Si Kasep

” Sampurasun … ” terdengar suara salam lantang dari kejauhan.

” Rampes … ” balas kami berdua.

Pada saat itu waktu menunjukkan pukul 23.47 dimana saya dan uyut sedang bercengkerama dan berdiskusi banyak hal tentang kehidupan di teras padepokan. Sosok lelaki muda tinggi besar dengan wajah tampan bersih bak model lengkap dengan jaket kulit datang di tengah kegelapan malam. Rupanya lelaki tersebut datang dengan berjalan kaki karena kami tidak mendengar sama sekali suara deruan kendaraan.

Tetapi Uyut terus saja meneruskan pembicaraan kami yang sempat terputus dengan suara salam lelaki muda tersebut dan tidak menghiraukan kehadiran lelaki tersebut apakah disuruh duduk atau masuk ke dalam rumah. Lelaki tersebut seperti hormat sekali dan mengerti sikap uyut tersebut.

Sambil berbincang-bincang dengan uyut, sesekali saya memperhatikan lelaki tersebut. Lelaki tersebut duduk di atas lutut dengan tubuh menunduk dan tangannya menyentuh lantai seperti orang sedang menyembah. Ya, menyembah. Sungguh aneh.

Tetap saja uyut meneruskan pembicaraan dengan saya dengan menghabiskan beberapa batang rokok Djie Sam Soe kesukaannya. Tanpa terasa kami telah berdiskusi selama 40 menit dan uniknya posisi lelaki tersebut tetap dalam posisi menyembah tanpa berbicara apapun.

” Yut, kok pria tersebut tidak disuruh masuk ke dalam rumah saja ? Di luar dingin sekali, Yut. ” tanya saya.

” Sudah  Cech, biarin aja. Dia sudah terbiasa begitu kok kalau datang ke sini ” ujar Uyut.

Baru 3 menit kemudian Uyut memanggil lelaki tersebut.

” Sep, ada apa kamu datang ke sini ? ” tanya Uyut tiba- tiba.

” Begini kakek buyut, saya mau minta ijin ” ujar lelaki tersebut dengan posisi tetap menyembah.

” Ijin apa, Sep ? ” tanya uyut.

” Selama 3 bulan ini saya tinggal di kota. Saya senang dan betah tinggal di kota. Jadi saya mohon agar Kakek Buyut memberikan ijin kepada saya untuk selamanya tinggal di kota dan tidak disuruh balik ke tempat asal ” terang lelaki tersebut.

” Ohhh gitu, jadi kamu dah senang tinggal di kota. Dasar dunia hehehehehe… ” tegas uyut sambil tertawa.

” Iya kakek buyut, Saya suka sekali dengan kehidupan kota “

” Soklah, kalau kamu senang, Uyut mah tidak bisa melarang… “

” Terima kasih…. terima kasih… terima kasih Yuttttttttttt !!! ” tampak lelaki tersebut gembira tapi tetap dalam kondisi menyembah.

” Ya, sudah. Pergi sana !!! ” perintah Uyut.

Lelaki tersebut berjalan mundur dan berbalik arah kemudian berdiri dan berjalan ke luar pintu gerbang padepokan. Hilang sekejap dalam kesunyian malam tetapi terdengar sekali suara salam pada saat kedatangan.

” Sampurasun…. !!!! “

Aneh dalam pikiran saya. Siapakah gerangan lelaki muda berperwakan tinggi, tampan dan sangat cocok menjadi model pakaian maupun iklan.

” Aneh ya Cech ? Hehehehehe ” tanya Uyut.

” Benar-benar aneh. Ganteng-ganteng kok gitu hahahaha “

” Dia itu Si Kasep. Anak buah Uyut dahulu kala. ” terang Uyut.

” Ohh gitu. Pantesan saja sikapnya selalu menyembah Uyut “

” Dia itu dulunya tinggal di Gunung Pongkor, Bogor. Emang Uyut sudah lama tahu kalau dia tidak tinggal lagi di situ dan pindah ke kota. “

” Tapi kok aneh sekali kalau melihat pola tingkah Si Kasep “

” Tidak usah merasa aneh Cech. Si Kasep itu khan bukan manusia, dia itu sebenarnya jelmaan Maung hehehehehe “

” Hah ??? Jelmaan Maung ? ” sayapun terkejut mendengar jawaban Uyut.

” Ya, penunggu  Gunung Pongkor. Ganteng khan anak buah Uyut ?! Bintang film mah kalah hahahaha “

” Terus kalau di kota wujud masih seperti itu ? ” tanya saya.

”  Ya seperti itu. Ya sudah begini saja suatu saat saya akan suruh dia datang ke rumahmu dan menunjukkan wujud aslinya. Bagaimana ? ” tanya Uyut.

” Si Kasep datang ke rumah ? Jangan deh Yut jangan. Takut !!! ” seluruh tubuh langsung merinding.

Sungguh pengalaman aneh di malam hari. Sep… Kasep…

Kacang : Alasan Penolakan Uyutku

Dalam kondisi normal, Uyut selalu mengajak saya untuk diskusi banyak hal. Tetapi baru kali ini Uyut mengajakku bicara tentang siapa wanita yang dekat dengan saya saat ini. Tumben, ikir saya saat itu karena selama ini setiap saya bercerita mengenai wanita atau jodoh maka Uyut selalu mengalihkan pembicaraan atau selalu mengatakan belum saatnya untuk dibicarakan.

Pada hari itu saya dipanggil oleh Uyut di padepokan. Setelah saya menghadap, Uyut menyuruh saya duduk bersila dan mendengarkan dulu apa yang akan dibicarakannya.

” Cech, duduk ! ” perintah Uyut

” Baik, Yut “

” Sudah lama Uyut ingin bicara dengan kamu mengenai hal ini. Tetapi selalu terbentur dengan kesibukan Uyut yaitu mulai banyaknya yamu yang datng ke Padepokan, Nah mumpung saat ini tamu sedang tidak ada maka inilah saat yang tepay Uyut mengajak kamu berbicara “

” Mengenai apa ya, Yut ? “

” Hmmm, itu lho mengenai perempuan “

” Perempuan ??? “

” Iya perempuan… “

” Terus… Maksudnya, Yut ? “

Uyut segera menyalahkan rokok Dji Sam Soe kesukaannya sebelum melanjutkan pembicaraan.

” Begini saya mendengar kalau saat ini kamu sedang dekat dengan seorang wanita “

” Tahu dari mana ? “

“Sudahlah, jangan tanya. Tinggal jawab saja “

” Ya, Yut. Memang saya sedang dekat dengan seorang wanita dan tahapannya sudah serius “

” Bagus kalau begitu. Uyut senang mendengarnya. Tetapi omong-omong wanita yang dekat dengan kamu saat ini bukan orang Sumedang khan ? “

” Lha emangnya kenapa Yut ? Kok harus Sumedang ? “

Uyut kembali menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian menyeruput kopi pahit panas khas buatan Uyut sendiri.

” Beberapa kali Uyut katakan dan sedikit melarang kepada anak-anak termasuk baik laki-laki maupun perempuan. Ingat kan kamu ? Uyut juga orang Sumedang lho “

” Yang mana, Yut ? “

” Itu lho Uyut tidak melarang untuk berkenalan berpacaran ataupun menikah dengan orang Sumedang tetapi Uyut tidak mengijinkan. “

” Tidak mengijinkan ? Alasannya, Yut ? “

” Nanti kalian akan menyesal di kemudian hari. “

” Memang ada apa dengan laki-laki/perempuan Sumedang ? Kayaknya serius sekali “

” Benar kamu mau tahu “

” Iya Yut “

” Karena “kacang” nya sudah habis terpakai atau tidak ada lagi gara-gara digolong semua untuk membuat Tahu Sumedang “

” Hah !!! Hahahahahahahahahahaha !@$^&*)__&%(&%$#@$#^&* Hahahahaha “

” Wakakakakakakakakakak benar khan kata Uyut.. “

Uyut langsung meninggalkan saya sendiri di padepokan sambil mendendang lagu ” Hiduku yang sengsara… penuh dengan penderitaan … “

Benar-benar fans berat Eddy Silitonga dan untungnya saat ini saya tidak dekat wanita Sumedang wakakakakakakakak

 

untitled-scanned-071

 

 

NB : Ini hanyalah cerita humor saja untuk menyegarkan pikiran yang penat di sore hari. Terus terang tulisan ini tidak untuk mendeskritkan Orang Sumedang karena Saya dan Uyut juga berasal dari Sumedang.Mangapkan daku ya hahahahaha

Sanghyang Dulang

Sanghyang Dulang bagi banyak orang terasa asing didengar. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui siapakah sebenarnya Sanghyang Dulang. Dari namanya “Dulang” maka orang akan mengingat tempat penumbuk gabah yang terbuat dari batu. Jaman dulu orang menggunakan dulang dan alu untuk menumbuk gabah.

Perlu diketahui Sanghyang Dulang masih berkaitan erat dengan sejarah orang Sunda atau lebih dikenal dengan Karuhun Urang Sunda. Tetapi siapakah Sanghyang Dulang ? Sanghyang Dulang adalah nama lain atau gelar yang diberikan kepada Ibu Ratu Nawang Wulang, permaisuri kerajaan Galeuh Pakuan dan isteri dari Prabu Tajimalela (putera Eyang Aji Putih). Prabu Tajimalela adalah raja pertama kerajaan Galeuh Pakuan yang selanjutnya berubah menjadi Kerajaan Sumedang Larang.

Banyak orang salah kaprah antara Galuh dan Galeuh. Galeuh berarti hati atau inti diri dan pakuan berarti iman. Jadi Galeuh Pakuan berarti hati yang beriman, maka itu kerajaan Sumedang Larang menerapkan syariat Iman bukan syariat Islam sejak jaman Prabu Geusen Ulun ( Raja Sumedang Larang pada jaman Islam). Bagi keturunan Sumedang Larang yang menggunakan lambang Kembang Cangkok Wijaya Kusumah dengan Naga Paksinya, keimanan kepada Yang Maha Kuasa harus ditanamkan terlebih dahulu sebelum menjalankan syariat Islam.

Bagaimana dengan Galuh ? Galuh merupakan sebuah kerajaan di daerah Ciamis yang masih bagian dari kerajaan Pajajaran yang didirikan oleh Aji Sakti (makamnya di gunung Galunggung). Jadi jelas perbedaan antara Galeuh dengan Galuh. Penggabungan nama Galeuh Pakuan Pajajaran berlangsung sejak Prabu Munding Wangi (Prabu Siliwangi VI) menyerahkan kekuasaan Kerajaan Pajajaran kepada raja Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.

Selanjutnya Sanghyang Dulang memang diberikan kepada Ibu Ratu Nawang Wulan karena kemampuan beliau menciptakan dulang dari batu dan cekatan dalam menumbuk padi (gabah). Sanghyang Dulang mempunyai banyak petilasan dan salah satunya berada di Gunung Simpay, Cibubut, Sumedang. Karena keingintahuan tentang sejarah beliau maka saya berziarah ke petilasannya.

Sanghyang Dulang yang dikunjungi berada di daerah pegunungan yang sejuk dan dingin. Tetapi tetap butuh stamina yang cukup untuk mencapainya karena melewati beberapa kali tanjakan yang menguras tenaga. Di Sanghyang Dulang terdapat sumber mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi penduduk di sekitarnya. Selain itu dipetilasan tersebut ditemukan Dulang peninggalan beliau yang sekarang disimpan di sebuah tempat di Sumedang.

Berikut adalah foto-foto pribadi perjalanan saya ke Sanghyang Dulang. Jalan-jalan sambil mengenal sejarah nenek moyang.

Situs Sejarah dan Makam Keramat Nasibmu Kini

Peristiwa kerusuhan di makam keramat Mbah Priok yang merupakan situs sejarah seharusnya membuka mata bangsa ini tentang bagaimana memperlakukan dan melestarikan peninggalan sejarah yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Sebelum membaca tulisan saya ada baiknya Kompasianers membaca terlebih dahulu Beberapa Situs Sejarah Mau Dihancurkan dan Bau Pesing di Monumen Soekarno. Dari dua buah artikel tersebut, saya mempersilahkan pembaca untuk memberikan penilaian sendiri.

Sebagai orang yang selama beberapa tahun ini rajin berkunjung dan menziarahi situs-situs sejarah atau makam keramat nenek moyang terutama yang berhubungan dengan sejarah Sunda maka saya sangat memahami betapa pentingnya pelestarian peninggalan nenek moyang (karuhun dalam bahasa Sunda). Banyak orang yang berkata sinis dan nyinyir ketika saya rajin berkunjung ke tempat-tempat tersebut.

” Orang mati saja masih kamu urusi “

” Apa yang kamu cari dari situs-situs sejarah atau makam-makam keramat tersebut “

” Musyrik Cech, masih senang saja main sama setan “

” Cari pesugihan Cech “

” Klenik, irasionil kok dikejar-kejar “

” Mau cepat kaya Cech “

Itulah beberapa kalimat yang dilontarkan terhadap diri saya. Tetapi semuanya saya anggap angin lalu karena saya pikir mereka tidak mengerti apa niat saya berkunjung atau berziarah ke tempat-tempat tersebut. Sebagaimana anjuran Rasulullah SAW kepada umatnya untuk melakukan ziarah kubur dan mendoakan para orang tua kita yang telah meninggal maka saya rajin melakukan ziarah. Disamping itu saya banyak mendapatkan ilmu dan pelajaran tentang arti sebuah sejarah terutama sejarah diri, warisan, buah karya dan amal ibadah yang dilakukan oleh para pendahulu pada masa hidupnya dahulu. Dari situlah saya berusaha untuk bersikap arif dan banyak belajar bagaimana sikap dan perbuatan yang baik dari leluhur dalam menghadapi sebuah persoalan.

Intinya saya banyak mengerti tentang sejarah para leluhur yang dahulu sangat dihormati karena kewibawaannya, kepemimpinannya, kewelas asihannya, keimanannya, dan lebih utama lagi saya belajar tentang sejarah/identitas diri. Saya ada saat ini darimana asalnya, siapa orang tua-orang tua saya sebenarnya dan masih banyak lagi.

Ada beberapa hal yang kadangkala membuat saya miris. Misalnya banyak museum sejarah di daerah yang menyimpan beberapa peninggalan sejarah nenek moyang seperti keris, tongkat, tombak, alat musik, tarian, lukisan, mahkota dan lain-lain. Semua benda tersebut begitu dibangga-banggakan dan dirawat dengan sangat amat khusus perlakuannya. Tetapi ketika ditanya siapa yang menciptakan dan dimana makam orang-orang atau nenek moyang yang menciptakan benda-benda tersebut, kebanyakan mereka tidak bisa menjawab. Lha kalau kagum dengan hasil cipta, rasa dan karsanya maka sudah sewajarnya bahkan seharusnya mereka juga harus tahu dimana para leluhur yang membuat benda-benda bersejarah tersebut dimakamkan. Tetapi yang terjadi kebanyakan bingung dan minim informasi tentang keberadaan makam-makam leluhur. Dan hanya bisa prihatin/menyesal tanpa berbuat apapun ketika tahu makam-makam leluhur yang biasanya disertai dengan peninggalan sejarah akan digusur atau dihilangkan dari muka bumi dengan berbagai alasan oleh pemerintah ataupun pihak ketiga yang mempunyai kekuatan uang.

Perlu diketahui, dengan adanya makam keramat dan situs sejarah sebetulnya justru menghidupkan roda perekonomian warga sekitar yang ketempatan situs sejarah tersebut. Contohnya saja makam-makam Wali Sanga (terutama pada acara Ziarah Wali Sanga), makam Bung Karno di Blitar, Dayeuh Luhur di Sumedang, Candi Borobudur, Candi Prambanan dan sebagainya. Kebanyakan penduduk sekitar mendapatkan keuntungan ekonomi dari kunjungan para penziarah. Dan inipun juga inisiatif dan kreatifitas warga sekitar yang dulunya tidak mendapatkan perhatian pemerintah daerah. Pemerintah daerah baru bergerak atau memberikan fasilitas ketika tahu adanya perputaran kegiatan ekonomi. Ironis.

Goa Masigit Sela (dok.pribadi)
Makam Prabu Guru Aji Putih (dok.pribadi)
Makam Dalem Santapura (dok.pribadi)
Makam Leluhur Sukapura Tasikmalaya (dok.pribadi)
Makam Eyang Wali Abdullah (dok.pribadi)
Makam Leluhur Pasarean Gede Sumedang (dok.pribadi)
Pusaka Prabu Tajimalela (dok.pribadi)
Simbol Penyatuan Galeuh Pakuan Pajajaran (Cap Kerajaan) (dok.pribadi)

Rasanya sudah cukup saya menyampaikan kegusaran hati selama ini. Berikut saya akan sampaikan beberapa info penting tentang situs-situs sejarah yang disertai dengan makam-makam leluhur. Tapi mohon maaf kalau info ini hanya terbatas kepada sejarah Sunda karena memang itulah yang saya mengerti. Saya berharap Kompasianers yang mengetahui tentang situs/makam sejarah leluhur dari daerah lain seperti Mataram, Majapahit, Sriwijaya, Makasar, Batak, Bali, Sumba dan sebagainya bisa tergugah hatinya untuk memberikan informasi lewat tulisan di Kompasiana ini.

Para Leluhur Orang Sunda dan Makam-makamnya

  1. Pangeran Jayakarta (Rawamangun Jakarta)
  2. Eyang Prabu Kencana (Gunung Gede, Bogor)
  3. Syekh Jaenudin (Bantar Kalong)
  4. Syekh Maulana Yusuf (Banten)
  5. Syekh Hasanudin (Banten)
  6. Syekh Mansyur (Banten)
  7. Aki dan Nini Kair (Gang Karet Bogor)
  8. Eyang Dalem Darpa Nangga Asta (Tasikmalaya)
  9. Eyang Dalem Yuda Negara (Pamijahan Tasikmalaya)
  10. Prabu Naga Percona (Gunung Wangun Malangbong Garut)
  11. Raden Karta Singa (Bunarungkuo Gn Singkup Garut)
  12. Embah Braja Sakti (Cimuncang, Lewo Garut)
  13. Embah Wali Tangka Kusumah (Sempil, Limbangan garut)
  14. Prabu Sada Keling (Cibatu Garut)
  15. Prabu Siliwangi (Santjang 4 Ratu Padjadjaran
  16. Embah Liud (Bunarungkup, Cibatu Garut)
  17. Prabu Kian Santang (Godog Suci, garut)
  18. Embah Braja Mukti (Cimuncang, Lewo Garut)
  19. Embah Raden Djaenuloh (Saradan, Jawa Tengah)
  20. Kanjeng Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan Tasikmalaya)
  21. Eyang Siti Fatimah (Cibiuk, Leuwigoong Garut)
  22. Embah Bangkerong (Gunung Karantjang)
  23. Eyang Tjakra Dewa (Situ Lengkong, Pandjalu Ciamis)
  24. Eyang Prabu Tadji Malela (Gunung Batara Guru)
  25. Prabu Langlang Buana (Padjagalan, Gunung Galunggung
  26. Eyang Hariang Kuning (Situ Lengkong Pandjalu Ciamis)
  27. Embah Dalem Salinggih (Cicadas, Limbangan Garut)
  28. Embah Wijaya Kusumah (Gunung Tumpeng Pelabuhan Ratu)
  29. Embah Sakti Barang (Sukaratu)
  30. Syekh Abdul Rojak Sahuna (Ujung Kulon Banten)
  31. Prabu Tjanar (Gunung Galunggung)
  32. Sigit Brodjojo (Pantai Indramayu)
  33. Embah Giwangkara (Djayabaya Ciamis)
  34. Embah Haji Puntjak (Gunung Galunggung)
  35. Dewi Tumetep (Gunung Pusaka Padang, Ciamis)
  36. Eyang Konang Hapa/Embah Wrincing Wesi (Dayeuh Luhur, Sumedang)
  37. Embah Terong Peot/Batara Cengkar Buana (Dayeuh Luhur, Sumedang)
  38. Embah Sanghyang Hawu/Embah Djaya Perkosa (Dayeuh Luhur, Sumedang)
  39. Embah Nanggana (Dayeuh Luhur, Sumedang)
  40. Prabu Geusan Ulun (Dayeuh Luhur, Sumedang)
  41. Nyi Mas Ratu Harisbaya (Dayeuh Luhur, Sumedang)
  42. Eyang Anggakusumahdilaga (Gunung Pusaka Padang Ciamis)
  43. Eyang Pandita Ratu Galuh Andjarsukaresi (Nangerang)
  44. Embah Buyut Hasyim (Tjibeo Suku Rawayan, Banten)
  45. Eyang Mangkudjampana (Gunung Tjakrabuana, Malangbong Garut)
  46. Embah Purbawisesa (Tjigorowong, Tasikmalaya)
  47. Embah Kalidjaga Tedjakalana (Tjigorowong, Tasikmalaya)
  48. Embah Kihiang Bogor (Babakan Nyampai, Bogor)
  49. Aki Wibawa (Tjisepan, Tasikmalaya)
  50. Embah wali Mansyur (Tomo, Sumedang)
  51. Prabu Nagara Seah (Mesjid Agung Tasikmalaya)
  52. Sunan Rumenggang (Gunung Batara Guru)
  53. Embah Hadji Djaenudin (Gunung Tjikursi)
  54. Eyang Dahian bin Saerah (Gunung ringgeung, garut)
  55. Embah Giwangkarawang (Limbangan Garut)
  56. Nyi Mas Layangsari (Gunung Galunggung)
  57. Eyang Sunan Cipancar (Limbangan garut)
  58. Eyang Angkasa (Gunung Kendang, Pangalengan)
  59. Embah Kusumah (Gunung Kendang, Pangalengan)
  60. Eyang Puspa Ligar (Situ Lengkong, Panjalu Ciamis)
  61. Kimandjang (Kalapa 3, Basisir Kidul)
  62. Eyang Andjana Suryaningrat (Gunung Puntang Garut)
  63. Gagak Lumayung (Limbangan Garut)
  64. Sri Wulan (Batu Hiu, Pangandaran Ciamis)
  65. Eyang Kasepuhan (Talaga Sanghiang, Gunung Ciremai)
  66. Aki manggala (Gunung Bentang, Galunggung)
  67. Ki Adjar Santjang Padjadjaran (Gunung Bentang, Galunggung)
  68. Eyang Mandrakuaumah (Gunung Gelap Pameungpeuk, Garut)
  69. Embah Hadji Muhammad Pakis (Banten)
  70. Eyang Boros Anom (Situ Lengkong, Pandjalu Ciamis)
  71. Embah Raden Singakarta (Nangtung, Sumedang)
  72. Raden Rangga Aliamuta (Kamayangan, Lewo-Garut)
  73. Embah Dalem Kasep (Limbangan Garut)
  74. Eyang Imam Sulaeman (Gunung Gede, Tarogong)
  75. Embah Djaksa (Tadjursela, Wanaraja)
  76. Embah Wali Kiai Hadji Djafar Sidik (Tjibiuk, Garut)
  77. Eyang Hemarulloh (Situ Lengkong Pandjalu)
  78. Embah Dalem (Wewengkon, Tjibubut Sumedang
  79. Embah Bugis (Kontrak, Tjibubut Sumedang)
  80. Embah Sulton Malikul Akbar (Gunung Ringgeung Garut)
  81. Embah Dalem Kaum (Mesjid Limbangan Garut)
  82. Mamah Sepuh (Pesantrean Suralaya
  83. Mamah Kiai hadji Yusuf Todjiri (Wanaradja)
  84. Uyut Demang (Tjikoneng Ciamis)
  85. Regregdjaya (Ragapulus)
  86. Kiai Layang Sari (Rantjaelat Kawali Ciamis)
  87. Embah Mangun Djaya (Kali Serayu, Banjarnegara)
  88. Embah Panggung (Kamodjing)
  89. Embah Pangdjarahan (Kamodjing)
  90. Syekh Sukri (Pamukiran, Lewo Garut)
  91. Embah Dipamanggakusumah (Munjul, Cibubur)
  92. Aki Mandjana (Samodja, Kamayangan)
  93. Eyang Raksa Baya (Samodja, Kamayangan)
  94. Embah Dugal (Tjimunctjang (
  95. Embah Dalem Dardja (Tjikopo)
  96. Embah Djaengranggadisastra (Tjikopo)
  97. Nyi Mas Larasati (Tjikopo)
  98. Embah Dalem Warukut (Mundjul, Cibubur)
  99. Embah Djaya Sumanding (Sanding)
  100. Embah Mansur Wiranatakusumah (Sanding)
  101. Embah Djaga Alam (Tjileunyi)
  102. Sembah Dalaem Pangudaran (Tjikantjung Majalaya)
  103. Sembah Dalem Mataram (Tjipantjing)
  104. Eyang Nulinggih (Karamat Tjibesi, Subang)
  105. Embah Buyut Putih (Gunung Pangtapaan, Bukit Tunggul)
  106. Embah Ranggawangsa (Sukamerang, bandrek)
  107. Eyang Yaman (Tjikawedukan, Gunung Ringgeung Garut)
  108. Embah Gurangkentjana(Tjikawedukan, Gunung Ringgeung Garut)
  109. Embah Gadjah Putih (Tjikawedukan Gunung Wangun)
  110. Ratu Siawu-awu (Gunung Gelap, Pameungpeuk Sumedang)
  111. Embah Mangkunegara (Cirebon)
  112. Embah Landros (Tjibiru Bandung)
  113. Eyang Latif (Tjibiru Bandung)
  114. Eyang Penghulu (Tjibiru Bandung)
  115. Nyi Mas Entang Bandung (Tjibiru Bandung)
  116. Eyang Kilat (Tjibiru Bandung)
  117. Mamah Hadji Umar (Tjibiru Bandung)
  118. Mamah Hadji Soleh (Tjibiru Bandung)
  119. Mamah Hadji Ibrahim (Tjibiru Bandung)
  120. Uyut Sawi (Tjibiru Bandung)
  121. Darya bin Salmasih (Tjibiru Bandung)
  122. Mamah Hadji Sapei (Tjibiru Bandung)
  123. Embah Hadji Sagara Mukti (Susunan Gunung Ringgeung)
  124. Eyang Istri (Susunan Gunung Ringgeung)
  125. Eyang Dewi Pangreyep (Gunung Pusaka Padang Garut)
  126. Ratu Ayu Sangmenapa (Galuh)
  127. Eyang Guru Adji panumbang (Tjilimus Gunung Sawal)
  128. Eyang Kusumah Adidinata (Tjilimus Gunung Sawal)
  129. Eyang Rengganis (Pangandaran Ciamis)
  130. Ki Nurba’in (Sayuran, Gunung Tjikursi)
  131. Buyut Dasi (Torowek Tjiawi)
  132. Embah Buyut Pelet (Djati Tudjuh Kadipaten)
  133. Embah Gabug (Marongge)
  134. Eyang Djayalaksana (Samodja)
  135. Nyi Mas Rundaykasih (Samodja)
  136. Nyi Mas Rambutkasih (Samodja)
  137. Eyang Sanghiang Bongbangkentjana (Ujung Sriwinangun)
  138. Eyang Adipati Wastukentjana (Situ Pandjalu Ciamis)
  139. Eyang Nila Kentjana (Situ Pandjalu, Ciamis)
  140. Eyang Hariangkentjana (Situ Pandjalu Ciamis)
  141. Embah Dalem Tjikundul (Mande Cianjur)
  142. Embah Dalem Suryakentjana (PantjanitiCianjur)
  143. Embah Keureu (Kutamaneuh Sukabumi)
  144. Ibu Mayang Sari (Nangerang Bandrek Garut)
  145. Eyang Prabu Widjayakusumah (Susunan Payung Bandrek Garut)
  146. Embah Sayid Kosim (Gunung Alung Rantjapaku)
  147. Embah Bang Sawita (Gunung Pabeasan Limbangan Garut)
  148. Uyut Manang Sanghiang (Banten)
  149. Eyang Ontjar (Nyampai Gunung Bungrangrang)
  150. Eyang Ranggalawe (Talaga Cirebon)
  151. Ibu Siti Hadji Djubaedah (Gunung Tjupu Banjar Ciamis)
  152. Mamah Sepuh ((Gunung Halu Tjililin Bandung)
  153. Embah Sangkan Hurip (Ciamis)
  154. Embah Wali Abdullah (Tjibalong Tasikmalaya)
  155. Mamah Abu (Pamidjahan Tasikmalaya)
  156. Embah Dalem Panungtung Hadji Putih Tunggang Larang Curug Emas (Tjadas Ngampar Sumedang)
  157. Raden AstuManggala (Djemah Sumedang)
  158. Embah Santiung (ujung Kulon Banten)
  159. Eyang Pandita (Nyalindung Sumedang)
  160. Embah Durdjana (Sumedang)
  161. Prabu Sampak Wadja (Gunung Galunggung Tasikmalaya)
  162. Nyi Mas Siti Rohimah/Ratu Liongtin (Jambi Sumatera)
  163. Eyang Parana (Kulur Tjipatujah, Tasikmalaya)
  164. Eyang Singa Watjana (Kulur Tjipatujah, Tasikmalaya)
  165. Eyang Santon (Kulur Tjipatujah, Tasikmalaya)
  166. Eyang Entjim (Kulur Tjipatujah, Tasikmalaya)
  167. Eyang Dempul Wulung (Djaga Baya Ciamis)
  168. Eyang Dempul Walang (Djaga Baya Ciamis)
  169. Eyang Giwangkara (Djaga Baya Ciamis)
  170. Embah Wali Hasan (Tjikarang Bandrek, Lewo Garut)
  171. Embah Raden Widjaya Kusumah (Tjiawi Sumedang)
  172. Dalem Surya Atmaja (Sumedang)
  173. Eyang Rangga Wiranata (Sumedang)
  174. Eyang Mundinglaya Dikusumah (sangkan Djaya, Sumedang)
  175. Eyang Hadji Tjampaka (Tjikandang, Tjadas Ngampar Sumedang)
  176. Eyang Pangtjalikan (Gunung Ringgeung Garut)
  177. Eyang Singa Perbangsa (Karawang)
  178. Embah Djaga Laut (Pangandaran)
  179. Raden Ula-ula Djaya (Gunung Ringgeung Garut)
  180. Raden Balung Tunggal (Sangkan Djaya, Sumedang)

Makam-makam diatas baru sebagian kecil saja yang bisa disampaikan. Masih banyak lagi situs sejarah dan makam keramat yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Prabu Siliwangi Turun Gunung

Tahun 2010 adalah tahun yang unik dan lain daripada yang lain. Mengapa ? Karena pada tahun inilah Tahun Baru Islam dan Maulid Nabinya tepat jatuh pada hari Jumat Kliwon. Menurut kepercayaan sebagian besar masyarakat Sunda, jumat kliwon dianggap sebagai hari yang penuh arti karena pada malam jumat kliwon itulah para karuhun (leluhur), malaikat dan makhluk-makhluk gaib diijinkan oleh Allah SWT untuk turun ke bumi. Untuk itulah mengapa setiap malam jumat kliwon diadakan acara tawasulan atau acara mendoakan para karuhun dan memohon kepada Allah memberikan rahmatNya dalam bentuk apapun.

Latihan Memainkan Kecapi Menjelang Ngebumbang (dokumen pribadi)

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran menggelar banyak acara dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Bagi keturunan Kusumah (Sumedang Larang), acara Maulid Nabi jatuh pada tanggal 14 Rabiul Awal. Karena bersamaan dengan Jumat Kliwon maka acaranya sudah dimulai sejak malam jumat kliwon.

Pada malam berikutnya (malam sabtu), diadakan acara ngebumbang dengan diiringi alunan musik kecapi atau dikenal dengan membuka sejarah dan ilmu Nabi Muhammad SAW dan para karuhun kepada para masyarakat yang datang ke Padepokan. Buka sejarah dan ilmu tersebut disampaikan oleh kakek buyut (Uyut) Ohan Wijaya Kusumah selaku Sesepuh Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran. Kami tidak tidur sampai subuh karena inilah momen yang tidak boleh dilepaskan dan banyak ilmu serta pengalaman Uyut yang sangat bermanfaat bagi diri kami.

Acara Ngebumbang (foto pribadi)
Beberapa orang yang masih melek mendengarkan petuah Uyut pada acara ngebumbang (foto pribadi)

Keesokan paginya acara dilanjutkan dengan melakukan ziarah ke makam Eyang Krincing Wesi yang merupakan salah satu patih kerajaan Galeuh Pakuan Pajajaran. Karena cuaca tidak yang diikuti dengan hujan deras, rencana melakukan ziarah ke Eyang Jangkung dan Eyang Wali Syekh Jafar Sidiq di gunung Masigit dibatalkan sehingga kami hanya ziarah ke Eyang Krincing Wesi di wilayah gunung Simpay saja.

Tampak jalan basah diguyur oleh hujan deras sebelum berangkat ziarah
Lokasi makam/petilasan Eyang Jangkung yang terhalang penglihatannya oleh kabut pada saat turun hujan (foto pribadi)

Pada malam minggunya, kami mengadakan tawasulan dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW dengan membacakan doa dan Al Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, para wali, alim ulama, karuhun sampai kepada orang tua kandung kami yang telah meninggal dunia.

Acara Tawasulan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW 1431 H (foto pribadi)
Kang Tajudin membuka acara tawasulan dengan memberikan keterangan yang detil tentang makna Maulid Nabi SAW dalam perspektif budaya Sunda (foto pribadi)

Seperti biasanya, acara dimulai pada pukul 21.30 dan berakhir pada pukul 00.00 WIB. Selanjutnya dilakukan acara ritual membersihkan diri dengan menggunakan air yang berasal dari mata air keramat sehingga diharapkan tubuh kami menjadi bersih dan mengurangi kotoran-kotoran yang melekat di tubuh dan hati kami.

(bersambung)

Jaipongan: Sundanese Traditional Dance

Jaipongan (wikipedia)

Orang menyebutnya tari jaipongan. Bagaimana sejarahnya tarian jaipongan, dapat dilihat di WIKIPEDIA. Dalam tulisan ini, saya hanya ingin menceritakan kekaguman saya terhadap tari jaipongan ini. Kebetulan sekali dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW 1431 H, Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran menggelar banyak acara dan salah satunya adalah pertunjukkan tari jaipongan.

Tidak sedikit orang menganggap negatif tarian ini karena dianggap sebagai ajang perselingkuhan terselebung antara penonton dan penarinya. Tapi itu saya anggap sah-sah saja tergantung bagaimana kita melihat dan menilainya.

Tari Jaipongan selalu identik dengan tarian tradisional masyarakat Sunda. Sebetulnya tarian ini menunjukkan simbol kerakyatan yang bebas merdeka dan bentuk kegembiraan masyarakat yang dituangkan lewat tarian. Terlihat sekali dari hentakan alat-alat musik tradisional yang memberikan dampak rancak dan keinginan hati untuk turut bergerak mengikuti suara musik tradisional tersebut.

Gerakan tarian Jaipongan ini sangat dinamis dan membutuhkan stamina yang cukup. Saya kagum sekali ketika kedua penari jaipongan tersebut menari dengan gerakan yang indah dan gemulai. Dan lebih kagum lagi ketika mengetahui kalau mereka berstatus mahasiswi, yaitu mahasisiwi Unpad dan STSI Bandung. Kedua mahasiswi tersebut merupakan contoh yang baik kalau masih ada generasi muda yang mau turut mendalami dunia tarian tradisional dan memperlihatkan kepada bangsa ini kalau tarian tradisional tidak kalah dengan tarian-tarian yang datang dari dunia barat.

Saya sempat berangan-angan seandainya saja umat Islam di seluruh Indonesia merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan memperkenalkan dan melestarikan kembali budaya lokal maka betapa indahnya bumi Indonesia ini. Budaya yang beragam yang terikat menjadi satu dalam tuntunan Nabi Muhammad SAW. Itulah yang membuat saya sedih karena gara-gara fanatisme berlebihan maka budaya asal yang menjadi identitas dirinya sering dilupakan, dicampakkan bahkan dianggap sirik. Padahal budaya itu lahir dari cipta, rasa dan karsa manusia yang sebetulnya berasal dari hati nurani atau batin yang suci yang berarti berasal dari Allah SWT juga.

Berikut ini saya akan memperlihatkan video pribadi tentang tari jaipongan yang saya rekam lewat kamera digital biasa pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1431 H sehingga mohon maklum kalau hasilnya kurang bagus. Inilah yang bisa saya sampaikan sebagai wujud kebanggaan saya sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW yang juga orang Indonesia.


Sumber video cechgentong

” SAYA INI ORANG TUA, BUKAN DUKUN…..DASAR JALMA GELO !!!!!! “

Seperti menjadi suatu kebiasaan/tradisi pada setiap menjelang pemilihan umum baik pemilihan caleg secara nasional maupun daerah dan pemilihan kepala daerah.


Beberapa bulan terakhir ini, Uyut saya dengan padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran sering didatangi oleh orang-orang yang punya hajat ingin menjadi anggota legislatif maupun kepala daerah bahkan mau jadi camat atau lurah. Mereka berpikir bahwa Uyut mempunyai kemampuan yang dapat mewujudkan segala keinginan dan cita-cita mereka.


Sebagai orang tua, sudah pasti Uyut akan menyambutnya dengan baik dan bersahaja. Cuma masalahnya, mereka yang merasa terhormat itu kurang mengerti dan bersikap santun dengan uyut sebagai orang tua. Banyak yang sudah berhasil maka setelah itu menghilang tanpa bekas dan tidak pernah lagi bersilaturahmi. Memang itu adalah hak mereka untuk tidak kembali lagi. Mungkin mereka menganggap kami bukan siapa-siapa dan hanya ingin memenuhi rasa keingin tahuan mereka saja.

Uyut Ohan Wijaya Kusumah (dok.pribadi)

Tetapi minggu lalu adalah puncak kemarahan, kegelisahan, kegalauan dan semua emosi Uyut terhadap mereka-mereka yang punya niat mencalonkan diri jadi anggota parlemen yang terhormat dan kepala daerah. Begini ceritanya :

Bertepatan Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran menyelenggarakan perayaan Maulud nabi Muhammad SAW, satu per satu berdatangan para caleg dengan berbagai macam atribut/bendera di mobil mereka dan diikuti oleh tim suksesnya. Wao jadi ramai nich acara Maulud Nabi-nya (pikir saya saat itu). Saya dan tamu yang datang sudah dapat menebak maksud dan tujuan mereka datang ke acara tersebut.

” Uyut, perkenalkan saya dari Partai A/B/C dan seterusnya “

” Maksud kedatangan kami, ingin meramaikan acara Maulud Nabi ini “

” Apa yang bisa kami bantu agar acara ini bisa sukses….. “

Hahahahahaha saya hanya bisa tertawa dalam hati dan membuat saya tidak bisa menahan tertawa saat Uyut mengatakan

” Uyut mah sering kedatangan orang dari mana saja baik Partai A, Partai B, partai C dst sampai Partai yang tidak lulus verifikasi KPU bahkan baru dalam angan-angan yaitu Partai Grandong dengan Sekjennya Mak Lampir…tuh ketuanya ada disini (sambil menunjuk ke arah saya ….teu balek wakakakakak) “

Mereka dan tim suksesnya datang ke padepokan kami hampir rata-rata dibawa oleh orang-orang yang belum mengerti tentang karakteristik Uyut dan selalu merasa akrab dengan Beliau. Bahkan menjadi sinterklas dengan membagi-bagikan kaos, jaket, bola sepak/voli dan lain-lain dengan embel-embel atribut partai. Itulah mengapa saya sering menghindari dan menjauhi Uyut walaupun kadang-kadang Uyut memanggil saya untuk diperkenalkan kepada mereka sekaligus dipaksa oleh Uyut untuk mendengar ocehan mereka.

Sampai pada hari terakhir perayaan Maulud Nabi yang selalu dilakukan tawasulan/doa bersama, bersalawat (kebetulan tawasulan malam Jumat Kliwon berbarengan dengan Maulud Nabi, sehingga dijadikan satu), satu per satu tamu pulang. Saya pikir tidak ada masalah atau suatu hal yang perlu dibicarakan dengan Uyut. karena saya dan teman-teman rombongan terakhir pulangnya maka sempat kaget ketika Uyut bercerita demikian :

” Tahu ga Cech mengenai para caleg yang datang kesini ”

” Ada apa ya “

” Teu balek, jalma gelo masak mereka pulang nyelonong aja tanpa pamit kepada saya “

” Emangnya mereka pulang kapan Yut ? “

” Ya abis tawasulan jam 1 malam tadi, langsung kabur tanpa pamit atau permisi dulu. Padahal mereka kemarin bersikap manis dan memohon-mohon kepada saya agar keinginannya ya tercapai. Ya sudah sebagai orang tua Uyut doakan saja semalam dalam acara tawasulan semalam.. “

” Berarti Uyut ga ikhlas dong doanya semalam ? “

” Bukannya ga ikhlas, setidaknya ada sopan santun, karena saya ini orang tua bukan dukun tahu !!!! Kalo Uyut itu dukun/paranormal yang ada di koran di TV bolehlah mereka langsung kabur tanpa pamit karena para dukun itu dibayar dengan uang. Uyut ini orang tua yang ikhlas mendoakan kepadsa mereka asal mereka benar-benar menjalankan amanah orang tua berupa amal ibadah yang baik, memperhatikan dan berjuang untuk orang-orang yang diwakilkannya dan lain-lain. Yang parahnya, tanpa seijin Uyut mereka menaruh barang di dalam kamar pusaka lagi “

” Apa tuh Yut ? “

” Buku QS Yassin dengan gambar-gambar partai mereka, Khan kurang ajar amat Cech masak Tuhan mau disamakan dengan mereka Dasa Geloooo “

” Begini aja Yut, bagaimana kalau ada yang datang lagi kita kenakan tarif Rp 75 juta per orangnya “

” Heeeeehehehehehe benar juga tuh “

” Nanti saya ngatur Yut, 50 juta buat saya, yang 25 juta buat Uyut……..”

” Apa ????? dasar gelo @#$#%^$#^%&$&*(%#$#$ Saya ini orang tua bukan dukun …… “

” Baru tahu kalo Uyut orang tua hahahahaha “

” Dasar Manusia paling Kejam dan keji ….sudah sana ngomong saja ama pohon pisang “

HAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAAAAAA

AAA HAHAHAHAHAHAHA (suara tawa membahana di padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran)

NB : Uyut, maafkan kami karena sering kurang ajar, ceroboh dan melanggar amanah orang tua dan doakan kami menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak…..(berharap disumpahin Uyut jadi orang kaya baik kaya harta, ilmu, amal dan masuk surga hehehhehe)

HIDUP JAHE SURADE HIDUP DURENNNNNN !!!!!!!