Hitam Putih Para Pengelana Sanghyang Sirah

1335603605323923333
Pulau Peucang, pintu masuk ke Sanghyang Sirah (dok.cechgentong)

Pun Sampun Kasang Rumuhun

Sri Sadana, Sri Sadini

Naga Gini Gupa Gupi Gepeng

Ingsung Lungguh Ing Maraneya

Emas Duit Emberhala

Muhammad Sing Nampani

Manusia Sing Nampa

Laa ilaha ilallah Muhammad Rasulullah

 

13356038391505651158
Keraton Nyi Mas Ratu Mayang Sari (dok.cechgentong)
13356039701522726102
Pemandian Para Puteri Galeuh Pakuan Pajajaran (dok.cechgentong)
1335608021330275332
Salah satu Patih di Sanghyang Sirah (dok.cechgentong)
1335608272584296837
Lobster, sumber makanan yang banyak tersedia di Sanghyang Sirah (dok.cechgentong)

Rapalan itu masih terus terdengar di telinga walaupun diri sudah jauh berpijak. Desiran ombak, hembusan angin, bau amis ikan kerapu merah dan suasana magisnya takkan pernah terlupakan. Amanah itu terus dijalankan, ungkapan bakti kepada orang tua dan karuhun.

Pangsi hitam tetap dikenakan. Jati diri asal keberadaan. Tak ada yang berubah, semuanya tetap sama. Hitam di luar, putih di dalam. Dan selalu memenuhi ” Berjalan Dalam Diam, Berlari Dalam Tidur “.

Auman sejati tetap diteriakan. Tak butuh musuh, tak butuh teman, auman itu hanya untuk kebenaran.

 

Sir Budi Badan Sampurna

Sahidan Di Bumi

Buahna Panca Tengah

Bis Teguh Kalkuatna Allah

Laa ilaha ilallah

13356084151507302490
Pangsi hitam dengan hati yang putih meneruskan cita-cita para karuhun (dok.cechgentong)
Iklan

Sanghyang Sirah : Mengenal Kembali Sirah Diri

Tepat hari Idul Fitri 1431 Hijriah sekitar jam 10 pagi saya mendapatkan telepon dari Uyut di Sumedang. Setelah bicara ngalor ngidul tiba-tiba Uyut mengatakan kepada saya kalau tanggal 19 September 2010 (hari minggu) sesuai dengan kesepakatan sewaktu kliwonan hari Jumat maka rombongan berjumlah 8 orang yang pergi ke Sanghyang Sirah sewaktu bulan Maulud kemarin (6 bulan yang lalu) diharapkan untuk pergi kembali ke Sanghyang Sirah.

Saya sempat kaget mendengarnya karena ada sedikit trauma pada waktu ke Sanghyang Sirah kemarin dimana 8 orang yang melakukan puasa selama 7 hari dan 4 orang yang mengantar, semuanya terkena penyakit malaria secara bersamaan alias dalam waktu yang sama. Semua merasakan penderitaan saat malaria kemarin. Kejadian tersebut menjadi trauma karena penyakitnya berlangsung lama bahkan ada satu orang yang menjelang berangkat ke Sanghyang Sirah kemarin masih terkena malaria.

Tetapi yang menjadi kuatnya tekad kami walaupun 3 orang dari 8 orang sebelumnya tidak bisa berangkat adalah adanya kesamaan mimpi yaitu semuanya mengarah ke Sanghyang Sirah. Ada yang didatangi oleh orang tua berbaju putih, ada yang bermain-main di pantai Sanghyang Sirah dan lain-lain. Sementara saya hanya merasakan suatu yang tanpa disengaja yaitu 2 hari sebelum lebaran, berulang kali saya memutar-mutar video perjalanan ke Sanghyang Sirah sebelumnya. Kok ada rasa rindu untuk datang kembali ke sana.

Akhirnya tepat hari minggu, 5 orang (rombongan dari Sumedang termasuk Uyut) datang ke rumah saya untuk menjemput. Tetapi sebelumnya mengganti mobil dulu dengan mobil teman yang ada di Cikarang. Kebetulan teman ini menjadi salah satu pengganti dari 3 orang yang tidak bisa hadir. Dan kebetulan juga teman ini baru mendapatkan mobil baru dari kantor sehingga bisa dipakai dengan alasan uji coba.

Kami merasakan persiapan ke Sanghyang Sirah kali ini cukup matang. Kondisi mental tiap orang dalam rombongan, dana, kendaraan yang digunakan masih baru, kesiapan kapal motor dan tidak melibatkan banyak orang luar. Memang semuanya masih diselimuti rasa was-was termasuk ibu saya yang merasa kuatir setelah saya mengatakan akan pergi lagi ke Sanghyang Sirah. Beliau tahu kalau kondisi saya belum fit benar dan sudah 3 hari mengalami batuk berat. Tetapi akhirnya beliau mengijinkan juga.

Sekitar jam 12.30, kami berangkat ke Bandara Soetta untuk menjemput satu orang dari Aceh untuk melengkapi jumlah rombongan yaitu 8 orang. Tetapi baru saja mau berangkat, tiba-tiba teman di Aceh memberi kabar kalau pesawatnya transit dulu di Polonia Medan dan kemungkinan sampai di Cengkareng sekitar jam 5 sore. Ya sudah karena mobil sudah bergerak maka Uyut memutuskan untuk mampir dulu ke Cileduk yaitu rumahnya Pak Budi sambil menunggu waktu jam 5 sore.

Anehnya di rumah Pak Budi, kami bertemu dengan seorang anak muda yang sudah lama menghilang dan dicari-cari oleh Uyut. Pemuda asal Cirebon ini memang aneh dan unik bahkan menyebalkan karena kelakuannya yang tidak biasa menurut ukuran orang biasa. Ya jelas saja wong pemuda itu bukan manusia normal alias masih keturunan siluman hehehe…

Ada satu peristiwa yang cukup membuat kami kaget yaitu saat pemuda tersebut memberikan keterangan tentang sejarah karuhun dan foto-foto makam/petilasan. Dengan lugas dan lancarnya pemuda tersebut menjelaskan ke Uyut dengan menggunakan laptop. Perlu diketahui pemuda ini tidak pernah sekolah tetapi mempunyai kepintaran yang luar biasa. Hanya melihat satu gadget baru maka langsung bisa menggunakannya walaupun akhirnya kalah juga dengan saya yaitu masalah membuat blog hahahaha…

Menjelang pukul 5 sore, rombongan kami berangkat ke Bandara Soetta. Ternyata suasana di bandara macet sekali. Rupanya banyak orang yang baru kembali ke Jakarta setelah mudik lebaran pada hari minggu tersebut. Untuk parkir saja membutuh waktu 1 jam. Setelah melakukan koordinasi, akhirnya teman berhasil dijemput juga walaupun penuh dengan keringat karena harus mencari-cari di kerumunan banyak orang.

Sebelum melanjutkan kami makan-makan dulu di Tangerang untuk mengisi perut karena perjalanan membutuhkan waktu 5 jam sampai di pantai Cipining, Sumur Pandeglang dimana kapal berlabuh. Alhamdulillah selama perjalanan menuju pantai, kami tidak mengalami gangguang atau halangan apapun. Mungkin karena saya yang menyetir hahahaha… Walaupun berat dan berusaha untuk konsentrasi dalam kondisi masih batuk tetapi tekad yang kuat itulah mengakibatkan semuanya berjalan lancar.

Tepat jam 02.06 kami tiba di rumah nahkoda/pemilik kapal bernama Pak Syaukari. Baru saja mobil saya parkirkan. Pak Syaukari sudah muncul dan segera mengajak kami ke tepi pantai. Membutuhkan waktu satu jam untuk memindahkan barang dan kami ke kapalnya dengan menggunakan sampan kecil karena saat itu ombak lagi pasang. Memang sebelumnya tepat maghrib kemarin ada badai yang menerpa daerah tersebut tetapi tidak membahayakan. Walaupun kami yang mendengarnya sempat ketar ketir juga.

Perlu diketahui juga adanya badai tersebut karena bertemunya angin selatan dan angin utara yang menyebabkan gelombang ombak makin dahsyat terutama tepat di titik pertemuan arus yaitu Tanjung Layar. Dalam kondisi masih gelap, kapal masih berjalan dengan baik. Mungkin disebabkan oleh ahlinya Pak Syaukari membawa kapalnya dalam mengarungi besar dan tingginya ombak. Saya sempat juga melihat bagaimana gelombang setinggi 3 meter menyeret kapal dan merasakan mual yang sangat pada saat gelombang ombak naik turun.

Gaya Mengemudi Pak Syaukari yang unik (dok.cech)
sampan kecil sebagai alat transfer barang dan orang ke kapal (dok.cech)

Sekali lagi Alhamdulillah tepat pukul 08.10, kapal sampai di pantai Bidur. Tetapi masih ada masalah dalam memindahkan barang dan orang ke tepi pantai yaitu ombak masih pasang sehingga menyulitkan sampan untuk bisa menepi dengan mulus. Dengan keahlian anak buahnya Pak Syaukari, kami berdelapan dapat menepi ke tepi pantai.

pantai bidur (dok.cech)

Baru saja mau melanjutkan perjalanan sejauh 1 km (butuh waktu 45 menit) menuju Sanghyang Sirah, tiba-tiba sandal saya putus dan rusak sehingga tidak bisa dipakai. Mau tidak mau saya melanjutkan perjalanan tanpa alas kaki alis nyeker. Kalau yang belum tahun kondisi alam di sana maka dianggap mudah tetapi saya harus menahan sakit yang teramat sangat karena seringkali menginjak duri tanaman liar, menahan panasnya pasir pantai, batu karang yang tajam dan lain-lain. Herannya setiap orang menawarkan alas kaki ke saya maka Uyut selalu melarangnya. Ya sudah saya jalani semuanya dengan berusaha gembira sambil meringis kesakitan. Dan ini berlangsung selama pergi dan pulang.

Pukul 10.23 kamipun tiba di Sanghyang Sirah dan istirahat sejenak di mushola yang ada disana. Setelah beberapa menit, Uyut dan teman dari Aceh mandi di pantai Sanghyang Sirah dalam kondisi gelombang ombak yang bergejolak. Sementara teman-teman yang lain mandi di beberapa mata air yang ada di Sanghyang Sirah. Sedangkan saya melepaskan lelah dengan tidur sejenak karena kelelahan menyetir mobil seharian dan mengistirahatkan kaki yang sakit.

Dua Batu Karang Penanda Sanghyang Sirah (dok.cech)
Keraton Nyi Mas Ratu Mayang Sari (dok.Cech)

Pukul jam 11.10, saya dibangunkan oleh Uyut untuk melakukan doa di petilasan Sanghyang Sirah (dalam goa). Sekitar 1 jam kami melakukan tawasulan yang dipimpin Uyut untuk mendoakan para leluhur (karuhun) termasuk orang tua kami yang sudah meninggal dunia. Dari tawasulan itulah kami semua mendapatkan ilham dan petunjuk mengapa 12 orang yang datang ke Sanghyang kemarin mengalami penderitaan lahir batin baik bertupa penyakit malaria maupun urusan ekonomi. Mungkin ini yang dinamakan pengurasan diri atau menuntaskan (mengakhiri) apa yang sudah kami lakukan sebelumnya. Tujuannya adalah agar kami mengenal kembali Sirah Diri (Kepala/Otak yang dimiliki) dengan balutan Keimanan. ” Berjalan  Dalam Diam, Berlari Dalam Tidur “. Selanjutnya kami mandi di kolam Batu Qur’an yang ada di dalam goa sebagai simbol kegembiraan kami dapat sampai kembali di Sanghyang Sirah.

Petilasan Sanghyang Sirah (dok.Cech)

Oh ya, perlu diketahui bahwa kondisi Sanghyang Sirah sudah berubah jauh dan makin tidak terawat. Semua peninggalan kami sekitar 6 bulan yang lalu hilang tanpa bekas. Contohnya tempat makan dan berkumpul dari batu yang pernah kami buat dulu sudah tertutup dengan rumput, rumput dan tanaman liar yang sempat kami bersihkan sudah kembali menutupi jalan menuju Sanghyang Sirah, sampah-sampah pantai kembali berserakkan padahal sempat bersih waktu kami di sana, tempat duduk dari balok kayu sudah hangus terbakar dijadikan api unggun untuk memasak, gelas dari batok kelapa yang kami buat dan titipkan di sana sudah hilang tanpa bekas, botol-botol untuk menyimpan air juga sudah tidak dan masih banyak lagi. Sungguh prihatin kami melihatnya.

Selain itu teman kami yang pernah saya tulis yaitu Wanadi sudah tidak ada di sana alias sudah pulang ke kampungnya di Inderamayu. Kami hanya menemui satu orang anak muda asal Jawa Timur yang sudah 3 bulan menetap di sana. Kamipun berbagi makanan/ransum kepada pemuda tersebut agar dia tidak mengalami kelaparan.

Tepat jam 12.40 kami pamit diri dan berjalan kembali menuju pantai Bidur dimana kapal kami menunggu. Seperti pada awal kami dan barang-barang harus dipindahkan dengan sampan kecil ke kapal yang besar walaupun kali ini ombak tidak sebesar pada waktu kami mau menepi ke pantai.  Perjalanan pulang sangat lancar tanpa ada gangguan apapun. Kami semua sangat menikmati perjalanan tersebut. Tersembul rasa kebahagiaan dan optimisme yang teramat sangat dalam menjalani hidup kedepannya.

Perjalanan satu hari yang singkat, cepat, tepat dan sehat.

NB: Dalam perjalanan ini ternyata tidak ada satupun dari kami yang membawa kamera jadi hanya dokumentasi lama yang bisa ditampilkan.

Matahari Terbenam di Sanghyang Sirah


Didalam Gua Sanghyang Sirah

Bukan Sayur Asem Bila Tanpa Buah Asem

Sayur Asem (resep.dekap.com/sayurasem.php)

Sayur asem selalu identik dengan buah asem sebagai penambah rasa. Maka itulah dinamakan sayur asem. Tetapi bisa saja buah asem diganti dengan jenis bumbu lain yang berasa asam seperti jeruk nipis. Tetap saja kurang lengkap identitas penamaan sayur asem bila tanpa buah asem.

Hal ini berlaku juga dengan perjalanan spirituil saya ke Sanghyang Sirah. Ada beberapa tulisan tentang perjalanan ke sana lengkap dengan foto-fotonya. Tetapi sebagai pelengkap untuk menambah kesempurnaan perjalanan tersebut maka saya akan menampilkan 2 buah video yang mungkin dapat memuaskan keingintahuan pembaca. Memang sich ada yang sebel dengan saya tapi biarlah. 2 buah video ini bisa menjadi pembuka pengetahuan yang lagi sebel untuk lebih mempersiapkan diri bila benar-benar ingin berkunjung ke Sanghyang Sirah. Selamat Menikmati.

Matahari Terbenam di Sanghyang Sirah


Didalam Gua Sanghyang Sirah


Tak Ada Gelas, Batok Kelapapun Jadilah

Biasanya manusia kalau sudah kepepet maka timbullah kreatifitas yang ada dalam dirinya. Ini saya alami pada saat tinggal di Sanghyang Sirah selama 10 hari. Daerah tanpa aliran listrik, masuk dalam Taman Nasional Ujung Kulon, tidak ada sinyal untuk komunikasi dan hanya penziarah yang pergi-pulang (hanya 1 hari) saja bisa dimintai tolong untuk menjual barang-barang bawaannya seperti kopi, gula, mie instan, rokok dan lain-lain. Walaupun kebanyakan para penziarah secara sukarela dan berbaik hati memberikannya secara gratis.

penerangan dengan minyak tanah, asbak dari kerang, dan wadah minuman dari sampah botol (dok.pribadi)

Dengan keterbatasan yang ada maka mau tidak mau saya dan teman-teman harus mampu mencari solusi bersama-sama untuk mengatasi kendala yang ada. Salah satunya adalah masalah wadah untuk minum atau gelas. Memang ada banyak gelas yang berserakan di dekat tempat masak tapi kondisinya sangat memprihatinkan yaitu gelas plastik yang sudah berwarna hitam, kotor dan menjijikkan. Walaupun sudah dicuci bersih tetap saja warna hitam kelamnya sudah dibersihkan dan masih tercium bau anyir sehingga mengurangi selera minum kami.

Akhirnya kami bisa menemukan pengganti gelas-gelas kotor tersebut yaitu dengan batok kelapa. Ya batok kelapa. Batok kelapa ini berasal dari buah kelapa yang ada di pinggir pantai dan sepertinya sampah dari sebuah pulau atau daerah yang terbawa oleh air laut. Perlu diketahui di sekitar Sanghyang Sirah jarang ditemukan pohon kelapa. Kalaupun ada tempatnya jauh sekali dan memerlukan waktu berjalan kaki selama 45 menit karena harus menaiki sebuah bukit yang berupa hutan yang masih banyak binatang buasnya.

Oleh Kang Mamat dan Kang Ujut, sampah buah kelapa dipilih secara teliti terutama dilihat bentuk buah kelapanya agar diperoleh batok kelapa yang kuat, bentuknya bagus dan tua, Kemudian buah kelapa dibersihkan sabutnya sehingga tampak batok kelapanya. Sabut kelapa yang disisakan hanya pada bagian bawah untuk tatakan. Selanjutnya batok kelapa dipotong dengan menggunakan gergaji yang memang sengaja dibawa sekitar 1/3 bagian dan isi kelapanya dibuang hingga bersih. Setelah bersih bagian dalamnya selanjutnya dijemur di bawah sinar matahari selama 1 hari.

Menariknya, batok kelapa yang dijemur seharian tersebut menyemburkan bau gurih seperti minyak kelapa yang digoreng. Untuk itu kami cuci dengan air sampai bersih. Setelah itu dituangkan air panas ke dalam batok kelapa dan didiamkan sampai dingin dan batok kelapa dapat langsung dipakai untuk wadam minuman. Ternyata menggunakan batok kelapa untuk wadah minuman terutama minuman kopi memberikan aroma yang menyegarkan dan kopi terasa gurih. Rasa gurih lebih disebabkan oleh masih adanya kandungan minyak kelapa yang masih tertinggal di batok kelapa walaupun telah dibersihkan.

Kang Ujut dan Kang Mamad sedang mengerjakan pembuatan wadah minuman dari batok kelapa (dok.pribadi)

Mengeluarkan isi buah kelapa (dok.pribadi)
digergaji kembali untuk mendapatkan ukuran yang sesuai (dok.pribadi)
dilihat kembali apakah sudah sesuai dengan yang diinginkan (dok.pribadi)
batok kelapa dijemur dan siap dipakai (dok.pribadi)

Ternyata minum dengan menggunakan batok kelapa sungguh mengasyikkan dan eksotis. Selamat mencoba dan menikmati.

NB: kedelapan batok kelapa untuk wadah minuman tetap kali tinggalkan di sana supaya bisa dipakai oleh para penziarah atau dapat dijadikan contoh apabila para penziarah kekurangan wadah untuk minum

Wisata Batu Quran di Sanghyang Sirah

Batu Quran, Cibulakan Pandeglang (1.bp.blogspot.com)

Bagi para penziarah makam atau petilasan para nenek moyang (karuhun) orang Sunda pasti tidak merasa asing dengan nama wisata Batu Quran (Cibulakan) dengan Sumur Tujuhnya (Cikoromoi) yang merupakan salah satu tempat wisata ziarah Kabupaten Pandeglang, Banten (tepatnya 20 km dari kota Pandeglang). Batu Quran ini berkaitan erat dengan nama Syekh Maulana Mansyur, seorang ulama terkenal di jaman kesultanan Banten abad ke-15.

Syekh Maulana Mansyurlah yang meninggalkan warisan berupa Batu Quran tersebut(lebih lengkapnya bisa baca disini). Tapi tahukah kalau yang ada di Cibulakan itu adalah replika dari Batu Quran yang ada di Sanghyang Sirah, Taman Nasional Ujung Kulon. Mungkin banyak orang yang belum mengetahui tentang sejarah Batu Quran yang sebenarnya. Sejarah Batu Quran di Sanghyang Sirah berkaitan erat dengan sejarah Sayidina Ali, Prabu Kian Santang dan Prabu Munding Wangi. Apa alasan Syekh Maulana Mansyur membuat replika Batu Quran tersebut ?

Mungkin orang sudah banyak mengetahui sejarah masuk Islamnya Prabu Kian Santang yang diislam oleh Sayidina Ali ketika Prabu Kian Santang melakukan perjalanan ke jazirah Arab. Setelah masuk Islam, Prabu Kian Santang kembali ke tanah Jawa di daerah Godog Suci, Garut dimana Prabu Kian Santang mengajarkan Islam kepada pengikutnya.

Sebagai orang Islam sudah tentu harus dikhitan. Karena keterbatasan pengetahuan Prabu Kian Santang maka terjadi banyak kesalahan dalam melakukan prosedur khitan. Bukan yang ujung kulit penis yang dipotong tapi dipotong sampai ke ujung-ujungnya. Bisa bayangkan pasti banyak yang meninggal dengan kesalahan tersebut. Akhirnya Prabu Kian Santang mengutus orang untuk menemui Sayidina Ali di jazirah Arab dengan tujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang baik dan benar tentang Khitan secara Islami.

Sanghyang Sirah (dok.pribadi)

Kemudian Sayidina Ali dan orang suruhan Prabu Kian Santang pergi ke Godog Suci untuk memberikan pelajaran cara khitan dan beberapa pengetahuan tentang Islam. Disamping itu Sayidinna Ali ingin menyerahkan Kitab Suci Al Qur’an. Sebagai orang Muslim maka sudah pasti harus berpatokan kepada Al Quran. Karena sejak bertemu pertama kali Sayidina Ali belum pernah menyerahkan kitab Al Quran kepada Prabu Kian Santang.

Ternyata sesampainya di Godog Suci, Prabu Kian Santang telah meninggalkan tempat tersebut dan pergi menemui Prabu Munding Wangi yang telah tilem di Sanghyang Sirah, Ujung Kulon untuk memberitahukan kepada ayahandanya kalau beliau telah menetapkan hati sebagai seorang muslim. Mendengar berita tersebut Sayidina Ali mengejar ke Sanghyang Sirah sebagai bentuk amanah dan perhatian agar Prabu Kian Santang mempunyai pegangan yang kuat berupa Kitab Al Quran. Masak sebagai muslim tidak memiliki Kitab Al Quran.

Konon di batu karang ini Sayidina Ali melakukan Sholat (dok.pribadi)

Apa yang terjadi kemudian ? Ketika sampai di Sanghyang Sirah, Sayidina Ali hanya bisa bertemu Prabu Munding Wangi. Prabu Munding Wangi mengatakan kepada Sayidina Ali kalau Prabu Kian Santang telah pergi lagi dan menghilang entah kemana setelah mendapat restu dari ayahandanya. Prabu Kian Santang adalahg satu-satunya anak Prabu Munding Wangi yang menjadi raja tapi tidak pernah memerintah kerajaan karena hidupnya didedikasikan untuk penyebaran aga Islam.

Akhirnya Sayidina Ali menyerahkan dan menitipkan kitab Al Quran untuk disimpan dan berharap dapat diberikan kepada Prabu Kian Santang apabila berkunjung ke Sanghyang Sirah. Prabu Munding Wangi menerima kitab Al Quran dengan lapang dada dan disimpannya di dalam kotak batu bulat. Kemudian kotak batu berisi Al Quran tersebut ditaruh di tengah batu karang yang dikelilingi oleh air kolam yang sumber airnya berasal dari tujuh sumber mata air (sumur).


Didalam Gua Sanghyang Sirah (dok.pribadi)
Salah satu pintu masuk Gua Sanghyang Sirah (dok.pribadi)

Selanjutnya Sayidina Ali mohon diri tapi sebelumnya sholat terlebih dahulu di atas batu karang yang sekarang sering disebut Masjid Syaidinna Ali. Dengan kuasa Allah SWT, Sayidina Ali langsung menghilang entah kemana. Mungkin kembali ke jazirah Arab.

Peristiwa Batu Quran ini beberapa abad kemudian diketahui oleh Syekh Maulana Mansyur berdarkan ilham yang didapatnya dari hasil tirakat. Segeralah Syekh Maulana Mansyur berangkat ke Sanghyang Sirah. Betapa kagumnya Syekh Maulana Mansyur melihat kebesaran Allah lewat mukjizat Batu Quran dimana dari air kolam yang bening terlihat dengan jelas tulisan batu karang yanng menyerupai tulisan Quran. Sayangnya saat ini air kolam sudah keruh dan sulit untuk melihat batu karang dengan tulisan Quran karena banyaknya endapan di dasar kolam dan banyaknya penziarah yang membuang pakaian bekas mandiannya ke Batu Quran.

Batu Quran Sanghyang Sirah (dok.pribadi)
Jalan menurun menuju keluar gua dari Batu Quran (dok.pribadi)

Karena jauhnya jarak Sanghyang Sirah dan membutuhkan waktu dan energi yang luar biasa maka untuk memudahkan anak cucu ataupun umat Islam yang ingin melihat Batu Quran maka dibuatlah replika Batu Quran dengan lengkap sumur tujuhnya di Cibulakan Kabupaten Pandeglang. Saat ini saja untuk menuju Sanghyang Sirah lewat Taman Jaya membutuh waktu 2 hari satu malam dengan berjalan kaki dan membutuhkan waktu 5 jam dengan menggunakan kapal laut dari Ketapang, Sumur menuju Pantai Bidur yang dilanjutkan berjalan kaki selama hampir 1 jam menuju Sanghyang Sirah. Bisa dibayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kesana pada jamannya Syekh Maulana Mansyur.

Kekuatan Sebuah Amanah

Sosok Wanardi (koleksi pribadi)

Perjalanan kedua saya ke Sanghyang Sirah kali ini memang agak berbeda. Berbeda dengan yang pertama yang lebih banyak jalan-jalannya alias wisata. Tapi yang kedua ini lebih kepada kontemplasi diri karena tinggal disana selama 10 hari yang disertai dengan 7 hari berpuasa.

Saya tidak akan mengupas tentang kontemplasi diri tapi ingin menceritakan seorang pemuda sederhana yang saya temui di Sanghyang Sirah. Namanya singkat yaitu Wanardi. Pemuda lajang berusia 37 tahun asal desa Kapetakan Pegagan, Cirebon dengan perawakan seperti orang Indonesia umumnya yaitu kulit sawo matang, rambut lurus, tinggi normal dan selalu berpakaian layaknya seorang santri di sebuah pesantren.

Bicara pesantren maka ini ada hubungannya mengapa Wanardi bisa berada sendirian di Sanghyang Sirah. Sebagai seorang santri sebuah pesantren di Banten, sebenarnya Wanardi sedang menjalankan amanah yang diberikan oleh Kyainya. Pada awalnya Wanardi berpikir amanah tersebut bukan ditujukan kepadanya karena saat itu Kyainya mengatakannya di dalam sebuah forum diskusi di pesantren. ” Suatu saat saya menginginkan ada satu saja santri saya yang mau berdiam diri di Sanghyang Sirah selama 40 hari “

Entah bagaimana ceritanya, pada suatu hari Wanardi bermimpi dipanggil oleh Kyainya untuk menghadap dan benar saja beberapa hari kemudian Sang Kyai memanggilnya dan memberikan sejumlah uang untuk menyuruhnya berangkat ke Sanghyang Sirah pada keeokan harinya. Tanpa persiapan dan buta tentang Sanghyang Sirah, Wanardi pergi pagi-pagi sekali. Demi menghemat uang pemberian Sang Kyai, kadang-kadang pemuda ini melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Karena keterbatasan informasi dan petunjuk seadanya dari Sang Kyai maka Wanardi sempat kesasar ke daerah Cikeusik. Di Cikeusik Wanardi beristirahat selama sehari dan mulailah ada perasaan ragu-ragu atau mau dikatakan menyerah karena mulai menipisnya uang dan perbekalan yang ada. Apalagi setelah mendapatkan informasi dari penduduk Cikeusik yang mengatakan perjalanan menuju Sanghyang Sirah membutuhkan waktu sampai 3 hari dan butuh perbekalan yang memadai serta kesiapan fisik dalam menghadapi medan yang akan ditempuh.

Dengan alasan kesiapan fisik dan perbekalan, akhirnya Wanardi memutuskan untuk membatalkan perjalanan pertamanya ke Sanghyang Sirah dan kembali ke pesantrennya. Sesampainya di pesantren, Wanardi langsung menemui Sang Kyai dan mengutarakan alasan kegagalannya ke Sanghyang Sirah. Sang Kyai hanya tersenyum dan tidak marah setelah mendengar alasan Wanardi. Kemudian Sang Kyai menyuruhnya untuk istirahat dan akan memanggilnya kembali pada kesempatan yang lain. Wanardi tampak merasa bersalah dan menyesal telah mengecewakan Sang Kyai yang sangat dihormatinya.

Beberapa hari kemudian, seorang Santri menyerahkan sebuah surat kepada Wanardi. Ternyata surat dari Sang Kyai yang isinya adalah menyuruh Wanardi pulang ke kampung menemui orang tuanya dan menyuruhnya kembali melakukan perjalanan ke Sanghyang Sirah setelah mendapatkan doa restu dari orang tuanya serta boleh bertemu kembali dengan Sang Kyai setelah melaksanakan amanahnya. Selain surat, Sang Kyai juga menitipkan sejumlah uang sebagai bekal perjalanan.

Setelah mendapatkan restu dari orang tua dan persiapan yang lebih matang, dari kampung halamannya Wanardi melakukan perjalanan ke Sanghyang Sirah . Perjalanan sendirian ke daerah yang masih asing baginya sempat membuatnya ketar ketir tapi kembali lagi dengan kekuatan moral dari orang tua, Sang Kyai dan lebih utama lagi keyakinannya kepada Allah SWT maka perjalanan masuk hutan Taman Nasional Ujung Kulon dapat dilaluinya dengan baik. Walaupun dalam perjalanan Wanardi banyak menemui binatang-binatang buas tapi semuanya baik-baik saja.

Wanardi sempat bercerita sewaktu menyeberangi sebuah sungai di Cibunar yang saat itu sedang deras dan dalam akibat hujan di hulu. Dengan perasaan was-was karena dalamnya air sungai sampai sebatas leher dan masih banyaknya buaya di sungai tersebut akhirnya dapat dilalui dengan selamat. Kemudian Wanardi pernah bertemu dengan sekumpulan banteng yang menurutnya seperti ingin mengejarnya tapi kembali lagi tidak terjadi apa-apa. Dan masih banyak pengalaman yang dialaminya.

Di Sanghyang Sirah Wanardi mulai menjalankan amanah Sang Kyai untuk berdiam diri selama 40 hari. Awalnya berlangsung lancar tetapi memasuki hari ke-17 Wanardi terkena malaria. Dengan kondisi sakit akhirnya Wanardu nmemutuskan untuk pulang ke kampung halamannya kembali. Selama 6 bulan Wanardi dirawat di rumah sakit dan hanya pasrah saja menerima cobaan tersebut.

Tiga bulan setelah keluar dari rumah sakit, Wanardi memutuskan untuk kembali ke Sanghyang Sirah dengan uang perbekalan dari koceknya sendiri setelah sempat kerja sambilan untuk mengumpulkan uang untuk biaya ke sana. Wanardi terus beristiqomah agar dapat memenuhi amanah Sang Kyai. Akhirnya Wanardi bisa berangkat juga walaupun orang tuanya sempat kuatir dengan kondisi anaknya. Tetapi Wanardi terus menjelaskan kepada orang tuanya tentang makna sebuah amanah dari seorang yang sangat dihormatinya dan ini harus dipenuhi sehingga tidak menjadi beban hidup di akhir hayatnya.

Keraton Nyai Mas Mayang Sari (koleksi pribadi)

Tepat hari kedatangan saya dan rombongan di Sanghyang Sirah merupakan hari ke-8 Wanardi tinggal di sana. Dengan kesederhanan dan kesopanan sikap yang ditunjukkannya maka membuat semua orang menyukainya Wanardi banyak cerita tentang banyak hal mengenai Sanghyang Sirah terutama pengalaman spiritualnya selama di Sanghyang Sirah. Beberapa kesempatan Wanardi sering ditemui oleh penampakan gaib seorang Syekh yang menurutnya adalah Syekh Malkan yang selalu membimbingnya untuk melakukan kontemplasi diri. Selain itu ada beberapa penampakan gaib lainnya seperti Eyang Aji Putih, Ibu Nyai Mayang Sari, Eyang Prabu Tajimalela, Ibu Ratu Sejagat dan lain-lain yang memberikan bimbingan spiritual kepada Wanardi. Baginya tinggal di Sanghyang Sirah tidak seperti tinggal sendirian tapi banyak yang menemaninya dan mengajari/membimbingnya untuk mengenal jati diri seorang manusia. Sebuah pengalaman yang luar biasa menurut saya dan mungkin bagi orang awam, Wanardi dianggap manusia tidak normal atau tidak waras karena mau menjalankan kehidupan seperti itu. Kembali lagi bagi Wanardi adalah sebuah amanah Sang Kyai yang menginginkan santrinya menjadi manusia yang tawadu sehingga kuat dan tegar dalam menjalani hidup di dunia yang fana ini.

Menjelang hari terakhir kepulangan, saya sempat bertanya dan membujuknya untuk pulang bersama kami tetapi ditolak secara halus karena tugas mengemban amanahnya belum selesai. Saat ditanya apa yang akan dilakukan setelah selesai menjalankan amanahnya maka Wanardi menjawabnya akan segera menemui Sang Kyai untuk menceritakan segala hal yang dialaminya dan mungkin pulang kampung dulu. Semuanya Wanardi serahkan kepada keputusan Sang Kyai. Luar biasa taatnya seorang Wanardi kepada Sang Kyai. Kekuatan sebuah amanah yang membentuk pribadi Wanardi menjadi manusia yang mempunyai prinsip hidup yang kuat.

Pemandangan Sore Hari di Sanghyang Sirah (koleksi pribadi)

Sanghyang Sirah : Sirahnya Pulau Jawa

Sanghyang Sirah ? Ya Sanghyang Sirah, letaknya persis di ujung pulau Jawa atau kepalanyanya pulau Jawa dan posisinya termasuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon Propinsi Banten (lebih jelasnya dapat dilihat di WIKIMAPIA). Sirah dalam bahasa Jawa/Sunda berarti kepala.

Sudah sejak lama saya ingin sekali mengunjungi daerah Sanghyang Sirah ini. Beberapa kali tertunda dengan berbagai kendala. Baru tahun 2009 ini, keinginan saya tercapai. Dan ini tidak lepas dari adanya amanah karuhun (leluhur) untuk berziarah ke Sanghyang Sirah. Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa di Sanghyang Sirah terdapat maqam atau petilasan Prabu Siliwangi. Ada yang mengatakan petilasannya Prabu Kian Santang, Prabu Tajimalela, Prabu Sungging Perbangkala dan lain-lain. Tetapi intinya berkaitan dengan para karuhun Sunda khususnya dan karuhun pulau Jawa pada umumnya.

Perjalanan Sanghyang Sirah dimulai dengan bertemunya saya dan rombongan Uyut di Padepokan Banyu Biru, Kampung Sulang, Sepatan, Mauk Tangerang pada hari Jumat (25/12/2009) jam 14.45 WIB. Setelah berkumpul, kami mengadakan rapat untuk merencanakan segala kemungkinan yang terjadi sepanjang perjalanan ke Sanghyang Sirah. Setelah dihitung seluruhnya ternyata rombongan yang pergi berjumlah 14 orang dan diputuskan memakai 2 buah mobil,

Tepat jam 20.00 WIB dengan diiringi oleh hujan gerimis, kami memulai perjalanan ke Sanghyang Sirah. Alhamdulillah sepanjang perjalanan hujan selalu menyertai kami. Dari Tangerang ke Sanghyang Sirah, kami menggunakan rute via jalan tol Jakarta-Merak dan keluar di Serang Timur. Dari Serang, kendaraan menuju Kabupaten Pandeglang dimana Sang Hyang Sirah merupakan bagian dari Kabupaten Pandeglang.

Tetapi untuk menuju ke Sanghyang Sirah hanya bisa dengan 2 jalur yaitu jalur darat dengan jalan kaki melewati Pos Pertama Taman Nasional Ujung Kulon di Taman Jaya yang membutuhkan waktu 3 hari 3 malam dan jalur laut menggunakan kapal nelayan jenis trawl yang singgah di pantai Bidur kemudian perjalanan dilajutkan dengan jalan kaki ke Sanghyang Sirah yang jaraknya tinggal 1 km lagi.

Kami memutuskan untuk mengambil jalur laut. Tetapi sebelumnya harus lapor dulu ke Juru Kunci Abah Syargani di Cipining dan kemudian baru lapor ke Petugas Taman Nasional Ujung Kulon di Pulau Peucang sebelum memasuki kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

Kami tiba di desa Cipining, Sumur sekitar jam 04.00 pagi WIB (Sabtu 26/12/2009). Karena kondisi hujan deras maka kami sempat beberapa kali kesasar untuk menemukan rumah Abah Syargani, juru kunci Sanghyang Sirah. Setelah istirahat sejenak sambil menunggu hujan reda, pada pukul 07.00 WIB, kami berhasil menemukan rumahnya Abah Syargani.

Rupanya Uyut sudah sangat mengenal Pak Syargani dan terjadilah obrolan ringan sesama kami. Kami disediakan berbagai macam hidangan oleh tuan rumah. Tanpa terasa sudah 4 jam kami berbicara panjang lebar tentang segala hal mengenai Sanghyang Sirah. Kami disuruh menunggu kedatangan kapal nelayan yang dipesan oleh anak buahnya Abah. Tepat pukul 11.00, kami diajak Abah menuju pantai Cipining sebagai tempat merapatnya kapal nelayan yang kami pesan. Memang kapal nelayan tidak bisa langsung merapat ke pinggir pantai yang berpasir. Untuk membawa kami ke kapal trawl tersebut maka digunakan perahu kecil yang kapasitasnya untuk 2 orang dan sangat terbatas beban muatannya. Sambil menunggu barang-barang kami diangkut maka ajang potret memotret menjadi aktivitas kami saat itu. Akhirnya satu persatu dari kami dapat diangkut dan dinaikkan ke kapal nelayan yang berkapasitas untuk 40 orang tersebut. Perlu diketahui selain kami yang berjumlah 14 orang, Abah Syargani menyertakan seorang anaknya dan Kang Ajut, anak buahnya yang berfungsi sebagai tukang masak, pengangkut barang dan lain-lain.

Obrolan Santai Dengan Juru Kunci Sanghyang Sirah Abah Syargani
Menuju Pantai Harus Menyeberangi Sungai

Gaya Dulu Ahhhhh
Foto Bersama Sebelum Berangkat
Perahu Pengantar ke Kapal

Sepanjang perjalanan di laut, banyak pemandangan indah yang dapat dinikmati dan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan alam Indoneia yang cantik. Ada salah satu pengalaman menarik yang saya dapat dari para nelayan disana yaitu mengetahui kedalaman air laut dengan melihat dari warna airnya. Kata mereka, air laut berwarna hijau menandakan kedalamam sampai 75 meter, air laut berwarna biru langit menandakan kedalaman sampai 200 meter dan air laut berwarna biru kehitam-hitaman menandakan kedalaman lebih dari 500 meter.

Setelah beberapa jam perjalanan kami yang diringi dengan hujan deras dan gerimis, akhirnya kami sampai juga di Pulau Peucang untuk melaporkan dan meminta ijin kepada petugas Taman Nasional Ujung Kulon tentang maksud dan tujuan kami ke Sanghyang Sirah yang merupakan daerah yang masuk dalam wilayah Taman Nasional. Kurang lebih 45 menit kami menunggu di Pulau Peucang.

Aktivitas di Kapal
Foto Atas: Kang Ajut (seb.kiri) dan Abah Syargani (seb.kanan) Foto Bawah: ada yang mabuk euy

Tepat pukul 15.50, perjalanan dilanjutkan ke Sanghyang Sirah. Pada awalnya gelombang ombak masih normal dan cuaca sungguh cerah. Tetapi ketika memasuki wilayah Tanjung Layar tiba-tiba, cuaca berubah menjadi pasang dan hujan gerimis. Beberapa kali lambung kapal dihantam ombak. Memang tidak salah kami membawa Abah Syargani yang sangat menguasai medan, dengan sigapnya beliau memerintahkan nahkoda untuk balik dan tidak memaksakan untuk melawan alam. Kapal kami dibelokkan kembali dan mencari tempat di pinggir kawasan Taman Nasional. Abah Syargani memerintahkan nahkoda untuk merapat dulu ke pantai Cibom sambil menunggu cuaca dan gelombang laut normal. Jam menunjukkan pukul 16.50 WIB. Setelah berdiskusi sejenak, kami meminta Abah Syargani untuk melanjutkan perjalanan lewat darat karena ada seorang teman dari TNI asal Aceh yang tidak bisa berlama-lama dan sudah harus ada di Aceh pada hari senin pagi (ada tugas mendadak dari Pangdam katanya). Rupanya dari Cibom ke Sanghyang Sirah berjarak 10,2 km (itu baru kata Abah yang sebenarnya lebih dari itu). Akhirnya kami memutuskan perjalanan dengan jalan kaki dan kapal diperintahkan menunggu dan ditambatkan di pantai Cibom.

Persinggahan Pertama di Ujung Kulon

Rupanya medan yang kami hadapi tidak semudah yang dibayangkan. Dari Cibom, kami memasuki hutan Taman Nasional yang berstruktur bukit dan masih asri karena jarang dilewati sehingga perlu dilakukan pembabatan tumbuhan-tumbuhan yang menutupi jalan setapak yang telah dibuat sebelumnya. Naik turun bukit yang cukup melelahkan membaut saya agak kelelahan (harap maklum sudah lama tidak olahraga dan tubuh juga tambun. Jadi sudah susah bawa badan ditambah lagi barang bawaan hehehe). Sekitar perjalanan 1 jam akhirnya kami sampai di pantai Ciramea dengan panorama indah menjelang malam. Di Ciramea kami istirahat dulu dan Kang Ajut mulai sibuk membuat air minum, memasak ikan, mie instan dan sebagainya. Setelah perut kenyang, ba’da Isya kami melanjutkan perjalanan ke Sang hyang Sirah.

Karena kondisi gelap gulita dan medan yang dilalui cukup berat dengan tanjakan dan turunan yang membuat kaki bisa sampai ke dada. Saya dan seorang teman, Pak Singgih merasakan keletihan yang luar biasa. Saya merasakan kaki seperti tidak mau digerakkan dan Pak Singgih merasakan kepala pusing seperti dunia berputar. Lagi pula ada hal aneh, beberapa kali Abah Syargani kebingungan mencari jalan yang biasa dilalui dan kesasar beberapa kali. Akhirnya oleh Uyut diperintahkan untuk berhenti dahulu karena Beliau menganggap saya dan Pak Singgih sudah tidak bisa dipaksakan untuk melanjutkan perjalanan. Beliau menduga ada hal-hal yang aneh yang membuat kami seperti berputar-putar di dalam hutan Taman Nasional.

Setelah beberapa menit, Uyut memutuskan saya, Pak Singgih, Budi (anak kandung Pak Budi), Jali (supir), Abah Syargani dkk (7 orang) untuk tinggal di tempat. Sementara beliau dengan 10 orang lainnya melanjutkan perjalanan). Kami diperintahkan untuk menunggu beliau sampai balik kembali dari Sanghyang Sirah. Karena sudah keletihan tanpa terasa kami semua tertidur di tengah hutan tanpa ada rasa takut. Tanpa terasa juga, jam 04.00 pagi (27/12/2009) kami terbangun dan sudah tampak air kopi di hadapan kami. Langsung saja kami menikmati kopi yang dibuat oleh Kang Ajut. Kemudian Abah Syargani menyuruh saya dan Pak Singgih untuk berbaring sejenak dan Abah mengurut kaki kami supaya dapat melanjutkan perjalanan.

Kami sempat bertanya kepada Abah untuk menunggu Uyut sesuai dengan perintahnya. Tetapi kata Abah, uyut dan rombingan belum sampa. Benar saja baru menaiki satu bukit dengan tanjakan yang curam, tiba-tiba terdengar suara Pak Lili (salah seorang rombongan Uyut) memanggil nama saya dan diikuti oleh 2 orang lainnya. Pak Lili mengatakan bahwa Uyut menyuruh kami untuk meneruskan perjalanan dan beliau tidak akan ke Sanghyang Sirah alias balik ke Cibom bersama 6 orang lainnya.

Kok bisa begitu ya ? Itulah yang sempat terpikir dalam otak saya. Rupanya ada maksud tertentu yang tidak mau diungkapkan oleh Uyut. Akhirnya persis berjumlah 7 orang (sisa orang dari rombongan yang tadinya berjumlah 14 orang) melanjutkan perjalanan ke Sanghyang Sirah.

Dengan perasaan pasrah dan ikhlas, akhirnya tepat pukul 11.40 WIB saya dan Pak Lili sampai di Sanghyang Sirah sebagai rombongan terakhir dengan kondisi yang sangat lelah dan lapar. Kemudian kami melepaskan lelah dengan membuat minuman sesuai dengan kesukaan masing-masing. Ada beberapa yang makan roti dan biskuit yang tersisa dari perjalanan panjang tersebut. Kebetulan di dekat persinggahan tersebut ada sungai yang airnya sejuk, menyegarkan dan dingin sehingga membuat kami membersihkan dan mendingnkan tubuh kami terlebih dahulu di sungai tersebut.

Panorama Sepanjang Perjalanan ke Sanghyang Sirah
Pulau Karang di dekat Sanghyang Sirah

Tepat pukul 12.30, kami memasuki wilayah petilasan Sanghyang Sirah yang sangat dikeramatkan oleh beberapa kalangan yang mempunyai perhatian terhadap sejarah nenek moyang atau karuhun Sunda. Tampak sebuah tebing tinggi dan sebuah mushola yang sekaligus sebagai tempat istirahat. Selain itu persis di pinggir pantai tamapak berdiri tegak 2 buah pulau karang yang sangat indah pemandangannya.

Setelah menunggu sejenak, kami disuruh Abah Syargani untuk mandi terlebih dahulu di sumur dari mata air Saman yang letaknya di depan pintu masuk gua Sanghyang Sirah yang dikeramatkan. Kemudian kami melakukan ritual Rasulan sesuai dengan adat Sunda dengan berbagai macam sajian penghirmatan kepada karuhun dan juga ungkapan rasa bersyukur kami karena dengan perlindungan Allah maka bisa sampai dengan selamat di Sanghyang Sirah.

Mata Air Saman
Rasulan: Ungkapan Rasa Syukur kepada Karuhun Karena Selamat Sampai Sanghyang Sirah
Beberapa Menu Makanan Dalam Rasulan

Setelah itu kami diajak Abah Syargani masul ke dalam gua Sanghyang Sirah. Di dalam gua kami dilarang melakukan aktivitas pemotretan dan harus melepas alas kaki. Tepat di depan petilasan yang katanya petilasan Prabu Siliwangi, kembali kami melakukan doa dipimpin oleh Abah Syargani.

Selanjutnya kami diajak masuk ke dalam lokasi yang masih dalam gua keramat tersebut. Namanya lokasi Batu Qur’an, tampak sebuah batu yang berada ditengah kolam air yang katanya air tersebut berasal dari 4 mata air yang berada di 4 sudut kolam tersebut. Kemudian satu persatu kami dimandikan oleh Abah dan disuruh melakukan tawaf (berjalan mengelilingi layaknya mengelilingi Ka’bah pada ibadah haji) sebanyak 7 kali sambil mengucapkan shalawat nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah seluruh kegiatan ritual di dalam gua keramat tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. Abah mengatakan bahwa disitulah pusatnya ilmu secara spiritual di pulau Jawa dan dengan dimandikannya kami maka diharapkan terbukalah pikiran/wawasan berpikir yang ada di dalam otak tentang jati diri dan mengerti tentang asal usul kita sebagai manusia ciptaan Allah SWT.

Gua Sanghyang Sirah

Karena saat itu, sudah ada rombongan lain yang menunggu dimandikan Abah maka kami disuruh untuk jalan terlebih dahulu dan menunggu Abah di pantai Bidur. Setelah mempersiapkan segalanya, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Bidur untuk menunggu Abah dan sekalian melihat kapal nelayan yang mungkin bisa membawa kami ke pantai Cibom. Satu jam kemudian tampak rombonga Abah sudah datang ke pantai Bidur untuk menemui kami. Setelah melihat-lihat sekeliling laut dan tidak ada kapal nelayan yang lewat dan lagipula waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB maka Abah menyuruh kami untuk menunggu di pantai Bidur. Sementara itu Abah dkk melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke pantai Cibom dan menyuruh kapal kami yang ditambatkan disana untuk menjemput kami walaupun malam haripun kami akan dijemput.

Akibat cuaca yang kurang mendukung dengan hujan yang sangat deras dan diikuti oleh gelombang laut yang pasang maka kami mengambil kesimpulan bahwa kapal kami tidak mungkin dapat menjemput kami. Untuk itulah sebelumnya kami sudah menyiapkan tempat dan membangun saung sederhana dengan atap daun sejenis kelapa sebagai tempat berteduh kami malam harinya.

Tanpa terasa kami ketiduran dan tepat jam 7 pagi (28/12/2009), sebuah kapal mendekati pantai Bidur. Dan benar dugaan kami bahwa kapal tersebut adalah kapal kami yang akan membawa kami kembali ke pantai Cipining dimana dari tempat itulah kami memulai perjalanan. Wao sebuah perjalanan yang luar biasa menurut kami serta penuh dengan perjuangan yang melelahkan. Sesampainya di kapal kami merasakan kepuasan dan rasa syukur yang amat sangat kepada Allah SWT serta ucapan terima kasih kepada para orang tua kami yang turut mendokan kami sepanjang perjalanan spiritual ini.

Sesampainya di Cipining, kami langsung pamit kepada orang-orang yang telah membantu kelancaran perjalanan ini. Rupanya Uyut dan 6 orang teman kami telah pulang dan menunggu kami doi Padepokan Banyu Biru Kampung Sulang, Sepatan, Mauk Tangerang. Langsung saja kami meluncur ke Tangerang, persis jam 19.00 WIB, kami tiba di Padepokan dan sudah banyak sekali orang yang menyambut kedatangan Kami. Bak pahlawan yang disambut dengan meriahnya. Begitu sampai langsung kami bertujuh melakukan sungkem lepada Uyut dengan perasaan gembira dan haru.

Selanjutnya Uyut melakukan acara selamatan atas keberhasilan kami sampai di Sanghyang Sirah dan kembali dengan selamat tiba di Padepokan Banyu Biru. Setelah itu, kami bisa santai dan menceritakan pengalaman kami kepada para tamu yang hadir. Sungguh sebuah kepuasan lahir dan batin. Dan tanpa terasa obrolan santai tersebut membuat kami tidak bisa tidur sampai pagi harinya.

Pukul 09.00 WIB (29/12/2009), saya dan rombongan lainnya pamit diri kepada Pak Singgih, pendiri Padepokan Banyu Biru dan mengucapkan terima kasih atas segala pelayanannya kepada kami dengan baik.

Syukuran Atas Kembalinya Rombongan Dengan Selamat Sampai di Rumah
Foto-foto dan Obrolan Santai Melepas Lelah Sebelum Pulang Ke Rumah Masing-masing