Japanese Culture Exhibition 2015 Di Fiji Dalam Gambar

Memulai tahun 2015, diawali dengan tetirah  pada sebuah kegiatan menarik yang diselenggarakan oleh Kedubes Jepang di Suva, Fiji yaitu Japanese Culture Exhibition 2015. Kegiatan yang dipusatkan di Japan-Pacific Center ITC, University of South Pacific cukup diminati oleh masyarakat baik Fiji maupun non Fiji.

Tanpa membual kata maka cukup dengan beberapa foto dapat menggambarkan bagaimana kegiatan menarik ini berlangsung.

Japan-Pacific Center ITC di USP nan megah
Japan-Pacific Center ITC di USP nan megah

DSC_0069

Aksi 2 karateka asal Fiji
Aksi 2 karateka asal Fiji
Mengisi harapan tahun 2015
Mengisi harapan tahun 2015
Harapan yang tertulis dengan rapi
Harapan yang tertulis dengan rapi
Berfoto dengan kimono
Berfoto dengan kimono
Ruang Kaligrafi
Ruang Kaligrafi
Antrian cukup panjang
Antrian cukup panjang
Menyebutkan nama dan diperolehlah arti sebuah nama dalam bentuk kaligrafi
Menyebutkan nama dan diperolehlah arti sebuah nama dalam bentuk kaligrafi

DSC_0064

Inilah arti nama saya...
Inilah arti nama saya…
Tinggal pilih santapan pembuka yang berjalan mengelilingi kita
Tinggal pilih santapan pembuka yang berjalan mengelilingi kita

DSC_0086

DSC_0084

DSC_0078

DSC_0089

Bungkus ahhh
Bungkus ahhh

Haru Biru Suva-Seoul-Jakarta-Bangkok (II)

Perjalanan 3 hariku ke Purwokerto sangatlah berkesan. Inilah pertama kalinya aku dapat mengunjungi makam ibuku yang meninggal dunia 2 tahun yang lalu. Pada saat beliau meninggal, aku tidak dapat menghadiri pemakamannya karena ketidak tersediaannya tiket pulang dari Suva ke Jakarta. Suatu hal yang sangat aku sesali tetapi takdir berkata demikian dan aku menerimanya dengan ikhlas kepergiannya. Bukan hanya ibuku saja yang kukunjungi makamnya, ada makam kakek, nenek dan bapakku. Menangis terseduk dan terus mengucapkan doa mohon ampun kepada almarhum-almarhumah atas kesalahanku selama mereka masih hidup. Selain itu aku ucapkan doa kepada Allah agar segala amal ibadah mereka di dunia mendapatkan tempat yang layak di sisiNya.

Kunjunganku ke kota kelahiran Bapakku, aku manfaatkan juga untuk merencanakan pembuatan 2 unit rumah di atas tanah warisan bapakku. Setelah melakukan perhitungan yang mendetil bersama kakakku maka lebih menguntungkan membuat 2 unit rumah kontrakkan daripada membuat kamar kos. Kuputuskan bulan depan harus dimulai dengan kakakku sebagai pengawasnya. Tidak terasa perjalanan ke kota tersebut cepat berlalu dan segera aku memutuskan kembali ke Jakarta.

IMG_20130509_095322
dok.cech

Setibanya di Jakarta, aku memutuskan untuk memeriksa telepon selularku agar dapat digunakan di tanah air. Oh ya, telepon selularku dibeli di Suva dan hanya dapat dipakai di wilayah Fiji saja sehingga harus dilakukan unlock. Sebelum pergi ke Roxy, aku periksa semua data penting yang ada di telepon selularku karena kuatir semua data penting hilang dalam proses unlock. Tanpa sengaja aku menemukan email seseorang dalam kondisi terbuka alias belum sign out. Betapa terkejutnya aku setelah membaca sebuah folder pribadi email tersebut. Tersentak, terkejut, marah dan keluarlah seluruh emosiku. Ternyata email tersebut adalah milik orang yang sangat aku cintai. Di dalam email tersebut jelas nyata bahwa sejak enam bulan yang lalu, dia secara intensif berhubungan mesra dengan seorang lelaki. Dia telah berselingkuh, dalam pikiranku. Mesra sekali ditambah dengan kiriman foto-foto dari pria tersebut kepada dia. Langsung saja aku kirimkan pesan lewat sms dan fb betapa khianatnya dia terhadap diriku. Tidak ada artinya kata cinta yang terucap dari mulutnya kepadaku selama ini.

Masih dengan amarah yang tinggi dan kurang tidur, keesokan paginya aku telpon dia di Solo. Dalam kondisi baru bangun tidur, dia mohon kepadaku untuk menjelaskan semuanya. Aku mengabaikannya. Kenapa dia dapat berbuat seperti itu. Kenapa? Dalam beberapa penjelasannya, dia mengakui kalau lelaki yang ada di emailnya tersebut adalah lelaki pilihan orang tuanya karena dari awal hubungan kami tidak disetujui oleh orang tua. Aku menyadari itu tetapi aku butuh kejujuran. Mengapa hal ini tidak dikatakannya pada saat di Fiji? Mengapa baru sekarang ? Langsung saja terbayang rencana cutiku ke tanah air untuk bersenang-senang. Buyar dan terasa hampa semuanya. Kalau tahu begini lebih baik aku tidak pulang ke tanah air. Bahakan kalau dia dari awal cerita tentang lelaki tersebut maka aku akan menyuruhnya pulang ke tanah air terlebih dahulu dan aku pulang di lain waktu,

Aku marah, marah dan marah. Emosionalku memuncak dan tanpa pikir terucap bahwa aku meminta semua uang yang telah kukeluarkan kepada dirinya selama ini dan meminta semua barang-barang yang pernah kuberikan kepadanya. Rupanya pada saat aku marah-marah via telepon terdengar oleh adikku. Langsung saja aku diajak masuk ke dalam untuk menjelaskan apa yang terjadi. Dengan lembutnya adikku berkata aku tahu mas. Mas selalu membantu orang lain tanpa pamrih dan lahir batin dengan tidak berharap balasan, Ikhlaskan semua yang telah mas berikan. Tuhan akan menggantinya kelak dengan jumlah yang lebih besar dari uang yang dikeluarkan selama ini. Akupun tersadar dan memang benar aku mengeluarkan segalanya termasuk uang karena ketulusan cintaku kepadanya. Memang berat tetapi aku harus bisa mengikhlaskannya.

Keesokan padi harinya aku bertemu dia di Blok M. Tetapi suasananya sudah tidak menyenangkan. Sepanjang perjalanan menuju Kuningan, kami berdua hanya dia dan berkata seadanya,  Aku datang menemuinya karena aku ingin menepati janjiku untuk menuntaskan semua masalah beasiswanya termasuk pengurusan visa studi ke Thailand. Ternyata pengurusan visa berjalan cepat dan visa diambil 2 hari kemudian. Dia memutuskan untuk menginap semalam di Jakarta. Aku menemaninya sampai di tempat penginapan sekaligus meminta penjelasan dia tentang hubungan kami berdua, Dia tak kuasa menahan tangisnya. Diceritakan semua mengapa dia mengambil keputusan untuk berpisah denganku. Semuanya atas nama “restu”. Restu ? Ya restu orang tua. Berulangkali dia telah menjelaskan kepada orang tuanya bagaimana sosok diriku yang dianggap sebagai pria yang layak menjadi pasangan hidupnya tetapi orang tuanya terutama bapaknya  tak bergeming dan tetap pada keputusannya untuk melarang hubungan kami. Seharian kami saling mencurahkan perasaan masing-masing.  Sebenarnya kami saling mencintai dan menyayangi tetapi apa daya keputusannya telah ditetapkan olehnya walaupun aku masih tidak dapat menerimanya dan menganggap semuanya omong kosong dan tak berdasar alasannya.

Keesokan paginya aku antar dia kembali ke Blok M sesuai permintaannya. Terasa berat hati ini melepas kepergiannya saat Bus Damri yang membawanya ke Bandara Soetta pergi meninggalkanku dengan hati hancur berkeping-keping. Cuti yang harusnya menghibur malah menjadi cuti dengan hati hancur lebur. Walaupun demikian, aku masih merasa yakin akan kesempatan sebelum dia berangkat ke Bangkok minggu depannya.

Satu minggu kumanfaatkan untuk tetap berkomunikasi dengannya. Kadang menyenangkan kadang menyedihkan karena kami tak kuasa menahan emosi sehingga seringkali terjadi pertengkaran yang seharusnya tidak perlu terjadi, Aku yang ditinggalkan merasa ada suatu yang dihitung-hitung kembali sesuai dengan apa yang sudah aku keluarkan. Tetapi aku tersadar bahwa apa yang kulakukan untuknya adalah bukti keikhlasan cintaku kepadanya. Perang batin terjadi, apa yang aku dapat sementara dia seperti sosok tak bersalah dengan keputusannya. Dia mendapatkan apa yang diinginkan sementara aku yang turut berjuang demi cita-citanya ibarat habis manis sepah dibuang. Tragis… tragis sekali nasibku. Begitulah perang batin dan pikiran yang berkecamuk di dalam diriku. Woiii apakah yang sudah kulakukan kepada dirinya selama ini tidak pantas diperjuangkannya di hadapan orang tuanya cuma gara-gara restu. Hidupnya yang menentukan adalah dirinya bukan orang tuanya dan ini bukan jamannya Siti Nurbaya dengan perjodohan yang dicari orang tua untuk anaknya sebagai model. Tetapi …

Tibalah pada hari H dimana dia akan berangkat ke Bangkok. Karena ada titipan barang untuk  beberapa orang teman Fiji yang diamanahkan kepadanya untuk dibeli dan dititipkan kepadaku  maka dia memintaku untuk bertemu di Bandara Soetta jam 12 siang. Jam 11 pagi telpon berbunyi ternya dia menanyakan posisiku. Dan aku katakan sedang dalam perjalanan menuju bandara. Ternyata aku tiba terlebih dahulu dan belum terlihat wajah manisnya di sekeliling terminal 3. Setekah kutunggu sekian menit, kembali terdengar suara dering telponku. Pasti dia pikirku dan baru saja aku angkat ternyata dia sudah ada di balik bus yang baru tiba dengan membawa satu koper, satu tas kecil dan ransel birunya.

Tanpa banyak buang waktu, dia menyerahkan titipannya dan ketika aku mengatakan untuk segera pergi. Tersirat wajah kecewanya, akhirnya aku putuskan untuk menemaninya sampai dia masuk ke pintu keberangkatan. Selama 2 jam kami masih bisa bersama dengan suasana yang berbeda tetapi aku tahu kalau diapun berat meninggalkan dan berpisah denganku. Setengah jam sebelum keberangkatan, dia menyuruhku untuk segera pulang dan dengan canda penuh kesedihan dia berkata ” Mas sekarang pergi dulu karena aku ingin melihat mas berjalan menjauh dariku sehingga aku dapat menangis “. Terhenyak aku mendengarnya dan aku ambil keputusan untuk menunggunya hingga masuk ke dalam loket imigrasi. Diapun berjalan meninggalkan dan aku hanya terdiam sedih. Dan pada saat aku memanggil namanya ” Yang… Sayang !!!! “. Tiba-tiba aku tersadar karena ada setuhan tangan nan lembut yang berusaha membangunkan aku dari mimpiku. Ternyata dia yang membangunkanku dan memberitahu kalau pesawat kami akan segera  mendarat di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand dan mengantar kami untuk berlibur sekaligus berbulan madu.

After Crash, Wake Up Guys

Cover Ater Crash credit: Martin Spinelli
Cover Ater Crash credit: Martin Spinelli

Penuh inspirasi !!! Itulah ungkapan saya dalam hati setelah mendengar cerita seorang teman tentang buku “After Crash”. Teman ini adalah seorang pejabat Kemlu RI di bagian Perlindungan WNI dan BHI. Beliau datang ke Fiji dalam rangka menemani Pak Alit dari Bandung untuk menjenguk adik iparnya Asep, ABK asal Indonesia yang sudah 3 bulan dirawat di RS Colonial War Memorial, Suva, Fiji karena menderita penyakit Hepatitis B akut.

3 bulan lalu saat saya bertemu dengan Asep, tubuhnya masih normal walaupun perutnya terlihat membengkak dan melemah. Saat ini kondisi Asep sangatlah mengenaskan, tinggal tulang diselimuti tulang. Untuk itu pihak RS meminta KBRI Suva mendatangkan salah satu anggota keluarganya untuk memberikan semangat agar segera cepat pemulihannya. Perlu diketahui Asep sempat mengalami koma selama 2 minggu tapi saat ini dalam proses pemulihan. Tetap saja dibutuhkan orang-orang terdekatnya yang memberikan semangat hidup sehingga Asep mau makan dengan normal kembali.

Bagaimana dengan After Crash ? Nah ini menariknya. Dalam perjalanan pulang menuju penginapan Pak Alit, teman saya menceritakan sebuah kisah yang terdapat dalam buku After Crash. Intinya tidak ada yang tidak mungkin  kecuali orang-orang yang mempunyai keyakinan dapat bangkit dari keterpurukkan atau keputusasaan. After Crash menceritakan tentang seorang ayah bernama Martin Spinelli (penulis buku) yang berjuang tanpa putus asa dan berkeyakinan dapat menyembuhkan anak semata wayangnya Lio Spinelli dari kondisi tanpa harapan hidup menjadi hidup normal dan sehat.

Resepsi pernikahan Martin & Sasha credit : Martin Spinelli
Resepsi pernikahan Martin & Sasha credit : Martin Spinelli
Sasha tetap menjalankan hobinya mendaki gunung walaupun masih mengandung Lio credit Martin Spinelli
Sasha tetap menjalankan hobinya mendaki gunung walaupun masih mengandung Lio credit Martin Spinelli
Bayi Lilo Spinelli credit Martin Spinelli
Bayi Lilo Spinelli credit Martin Spinelli
Sasha dan Bayi LIo di Passo Duran Credit: Martin Spinelli

Buku ini menceritakan bagaimana awalnya sebuah keluarga muda asal Italia yang bahagia sampai musibah kecelakaan menimpa ibu dan anak sampai mengubah perjalanan hidup mereka. Martin Spinelli, sang bapak adalah dosen senior di Sekolah Media, Film dan Musik di Universitas Sussex. Dia telah menulis puluhan esai dan jurnal seperti Postmodern Culture, Convergence and The International Journal of Cultural Studies. Sedangkan Sasha Spinelli adalah seorang pegawai biasa.

Pasangan muda Martin dan Sasha saling jatuh cinta di sudut terpencil pegunungan Alpen, Italia. Kemudian mereka menikah. Keduanya sangat mempunyai hobi yang sama yaitu mendaki gunung. Karir keduanya sangatlah cemerlang. Kebahagiaan hidup pasangan ini semakin bertambah setelah dikarunia seorang anak laki-laki bernama Lio Spinelli. Kemudian kebahagiaan itu dalam sekejap hilang tanpa jejak.

Saat itu kamis pagi yang indah Sasha sedang mengendarai mobilnya mennuju kantor sambil mengantarkan Lio ke sekolah. Lio yang berumur 4 tahun duduk di kursi belakang. Tiba-tiba mobil mereka ditabrak dari belakang oleh truk besar yang dikendarai oelh  seorang sopir telah melakukan perjalanan selama enam belas jam tanpa istirahat dan tanpa tersadar tertidur di belakang kemudinya. Pada kejadian itu Sasha tewas seketika. Sementara Lio menderita beberapa patah tulang tengkorak dan kaki kiri hancur sehingga dimutilasi.

Kondisi Lio setelah kecelakaan credit : Martin Spinelli
Kondisi Lio setelah kecelakaan credit : Martin Spinelli
LIo dalam proses pemulihan Credit : Martin Spinelli

Pada saat kejadian, Martin berada di kampusnya dan mengetahui kejadian tersebyt setelah polisi mendatanginya dan membawanya ke rumah sakit. Betapa terpukulnya Martin setelah mengetahui istrinya Sasha dinyatakan meninggal di tempat kejadian. Tetapi yang membuat Martin terpukul sekali saat mengetahui kondisi Lio, sang buah hati. Dokter menyatakan bahwa Lio mengalami kerusakan otak sangat parah. Ada 2 kemungkinan yang terjadi dari kondisi Lio. Pertama hidupnya tidak akan lama. Walaupun hidup Lio dinyatakan tidak dapat berjalan, berbicara bahkan bernapas tanpa bantuan alat. Inilah asal mulanya perjuangan Martin tanpa kenal lelah selama 4 tahun untuk memulihkan kembali Lio agar kembali menjadi anak yang normal.

Ketika dokter pertama menyatakan tidak harapan, Martin segera mencari dokter-dokter ahli seantero Inggris bahkan sampai ke Amerika. Martin berkeyakinan bahwa ada regenerasi sel otak dari seorang manusia dan Lio dapat normal kembali. Dalam perjuangan menyembuhkan anaknya, Martin memutuskan untuk mencurahkan perhatiannya hanya kepada pemulihan anaknya saja. Martin juga memutuskan untuk berhenti mengajar di universitas tempatnya bekerja.

Martin dan Lio foto bersama dengan Perdana Menteri Inggris Tony Blair Credit : Martin Spinelli

Memang Tuhan tidak tidur dan selalu mengabulkan doa umatnya yang ulet berikhtiar. Martin mendapatkan informasi bahwa ada dokter di Amerika Serikat yang dapat menyembuhkan otak yang dinyatakan telah rusak. Berangkatlah Martin dan bertemu dokter di Amerika Serikat. Setelah mendapatkan keyakinan bahwa dokter tersebut dapat menyembuhkan anaknya maka Martin memutuskan untuk membawa Lio ke Amerika Serikat.

Setelah mendapatkan perawatan intensif dan spartan, akhirnya Lio dinyatakan pulih dan kembali normal. Otaknya dapat berfungsi normal dengan adanya perubahan signifikan yaitu Lio dapat berbicara dan menggerakan seluruh anggota tubuhnya. Sebuah mukjizat luar biasa yang ditunjukkan oleh Tuhan dimana asal ada kemauan dan tekad yang luar biasa maka apa yang diinginkan dapat tercapai.

Kisah pemulihan Lio yang menakjubkan dalam buku After Crash yang ditulis oleh sang ayah, Martin Spinelli menjadi sangat menarik untuk dibaca dan direnungkan. After Crash menjadi best seller dan membawa Martin dan LIo bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dan beberapa selebritis dunia lainnya. Saat ini Martin dan Lio masih suka menjalankan hobinya mendaki gunung sebagai kenangan untuk Sasha, orang yang sangat mereka cintai.

Haru Biru Suva-Seoul-Jakarta-Bangkok (I)

Aku perhatikan wajahnya penuh kerinduan yang mendalam dalam tidurnya yang pulas menjelang kepulangan ke tanah air. Aku pikir dia sedang bermimpi bertemu dengan orang-orang yang dicintai terutama orang tuanya. Selain itu mimpinya telah melayang jauh ke negeri ginseng dan melanjutkan kuliah Masternya di negeri gajah putih Thailand walaupun tubuhnya masih bersandar di kasur kesukaannya.

Pada saat itu aku masih membuka mata karena masih banyak barang yang akan kukemas. Tampak terlihat brosur dan peta negeri Gangnam Style yang berserakan dimana-mana. Memang perjalanan pulang melalui negeri ginseng bukanlah rencana yang disiapkan sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh pembatalan penerbangan oleh maskapai penerbangan Fiji melalui Hong Kong 2 minggu sebelumnya . Sebagai kompensasinya, kami mendapatkan perubahan rute di luar perkiraan kami sebelumya yaitu transit di Seoul.

Tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon selulerku. Ternyata supir travel yang menelpon aku dan mengabarkan kalau dia sudah hampir dekat dengan rumah kontrakan kami. Maka kubangunkan dia agar bersiap-siap karena supir yang akan menjemput kami akan segera tiba. Tepat pukul 3 pagi, mobil jemputan telah tiba di depan rumah kontrakan kami, Kepulangan yang sangat mengharukan khususnya bagi dia karena diiringi pelukan hangat dari pemilik rumah kontrakan kami.

Hello Indonesia, I am going home. Mungkin itulah teriakan dalam hati kami, Sepanjang jalan menuju Bandara Internasional, tangan kami selalu berpegangan dan sesekali bercerita tentang rencana perjalanan yang akan dilakukan selama transit di Seoul. Sungguh bahagianya dia karena berulang kali dia mengucapkan terima kasih kepadaku walaupun perjalanan ke Seoul di luar perkiraan kami.

Tibalah kami di Bandara Nadi, semuanya berjalan lancar dan tepat jam 9.45 pagi kami masuk pesawat Korean Air. Pikir kami 10 jam perjalanan ke Korea Selatan yang melelahkan akan segera terbalaskan apabila wisata sesaat di Gyeong Bok Gung Palace terpenuhi. Pukul 17. 40 waktu Seoul, pesawat mendarat di Incheon International Airport dengan selamat. Kamipun disambut petugas Korean Air yang mengurusi masalah akomodasi yaitu penginapan di Incheon Hotel.

Semalam kami menginap di hotel dan setelah sarapan pagi kami memutuskan untuk segera melakukan perjalanan ke Gyeong Bok Gung Palace yang sangat fenomenal dan bersejarah. Udara dingin sekitar 18 derajat Celcius terkalahkan dengan kegembiraan kami menuju tempat sejarah tersebut. Kapan lagi kalau bukan sekarang.

Tarraaaaa Gyeong Bok Gung Palace telah dihadapan kami setelah melakukan perjalanan kurang lebih 45 menit dari hotel Inilah saat-saat yang ditunggu yaitu bernarsis ria dengan berfoto-foto dihampir sudut tempat tersebut. Setidaknya kami dapat menunjukkan kepada orang-orang terdekat kami bahwa kami telah tiba di Seoul dengan bukti foto-foto yang kami unggah di FB.

???????????????????????????????
Gyeong Bok Gung Palace (dok. cech)

Apakah kamu bahagia ? Dia menjawab aku bahagia sekali, Terima kasih, Hun. Itulah jawabannya dan aku senang mendengarnya. Tanpa terasa hampir 2 jam lebih kami mengelilingi Gyeong Bok Gung Palace. Saatnya kami harus segera meninggalkan tempat tersebut menuju Incheon International Airport.Kami tidak ingin beresiko dan ketinggalan pesawat.

Pukul 12.30 kami tiba di Incheon International dan masih ada waktu 3 jam bagi untuk mengelilingi bandara tersebut. Selain itu kami masih mempunyai kesempatan untuk berbelanja barang-barang khas Korea sebagai oleh-oleh  dan pesanan teman-teman di tanah air.

Jam 15.20 kami memasuki pesawat Korean Air untuk melanjutkan perjalanan pulang ke tanah air Indonesia. Teriakan Hello Indonesia I am coming makin terdengar kuat. Kurang lebih 6 jam perjalanan terbayarkan setibanya kami tiba di Bandara Soekarno Hatta.

Pilot mengumumkan kepada para penumpang bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Jantung kami makin berdegup kegirangan, akhirnya kami pulang juga.

Ucapan terima kasih kembali terucap dari bibirnya yang mungil dengan diikuti kalimat I Love You kepadaku. Senang dan bahagianya hatiku karena telah membahagiakannya selama ini.

Alhamdulillah dan terima kasih Ya Allah Engkau telah mengabulkan doaku untuk membawanya kembali ke tanah air dengan selamat dengan sebuah prestasi yang membanggakan yaitu keberhasilan dia menerima Beasiswa ke Thailand setelah berjuang dan berkorban bersama-sama di Fiji setahun lebih.. Terus kuucapkan puji syukur kepada ilahi dalam hati sepanjang jalan menuju tempat tinggal adikku.

Dua malam satu hari sengaja dia menginap sementara di rumah adikku untuk mengurus berkas-berkas keperluan beasiswa terutama visa studi Kedutaan Besar Thailand. Ternyata Kedubes Thailand di bilangan Kuningan libur karena memperingati HUT Raja Thailand. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Solo pada sore harinya dan akan datang kembali minggu depannya.

Sore itu, pada saat mengantarnya pulang di Bandara Soekarno-Hatta, aku mengatakan sesuatu yang prinsip bagi seorang pria kepada dia yaitu jangan melihat pria dari tampang, kekayaan, kepintarannya saja tetapi lihatlah pria dari tanggung jawabnya kepada seorang wanita. Diapun hanya terdiam dan sedikit mengiyakan. Makin tuntaslah tanggung jawabku apabila dia telah terbang ke Thailand untuk mengejar mimpinya. Dan dia hanya tersenyum penuh makna. Ku antar dia sampai pintu gerbang keberangkatan ke Solo.

We Don’t Need Rambo But Rainbow

1315385452294282354
Rainbow at the King Wharf Suva, Fiji (dok. Cech)

Banyak orang yang mengatakan “Terlalu berat beban yang dipikul oleh bumi.”

Bumi telah uzur dan ripuh. Sudah tak terhitung evolusi makhluk hidup di bumi dan tetap saja manusia lupa akan keberadaannya di bumi. Peaceful Life yang seharusnya diwariskan kepada generasi berikutnya tetapi tetap saja terjadi kekerasaan yang mengatasnamakan kekuasaan.

Terang saja akan terus terjadi kekerasan dan kerusakan karena ada setan dan nafsu yang terus menggerogoti manusia yang telah ditetapkan sebagai pemimpin di dunia.

We don’t need RAMBO but RAINBOW.

Indahnya warna-warni kehidupan yang sengaja diciptakan oleh Sang Khalik agar manusia sadar akan kesempurnaan dirinya di tengah warna-warni perbedaan.