Sebungkus Kantong Kresek

Waktu Maghrib telah berlalu, bawor berjalan lunglai setelah seharian berjualan kopi ginseng di dalam kereta api listrik Jakarta-Bogor. Tampak rumah berjarak 200 meter. Tiba-tiba bawor ditarik tangannya.

” Ada apa ini ? ” tanya bawor kebingungan.

” Wor, ayo ikut saya ” jawab anak muda.

” Oh kamu, Badil. Bikin kaget saja ” ujar Bawor.

” Sudahlah, cepetan bantu kami di pos kamling “

Tubuh terseret paksa oleh tarikan Badil menuju Pos Kamling. Bawor melihat banyakorang berkerumun. Oh ternyata ada orang kerasukan.

” Tapi nanti dulu, itu khan Fadil. Mengapa Fadil bisa kerasukan ” pikir Bawor.

Bawor dikejutkan oleh teriakan Badil.

” Ayo, Wor. Cari cara supaya Fadil tidak ngamuk-ngamuk. Lihat dia mengeram seperti harimau ” teriak Badil.

” Panggil orang pintar ” ujar salah satu teman Bawor.

Bawor berpikir sejenak.

” Ok,kalian tunggu di sini dulu. Jangan panggilorang pintar ” perintah Bawor.

Baworpun pergi meninggalkan pos kamling. Beberapamenit kemudian tampakBawor datang kembali dengan membawa sebuah kantung kresek. Ternyata Bawor baru pergi belanja ke Supermarket di seberang jalan.

” Dimana Fadil sekarang ? Masih mengeramkah ? ” tanya Bawor.

” Masih, Wor. Makin menjadi-jadi erangannya, Sangat menakutkan. ” jawab teman-temannya.

” Tenang saja, saya akan mendekatinya “

Bawor mendekati Fadil yang dari tadi menatap tajam ke arah Bawor. Baru saja Bawor akan membuka kantong kresek, Fadil mengambil dan membuka paksa kantong kresek tersebut. Bawor terkejut dan terpaksa melepasnya sambilmemperhatikan polah Fadil. Beberapa saat kemudian Fadilpun tersadar dengan mulut penuh dengan irisan-irisan daging.

” Ludes dach hasil penjualan kopi ginseng hari ini ” ujar Bawor.

Lepaskan Rasa

Hujan turun mencurahkan semuanya. Bersorak sorai tumbuhan dan hewan. Mereka telah lama menanti datangnya kucuran air dari langit. Cukup sudah kesengsaraan dalam kekeringan rasa, Beberapa ada yang menikmati dan yang lainnya bersyukur. Pupus sudah sumpah serapah yang diteriakkan. Semuanya bahagia dan malu untuk mengenang apa yang dikecamnya.

Di tempat yang lain. sekelompok anak muda berkumpul di emperan toko. Berbagai perasaan dikeluarkan. Sementara air tidak berhenti dalam waktu sekejap. Daerah pegunungan yang makin dingin dengan turunnya berkah dari langit tersebut.

” Gareng, kelihatannya kau tenang sekali “ujar anak muda sebelah kirinya.

” Iya kuperhatikan dari tadi kau menikmati cuaca hari ini ” celoteh anak muda sebelah kanannya.

” Padahal aku tahu kamu seringkali masuk angin kalau berada di dalam ruangan AC ” kata anak muda di sebelah belakang Gareng.

” Ahhhh, kalian tak tahu saja kalau Gareng sebentar lagi mukanya pucat tidak kuat menahan cuaca dingin dan hujan ini ” teriak anak muda di sebelah depan Gareng.

Gareng hanya tersenyum dan memperhatikan lingkungan sekitarnya.

” Reng… reng kenapa kau diam saja. Jangan-jangan kau sakit. Bikin repot saja ” sahut teman-temannya.

” Terima kasih atas perhatian kalian berempat. Aku tidak sakit dan tidak apa-apa kok ” ucap Gareng dengan nada kalem.

” Benar nich. Tapi aku heran kenapa kau tenang saja. Sementara kami berempat menggigil dan menahan cuaca dingin yang menusuk tulang kami. ” tanya anak muda sebelah depannya.

” Tahukah ? Mengapa aku biasa-biasa saja dan menikmati suasana hujan hari ini ? “

” Apa itu Reng ? ” tanya anak muda di sebelah kanannya.

” Aku sedang menemui Cinta dan melepaskan Rasa “

Keempatnya saling berpandangan dalam kebingungan.

” Sudahlah jangan begitu tatapan kalian kepadaku. Lihat tumbuhan di sudut sana dan hewan yang ada di kandang itu. Mereka menikmati suasana hari ini karena mereka sedang menemui Cinta dan melepaskan Rasa mereka. Sama seperti aku yang sedang menemui pemberian Kekasihku dengan cara melepaskan rasa Kemanusiaanku. Kalau tidak begitu aku akan seperti kalian. Kedinginan, kegelisahan, ketodak nyamanan, kegalauan dan sebagainya. Karena air yang mengucur hari ini adalah ciptaan Kekasihku yang harus aku syukuri “

http://www.greenprophet.com

Tak lama kemudian air hujan berhenti dengan ditandai datangnya pelangi. Indahnya.

Bayanganmu

Hening dan tidak terdengar suara apapun kecuali detak jantung pada malam itu. Tampak rembulan menunjukkan cahaya penuhnya. Ya, memang malam itu adalah malam penuh keindahan dan kenangan yang mengundang khayalan akan kejadian masa lalu. Nostalgia di bawah terangnya bulan purnama.

” Kenalkan namaku Rangga ” ujar Rangga saat memperkenalkan diri kepada seorang gadis.

” Namaku Annisa ” jawab gadis di hadapan Rangga.

” Nama yang baik sebaik orangnya ” canda Rangga

” Bisa saja kamu ” ucap Annisa dengan mimik muka malu-malu.

Pertemuan dua insan yang memang sudah ditandirkan oleh Tuhan. Sejak perkenalan itu keduanya makin dekat. Benih-benih asmara mulai tumbuh seiring perjalanan waktu. Tanpa terasa hubungan cinta mereka mendekati tahun ke-4.

==========

” Aku sibuk sekali, Annisa. Aku bersama teman-teman  sedang mempersiapkan acara seminar di kampusku ” kata Rangga saat menerima telepon dari Annisa.

” Tapi Rangga, saat ini aku membutuhkan kamu. Aku sedang mempunyai masalah. Penting !!! ” jawab Annisa membalas.

” Baiklah, aku akan ke tempatmu tapi setelah rapat dengan  teman-temanku selesai “

” Apakah tidak bisa sekarang juga ? “

” Tidak bisa, Annisa. Aku masih… ” tiba-tiba telepon terputus. Rupanya Annisa memutus hubungan teleponnya.

Setelah rapat, Rangga segera pergi ke kos Annisa. Waktu telah menunjukkan pukul 21.00. Tempat kos masih bisa memperbolehkan Rangga untuk bertemu dengan Annisa.

” Assalamualaikum “

” Wa alaikumussalam “

” Bisa saya bertemu dengan Annisa, Bu Sofi ? ” tanya Rangga kepada ibu kos Annisa.

” Aduh Mas, Annisa tidak ada di tempat kos. Tadi siang kelihatannya dia terburu-buru pulang ke rumah orang tuanya di Solo. “

” Pulang ke Solo ? ” Tampak Rangga bertanya dengan perasaan bingung.

” Iya, Mas Rangga. Sepertinya mbak Annisa sedang mempunyai masalah “

” Okelah, kalau begitu nanti saya akan telepon Annisa. Terima kasih Bu Sofi “

” Sama-sama “

Malam itu Rangga merasa gundah gulana. Kebingungan menyelimuti dirinya. Beberapa kali Rangga menghubungi Annisa tapi orang-orang di rumah orang tua Annisa mengatakan kalau Annisa tidak ada di tempat.

==========

Tujuh hari kemudian, tukang pos mengantarkan sebuah surat ke tempat kos Rangga. Rangga menerima surat tersebut dengan perasaan aneh. Karena selama ini Rangga jarang sekali menerima surat dari siapapun. Siapakah yang telah mengirim surat kepadanya ? Tertulis di depan surat nama dan alamatnya. Tetapi Rangga merasa mengenal tulisan di surat itu. Jangan-jangan… Benar saja di belakang surat tertulis nama Annisa tanpa alamat. Di dalam surat tersebut tertulis maksud Annisa mengirim surat tersebut. Annisa ingin bertemu dengan Rangga besok sore di sebuah danau dekat kampus.

Tampak seorang wanita lembut dan cantik sedang duduk menghadap danau. Rangga mendekati wanita tersebut.

” Assalamualaikum Annisa “

” Wa alaikumussalam Mas “

” Bagaimana kabar kamu, Sa ? ” tanya Rangga dengan nada ragu-ragu.

” Kabarku baik. Kamu ? “

” Tidak baik. Aku selalu memikirkan kamu, Nisa “

” Hmm, itulah mengapa aku mengundang kamu datang ke danau ini, Mas. Danau dimana kita pertama kali bertemu “

” Ya aku selalu mengingat. Aku minta maaf atas kejadian kemarin. Aku benar-benar… “

” Jangan diteruskan Mas Rangga. Aku mengerti betapa sibuknya Mas Rangga. Karena Mas Rangga sangat dibutuhkan oleh teman-teman kampus Mas Rangga “

” Tapi Nisa … ” Nisa langsung memberikan tanda agar Rangga tidak meneruskan ucapannya.

” Aku sangat mengerti siapa Mas Rangga. Empat tahun bukan waktu yang sebentar, Beberapa hari ini aku menghilang karena aku ingin menyendiri dulu. Maafkan saya bila membuat Mas Rangga menjadi was-was. Di saksikan danau ini aku ingin mengatakan sesuatu kepada Mas Rangga. Tapi… “

” Tapi apa, Nisa ? “

” Saya berharap Mas Rangga tidak marah “

” Aku tidak akan marah karena aku mencintai kamu, Nisa. Katakanlah !!! “

” Lebih baik hubungan kita berakhir sampai disini saja. Aku merasa bukan wanita yang pantas buat Mas Rangga “

” Ada apa ini Nisa ? Mengapa kamu mengatakan itu ? Aku sangat mencintaimu ”  tanya Rangga bertubi-tubi dengan perasaan tidak percaya.

” Cukup, Rangga !!! Cukup … !!! Aku harap Mas Rangga mau menerima keputusan saya dengan ikhlas. ” teriak Annisa sambil mengeluarkan air mata.

” Tapi Nisa, aku ingin tahu alasanmu yang sebenarnya… “

” Itulah alasanku Mas Rangga. Kamu seorang laki-laki terbaik yang kukenal selama ini. Aku merasa tidak pantas untuk Mas Rangga. Aku tidak bisa mengimbangi Mas Rangga … Itu saja. Selamat tinggal. Semoga Mas selalu bahagia ” ucap Annisa sambil memegang wajah Rangga. Kemudian pergi meninggalkan Rangga di tepi danau.

” Annisa… Annisa… Annisa ” panggil Rangga berulang kali.  Tetapi Annisa terus berjalan meninggalkan Rangga tanpa memperdulikan panggilan Rangga,

==========

Dua tahun kemudian,

Tiba-tiba telepon Rangga berbunyi. Di ujung telepon terdengar seorang pria bersuara berat danga mengabarkan sesuatu kepada Rangga. Tiba-tiba telepon Rangga jatuh ke lantai. Rangga berdiri diam dan tanpa sadar telah mengeluarkan air mata.

” Ya, Pak. Saya pasti datang “

Di depan sebuah nisan, Rangga duduk memandangi gundukkan tanah merah yang baru saja dicangkul. Bunga setaman menutupi gundukkan tanah tersebut. Di nisan kayu tersebut tertulis nama Annisa Putri  Leksono. Terlihat wajah senyum  wanita yang dicintai Rangga di nisan tersebut.

Tongkat Dan Dua Pedang

Salam Bunga Sepasang, begitulah Norman dan Dedi saling memberikan penghormatan satu sama lainnya.Tampak duduk memperhatikan seorang pria tua dengan raut muka penuh ketegasan. Keduanya memulai gerakan menyerang dan bertahan. Setelah 30 menit latihanpun disudahi.

==========

” Ded, kau memakai 2 buah pedang. Sedangkan kau, Norman pegang tongkat ” perintah pria tua.

” Tapi Guru, saya kurang menguasai permainan 2 pedang ini ” ujar Dedi.

” Saya juga guru. Permainan tongkat mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi ” jawab Norman.

” Tidak, saya menilai kalian mampu memainkannya. Tenagamu cukup kuat untuk memegang dan memainkan 2 buah pedang tersebut. Sementara dengan tinggi tubuhmu, Norman maka permainan tongkat dapat mudah dimainkan dan cocok dengan anatomi tubuhmu. “

” Tapi… ” bantah keduanya

” Jangan membantah !!! Laksanakan saja perintahku ” jawab pria tua dengan tegasnya.

==========

Kurang 5 hari lagi turnamen pertarungan senjata akan dimulai.

” Dedi…… ayunkan pedangmu mengikuti gerakan hati. Jangan ragu dan ditahan. Ibarat air mengalir. Maju kedepan !!!…. Egos ke samping… Awas !!! Lompat jauh ke belakang… ” teriak pria tua

Terlihat Dedi kewalahan mengikuti latihan permaian dua pedang tersebut. Napasnya terhengal-hengal. Keringat mengucur deras di seluruh tubuhnya.

” Sekarang giliranmu Norman… Awas itu tongkat sama tingginya dengan tubuhnya. Hentakkan kakimu agar kau bisa melompat mendekati lawanmu… Tongkat ini senjata untuk pertarungan jarak jauh… Manfaatkan panjang tongkat untuk bertahan… Tusuk lurus tongkat tersebut… Kenai bagian vital tubuh lawanmu dengan kekuatan pada satu titik… Bagus… “

Seperti Dedi, mata Norman berkunang-kunang. Rasa pening dengan bintang-bintang di kepalanya. Mual di perut melanda perut Norman dan huah huah huahh Norman mengeluarkan muntah.

” Sudah Guru… sudah kami berdua tidak kuat lagi ” mohon Dedi.

” Baiklah. Kalian istirahan dulu. Waktunya hanya 30 menit. Setelah itu kalian bertarung dengan menggunakan senjata kalian. ” perintah pria tua.

” Hah 30 menit ? Latihan lagi ??? ” teriak Dedi dan Norman dengan wajah nelangsa.

==========

Hari H,

bs-ba.facebook.com

Hampir 2 jam lebih Kami menunggu giliran tampil. Rasa minder, takut salah, optimis, pesimis dan lain-lain membaur jadi satu. Tampak wajah pucat kedua sahabat itu. Sementara pria tua duduk menjauhi di sudut arena pertandingan sepertinya bersikap masa bodo terhadap kedua muridnya. Dasar tua bangka pikir Dedi dan Norman. Saat itupun tiba.

” Peserta berikutnya adalah Pertarungan Senjata yang akan ditampilkan oleh Dedi dan Norman dari Perguruan… “

Dedi dan Norman berdoa sejenak. Keduanya berjalan menuju arena pertandingan. Mereka saling berhadapan sambil membawa senjatanya masing-masing.

” Salam Bunga Sepasang… Penghormatan…. ” teriak keduanya.

Tepuk tangan bergema di seluruh arena pertandingan setelah menyaksikan atraksi permainan senjata antara Dedi dengan 2 buah pedangnya dan Norman dengan tongkatnya. Layaknya perkelahian dalam film-film Kung Fu kolosal yang sering diputar di televisi. Menajubkan. Keduanya menikmati pertarungan tersebut. Liuk tubuh dan gerakan melompat seperti kapas melayang diperagakan tanpa cacat. Semua penonton dibuat terpukau dan mengagumi mereka berdua.

” Pemenangnya adalah Peserta Dedi dan Norman dari Perguruan ” teriak pembawa acara.

Dedi dan Norman berpelukan. Medali Emas dikalungkan ke leher mereka. Beberapa saat kemudian, mereka baru menyadari kemanakah gerangan sang Guru. Mengapa Sang Guru tidak mau ikut bergabung dalam kesuksesan mereka. Padahal semua ini adalah hasil gemblengan Sang Guru.

Pria tua itu telah lama meninggalkan gedung pertandingan dan pergi entah kemana.

Salam Bunga Sepasang

Kawan Seperjuangan

prpmakasar.wordpress.com/2010

Tatapan tajammu memandangi matahari terbit. Siluet diri yang jelas nyata dari sosok yang keras hati. Guratan wajah yang tidak muda lagi. Sodetan bekas luka mewarnai raut kewibaawaan. Sedangkan lukisan tubuh yang melekat melambangkan keberanian diri dalam menentukan hidup. Itulah dirimu walaupun belum kusebutkan brewok yang telah memutih dengan kulit sawo matang.

Bayangan itu selalu menghampiri dan kau tidak akan melupakannya. Trauma kehidupan yang menjadi perjalanan hidupmu. Aku kagum saat kau mengatakan ikhlas menerimanya dan bersedia berkorban apapun demi sebuah persaudaraan. Aku hormati apa yang kau lakukan dengan segala konsekuensinya.

========================

” Cha ! ayo Cha ikut kami. Mereka mengejar kita “

” Sudahlah kamu dulu yang pergi biar aku menjaga tempat ini “

” Tapi cha… “

” Sudahlah, semuanya akan beres. Biar aku yang akan menghadapi mereka. Yang terpenting sebagian besar selamat dan amankan semua berkas penting. Itulah tugas kita disini “

” Baiklah sampai ketemu lagi “

Api mulai membakar di beberapa tempat dimana dia mempertahankan diri. Sementara batu-batu berterbangan dan mulai banyak manusia melesak masuk ke dalam. Akhirnya… aku menyerah.

========================

Ruangan pengap dengan ukuran yang kecil. Temanku hanyalah kumpulan nyamuk, kecoa dan keluarga serangga lainnya. Yah! Aku menerimanya demi sebuah kebenaran. Mereka tidak bisa memaksaku untuk menjadi pengkhianat. Pengkhianat bukanlah diriku. Darah kering tampak terlihat di kening, bibir, tangan, kaki dan hampir sekujur tubuhku dianiaya tanpa belas kasihan. Hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk meruntuhkan keyakinan.

” Argghhhh tulang rusukku ada yang patah. Tangan dan kakiku tidak bisa digerakkan. Sakitnya luar biasa. Aku harus kuat menahannya. “

Kembali aku diinterogasi oleh sebuah pengadilan biadab dalam lingkungan binatang tanpa peri kemanusiaan. Mungkin inilah yang dinamakan neraka. Kembali kaki meja itu menginjak tangan kanan dan kiriku. Mereka tertawa-tawa dengan puasnya dan mengabaikan jeritan kesakitan. Darah mengalir dari ujung kukuku. Ya… kukuku ditariknya. Arghhhh ku berusaha bertahan dan tetap tutup mulut.

Betis kaku memar dan mengeluarkan darah hitam. Tampak bekas tendangan sepatu kesenangan diri menghantam betis ini. Aku harus kuat…aku harus kuat…aku harus kuat… Inilah perjuangan.

========================

10 tahun telah berlalu

Sosok tegas itu masih terasa auranya. Energi keperkasaan itu menyambar ke dalam diriku. Kau memang sosok yang kukagumi. Tanpa banyak kata tapi kau telah membantu banyak orang. Walaupun hidupmu miskin dan telah lama menyia-nyiakan keluargamu tapi kau telah menunjukkan sebuah prinsip yang harus dipertahankan. Kau sadar dengan segala sebab akibatnya.

Tiba-tiba mobil mewah berwarna hitam lengkap dengan lambang orang terhormat lewat di depan kami.

” Lihat kawan lihatlah orang di dalam mobil itu “

” Siapakah gerangan orang tersebut ? “

” Dialah orang yang terakhir ku selamatkan pada peristiwa itu “

” Mengapa dia tidak berhenti padahal tadi aku lihat dia sempat memandangimu, kawan “

” Biarkan saja. Dia telah menjual segala-galanya. Termasuk harga dirinya demi sebuah kemewahan dunia “

Kamipun melanjutkan pekerjaan. Menjual bingkai foto di pinggir jalan. Kadang kami menangis saat melihat foto yang ada di bingkai.

” Bapak, inilah potret negeri yang kau perjuangkan selama ini “