perasaan romantisnya dengan melakukan permainan  matematika  dan dilihat hasilnya pada saat melihat foto-foto orang yang menolak cintanya dibandingkan dengan melihat foto-foto teman-teman akrabnya.

Hasil temuannya adalah :

* Bagi mereka yang melihat  mantan kekasihnya maka  wilayah otak yang disebut area tegmental perut terangsang untuk bekerja aktif  sehingga memotivasi harapan subyek agar  bisa kembali kepada mantannya tersebut bahkan mencapai tahap tergila-gila.
* Daerah otak yang dikenal sebagai nucleus accumbens dan orbitofrontal / korteks prefrontal turut aktif juga.   Daerah otak ini juga terkait dengan kecanduan kokain  dan kecanduan rokok.
* Ada juga peningkatan aktivitas pada korteks otak dan cingulated anterior, daerah yang terkait dengan rasa sakit fisik dan marabahaya.

Berita baiknya, para peneliti menemukan cara penyembuhan yang efektif yaitu waktu. Semakin banyak waktu yang berlalu sejak perpisahan itu, maka ada pengurangan kegiatan daerah otak yang disebut di atas. Daerah otak yang terlibat dalam regulasi emosi, pengambilan keputusan dan evaluasi juga  turut aktif saat peserta diperlihatkan foto-foto orang yang menolak  mereka. Ini menunjukkan peserta belajar dari pengalaman romantisme masa lalu mereka, mengevaluasi keuntungan dan kerugian serta mencari tahu bagaimana menangani situasi.

Temuan ini menunjukkan adanya manfaat terapeutik bagi orang-orang yang sedang mabuk kepayang.