Touring Ranca Upas Yang Layak Dikupas

13932914_10209839314323256_3668599575397666325_n
Dok. Forescom 2016

” Cech, tanggal 20-21 Agustus 2016 Forescom akan mengadakan Touring ke Ranca Upas, Bandung. Ikut Cech ? ” Begitulah ajakan kawan Edi Sembiring, salah satu pengurus Forescom sehari setelah saya melakukan registrasi keanggotaan Forescom. Saat itu saya belum memberikan jawaban karena pada tanggal tersebut saya dan istri ada acara ke Kamojang, Garut.

Ada sih keinginan untuk ikut serta dalam acara touring tersebut karena acara tersebut saya dapat jadikan silaturahim awal sebagai anggota baru untuk berkenalan dengan kawan-kawan Forescom. Dua hari setelah pembicaraan dengan Kawan Edi Sembiring, saya mendapatkan info bahwa touring diundur minggu depannya yaitu tanggal 27-28 Agustus 2016. Dengan mundurnya acara tersebut memberikan kemungkinan besar bagi saya untuk ikut serta. Melalui WA Group Chapter Bandung, saya mendapatkan informasi bahwa saya dapat menghubungi Om Chandra untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap dan bagaimana cara melakukan pendaftaran. Tanpa pikir panjang segera saya menghubungi Om Chandra dan mentransfer uang pendaftaran.

Awalnya saya pikir dari chapter Bandung bukan hanya saja yang turut serta karena beberapa hari menjelang hari H, beberapa teman chapter Bandung terlihat antusias. Saya senang sekali dapat bertemu teman-teman dari chapter Bandung. Tetapi pas hari H, hanya saya saja dari chapter Bandung. Walaupun demikian saya tetap semangat untuk ikut karena tujuan utama saya adalah silaturahim awal dengan komunitas Forescom.

Sesuai pembicaraan saya dengan Om Chandra via WA, titik kumpul saya dengan rombongan touring adalah exit toll Moh. Toha Bandung. Sebelum jam 8 pagi, saya sudah tiba di lokasi tersebut. Menunggu kurang lebih 20 menit, beberapa mobil rombongan Forescom keluar tol Moh. Toha. Salah satu mobil mendekati saya, rupanya mobil Om Chandra dan meminta saya untuk bersiap diri.

Sebagai Newbie, saya tidak terlalu banyak bertanya, hanya mengamati dan mengikuti jalannya mobil rombongan di depan saya. Sesekali saya berbicara dengan beberapa anggota Forescom pada saat rombongan berhenti sejenak. Penilaian awal saya terhadap teman-teman Forescom adalah baik dan interaktif.

Setelah berjalan lebih dari satu jam, rombongan tiba di Situ Cileunca. Satu per satu mobil parkir teratur di lokasi parkir yang besar Situ Cileunca. Terus terang saya baru pertama kali ke tempat ini. Sebelum kami mulai mencari lokasi untuk pemotretan, Panitia meminta kami berkumpul dan melakukan foto bersama baik dengan kamera biasa maupun drone.

DSCN3199
Dok. Cech
DSCN3204
Suasana Situ Cileunca nan terik (dok. Cech)
DSCN3202
Salah satu aktifitas di Situ Cileunca (dok. Cech)
DSCN3206
Aktifitas pemotretan di Situ Cileunca (dok. Cech)

Selanjutnya kami bergerak mendekati situ Cileunca. Hari itu terik sekali matahari, tapi tidak menyurutkan kami untuk melakukan pemotretan. Ada yang memotret pemandangan sekitar situ, ada yang Wefie/Selfie, ngobrol dengan sesama anggota termasuk saya dan lain-lain. Terlihat raut wajah kegembiraan dan lepas dari suasana kepenatan saat aktifitas kerja sehari-hari. Tanpa terasa satu jam terlewati di lokasi tersebut. Kemudian panitia memanggil kami untuk berkumpul dan segera bersiap diri untuk meneruskan perjalanan ke Rumah Bosscha (Malabar Tea House).

Perjalanan menuju Rumah Bosscha terbilang lancar walaupun jalanan hanya cukup untuk dua mobil, berliku, melewati pedesaan dengan kebun teh khasnya dan beberapa area jalan yang tampak rusak tapi tidak menghalangi rombongan Forescom. Kurang lebih satu jam perjalanan menuju Rumah Bosscha. Awalnya saya pikir rumah Bosscha terletak di Lembang (Utara Bandung, teringat teropong Bosscha) ternyata rumah Bosscha adalah tempat tinggal Bosscha dikelilingi oleh perkebunan teh yang sejuk dan indah serta termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung (selatan Bandung) dekat sekali dengan daerah Pengalengan.

DSC_0001
Kebun Teh dekat Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSC_0002
Berhenti sejenak sebelum masuk ke Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSCN3207
Lokasi parkir Rumah Bosscha (dok. Cech)
DSC_0005
Kumpul lagi setelah makan siang untuk sesi pemotretan (dok. Cech)

Sekarang Rumah Bosscha merupakan bagian dari  Wisma Malabar, lokasinya di atas bukit dan dikeliling oleh perkebunan teh Malabar milik PT. Perkebunan Nusantara VIII – Malabar. Wisma Malabar menjadi sebuah penginapan nan asri dan sejuk. Dengan harga yang cukup di atas rata-rata dibanding penginapan lain di Pangalengan, Wisma Malabar ini memang menawarkan lokasi dan pemandangan yang indah. Harga per kamar untuk tipe twin bed room : 450 ribu IDR / malam, termasuk sarapan nasi goreng untuk 2 orang. tidak ada fasilitas berlebihan di dalam kamarnya, ada tv kecil, bathtub/shower dengan air panas, handuk, toiletries. Rumah Boscha merupakan rumah tua peninggalan K.A.R. Bosscha, seorang Belanda yang mendirikan pertama kali kebun teh di wilayah Malabar.

Dua jam kami berada di Wisma Malabar. Aktifitas yang dilakukan adalah makan siang, shalat dhuhur dan menunggu satu mobil dari Bekasi yang datang terlambat sehingga jumlah mobil yang ikut serta lengkap 25 mobil dengan total peserta 45 orang. Selain itu ada pemotretan bersama untuk dokumentasi.

Dari Rumah Bosscha, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi utama touring camp yaitu Ranca Upas. Rombongan membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Setibanya di Ranca Upas hari sudah mendekati senja. Segeralah kami parkir mobil mendekati tenda tempat kami menginap. Ada 2 tenda yang sudah berdiri  yaitu tenda untuk pria dan wanita. Pada saat itu lokasi camp dikelilingi oleh beberapa tenda kecil yang sudah berdiri sebelum kedatangan kami. Suasana lokasi sangat ramai.Tapi yang terpenting bagi saya adalah kamar mandi. Ternyata kamar mandi banyak sekali didirikan sehingga tidak menyusahkan pengunjung saat ingin buang hajat atau mandi.

Baru saja memasuki tenda, cuaca mulai mendung dan hujan rintik-rintik. Karena perut terasa lapar, saya pergi ke warung depan. Sesampainya di warung saya memesan Indo Mie Telur dan memakan beberapa gorengan sambil menikmati kopi susu. Beberapa menit kemudian, satu anggota Forescom yaitu Om Ikhtiar tiba di warung dan memesan menu yang sama dengan saya. Rupanya Om Ikhtiar kelaparan juga. Setelah itu hujan turun dengan lebatnya. Wahh… langsung kami berpikir rencana latihan pemotretan malam hari bakal dibatalkan karena hujan.

2 jam kami di warung dan hujan mulai berhenti, tiba-tiba panitia Forescom termasuk Ketum Om Dudi datang ke warung. Rupanya mereka kelaparan juga. Sambil menikmati wedang jahe dan gorengan, kami ngobrol ngalor-ngidul dengan diselingi tawa dan canda. Setelah itu kami memutuskan untuk menyalakan api unggun dan melakukan sesi pelatihan memotret malam hari (yang utama adalah pelatihan foto Steel Wool)

FB_IMG_1472442447697
Suasana pelatihan pemotretan di malam hari (dok. Forescom)
FB_IMG_1472442458889
Teknik pemotretan dengan kombinasi tulisan dan gambar (dok. Forescom)
14080028_10209976509873059_5333958485918599863_n
Steel Wool (dok. Forescom)

Malam makin larut dan penat tak tertahankan sehingga tubuh ini butuh istirahat. Saya segera menuju tenda penginapan dan tertidurlah. Tepat jam 4 pagi saya terbangun. Setelah beberes kasur, selimut dan tas bawaan, segera saya bawa ke mobil. Kemudian saya pergi ke warung semalam untuk menikmati kopi di pagi hari. Jam 7 pagi semua peserta sudah terbangun. Ada yang langsung makan pagi, mandi dan hunting foto di sekitaran Ranca Upas. Rupanya semangat melakukan pemotretan masih tinggi. Walaupun tanah becek tetap tidak menghalangi aktifitas pemotretan.

DSCN3214
Suasana parkiran mobil di pagi hari (dok. Cech)
DSCN3221
Tenda-tenda yang berdiri dekat tenda Forescom di pagi hari (dok. Cech)
DSCN3217
Candid Camera pasangan yang sedang melakukan foto Pre-wedding (dok. Cech)
DSCN3218
Om Chandra tampak serius dengan hapenya (dok. Cech)
DSCN3220
Om Ikhtiar asyik dengan kameranya (dok. Cech)
FB_IMG_1472442428415
Foto bersama sebelum meninggalkan Ranca Upas (dok. Forescom)

Setelah perut kenyang, pemotretan, pemberian hadiah kepada pemenang foto  sepanjang perjalanan dan mobil satu per satu dapat melewati jalan yang becek maka selanjutnya perjalanan menuju Situ Patenggang sebagai destinasi terakhir.

Kembali rombongan bergerak teratur menuju Situ Patenggang yang melewati jalan berkelok dengan sisi kebun teh yang asri. Kurang lebih satu jam kami tiba di Situ Patenggang. Terlihat dengan jelas hamparan situ nan indah dari atas bukit, tempat parkir berada. Segeralah kami menyebar dan melakukan aksi pemotretan di areal Situ Patenggang.

DSCN3222
Rumah makan berbentuk kapal tradisional di atas bukit (dok. Cech)
DSCN3229
Pemandangan Situ Patenggang dari atas rumah makan (dok. Cech)
DSCN3228
Model kamar penginapan dekat Situ Patenggang (dok. Cech)
DSCN3223
Toilet nan bersih di Situ Patenggang (dok. Cech)

Hari mulai siang, perjalanan dilanjutkan menuju rumah makan Sindang Barang sebelum pembubaran acara touring camp dan kembali ke rumah masing-masing. Setelah makan siang dan rehat yang cukup maka Om Ketum membubarkan acara touring camp yang dianggap sukses sekaligus memberi informasi kegiatan selanjutnya di Jawa Timur. Bagi saya, touring camp merupakan wahana yang baik untuk menambah persaudaraan dan meningkat silaturahim bagi para pemilik mobiil Ford Ecosport. Walaupun awalnya saya agak heran mengapa panggilan kepada anggota pria adalah om dan wanita adalah tante. Tetapi bagi saya tidak masalah karena mungkin panggilan tersebut untuk mempererat persaudaran komunitas. Berharap agar kegiatan Forescom berikutnya dapat diikuti oleh seluruh anggota komunitas ini.

Ranca Upas layak dikupas
Bagai kipas
Angin terhempas
Letih lelah menjadi impas
Tawa bahagia tampak puspas
Tak ada ampas
Semuanya terasa pas

“Ayahmu Lebih Penting Daripada Tim”

Cristiano-Ronaldo-embraces-his-former-manager-Sir-Alex-Ferguson

mirror.co.uk

Kami baru saja mengalami kekalahan dalam satu pertandingan di kompetisi domestik. Setelah pertandingan, bos marah besar. Semua benda yang ada di dekatnya ditendang ke segala arah dengan emosionalnya.

Sementara itu saya baru saja mendapat kabar bahwa ayah saya mengalami koma di rumsh sakit dan keluarga meminta saya untuk pulang menjenguk. Dalam situasi saat itu sepertinya saya kuatir permintaan pulang (cuti pulang) tidak akan diberikan oleh bos karena 2 hari lagi ada satu pertandingan yang sangat menentukan untuk keberlanjutan tim kami di liga regional yaitu Liga Champions.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk menghadap bos.

” Bos, saya ingin mengajukan cuti pulang ke negara saya selama 2 hari “

” Memangnya ada apa sehingga kamu mau cuti pulang?” tanya bos

“Saya baru dapat kabar ayah saya sakit dan mengalami koma di rumah sakit. “

” Pergilah ” tegas Bos.

” Terima kasih dan lagi pula saya hanya cuti 2 hari sebelum pertandingan liga champions saya sudah bersama tim”

” Tidak… tidak… Pergilah kau menemani ayahmu yang koma. Mau 2 hari … Seminggu … bahkan lebih dari itu sampai ayahmu sadar dan sehat kembali”

” Lalu bagaimana dengan pertandingan Liga Champions yang tinggal 2 hari lagi. Itu pertandingan penting bagi kita”

” Tidak, Ronaldo. Pulanglah. Kamu lebih penting dan lebih dibutuhkan oleh ayahmu dari pada tim” jelas Bos Sir Alex Ferguson.

Di tahun kompetisi tersebut MU menjuarai Liga Champions. Dari kejadian tersebut itulah CR7 sangat respek dan menganggap SAF bukan hanya sebagai bos tapi sebagai Bapak baik di luar maupun dalam lapangan.

Mesjid Bayan Beleq Yang Membuat Mata Melek

Suhu Lombok yang mendekati 33 derajat Celcius berimbas kepada kepala saya sakit. Selesai makan pagi di hotel, saya segera konsumsi obat sakit kepala. Akibatnya selama perjalanan menuju Pusuk Sembalun saya lebih banyak tertidur sehingga kurang dapat menikmati indahnya alam yang menuju ke sana.

Tanpa terasa kurang lebih 2 jam perjalanan terlewati dan saya terbangun karena mobil berhenti di satu tempat. Terpampang tulisan ” Taman Nasional Pusuk Sembalun “, segera saya keluar dari mobil dan mengikuti istri ke satu tempat yang kelihatannya bagus untuk foto-foto. Untungnya cuaca di Sembalun cerah tapi tidak panas menyengat bahkan boleh dikatakan sejuk.

DSCN2879
Dok. Cech 2016
DSCN2880
Dok. Cech 2016

Setelah 2 jam kami menikmati udara sejuk di Sembalun, perjalanan dilanjutkan menuju tempat pembuatan dan penjualan mutiara khas Lombok. Kembali saya tertidur rupanya pengaruh obat belum hilang juga.

Tiba-tiba mobil berhenti di satu tempat dan tanpa terasa kurang dari satu jam saya tertidur.

“Ini tempatnya Mas Cech yang kemarin saya ceritakan”  ujar Pak Nasib, sang supir.

” Tempat apa ya Pak? ” tanya saya.

” Mesjid tertua di Lombok, Mesjid Bayan Beleq ” jelasnya.

Segera saya keluar dari mobil, panas mulai terasa di badan. Letak mesjid tersebut berada di pinggir jalan utama Lombok Utara. Sebelum masuk terpampang tulisan Mesjid Kuno Bayan Beleq Yang termasuk National Heritage atau dilindungi negara. Tepatnya mesjid ini ada di Desa Bayan, Kecamatan Bayan Lombok Utara.

DSCN2904
Dok. Cech 2016

Di pintu masuk kami langsung dipandu oleh seorang anak muda yang sepertinya pemandu wisata mesjid tersebut. Kami diharuskan mengisi buku tamu dan dipersilakan untuk memberikan sumbangan sukarela karena tidak ada ketentuan membayar tiket masuk ke area mesjid tersebut.

Dari tempat pengisian buku tamu, bangunan tua seperti bangunan mesjid pada umumnya jelas terlihat. Posisinya berada di dataran tinggi, bentuk bangunan mesjid tersebut serupa dengan bentuk bangunan rumah-rumah tradisional asli masyarakat Bayan. Bangunan mesjid berbentuk bujursangkar berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah liat yang dikeraskan dan dilapis dengan anyaman tikar bambu. Atap tumpangnya dibuat dari bilah-bilah bambu. Pondasi mesjid menggunakan batu kali tanpa semen.

DSCN2895
Tampak depan mesjid (Dok. Cech)
DSCN2891
Tampak belakang (Dok. Cech)
DSCN2893
Gentong penampung air wudhu (Dok. Cechgentong)

Di depan pintu mesjid terdapat gentong yang diikatkan pada sebuah pohon. Mungkin fungsinya untuk penyimpanan air wudhu. Seperti diketahui Lombok merupakan wilayah kering dan tadah hujan. Selanjutnya ketika saya ingin berjejak ke dalam mesjid. pintu mesjid tertutup dan istri ingin kembali ke mobil karena suhu udara saat itu panas sekali.

Menurut pemandu, Mesjid tidak lagi dipakai untuk umum dan hanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti acara Maulid Nabi SAW Itupun dengan peraturan yang sangat ketat karena daya tampungnya hanya untuk 40 orang saja dan sebagian besar adalah kyai. Itulah mengapa pintu mesjid terkunci rapat. Tetapi wisatawan masih diperkenankan mengambil foto dari celah dinding bambu yang seperti sengaja diberi celah yang cukup untuk kamera.

Selain itu pemandu juga menjelaskan tentang adanya makam besar (Beleq) yang terdapat di dalam tersebut yaitu makam Syekh Gaus Abdul Rozak, salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan Bayan. Ada 4 tiang soko guru dari pohon nangka yang menyangga bangunan mesjid. Beduk kayu terlihat juga didalam mesjid dan tergantung di tiang atap mesjid. Di belakang kanan dan depan kiri mesjid terdapat 2 gubuk kecil. Di dalam kedua gubuk tersebut terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus mesjid ini sedari awal. 

DSCN2897
Beduk kayu (Dok. Cech)
DSCN2899
Atap mesjid (Dok. Cech)
DSCN2902
Bangunan belakang kanan (Dok. Cech
DSCN2896
Bangunan depan kiri (Dok. Cech)

Berdasarkan informasi dari pemandu, Mesjid Bayan Beleq didirikan pada abad ke-17 oleh Sunan Ampel. Dalam penyebaran agama Islam di Lombok Sunan Ampel dibantu oleh salah satu muridnya Syekh Gaus Abdul Rozak yang berasal dari Irak. Tetapi berdasarkan beberapa literatur belum jelas diketahui siapa yang pertama kali membangun Mesjid Kuno Bayan Beleq.

Tidak terasa 1 jam saya berada di lingkungan mesjid tersebut. Setelah itu saya memberikan salam perpisahan kepada pemandu dan segera menuju ke mobil. Baru saja saya membuka pintu,  tiba-tiba istri mengatakan, “Serem Mas tempatnya maka itu tadi saya kabur duluan ke mobil. Kalau menurut mas bagaimana?” Saya pun menjawab ” Hmmm, justru Mesjid Kuno Bayan Beleq ini membuat mata saya melek. Melek adanya bukti penyebaran Islam di Lombok dan melek terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kasat mata seperti…. Iiiihhh serem!!!  “

Mobil langsung digas oleh Pak Nasib menjauhi lokasi mesjid kuno tersebut menuju Pantai Nipah untuk kembali melek menikmati Sunset.

DSC_0057
Sunset di Pantai Nipah (Dok. Cech)

Bertumbuh Dalam Lantunan Ilahi

DSCN2345

Saat kau dibenamkan ke dalam tanah, suara azan dilatunkan.

Seiring lantunan kalam ilahi terbaca dalam hati doa-doa agar kau dapat tumbuh besar dan bermanfaat bagi alam semesta.

Saat ini kau telah tumbuh besar dan berbuah lebat. terdengarlah rasa syukur.

Ternyata keistiqomahan dalam merawat, membesarkan, memanjakan, dan mendoakanmu terbukti dan menjadi kenyataan.

Buahmu mulai banyak tumbuh dan sedang menuju kematangan.

Namun demikian kau terus dilatunkan kalam-kalam KemenanganNya.

Bejo

Orang tua Jawa dulu mengatakan lebih baik jadi orang bejo (beruntung) daripada orang pintar.

Pria Jawa berumur 40-an tahun ini bertemu dengan saya karena berprofesi sebagai sopir yang mengantar sofa saya dari Jakarta ke Bandung. Saya memakai jasanya melalui informasi internet.

Penampilannya sederhana dan ramah. Saya berpikir dia hanyalah sopir perusahaan jasa pengangkutan/pengiriman barang. Ternyata selain sopir, dia juga pemilik kendaraan angkutan tersebut (mobil boks).

Sepanjang perjalanan dia banyak bercerita tentang kisah hidupnya. Sudah hampir 14 tahun berprofesi sebagai sopir angkutan barang. Dan baru 2 tahun ini, dia bukan hanya sebagai sopir tapi juga pemilik perusahaan angkutan dengan jumlah armada 10 unit kendaraan yaitu 4 mobil boks, 4 mobil bak terbuka dan 2 truk fuso. Katanya ini semua karena Gusti Allah, kerja keras, dan keberuntungan.

Keberuntungan? 3 tahun lalu teman sekolahnya datang ke kontrakannya. Pada saat itu pria jawa ini masih sebagai sopir freelance. Sudah 2 tahun temannya menjalankan bisnis angkutan dengan modal 2 unit mobil boks tapi tidak ada kemajuan karena sering ditipu oleh sopir-sopirnya.

Temannya meminta dia untuk menjalankan dan melanjutkan bisnisnya karena sudah putus asa dengan bisnisnya tersebut. Kedua mobil boks temannya dipercayakan kepada dia untuk menghasilkan uang. Temannya tidak minta apa-apa dan menyerahkan kepada dia tentang berapa yang harus diberikan tiap bulannya tapi dia selalu memberikan 50 % pendapatannya kepada temannya.

Tanpa dinyana setelah 1 tahun, dia berhasil membeli 2 mobil boks milik temannya tersebut. Dengan kerja kerasnya sampai sekarang jumlah armada angkutannya bertambah menjadi total 10 unit.

“Luar biasa” saya terkagum-kagum.

“Saya suka di jalan, Pak. Kalau tidak membawa kendaraan satu hari saja, badan saya sakit-sakit. Itulah mengapa sampai saat ini saya masih membawa mobil walaupun saya punya anak buah.” cerita pria jawa tersebut.

” Omong-omong nama bapak siapa? ” tanya saya.

” Bejo, Pak ” tegasnya.

” Lengkapnya? “

” Satu kata, Pak. BEJO ” sambil menyerahkan kartu namanya.

Wow, perjalanan Jakarta – Bandung semakin menarik karena banyak ilmu dan pengalaman yang saya peroleh dari Bejo. Saya semakin kagum setelah mendengar rencana  Pak Bejo untuk membeli truk Fuso terbaru pada awal tahun 2016 ini.

Brunei Darussalam : Lapangan Terbang Antarbangsa Brunei

Tanggal 16 Mei 2014 adalah hari keempat atau hari terakhir kami berada di Brunei Darussalam. Sementara urusan koper yang hilang belum ada kejelasan maka itu hari terakhir yang bertepatan dengan hari Jumat  kami berangkat pagi hari sekitar jam 11 pagi karena kami ingin segera mendaparkan kejelasan tentang koper dari Air Asia.

2014-05-16 11.20.02

Dengan diantar Pak Azman, supir taksi langganan kami check out dari hotel dan menuju ke Bandara International Brunei (BIA). Dalam waktu 15 menit tibalah kami di BIA. Tetapi sebelum kami masuk ke tempat keberangkatan, Pak Azman mengingatkan bahwa hari Jumat adalah hari libur nasional Brunei Darussalam. Pak Azman menyarankan kami untuk membeli makanan di toko-toko yang ada di BIA karena jam 12.00-14.00 waktu Brunei toko-toko akan tutup karena semua karyawannya istirahat sekaligus melaksanakan sholat Jumat khususnya kaum pria. Padahal waktu keberangkatan kami selanjutnya yaitu Kota Kinabalu pada pukul 16.45 sehingga kami pasti akan menunggu lama.

Segeralah saya pergi ke kantor Air Asia. Ternyata hasilnya kurang menyenangkan karena koper kami belum juga ada kejelasan keberadaannya. Demikian dituturkan oleh Azmi, supervisor Air Asia Brunei Darussalam. Mengecewakan sekali karena kami berharap koper ditemukan dan dapat kami bawa langsung ke Kota Kinabalu tetapi itulah yang terjadi dan kami dituntut untuk lebih bersabar lagi.

2014-05-16 11.06.54

2014-05-16 11.07.40

2014-05-16 11.24.16

2014-05-16 11.25.15

Setelah mendapatkan informasi yang kurang menyenangkan dari Air Asia, segeralah kami mencari makanan yang dijual di BIA sebagai teman menunggu di BIA selama 4 jam lebih. Ternyata kami menemukan semua toko sudah tutup bersamaan terdengar suara azan di mesjid yang letaknya tidak jauh dari BIA. Apa yang dikatakan Pak Azman benar adanya. BIA langsung sepi tanpa aktifitas sama sekali.

Walaupun tidak ada yang menjual makanan, kami beruntung karena salah satu tas kecil masih tersedia beberapa kudapan yang cukup mengganjal perut selama 2 jam. Selain itu lamanya waktu menunggu kami manfaatkan untuk mengambil foto sekilas tentang BIA pada saat semua aktifitas terhenti pada hari Jumat tersebut.

2014-05-16 11.22.39

2014-05-16 11.16.38

2014-05-16 11.17.48

2014-05-16 12.24.13

Perlu diketahui BIA masih dalam proses pembangunan. Sejak 2008 telah dibuat Master Plan BIA sehingga menjadikan BIA sebagai lapangan terbang berkelas Internasional dan dimulailah pembangunan besar-besaran. Pada tahun 2005 kapasitas BIA baru dapat menampung 1,3 juta orang. Tetapi pada saat ini fase 1 telah mengalami peningkatan kapasitas penumpang dan terminal kargo (direncanakan rampung akhir 2014). Pada tanggal 1 Oktober 2013, fase 1A telah selesai yaitu dibukanya hall kedatangan yang baru dan diharapkan terjadinya peningkatan jumlah penumpang mencapai 2 juta orang pada akhir tahun 2014. Sedangkan fase 2 baru akan terwujud pada tahun 2020 yaitu pembangunan terminal baru yang direncanakan dapat menampung 8 juta orang. Semoga kelak suatu hari kami dapat berkunjung lagi ke Brunei Darussalam dengan kondisi BIA yang lain dan lebih baik dari sekarang. Selamat Tinggal Brunei, Selamat Datang Kota Kinabalu.

2014-05-16 15.08.41

2014-05-16 15.35.58

(bersambung)

Tidak Mudah Menghilangkan Trauma Akibat Kecelakaan

trauma (trauma-and-alcoholism.com)
trauma (trauma-and-alcoholism.com)

” Kamu ini, cara menyetirnya seperti sopir metromini. Grasak grusuk tidak karuan. Bikin penumpangnya mual dan pusing saja ” Begitulah ujar Kakak kepada saya sekitar 16 tahun yang lalu setiap saya mengendarai mobil. Saya cuek saja bahkan tertawa terbahak-bahak.

Di lingkungan keluarga dan teman-teman sudah sangat paham bagaimana saya mengendarai mobil. Emosional dan sradak sruduk. Ada kesepakatan yang saya buat apabila teman-teman menjadi penumpang di mobil saya dalam perjalanan jauh. Diantaranya adalah tidak mengenal istilah menginjak rem pada jalan menurun, mati satu mati semua, tidak ada istilah mengalah apabila ada kendaraan di jalur berlawanan arah mengambil jalur kendaraan saya maka sudah pasti akan saya adu dan tinggal siapa yang berani mati (tidak ada pengecualian kendaraan) hehehehe…

Ada satu peristiwa di jalur paantura yang sampai sekarang saya masih mengingatnya. Tahu khan bagaimana supir-supir bis luar kota terutama jurusan Jakarta-Cirebon menjalankan kendaraannya sebelum ada jalur pemisah. Seenak udelnya supir bis tersebut mengambil jalur kendaraan kita dengan kecepatan tinggi. Suatu hari tepatnya siang hari, saya melakukan perjalanan ke luar kota via jalur pantura, tiba-tiba dari arah yang berlawanan ada bis yang menyodok masuk jalur saya untuk mendahului beberapa kendaraan di depannya. Sepertinya sang supir memaksakan kehendaknya. Kalau dilihat jarak maka orang yang berpikiran waras tidak akan mengambil keputusan untuk mendahului karena jarak yang terbatas dengan mobil di arah yang berlawanan. Saya sudah menduga sebelumnya tetapi dasar jiwa muda dengan emosional yang tinggi, saya mengambil keputusan tidak mau mengalah alias mengurangi kecepatan dan menghindari bus tersebut. Tetap saja saya melajukan kendaraan dengan kecepatan yang tinggi. Dalam pikiran saya ingin tahu seberapa besar nyali supir bus tersebut.

Dalam beberapa detik, teman-teman yang ikut dengan saya tegang dan tiba berteriak keras. Saya pun ikut berteriak. Apa yang terjadi? Ternyata bus tersebut menghindar ke sisi kiri kendaraan saya menuju bahu jalan berbatuan. Semua teman mengumpat dan memaki-maki saya tetapi saya malah tertawa sepuas-puasnya. Ternyata benar perkiraan kalau sang supir bus tidak punya nyali.

Selain itu saya juga pernah memberhentikan bus luar kota yang jalannya ugal-ugalan. Segera saya susul bus tersebut dan saya pepet bus tersebut hingga berhenti. Langsung saya turun dan menghampir supirnya. Ketika kernetnya turun, saya hanya memberikan isyarat ancaman. Apa mau dipukul dengan kunci ban yang sudah saya bawa sebelumnya. Kemudian saya menyuruh supirnya turun dari bus dengan teriakan keras. Ketika supirnya turun dari bus, kontan amarah saya turun karena sungguh di luar dugaan dimana supirnya mempunyai tubuh lebih kecil dan kurus daripada saya. Walah-walah ini sih bukan lawan sebanding dalam hari saya. Benar saja supir tersebut mohon-mohon maaf dan saya hanya bisa menasehati kalau lain kali bawa bus jangan ugal-ugalan karena membahayakan orang banyak.

Ya itulah saya pada waktu itu. Tetapi semuanya berubah 360 derajat.Ternyata karma menyertai perbuatan manusia. Kesombongan dan keegoan jiwa muda saya luntur karena satu peristiwa penting dalam hidup saya. Pada tahun 1996 saya mempunyai bisnis bubuk cabe. Saat itu bisnis tersebut lagi kencang-kencangnya. Banyak permintaan dari beberapa pabrik makanan terhadap bubuk cabe. Bubuk cabe tersebut didapatkan dari rekanan bisnis di Cirebon. Hampir 3 kali seminggu saya melakukan perjalanan Jakarta-Cirebon pergi pulang dan tidak mengenal istilah capek. Pagi berangkat ambil barang ke Cirebon, sore hari sudah dapat uang kontan. Sungguh menggiurkan.

Uang dapat menghapus segala keletihan tubuh padahal setiap manusia mempunyai keterbatasan fisik baik muda maupun tua. Pada suatu hari, saya mendapatkan pesanan bubuk cabe ddari sebuah pabrik makanan di Cikarang. Hari itu juga barang harus dikirim karena barang sangat dibutuhkan untuk produksinya pada hari itu. kebetulan saya tidak punya stok sehingga saya putuskan hari itu juga berangkat ke Cirebon dengan ditemani 2 orang anak buah. Padahal baru kemarin malam saya ke Cirebon dan sampai pagi saya tidak tidur karena ada sedikit kerjaan mengotak atik laporan keuangan.

Saya sadar kalau kondisi saat itu tidak fit tetapi saya paksakan untuk membawa sendiri mobil. Di jalan tol Jakarta-Cikampek saya sempat menghentikan kendaraan di tempat pemberhentian karena mengantuk. Karena saya merasa dikejar waktu maka istirahat hanya sebentar dan mengandalkan satu gelas kopi pahit. Salah satu anak buah telah mengingatkan dan menawarkan diri untuk membawa mobil tetapi saya tolak karena saya tahu bagaimana dia membawa mobil. Terlalu santai dan lamban pikir saya.

Dengan terkantuk-kantuk, saya tetap paksakan untuk membawa mobil. Anehnya, tidak seperti biasa saya mengambil jalur masuk Indramayu. Bukannya belok ke kanan pada pertigaan Celeng. Sepertinya akan lebih cepat lewat Indramayu. Jalannya sepi dan cepat sampai ke Cirebon. Justru jalan sepi itulah makin membuat mata saya kriyip-kriyip tetapi tetap tidak menghentikan kendaraan.

Alasan saya tidak berhenti adalah kota Cirebon tinggal 8 km lagi. Nanti saja di tempat teman yang menyuplai bubuk cabe, saya akan istirahat. Apa yang terjadi kemudian? Dalam hitungan sepersekian detik, tiba-tiba saya mendengar suara keras di sebelah kanan mobil. Segera saya banting setir ke kiri, sekali lagi saya mendengar suara keras di kanan belakang mobil dan terasa sekali jalan mobil limbung. Saya mengalami suasana seperti orang yang kehilangan nyawanya. Blank dan tersadar setelah mendengar suara anak buah  memanggil-manggil nama dan menguncang-guncangkan tubuh saya.

Barulah saya tersadar bahwa saya mengalami kecelakaan. Mobil saya bertabrakan dengan bus. Rupanya saya tertidur dan mobil masuk jalur berlawanan arah dimana supir bus tahu kalau saya mengantuk dan sempat menghindar dengan cara membanting setir. Jadi mobil saya dan bus tersebut mengalami kerusakan bodi mobil sebelah kanan. Pada saat sadar, posisi kaki saya melipat ke arah perseneling karena terdorong oleh pintu kanan mobil saya yang pengok parah ke dalam akibat tabrakan tersebut tetapi saya tidak mengalami luka-luka apapun.

Untuk mengeluarkan saya, penduduk sekitar membuka pintu kiri karena pintu kanan tidak bisa dibuka. Herannya tidak ada kaca mobil baik kaca depan maupun kaca samping sebelah supir yang pecah. Setelah 30 menit barulah saya siuman dan mengerti apa yang terjadi setelah anak buah dan supir bus menceritakan semuanya. Sungguh mengerikan.

Akhirnya mobil saya diderek ke kantor polisi. Di kantor polisi, saya berterus terang kalau saya mengantuk dan menyatakan diri salah. Setelah itu saya menelpon kakak untuk mengabarkan peristiwa kecelakaan tersebut. Saya memanggil kakak untuk datang ke kantor polisi karena kondisi saya belum normal sedia kala dan masih taruma. Atas bantuan kakak, masalah ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan dimana saya harus membayar kerugian yang dialami supir dan perusahaan bus. Semua urusan tersebut ditangani oleh kakak. Mobil saya dan bus tersebut diperbaiki di Cirebon atas biaya yang ditanggung oleh saya. Bukannya untung malah buntung. Uang dapat memberikan berkah di satu sisi, sisi lain uang dapat membawa kesengsaraan.

Ternyata nyawa lebih penting daripada uang. Uang dapat dicari tetapi nyawa tidak. Kejadian tersebut menjadi pelajaran berharga agar saya bisa menghargai hidup. Sejak itu saya berubah total baik mengendarai mobil dan menyikapi masalah kehidupan. Saya hanya dapat tersenyum apabila melihat orang lain membawa kendaraannya ugal-ugalan. Mungkin saja orang tersebut belum pernah mengalami kecelakaan hebat dan mengetahui kalau trauma akibat kecelakaan susah untuk dihilangkan. Peristiwa kecelakaan tersebut masih menghantui saya sampai saat ini walaupun rasa ketakutan tersebut telah jauh berkurang.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.