Sanghyang Sirah : Mengenal Kembali Sirah Diri

Tepat hari Idul Fitri 1431 Hijriah sekitar jam 10 pagi saya mendapatkan telepon dari Uyut di Sumedang. Setelah bicara ngalor ngidul tiba-tiba Uyut mengatakan kepada saya kalau tanggal 19 September 2010 (hari minggu) sesuai dengan kesepakatan sewaktu kliwonan hari Jumat maka rombongan berjumlah 8 orang yang pergi ke Sanghyang Sirah sewaktu bulan Maulud kemarin (6 bulan yang lalu) diharapkan untuk pergi kembali ke Sanghyang Sirah.

Saya sempat kaget mendengarnya karena ada sedikit trauma pada waktu ke Sanghyang Sirah kemarin dimana 8 orang yang melakukan puasa selama 7 hari dan 4 orang yang mengantar, semuanya terkena penyakit malaria secara bersamaan alias dalam waktu yang sama. Semua merasakan penderitaan saat malaria kemarin. Kejadian tersebut menjadi trauma karena penyakitnya berlangsung lama bahkan ada satu orang yang menjelang berangkat ke Sanghyang Sirah kemarin masih terkena malaria.

Tetapi yang menjadi kuatnya tekad kami walaupun 3 orang dari 8 orang sebelumnya tidak bisa berangkat adalah adanya kesamaan mimpi yaitu semuanya mengarah ke Sanghyang Sirah. Ada yang didatangi oleh orang tua berbaju putih, ada yang bermain-main di pantai Sanghyang Sirah dan lain-lain. Sementara saya hanya merasakan suatu yang tanpa disengaja yaitu 2 hari sebelum lebaran, berulang kali saya memutar-mutar video perjalanan ke Sanghyang Sirah sebelumnya. Kok ada rasa rindu untuk datang kembali ke sana.

Akhirnya tepat hari minggu, 5 orang (rombongan dari Sumedang termasuk Uyut) datang ke rumah saya untuk menjemput. Tetapi sebelumnya mengganti mobil dulu dengan mobil teman yang ada di Cikarang. Kebetulan teman ini menjadi salah satu pengganti dari 3 orang yang tidak bisa hadir. Dan kebetulan juga teman ini baru mendapatkan mobil baru dari kantor sehingga bisa dipakai dengan alasan uji coba.

Kami merasakan persiapan ke Sanghyang Sirah kali ini cukup matang. Kondisi mental tiap orang dalam rombongan, dana, kendaraan yang digunakan masih baru, kesiapan kapal motor dan tidak melibatkan banyak orang luar. Memang semuanya masih diselimuti rasa was-was termasuk ibu saya yang merasa kuatir setelah saya mengatakan akan pergi lagi ke Sanghyang Sirah. Beliau tahu kalau kondisi saya belum fit benar dan sudah 3 hari mengalami batuk berat. Tetapi akhirnya beliau mengijinkan juga.

Sekitar jam 12.30, kami berangkat ke Bandara Soetta untuk menjemput satu orang dari Aceh untuk melengkapi jumlah rombongan yaitu 8 orang. Tetapi baru saja mau berangkat, tiba-tiba teman di Aceh memberi kabar kalau pesawatnya transit dulu di Polonia Medan dan kemungkinan sampai di Cengkareng sekitar jam 5 sore. Ya sudah karena mobil sudah bergerak maka Uyut memutuskan untuk mampir dulu ke Cileduk yaitu rumahnya Pak Budi sambil menunggu waktu jam 5 sore.

Anehnya di rumah Pak Budi, kami bertemu dengan seorang anak muda yang sudah lama menghilang dan dicari-cari oleh Uyut. Pemuda asal Cirebon ini memang aneh dan unik bahkan menyebalkan karena kelakuannya yang tidak biasa menurut ukuran orang biasa. Ya jelas saja wong pemuda itu bukan manusia normal alias masih keturunan siluman hehehe…

Ada satu peristiwa yang cukup membuat kami kaget yaitu saat pemuda tersebut memberikan keterangan tentang sejarah karuhun dan foto-foto makam/petilasan. Dengan lugas dan lancarnya pemuda tersebut menjelaskan ke Uyut dengan menggunakan laptop. Perlu diketahui pemuda ini tidak pernah sekolah tetapi mempunyai kepintaran yang luar biasa. Hanya melihat satu gadget baru maka langsung bisa menggunakannya walaupun akhirnya kalah juga dengan saya yaitu masalah membuat blog hahahaha…

Menjelang pukul 5 sore, rombongan kami berangkat ke Bandara Soetta. Ternyata suasana di bandara macet sekali. Rupanya banyak orang yang baru kembali ke Jakarta setelah mudik lebaran pada hari minggu tersebut. Untuk parkir saja membutuh waktu 1 jam. Setelah melakukan koordinasi, akhirnya teman berhasil dijemput juga walaupun penuh dengan keringat karena harus mencari-cari di kerumunan banyak orang.

Sebelum melanjutkan kami makan-makan dulu di Tangerang untuk mengisi perut karena perjalanan membutuhkan waktu 5 jam sampai di pantai Cipining, Sumur Pandeglang dimana kapal berlabuh. Alhamdulillah selama perjalanan menuju pantai, kami tidak mengalami gangguang atau halangan apapun. Mungkin karena saya yang menyetir hahahaha… Walaupun berat dan berusaha untuk konsentrasi dalam kondisi masih batuk tetapi tekad yang kuat itulah mengakibatkan semuanya berjalan lancar.

Tepat jam 02.06 kami tiba di rumah nahkoda/pemilik kapal bernama Pak Syaukari. Baru saja mobil saya parkirkan. Pak Syaukari sudah muncul dan segera mengajak kami ke tepi pantai. Membutuhkan waktu satu jam untuk memindahkan barang dan kami ke kapalnya dengan menggunakan sampan kecil karena saat itu ombak lagi pasang. Memang sebelumnya tepat maghrib kemarin ada badai yang menerpa daerah tersebut tetapi tidak membahayakan. Walaupun kami yang mendengarnya sempat ketar ketir juga.

Perlu diketahui juga adanya badai tersebut karena bertemunya angin selatan dan angin utara yang menyebabkan gelombang ombak makin dahsyat terutama tepat di titik pertemuan arus yaitu Tanjung Layar. Dalam kondisi masih gelap, kapal masih berjalan dengan baik. Mungkin disebabkan oleh ahlinya Pak Syaukari membawa kapalnya dalam mengarungi besar dan tingginya ombak. Saya sempat juga melihat bagaimana gelombang setinggi 3 meter menyeret kapal dan merasakan mual yang sangat pada saat gelombang ombak naik turun.

Gaya Mengemudi Pak Syaukari yang unik (dok.cech)
sampan kecil sebagai alat transfer barang dan orang ke kapal (dok.cech)

Sekali lagi Alhamdulillah tepat pukul 08.10, kapal sampai di pantai Bidur. Tetapi masih ada masalah dalam memindahkan barang dan orang ke tepi pantai yaitu ombak masih pasang sehingga menyulitkan sampan untuk bisa menepi dengan mulus. Dengan keahlian anak buahnya Pak Syaukari, kami berdelapan dapat menepi ke tepi pantai.

pantai bidur (dok.cech)

Baru saja mau melanjutkan perjalanan sejauh 1 km (butuh waktu 45 menit) menuju Sanghyang Sirah, tiba-tiba sandal saya putus dan rusak sehingga tidak bisa dipakai. Mau tidak mau saya melanjutkan perjalanan tanpa alas kaki alis nyeker. Kalau yang belum tahun kondisi alam di sana maka dianggap mudah tetapi saya harus menahan sakit yang teramat sangat karena seringkali menginjak duri tanaman liar, menahan panasnya pasir pantai, batu karang yang tajam dan lain-lain. Herannya setiap orang menawarkan alas kaki ke saya maka Uyut selalu melarangnya. Ya sudah saya jalani semuanya dengan berusaha gembira sambil meringis kesakitan. Dan ini berlangsung selama pergi dan pulang.

Pukul 10.23 kamipun tiba di Sanghyang Sirah dan istirahat sejenak di mushola yang ada disana. Setelah beberapa menit, Uyut dan teman dari Aceh mandi di pantai Sanghyang Sirah dalam kondisi gelombang ombak yang bergejolak. Sementara teman-teman yang lain mandi di beberapa mata air yang ada di Sanghyang Sirah. Sedangkan saya melepaskan lelah dengan tidur sejenak karena kelelahan menyetir mobil seharian dan mengistirahatkan kaki yang sakit.

Dua Batu Karang Penanda Sanghyang Sirah (dok.cech)
Keraton Nyi Mas Ratu Mayang Sari (dok.Cech)

Pukul jam 11.10, saya dibangunkan oleh Uyut untuk melakukan doa di petilasan Sanghyang Sirah (dalam goa). Sekitar 1 jam kami melakukan tawasulan yang dipimpin Uyut untuk mendoakan para leluhur (karuhun) termasuk orang tua kami yang sudah meninggal dunia. Dari tawasulan itulah kami semua mendapatkan ilham dan petunjuk mengapa 12 orang yang datang ke Sanghyang kemarin mengalami penderitaan lahir batin baik bertupa penyakit malaria maupun urusan ekonomi. Mungkin ini yang dinamakan pengurasan diri atau menuntaskan (mengakhiri) apa yang sudah kami lakukan sebelumnya. Tujuannya adalah agar kami mengenal kembali Sirah Diri (Kepala/Otak yang dimiliki) dengan balutan Keimanan. ” Berjalan  Dalam Diam, Berlari Dalam Tidur “. Selanjutnya kami mandi di kolam Batu Qur’an yang ada di dalam goa sebagai simbol kegembiraan kami dapat sampai kembali di Sanghyang Sirah.

Petilasan Sanghyang Sirah (dok.Cech)

Oh ya, perlu diketahui bahwa kondisi Sanghyang Sirah sudah berubah jauh dan makin tidak terawat. Semua peninggalan kami sekitar 6 bulan yang lalu hilang tanpa bekas. Contohnya tempat makan dan berkumpul dari batu yang pernah kami buat dulu sudah tertutup dengan rumput, rumput dan tanaman liar yang sempat kami bersihkan sudah kembali menutupi jalan menuju Sanghyang Sirah, sampah-sampah pantai kembali berserakkan padahal sempat bersih waktu kami di sana, tempat duduk dari balok kayu sudah hangus terbakar dijadikan api unggun untuk memasak, gelas dari batok kelapa yang kami buat dan titipkan di sana sudah hilang tanpa bekas, botol-botol untuk menyimpan air juga sudah tidak dan masih banyak lagi. Sungguh prihatin kami melihatnya.

Selain itu teman kami yang pernah saya tulis yaitu Wanadi sudah tidak ada di sana alias sudah pulang ke kampungnya di Inderamayu. Kami hanya menemui satu orang anak muda asal Jawa Timur yang sudah 3 bulan menetap di sana. Kamipun berbagi makanan/ransum kepada pemuda tersebut agar dia tidak mengalami kelaparan.

Tepat jam 12.40 kami pamit diri dan berjalan kembali menuju pantai Bidur dimana kapal kami menunggu. Seperti pada awal kami dan barang-barang harus dipindahkan dengan sampan kecil ke kapal yang besar walaupun kali ini ombak tidak sebesar pada waktu kami mau menepi ke pantai.  Perjalanan pulang sangat lancar tanpa ada gangguan apapun. Kami semua sangat menikmati perjalanan tersebut. Tersembul rasa kebahagiaan dan optimisme yang teramat sangat dalam menjalani hidup kedepannya.

Perjalanan satu hari yang singkat, cepat, tepat dan sehat.

NB: Dalam perjalanan ini ternyata tidak ada satupun dari kami yang membawa kamera jadi hanya dokumentasi lama yang bisa ditampilkan.

Matahari Terbenam di Sanghyang Sirah


Didalam Gua Sanghyang Sirah

“Monyet Ngagugulung Kalapa”

ambrosiusbata.blogspot.com

Apa itu Monyet Ngagugulung Kalapa ? Saya rasa orang Sunda akan mengerti tentang ungkapan tersebut. Sebetulnya saya sudah lama ingin menulis tentang ungkapan ini. Kebetulan sekali dengan banyaknya peristiwa yang terjadi di negeri Indonesia dan Kompasiana mengingatkan saya kembali tentang hal tersebut.

Dalam banyak kesempatan banyak orang asing yang saya kenal mengatakan kalau orang Indonesia itu jago sekali dalam membuat konsep bahkan dinilai brilian. Sebuah kebanggaan yang saya terima dari mereka. Namun mereka mengatakan konsep bagus tapi lemah dalam implementasi. Langsung luntur kebanggaan yang ada di dalam diri ini hehehe…

Contoh yang nyata adalah Konsep ideologi yang dibuat oleh Para Pendiri Bangsa yaitu Pancasila dan UUD 1945. Kalau diperhatikan kata per kata atau kalimat per kalimat, saya pikir generasi sekarangpun akan sulit untuk membuat atau meniru penggunaan kata atau kalimat yang dirumuskan oleh Para Pendirii Bangsa. Tetapi kok negara Indonesia tetap saja seperti kendaraan yang jalan di tempat atau kalau mau dikatakan mundur dengan cepat dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Ada apakah gerangan yang terjadi ?

Kalau dibilang sudah terlalu lamanya di jajah oleh Belanda tetapi pada kenyataannya Belanda banyak meninggalkan banyak hal yang baik dan bermanfaat. Misalnya Peta Pola Tanam Komoditi Pertanian yang disesuaikan dengan potensi dan kondisi tanah di setiap daerah di Indonesia, Ilmu Pembukuan dimana Belanda sampai sekarang terkenal dengan manajemen administrasi terbaik di seluruh dunia, aturan hukum dimana Den Hag menjadi pusat Mahkamah Internasional dan masih banyak lagi.

Lho kok Indonesia masih bertahan dengan modelnya sendiri apalagi setelah reformasi maka makin amburadul saja tatanan yang ada di bumi Indonesia ini. Awut-awutan, seenak udelnya, pokoknya gue paling…, dan lain-lain. Jadi tidaklah heran kalau reformasi yang dijalankan selama ini gagal total karena dikerjakan dan dijalankan berdasarkan emosional belaka dan bukan berdasarkan akal pikir dan hati nurani.

Apalagi kalau kita melihat sekarang ini seperti banyak kasus yang timbul tenggelam tetapi tanpa ada penyelesaian. Sepertinya masing-masing pihak yang bertarung saling memegang kartu truf tiap lawan-lawannya dan akan dikeluarkan kalau posisinya dipojokkan. Jadi bukan lagi berpikir demi bangsa dan negara tetapi berdasarkan uang dan kekuasaan. Isu A timbul tetapi bisa saja lenyap dengan menongolkan isu B, kemudian C, D E dan seterusnya. Setelah itu kembali ke A tanpa ada solusi yang tepat dan cepat. Semuanya dibiarkan dan herannya banyak rakyat hanya bisa geram tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Isu yang terakhir dan cukup menyedot perhatian publik adalah masalah hubungan Indonesia dengan Malaysia. Dulu pernah konflik terutama kasus perebutan hak atas Pulau Sipadan dan Ligitan, Ambalat dan sekarang masalah penangkapan petugas Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang sampai sekarang masih ramai dibicarakan. Lagi-lagi penyelesaian yang dilakukan selalu saja lambat dan tidak tegas. Padahal sudah jelas-jelas dan nyata kalau ada unsur arogansi sebuah negara yang m,erasa sudah kaya terhadap negara yang dianggap tertinggal.

Saya ingin bercerita sedikit tentang hubungan RRC dengan Uni Soviet dulu. Mao Zedong sempat tersinggung dengan perkataan Khruschev yang mengatakan bagaimana RRC bisa membayar hutangnya kepada Uni Soviet kalau masyarakatnya saja sudah tidak mampu membeli beras. Apa yang dilakukan oleh Mao Zedong ? Mao langsung memerintahkan dan memobilisasi rakyat Cina di seluruh RRC untuk bekerja keras dan tidak bergantung lagi kepada pinjaman Uni Soviet. Mao mengumumkannya lewat corong radio milik pemerintah PKC. Mao berhasil merubah Cina dan membayar semua hutang-hutang Cina kepada Soviet. Sekarang lihat bagaimana Cina berhasil menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia bahkan banyak pengusaha Cina yang melakukan investasi ke negara-negara bekas pecahan Uni Soviet bahkan seluruh dunia. Kata kuncinya adalah kemandirian atau kata Bung Karno “Berdikari”( Berdiri Di Atas Kaki Sendiri).

Apa yang terjadi sekarang ? Belum apa-apa sudah terlihat ketakutan yang dipertunjukkan oleh Pemimpin kita dalam hal ini presiden dan lebih unik lagi banyak sebagian rakyat yang juga berteriak sama yaitu kalau kita memberi pelajaran kepada Malaysia bagaimana dengan nasib TKI. Kadang kala saya tertawa saat membaca alasan tersebut. Apakah kita takut kelaparan ? Miskin ? Menganggur ? Ingat jumlah penduduk Indonesia besar, negara kita kaya sumber daya alam dan masih banyak lagi keunggulan yang dimiliki oleh bangsa ini. Asal pikiran yang ada di otak pemimpin nasional hanya demi bangsa dan negara. Harga diri itu lebih bernilai daripada kita selalu dihina dan diperbudak oleh bangsa lain. Masih tidak cukupkan bangsa ini dijajah oleh Belanda ? Jepang ?

Saya teringat dengan pembicaraan antara Bung Karno dan Menteri Keuangan Yusuf Muda Dalam yang melaporkan kalau ada investor dari Amerika Serikat dan Barat ada yang berminat untuk mengolah tambang di Indonesia pada tahun 1959. Apa yang dikatakan oleh Bung Karno ? Bung Karno mengatakan silahkan saja mereka berinvestasi di negeri ini tetapi beri konsesi yang kecil saja. yang besar-besarnya nanti diberikan kepada anak-anak negeri bila mereka telah menguasai ilmu dan teknologinya. Itulah mengapa Bung Karno banyak mengirimkan pemuda-pemudi pada sat itu belajar ke luar negeri. Disamping itu pembagian keuntungan yang ditawarkan oleh Bung Karno cukup adil yaitu pembagian keuntungan dilaksanakan setelah kebutuhan dalam negeri tercukupi. Nah yang dibagi adalah kelebihan produksi yang dijual ke luar negeri.

Jelas sekali adanya sikap tegas, elegan, prinsipil, harga diri dan tidak mau didikte oleh pihak asing. Jadi jangan takut dengan hal-hal seperti kemiskinan, kelaparan dan lain-lain kalau sudah bicara bangsa dan negara. Semua itu sudah ditunjukkan oleh orang tua-orang tua kita dulu. Kok kita sebagai generasi penerus masih takut dengan hal-hal tersebut dan mau menggadaikan harga diri. Tetapi pemimpinnya seperti itu sich yaitu korup, kolusi dan nepotisme khan kami tidak berdaya. Hahahaha Kitalah yang memiliki negara ini bukan mereka. Jadi kalau pemimpin negeri ini masih KKN maka kita sebagai pemilik harus mengambil haknya kembali. Dengan cara apa ? REVOLUSI RAKYAT kalau perlu.

Sudah… sudah cukup kita berbicara, berwacana, berpolemik dan meributkan pepesan kosong tetapi tidak berbuat sama sekali. Inilah saya samakan dengan ungkapan Sunda yaitu “Monyet Ngagugulung Kalapa”. Menggulir-gulirkan buah kelapa tetapi tidak pernah bisa membuka dan menikmati nikmatnya air dan buah kelapa. Itulah yang terjadi saat ini.

Terus apa hubungannya dengan kompasiana ? Ya sama. Dibahaslah hal-hal yang sebetulnya berkaitan dengan urusan pribadi yang hakiki terutama berhubungan dengan Sang Pencipta. Terjadilah diskusi yang tidak produktif. Masing-masing mempertahan argumennya dan merasa paling hebat. Kalau sudah begitu apa yang bisa dilakukan bagi kemaslahatan umat ??? Bermanfaat langsung atau tidak dengan banyak orang ??? Implementasinya mana ??? Isu selalu digulirkan dan terjadilah ghibah alias gosip sana gosip sini. Masing-masing pihak saling menyindir, menyinyir, memprotes dan sebagainya. Yang parahnya semua itu dilakukan pada saat puasa di bulan Ramadhan. Bukannya diam dan khusu menjalankan puasa malah asyik bergosip ria bahkan memanas-manasi. Herman ehhh heran…

Sekarang saatnya kita mengurangi bicara dan bergosip ria. Ingat Sinetron PPT ketika Bang Jack mengatakan kepada Azzam untuk diam bila ragu dan tidak mengerti walaupun hal itu berkaitan dengan Sunnah Rasulullah SAW. Permasalahannya adalah keterbatasan yang dimiliki oleh seorang manusia dimana berbeda tingkat keimanannya dengan Rasulullah SAW. Lebih baik diam karena diam adalah selemah-lemahnya Iman.

Lakukan sesuatu dan banyaklah aksi bukan reaksi demi kemaslahatan umat manusia terutama bangsa dan negara Indonesia. Kalau tidak maka jangan salahkah orang asing mengatakan kalau bangsa Indonesia senang sekali memainkan “topeng monyet” dimana disuruh A mengikuti A demi menyenangkan dan menjadi bahan tertawaan pihak luar. Mari kita mulai menyadari kalau orang di sebelah kita adalah saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air walaupun berbeda suku, agama, ras, bangsa dan lain-lain.

Delapan Prabu Siliwangi

dok.cech

Hari ini saya membuat status di FB yang berisikan tentang sosok-sosok Prabu Siliwangi. Lho kok kata sosok memberi kesan kalau Prabu Siliwangi bukan satu orang tetapi banyak orang. Sering kali saya menemui banyak orang yang mengaku-ngaku keturunan Prabu Siliwangi. Tetapi saat saya menanyakan siapa namanya dan dimana makamnya maka yang saya terima hanya jawaban kebingungan alias mutar-mutar tidak karuan. Bukan saya sombong atau lebih tahu tetapi ini penting agar orang-orang yang mengaku keturunan Prabu Siliwangi tersebut terbuka matanya dan mencari tahu siapa yang dimaksud dengan nenek moyangnya (karuhun bahasa sundanya) tersebut. Bukan katanya atau mengaku-ngaku tanpa pernah membuktikan dan menyatakan dengan cara menziarahi karuhun yang dimaksud dengan Prabu Siliwangi tersebut.

Memang banyak literatur yang telah mengupas sosok Prabu Siliwangi tetapi kebanyakan penulisnya berasal dari negeri Belanda dan menulis hanya untuk kepentingan Belanda saat itu. Perlu diketahui Siliwangi itu adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang dianggap telah menguasai arti Silih Asuh, Silih Asih dan Silih Wawangi dalam laku lampahnya sehari-hari. Karenanya itu orang tersebut pantas mendapatkan gelar Prabu Siliwangi.

Perlu diketahui sekian lama saya banyak berkecimpung dengan budaya Sunda dan kebanyakan orang Sunda akan merasa kaget setelah mengetahui asal usul saya. Bapak saya keturunan Jawa dan Ibu Keturunan Sumatera. Jadi jelas sekali sangatlah mengagetkan bagi mereka yang merasa orang Sunda atau merasa keturunan Sunda pada saat mendengar saya bercerita tentang perjalanan ziarah karuhun mereka dan hafal nama-nama karuhun mereka. Tetapi satu hal masih banyak informasi tentang kesundaan yang belum diketahu karena keterbatasan bahasa Sunda yang saya miliki.

Kembali ke masalah Siliwangi, Uyut saya pernah mengatakan kalau gelar itu hanyalah mainan alias boneka-bonekaan agar orang Sunda menyadari betapa luhurnya nilai adat istiadat dan budaya Sunda yang melekat dengan nama Siliwangi tersebut. Atas seijin para orang tua, sepuh dan Uyut yang saya hormati maka dengan ini saya ingin menjelaskan tentang sosok Siliwangi ini. Siliwangi identik dengan gelar Hamengkubuwono (Sultan Ngayogyakarto Hadiningrat) yang jumlahnya ada 10 orang. Kalau Prabu Siliwangi berjumlah 8 orang. 8 bagi orang Sunda adalah angka tertinggi (kesempurnaan) dan mengandung makna dalam karena berkaitan dengan alam semesta.

Sebenarnya siapa saja 8 orang yang mempunyai gelar Prabu Siliwangi tersebut :

1. Prabu Tajimalela (Petilasannya ada di banyak tempat, salah satunya ada di Gunung Masigit, Cibubut Sumedang).

2. Prabu Lembu Agung (Petilasannya juga banyak tetapi yang terkenal ada di Makam Agung Desa Cipaku Sumedang).

3. Prabu Batara Anggara (Petilasannya juga banyak tetapi yang terkenal ada di Gunung Salak Bogor).

4. Prabu Tarumanagara atau terkenal dengan nama Sri Baduga Maharaja ( Petilasannya yang terkenal ada di Prasasti Batu Tulis Bogor).

5. Prabu Walang Sungsang Cakra Buana ( Petilasannya ada di daerah Turusmi, Cirebon).

6. Prabu Munding Wangi ( Kalau Prabu Munding Wangi dianggap Ngahyang alias tidak jelas dimana petilasan ata makamnya tetapi banyak yang menduga berada di Sancang 21 perbatasan Garut-Tasikmalaya).

7. Prabu Kian Santang (Sama seperti Prabu Munding Wangi yaitu menghilang alais tidak jelas makamnya tetapi banyak orang yang menziarahi ke Godog Suci Cibiuk Garut).

8. Prabu Geusan Ulun ( Raja Sumedang Larang sebagai penutup atau sengaja dihilangkan kerajaan Galeuh Pakuan Pajajaran dan makamnya ada di Makam-makam Raja Sumedang di Kota Sumedang).

Mudah-mudahan dengan penjelasan ini membuat orang Sunda atau merasa keturunan Sunda mulai menyadari akan jati dirin ya sebagai orang Sunda dan bukan hanya sekedar mengaku-ngaku. Ada satu hal yang perlu saya ingatkan bahwa banyak sekali orang Sunda yang membangga-banggakan barang-barang pusaka milik karuhun seperti kujang, kilab bahu, mahkota, dan lain-lain tetapi hanya sebatas bangga dan tidak pernah mau mencari tahu siapakah yang membuat barang-barang pustaka tersebut. Atau mencari tahu dimanakah makam-makam karuhun yang membuat barang-barang pusaka tersebut. Ziarahilah makam-makam mereka karena dari merekalah orang Sunda berasal dan jangan gampang mencap musyrik karena orang yang mengatakan musyrik tersebut justru yang tidak mengerti tentang jati dirinya. Jangan sampai kalian orang Sunda malah dikaitkan dengan istilah Dasar Sundel karena Sunda itu bisa berarti Susunan Dasar yang berlandaskan Pajajaran (sama ajarannya yaitu ketauhidan) dan bukan Pejajaran. Saya saja bukan orang Sunda tertarik terhadap budaya Sunda, masak orang Sunda sendiri tidak mau sama sekali tertarik dengan ajaran Sunda. Apa kata dunia ? Dari batukah asal kalian ?

Mempertanyakan Kesundaanku

Cepot

Tanpa terasa sudah hampir 12 tahun, saya bersinggungan langsung dengan segala hal yang berhubungan dengan kata “SUNDA”. Kata-kata seperti Prabu Siliwangi, Galeuh Pakuan, Pajajaran, Maung, Cepot sampai pada kalimat Si Mbah Dalem Lancingan sekalipun hehehehehe. Memang sungguh aneh dan sering menimbulkan tandsa tanya kenapa saya sampai cebur ke dalam hal-hal kesundaan. tapi sudahlah memang ini sudah menjadi jalan hidup saya di dunia. Sebelum saya menguraikan lebih lanjut mengenai judul diatas. Saya akan menceritakan asal-usul keluarga saya.

Saya lahir di Jakarta, peranakan campuran 2 suku besar di tanah air ini yaitu Jawa Tengah (Bapak) dan Bengkulu (Ibu). Mungkin inilah yang membuat banyak orang termasuk keluarga besar, teman-teman dan orang yang baru kenal bertanya-tanya kenapa saya bisa tercebur kedalam kesundaan. Saya pun tidak tahu dan tidak mau tahu karena dari lubuk hati yang paling dalam saya mengalami kepuasaan batin dan menyenangi atas apa yang telah diperbuat selama ini.

12 tahun yang lalu saya berkenalan dengan seorang yang katanya orang tua/sepuh Sumedang. Awalnya saya menganggap ini hanya sebuah perkenalan biasa yang terjadi sesaat dan tidak menduga kalau saya bisa berhubungan erat dengan orang tua ini sampai 12 tahun. Banyak orang cerita tentang kesaktian beliau tapi saya selalu menganggapnya itu sebagai suatu hal yang kebetulan saja. Orang-orang yang berkata itu hanya mengalami halusinasi atau ekstasi berlebihan atas kesaktian Beliau. Saya orang yang sangat rasional dan logika berpikir selalu dikedepankan. Tapi semua itu rontok satu persatu setelah saya mengalami langsung ketika selama beberapa tahun jalan bersama lewat suatu pembuktian yang selalu saya istilah “BUKTIKAN DAN NYATAKAN”

Tanpa diduga beliau lewat laku lampahnya atau perbuatan sehari-hari menjabarkan apa yang dimaksud “Buktikan dan Nyatakan” tersebut tanpa perlu demo/atraksi/circus/sulap/ debus/pertunjukkan kesaktian. Tetapi saya diajarkan tentang pengenalan diri, lingkungan dan lain-lain dengan memanfaatkan “IQRA” seperti yang diajarkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak pernah memberikan suatu amalan berupa ayat-ayat yang jelimet tapi cukup dengan “Al Fatihah” terutama untuk mendoakan diri sendiri dan orang tua yang telah meninggal dunia. Dari situlah dimulai pengenalan tentang kesundaan.

Pengenalan kesundaan yang dilakukan adalah dengan sering melakukan ziarah ke makam-makam karuhun orang Sunda, melakukan tawasulan (mendoakan orang tua sendiri dan para karuhun yang telah meninggal dunia) dan secara tidak langsung dan tidak disengaja akhirnya mengenal seni dan budaya Sunda seperti wayang golek, jaipongan dan lain-lain.

Saya merasa lebih mengenal tentang Sunda dibanding dengan budaya asal orang tua terutama budaya Jawa (dari Bapak) dengan segala pernak-perniknya walaupun saya sempat sekolah selama 6 tahun di Yogya. Memang saya masih bisa sedikit-sedikit bicara dalam bahasa Jawa walaupun tidak terlalu fasih bahkan sering ditertawakan oleh teman-teman kuliah dulu sampai sekarang karena bahasa jawa saya yang amburadul atau campur aduk tidak karuan mana ngongko, kromo, bahasa pergaulan tidak jelas hehehehe. Inilah yang sering orang merasa heran kok bisa-bisanya saya bisa bersinggungan dengan hal-hal yang berbau Sunda.

Terus terang saya kurang begitu paham dan fasih kalau orang-orang berdialog dalam bahasa Sunda maka itu kadang-kadang saya meminta orang asli Sunda untuk menerangkan maksud pembicaraan tersebut. Tetapi herannya setiap ada acara “Ngancik Karuhun”, saya bisa menangkap apa yang diucapkan. Tidak tahu kenapa ????

Oh ya ada satu hal yang didapat oleh saya selama ini yaitu saya bisa bertemu dengan para sepuh orang Sunda baik yang namanya Ajengan, Aki, Uyut dan lain lain seperti Uyut Jenggot, Uyut Jambrong, Uyut Papah, Uyut Papak, Uyut Gelung, Aki Syar’i, Aki Korek, Eyang Sukma Nur Rasa, Mbah Tukiman dan lain-lain. Karena merekalah saya mengerti tentang sejarah karuhun atau orang bilang tentang sejarah Galeuh Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi. Tetapi inipun membuat saya makin tidak mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan karuhun dan sejarahnya atapun siloka-siloka yang sering dikeluarkan lewat kitab/serat dan lain-lain.

Banyak teman-teman atau orang yang merasa heran dan bertanya-tanya kenapa saya berani-beraninya membuat suatu komunitas yang berhubungan dengan kesundaan terutama sejarah para karuhun. Saya pun tidak tahu juga kenapa dan ini saya lakukan karena amanah yang diberikan oleh para orang tua agar saya memulai untuk membuat apapun yang berhubungan dengan karuhun lewat media apapun termasuk media elektronik atau dunia maya seperti Kompasiana ini. Dengan pikiran yang sederhana yaitu niat yang tulus untuk menjalankan amanah orang tua, saya menjalankan itu semua walaupun menaggung resiko untuk dipertanyakan apa maksud dan tujuannya apalagi dipertanyakan tentang kesundaan yang terdapat di dalam diri saya (dilihat dari asal usul keluarga).

Ada satu kejadian yang berhubungan dengan komunitas kesundaan yaitu masalah Situs Jatigede dimana di lokasi situs-situs tersebut akan dibangun Bendungan Jatigede (silahkan KLIK DISINI ). Saya merasa sedih dan menolak bahkan mengutuk apabila pemerintah terus melanjutkan programnya tersebut. Karena apa? Kalau benar dibangun bendungan di areal tersebut maka orang Sunda dan keturunannya terutama Sumedang Larang sebagai cikal bakal Galeuh Pakuan (dari Eyang Wali Aji Putihnya) akan kehilangan asal usulnya dan bukti sejarah yang menyatakan di situs-situs itulah para karuhun atau nenek moyang Sunda pernah mendirikan kerajaan Sunda Buhun (asal usul) sebelum adanya kerajaan-kerajaan yang pernah ada di tataran Sunda. Ironis sekali sementara negeri-negeri Barat terus mencari asal-usulnya dan melestarikan peninggalan nenek moyangnya malah bangsa Indonesia melenyapkan satu per satu peninggalan sejarah nenek moyangnya.
Yang lebih mengherankan adalah ketika saya membaca satu komentar di komunitas dimana seseorang yang mengaku orang Sunda dan menggunakan nama Sunda dngan entengnya mengatakan “walaupun kakek-kakek atau nenek moyang saya termasuk di dalam situs jatigede yang akan ditenggelamkan tetapi tidak masalah tuh khan mendapatkan ganti rugi dari pemerintah apalagi rencananya benda-benda atau segala sesuatu yang berhubungan dengan situs akan dipindahkan juga oleh pemerintah ke suatu daerah tertentu ” Miris hati ini setelah membaca komentar tersebut, dipikirnya mudah memindahkan itu semua dan apakah sudah begitu parahkah perhatian generasi penerus saat ini atas peninggalan para karuhun. Apakah semuanya harus dinilai dengan materi atau kebendaan seperti uang sehingga menutup mata tentang asal usul keberadaan orang Sunda sekarang dengan mengatakan itu semua adalah masa lalu ????? Jangan-jangan orang-orang tersebut berasal dari batu (bukan manusia) yang tidak mempunyai rasa dan perasaan.

Maaf !!! Itu adalah kata pertama yang saya ucapkan kepada seluruh orang Sunda atau yang merasa keturunan Sunda, apabila selama ini saya banyak cerita tentang Sunda padahal saya tidak fasih berbahasa Sunda apalagi menulis dengan menggunakan aksara Sunda. Inilah yang menyebabkan saya mempertanyakan kembali “Kesundaan” saya karena saya tahu banyak orang sunda yang lebih mumpuni tapi saya berharap jangan sampai kalian melupakan kesundaannya.

Kepulauan Sunda Besar (Wikipedia.com)

Kepulauan Sunda Kecil (Wikipedia.com)

Saya adalah orang yang tidak tahu apa-apa tentang segala hal yang berhubungan dengan Sunda apalagi kalau bicara tentang “UGA WANGSIT SILIWANGI” tetapi saya punya keyakinan dan ingin melihat/mengalami kejayaan kembali Galeuh Pakuan Pajajaran dengan memimpin negeri tercinta ini. Tahun 2014 saya pikir saat yang tepat untuk PUTERA GALEUH PAKUAN PAJAJARAN menjadi Pemimpin Nusantara sehingga bukan sekedar pemimpin Jawa (dalam hal ini suku Jawa) atau luar Jawa yang mendominasi kepemimpinan nasional tapi Putera Sunda (Galeuh Pakuan Pajajaran) juga bisa menjadi Pemimpin. JAS MERAH (Jangan Sekali-kali Meninggalkan/Melupakan Sejarah). Lihat kembali sejarah penamaan pulau-pulau di nusantara ini. Kenapa dinamakan Sunda Besar dan Sunda Kecil ? Saya berharap orang Sunda bangkit dan mencari jawaban tentang sejarah penamaan tersebut. Jangan tanya kepada saya karena saya sendiri sedang mempertanyakan “kesundaan” saya.

Kisah Prabu Munding Wangi

Lambang Penyatuan Pajajaran (dilambangkan dengan sosok macan) dan Galeuh Pakuan (sosok naga) sehingga menjadi Kerajaan Galeuh Pakuan Pajajaran (dok. Cech)

Sudah cukup lama saya tidak menulis tentang sejarah Sunda terutama sejarah Kerajaan Pajajaran. Dalam rangka menumbuh kembangkan budaya tutur tinular yang merupakan warisan budaya nenek moyang (karuhun) maka sore ini saya menuliskan kembali bagian terkecil dari sejarah Kerajaan Pajajaran. Sejarah yang ingin saya tuliskan berkisah tentang salah satu Raja di salah satu kerajaan Pajajaran yaitu Prabu Munding Wangi (Prabu Siliwangi ke-6).

Mungkin banyak orang yang baru mengenal dan mendengar nama Prabu Munding Wangi. Perlu diketahui Prabu Munding Wangi ini adalah bapak dari Prabu Kian Santang yang terkenal itu. Prabu Munding Wangilah yang mengakhiri kerajaran Pajajaran. Kemudian Prabu Munding Wangi mengeluarkan wasiat yang sangat terkenal yaitu Uga Wangsit Siliwangi. Penghilangan kerajaan Pajajaran terjadi setelah Prabu Munding Wangi menyerahkan seluruh kerajaan Pajajaran termasuk isteri, rakyat dan 4 orang patihnya yang terkenal yaitu Sanghyang Hawu, Sanghyang Konang Hapa, Batara Nanggana, dan Batara Cengkar Buana kepada Prabu Geusan Ulun, Raja Sumedang Larang. Sejak saat itu nama kerajaannya menjadi Kerajaan Galeuh Pakuan Pajajaran dan selanjutnya menjadi Kerajaan Sumedang Larang.

Sebagai raja yang beragama Hindu, mungkin bagi banyak orang dikatakan aneh. Anehnya ? Beliau menyerahkan kekuasaan Kerajaan Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulun dengan satu syarat yaitu seluruh rakyat Pajajaran dan Sumedang Larang termasuk 4 orang patihnya diharuskan masuk Islam. Nah sejak menjadi kerajaan Islam itulah keempat patihnya berubah nama menjadi Patih Jaya Perkasa, Konang Hapa (Mbah Jenggot), Nanggana dan Terong Peot.

Ketika ditanya oleh Prabu Geusan Ulun, mengapa syaratnya masuk Islam sedangkan Prabu Munding Wangi sendiri tetap menganut agama Hindu yang kemudian menghilang (konon ngahyang alias menghilang entah kemana). Jawaban beliau sungguh mengesankan yaitu

” Aku telah mengetahui akan datangnya ajaran penyempurna dai Sanghyang Wenang maka itu aku menginginkan anak cucuku menjadi manusia yang sempurna dan kelak menjadi penghuni surga nomor utama (Nirwana dalam Hindu). Ingat Geusan Ulun, ibarat awal mula air. Dari mata air mengalir ke sungai kecil, menjadi sungai besar, bermuara ke laut dan air di laut mengalami proses kondensasi menjadi hujan di gunung sehingga menjadi mata air. Jadi awal dan akhirnya jelas. Semuanya kuserahkan kepada anak cucuku untuk memilih. Mana yang terbaik dan diyakini oleh mereka. “

Luar biasa sekali dengan ucapan Prabu Munding Wangi. Mungkin sudah jarang kita melihat kejadian tersebut. Keikhlasan memberi tanpa mengharapkan apa-apa sekalipun pertaruhannya adalah harta, tahta dan wanita. Disitulah makna keadilan sebenarnya dan sesuai dengan yang dikatakan oleh Nabi Musa AS dalam mengartikan adil yaitu bersedia menderita demi kebahagiaan orang lain.

Singkat cerita, pada sekitar abad ke-14 ada sebuah kerajaan yang masih bagian dari kerajaan Pajajaran yaitu Kerajaan Gerbah Labuan. Pada saat itu kerajaan Gerbah Labuan dipimpin oleh seorang Raja sekaligus pendeta bernama Prabu Batara Anggara. Prabu Batara Anggara hanya mempunyai satu orang anak yaitu Pangeran Munding Wangi. Pada saat menjelang ajalnya Prabu Batara Anggara mengamanatkan kepada Patihnya yang masih adik kandungnya sendiri yaitu Patih Gerbah Menak dihadapan seluruh keluarga kerajaan. Apabila Prabu Batara Anggara mangkat maka kerajaan Gerbah Labuan diwariskan dan dikuasakan kepada anak tunggalnya yaitu Pangeran Munding Wangi.

Tepat mangkatnya Prabu Batara Anggara, Pangeran Munding Wangi masih berumur 9 tahun. Sesuai dengan amanat Prabu Batara Anggara maka kekuasaan kerajaan jatuh kepada anak tunggalnya. Karena masih anak-anak maka untuk sementara Pangeran Munding Wangi didampingi oleh pamannya sendiri., Patih Gerbah Menak.

Amanah tinggallah amanah. Memang sudah watak manusia yang selalu diselimuti oleh keserakahan. Rupanya Patih Gerbah Menak tergiur juga untuk menguasai kerajaan Gerbah Menak. Caranya adalah menyingkirkan Pangeran Munding Wangi dari tampuk kekuasaan. Karena masih keponakan sendiri, Patih Gerbah Menak tidak melakukan aksi pembunuhan kepada Pangeran Munding Wangi tapi dengan trik yang bisa dikatakan halus sekali.

Triknya adalah memberikan informasi yang salah yaitu untuk menjadi Raja maka Pangeran Munding Wangi harus melakukan satu acara ritual yaitu mandi 100- macam rempah-rempah. Dikatakan oleh Patih Gerbah Menak kalau acara ritual ini dilakukan agar Pangeran Munding wangi menjadi Raja yang sakti mandraguna dan dianggap sebagai utusan dewa. Karena masih usia kanak-kanak, Pangeran Munding Wangi mengiyakan apa yang dikatakan oleh pamannya sendiri. Kemudian acara ritual mandi di air kolam yang telah diisi oleh 1000 jenis rempah-rempah tepat jam 12 malam purnama.

Apa yang terjadi ? Betapa kagetnya Pangeran Munding Wangi melihat sekujur tubuhnya berubah menjadi hitam seperti orang kulit hitam setalah selesai mandi. Semua orang yang menyaksikan terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi. Karena tubuhnya yang berwarna hitam pekat maka Pangeran Munding Wangi merasa malu dan tidak mau keluar dari kamarnya. Hal ini dimanfaatkan oleh Patih Gerbah Menak untuk menguasai kerajaan Gerbah Labuan. Lama kelamaan Pangeran Munding Wangi menjadi seorang penyendiri. Kadang-kadang pikirannya kalut dan bertingkah laku layaknya orang gila.

Keadaan Pangeran Munding Wangi yang jatuh mental dan pamornya maka dengan tangkasnya Patih Gerbah Menak menyarankan Pangeran Munding Wangi untuk menyingkir dahulu dari rakyat dan kerajaan Gerbah Labuan. Pangeran Munding Wangi mengikuti saran pamannya yaitu menyingkir dari kerajaan dan tinggal di hutan. Di hutan itulah tempat yang tepat bagi Pangeran Munding Wangi untuk mengobati kelainan kulit yang dideritanya. Dikatakan juga oleh pamannya, sebaiknya jangan kembali ke kerajaan sebelum kulit tubuhnya kembali normal dan diiming-imingi kalau Pangeran Munding Wangi akan sering dikunjungi oleh keluarga kerajaan.

Selanjutnya apakah yang terjadi dengan nasib Pangerang Munding Wangi ? Ternyata apa yang dikatakan pamannya hanyalah isapan jempol belaka. Sejak masuk hutan, Pangeran Munding Wangi dibiarkan hidup sengsara dan sendiri di tengah hutan yang angker dan dipenuhi oleh bintang buas. Tak ada seoranpun keluarga kerajaan yang datang mengujunginya karena dilarang oleh Patih Gerbah Menak. Tanpa terasa waktu terus berjalan hingga 10 tahun.

Tapi kembali lagi Sanghyang Wenang mempunyai rencana yang lain bagi nasib Pangeran Munding Wangi. Saat Pangeran Munding Wangi yang telah berusia dewasa tertidur di saung sederhananya, Pangeran Munding Wangi bermimpi didatangi oleh seorang pria tua seperti resi agar dia bersabar dan tabah dalam menjalani hidup. Yakin kepada diri sendiri, yakin kepada Sanghyang Tunggal dan ingat selalu amanah/nasehat orang tua. Kemudian Patih Munding Wangi diperintahkan untuk pergi ke arah timur. Begitu kagetnya Pangeran Munding Wangi ketika terbangun dari tidurnya. Percaya tidak percaya dengan mimpinya, Pangeran Munding Wangi memutuskan untuk mengikuti mimpinya.

Setelah berhari-hari berjalan, Pangeran Munding Wangi tiba di sebuah daerah yang ternyata masih bagian dari Kerajaan Pucuk Umum. Kerajaan Pucuk Umum juga masih bagian dari kerajaan Pajajaran. Kemudian Pangeran Munding Wangi bertemu dengan sepasang suami istri berusia lanjut. Ternyata mereka adalah abdi dalam kerajaan Pucuk Umum. Sang Suami bekerja sebagai penjada dan perawat kuda kerajaan. Melihat penampilan Pangeran Pucuk Umum yang menyedihkan hati maka sepasang suami istri tersebut mengajak Pangeran Munding Wangi untuk menetap di rumahnya. Kebetulan pasangan ini tidak dikarunia anak sehingga sejak saat itu Pangeran Munding Wangi diangkat menjadi anaknya.

Setiap hari Pangeran Munding Wangi membantu ayah angkatnya sebagai pemelihara dan perawat kandang dan kuda kerajaan. Karena sikapnya yang baik, rajin, tidak pernah mengeluh, pemberani, ilmu kanuragannya yang tinggi dan ringan tangan maka Pangeran Munding Wangi disukai banyak orang. Cuma sayangnya kulit Pangeran Munding Wangi hitam legam sehingga menjadi kendala bagi para wanita yang ingin mendekatinya. Kebersahajaan Pangeran Munding Wangi sempat didengar oleh anggota kerajaan dan menjadi topik pembicaraan sehingga Raja Pucuk Umum pun menjadi tertarik untuk menemuinya.

Akhirnya Raja Pucuk Umum memanggil secara pribadi Pangeran Munding Wangi di istananya.

” Wahai anak muda, kudengar kau sangat disukai oleh rakyatku. Siapakah gerangan dirimu ? “

” Ampun baginda, saya hanyalah manusia biasa dengan kondisi tubuhku yang hitam legam. Aku datang dari negeri yang jauh sekali dan diangkat anak oleh sepasang suami istri tua yang telah mengabdi kepada Baginda bertahun-tahun. “

” Ohh begitu. Kalau kulihat dari penampilanmu. Memang rupa dan kulit tubuhmu sangatlah menyeramkan. Tetapi sesungguhnya kau orang baik. Siapakah namamu sebenarnya ? “

” Namaku Munding Wangi, Baginda “

Selanjutnya terjadilah pembicaraan yang panjang diantara keduanya.Tanpa diketahui oleh keduanya, ternyata Puteri Raja Pucuk Umum bernama Intan Dewata mengikuti pembicaraan tersebut. Dengan memperhatikan secara teliti sosok Pangeran Munding Wangi, Puteri Intan Dewata merasakan aura aneh dan luar biasa efeknya dari seorang Munding Wangi. Sejak saat itu Puteri Intan Dewata seringkali pergi ke istal kerajaan walau hanya sekedar melihat Pangeran Munding Wangi.

Akhirnya Puteri Intan Dewata tidak kuasa juga menahan keingintahuannya. Pada suatu hari Puteri Intan Dewata menghampiri Pangeran Munding Wangi. Dengan sedikit malu dan takut, Puteri Intan Dewata mengajukan banyak pertanyaan kepada Pangeran Munding Wangi. Karena tutur katanya yang sopan santun dan lembut di dengar maka tanpa terasa timbullah rasa suka Puteri Intan Dewata kepada Pangeran Munding Wangi.

Kemudian Puteri Intan Dewata mencurahkan perasaannya kepada Pangeran Munding Wangi.

” Hai Puteri Intan Dewata, apakah puteri tidak merasa malu berdekatan denganku ” Tanya Pangeran Munding Wangi.

” Mengapa harus malu ? Apakah ada yang salah bila aku mendekatimu ? “

” Kau tahu sendiri, bagaimana nanti orang-orang bicara ? Aku ini hanyalah pemuda biasa buruk rupa dan kulitku hitam. Berbeda dengan kebanyakan orang. “

” Kau salah Munding Wangi. Aku tidak melihat penampilan luarmu. Tapi aku melihat sesuatu yang luar biasa dari dirimu. Aura terang benderang yang hanya dimiliki oleh keturunan tetesan Wisnu. “

” hahahaha Puteri membuatku tertawa. Lupakan saja “

” Tidak, aku tidak mau. Aku meyakini kalau kau memang diutus oleh Sanghyang Wenang untuk mengisi relung hatiku “

” Hahahaha Puteri makin membuatku tertawa terbahak-bahak “

” Terserahlah kepadamu, Munding Wangi “

” Terus apa yang akan kau lakukan ? “

” Aku akan tetap mencintaimu karena aku yakin kaulah pria impianku. Munding Wangi, apakah kau tidak suka padaku ? “

Pangeran Munding Wangi langsung terdiam. Sebenarnya Pangeran Munding Wangi jatuh hati kepada Puteri Intan Dewata tapi Pangeran Munding Wangi merasa Puteri Intan Dewata tidak mungkin mencintainya. Akhirnya Pangeran Munding Wangi secara jujur menyatakan cintanya kepada Puteri Intan Dewata.

Bagaimana denga Raja Pucuk Umum setelah mengetahui Puteri satu-satunya menyukai pria buruk rupa dengan kulit hitam legam. Sebelum Raja Pucuk Umum mengetahui kabar tersebut dari pihak ketiga maka Puteri Intan Dewata menemui Raja dan mengatakan secara terus terang kalau Puteri Intan Dewata sangat mencintai Pangeran Munding Wangi. Diceritakan lah semua alasannya seperti mimpinya bertemu seorang pangeran tampan dengan ciri yang mirip dengan Pangeran Munding Wangi. Puteri Intan Dewata siap menerima resikonya. Tanpa diduga Puteri Intan Dewata mengatakan kalau Pangeran Munding Wangi akan berubah menjadi wujud aslinya tepat malam bulan purnama. Raja Pucuk Umum tidak bisa berbuat apa-apa karena rasa sayangnya yang teramat sangat kepada puteri satu-satunya tersebut.

Tepat malam bulan purnama, saat itu Pangeran Munding Wangi merasa gerah dan mandi di kolam dekat kandang kuda. Pangeran Munding Wangi tidak menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya setelah mandi. Tepat bulan purnama dimana posisi bulan tegak lurus dengan bumi, betapa Pangeran Munding Wangi merasa kaget saat melihat wajahnya di air kolam. Bak melihat cermin kaca, yang biasanya Pangeran Munding Wangi tidak melihat wajahnya di air maka pada malam itu Pangeran Munding Wangi melihat wajahnya dengan jelas. Betapa gembiranya Pangeran Munding Wangi menyambut perubahan fisik yang ada pada dirinya.

Berita perubahan fisik Pangeran Munding Wangi, akhirnya terdengar di telinga kerajaan. Raja Pucuk Umum sempat kaget dan terkagum-kagum saat bertemu Pangerang Munding Wangi, Wujud pria tampan, berkulit putih mulus tanpa cacat dan tampak sekali pancaran aura di wajahnya. Raja langsung memanggil Puterinya yang sejak awal meyakini adanya perubahan pada Pangeran Munding Wangi. Raja Pucuk Umum mengucapkan permohonan maafnya karena tidak mempercayai omongan puterinya sendiri. Ternyata keyakinan puterinya tidak meleset dan benar adanya pilihan hidup bagi puterinya tersebut.

Singkat cerita, akhirnya Puteri Intan Dewata menikah dengan Pangeran Munding Wangi. Pangeran Munding Wangipun menceritakan siapa dirinya kepada Raja dan Isterinya. Ternyata memang tidak salah pilihan Puteri Intan Dewata pikir Raja Pucuk Umum kalau Pangeran Munding Wangi masih keturunan bangsawan. Setelah mendengar secara detil cerita Pangeran Munding Wangi maka Raja memanggil seluruh perangkat kerajaannya. Raja memutuskan untuk melakukan penyerangan ke kerajaan Gerbah Labuan. Ini dilakukan untuk mengembalikan kembali hak Pangeran Munding Wangi. Pangeran Munding Wangilah yang sebenarnya Raja Gerbah Labuan.

Dalam waktu yang tidak lama, akhirnya Kerajaan Gerbah Labuan berhasil ditaklukkan dan Pangeran Munding Wangi dikembalikan posisinya sebagai Raja Gerbah Labuan. Sementara Patih Gerbah Menak ditangkap dan dihukum mati. Sejak itulah Pangeran Munding Wangi menjadi Prabu Munding Wangi dengan permaisurinya, Ratu Intan Dewata.

Begitulah kisah Prabu Munding Wangi yang diceritakan berdasarkan tutur tinular dari Uyut saya. Mudah-mudahan dapat diambil hikmahnya. Renungkanlah.

SAMPURASUN RAMPES

Marah Dalam Diamku

in silent rage (www.artbyjana.com)

Kami tahu kalau kau marah sekali. Tetapi kami memohon kepadamu untuk menahannya. Karena kami tahu kalau kau marah maka kau diam. Itulah yang kami takutkan. Tertawalah dan nikmati hidup ini dengan canda. Sekali lagi kami mohon karena kami tahu dan takut kalau kau marah dalam diammu. Amarah batinmu itulah yang kami takutkan karena semuanya bisa menjadi kenyataan. Kami telah menyaksikan semua akibat dari amarah batinmu. Seceduk metu seucap nyata.

Kau datang dalam kondisi yang mengenaskan. Kuterima semua kekuranganmu dan aku tahu kau dalam kondisi susah walaupun sebetulnya aku muak melihat bila mengingat masa lalu.

Ingatkah ? Saat kau berada di puncak karirmu. Sekali ku menelponmu dan meminta bertemu denganmu agar kawanku bisa dicarikan kerja. Tapi apa yang kau katakan kepadaku. ” Ahhh kau ini bagaimana ? Hidup kau saja sudah susah dan luntang lantung masih saja memikirkan orang lain. Pikirkan saja dulu hidupmu. “

Ingat khan ?! Tapi apa yang terjadi kemudian, aku masih bisa menerimamu sebagai keluarga. Kau datang hanya dengan sendal jepit butut, kurus kering dan menangis di hadapanku kalau kau dan keluargamu sudah seminggu tidak makan. Apalagi saat itu bulan suci Ramadhan. Aku selalu mengingat kejadian tersebut. Bukan aku ingin dipuji atau dianggap riya. Aku ikhlas dan kau tahu sendiri kalau saat itu hidupku juga sama denganmu, Tetapi aku lebih beruntung karena aku mempunyai banyak teman yang membantu. Itulah buah dari silaturahim yang selalu kujalani. Susah atau senang kondisi teman tetap saja ku usahakan untuk mengunjungi. Bagaimana dengan kau ?!

Lihat kondisimu saat itu. Tak ada yang menolongmu bahkan saudara kandung sekalipun. Tetapi aku masih punya hati nurani. Karena aku merasa yakin kalau manusia itu pada dasarnya baik dan yang kubenci dari manusia itu adalah perbuatannya.

Dengan segala cara kubantu agar pada bulan suci itu kau dan keluargamu mendapatkan kenikmatan dan kemurahan dari Allah SWT. Bukan aku yang menolongmu tapi Allah SWT karena aku hanyalah perantara yang tidak punya apa-apa.

Seiring jalannya waktu, kau selalu datang ke tempatku. Dengan seringnya kau bersilaturahim maka kau mendapatkan cahaya kehidupan. Kau bisa bekerja kembali dan keluarga besarmu kembali memandangmu. Tidak lagi mengecilkanmu.

Tapi apa balasanmu kepadaku ? Kau berkhianat dan tidak amanah. Kau ingkari semua dan tidak menganggap segala kebaikan yang diberikan dari aku dan teman-temanku. Kau katakan kepada semua orang kalau kami telah menjerat dan mengikatmu sehingga kau tidak bisa berbuat apa-apa. Seolah-olah kami menghambat perkemabngan karirmu. Kami akan sangat berbahagia kalau kau sukses. Ya sudah kalau kau menilai kami sebagai orang-orang yang tidak berguna dan mematikan rejekimu. Kami terima semuanya dengan ikhlas bahkan ikhlas kalau segala apa yang kami berikan selama ini tidak ada pahalanya. Ambil dan ambillah pahala itu Asal kau tahu kalau kami tidak iri dan cemburu melihat keberhasilanmu. Karena kami tahu Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.  Rahman Rahim Nya itulah yang menjadi dasar kami berbuat.

Marahkah aku ? Kalau ku ingat semua pengkhianatan ini maka aku akan marah. Tetapi aku tidak bisa karena kau telah kuanggap saudara. Tapi aku juga merasa kuatir kalau kau tiba-tiba membuatku diam. Itulah yang kutakutkan yaitu MARAH DALAM DIAMKU

Sanghyang Dulang

Sanghyang Dulang bagi banyak orang terasa asing didengar. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui siapakah sebenarnya Sanghyang Dulang. Dari namanya “Dulang” maka orang akan mengingat tempat penumbuk gabah yang terbuat dari batu. Jaman dulu orang menggunakan dulang dan alu untuk menumbuk gabah.

Perlu diketahui Sanghyang Dulang masih berkaitan erat dengan sejarah orang Sunda atau lebih dikenal dengan Karuhun Urang Sunda. Tetapi siapakah Sanghyang Dulang ? Sanghyang Dulang adalah nama lain atau gelar yang diberikan kepada Ibu Ratu Nawang Wulang, permaisuri kerajaan Galeuh Pakuan dan isteri dari Prabu Tajimalela (putera Eyang Aji Putih). Prabu Tajimalela adalah raja pertama kerajaan Galeuh Pakuan yang selanjutnya berubah menjadi Kerajaan Sumedang Larang.

Banyak orang salah kaprah antara Galuh dan Galeuh. Galeuh berarti hati atau inti diri dan pakuan berarti iman. Jadi Galeuh Pakuan berarti hati yang beriman, maka itu kerajaan Sumedang Larang menerapkan syariat Iman bukan syariat Islam sejak jaman Prabu Geusen Ulun ( Raja Sumedang Larang pada jaman Islam). Bagi keturunan Sumedang Larang yang menggunakan lambang Kembang Cangkok Wijaya Kusumah dengan Naga Paksinya, keimanan kepada Yang Maha Kuasa harus ditanamkan terlebih dahulu sebelum menjalankan syariat Islam.

Bagaimana dengan Galuh ? Galuh merupakan sebuah kerajaan di daerah Ciamis yang masih bagian dari kerajaan Pajajaran yang didirikan oleh Aji Sakti (makamnya di gunung Galunggung). Jadi jelas perbedaan antara Galeuh dengan Galuh. Penggabungan nama Galeuh Pakuan Pajajaran berlangsung sejak Prabu Munding Wangi (Prabu Siliwangi VI) menyerahkan kekuasaan Kerajaan Pajajaran kepada raja Sumedang Larang, Prabu Geusan Ulun.

Selanjutnya Sanghyang Dulang memang diberikan kepada Ibu Ratu Nawang Wulan karena kemampuan beliau menciptakan dulang dari batu dan cekatan dalam menumbuk padi (gabah). Sanghyang Dulang mempunyai banyak petilasan dan salah satunya berada di Gunung Simpay, Cibubut, Sumedang. Karena keingintahuan tentang sejarah beliau maka saya berziarah ke petilasannya.

Sanghyang Dulang yang dikunjungi berada di daerah pegunungan yang sejuk dan dingin. Tetapi tetap butuh stamina yang cukup untuk mencapainya karena melewati beberapa kali tanjakan yang menguras tenaga. Di Sanghyang Dulang terdapat sumber mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi penduduk di sekitarnya. Selain itu dipetilasan tersebut ditemukan Dulang peninggalan beliau yang sekarang disimpan di sebuah tempat di Sumedang.

Berikut adalah foto-foto pribadi perjalanan saya ke Sanghyang Dulang. Jalan-jalan sambil mengenal sejarah nenek moyang.