Japan Trip : Ke Kyoto Dengan N700 Series

Setelah makan siang, kami segera menuju ke Asakusa Station yang letaknya tidak jauh dari tempat kami makan. Kami langsung membeli tiket via mesin penjualan tiket untuk jurusan Tokyo Station. Harga tiket yang harus dibayar sebesar Yen 200 per orang (Ginza Line). Dengan Ginza Line (G) membutuhkan waktu 15 menit dengan 9 stasiun perhentian ke Kyobashi Station. Setibanya di Kyobashi Station, kami berjalan kaki selama 6 menit ke Tokyo Station.

IMG-20170303-WA0012
Tokyo Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0010
Suasana Peron 19 di Tokyo Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0017
Tiket Kereta Super Cepat Shinkansen Tokyo-Shin Osaka (Dok.Cech)

Di Tokyo Station, kami membeli tiket kereta Super Cepat Shinkansen N700 series jenis Nozomi (seatable atau dapat nomor tempat duduk) dengan harga sebesar Yen 13.910. Kereta Super Cepat Shinkansen nomor 285 adalah kereta jurusan Tokyo-Shin Osaka yang hanya berhenti di Nagoya dan Kyoto Station.

Ada 2-3 jenis keberangkatan Shinkansen sesuai dengan waktu tempuh dan banyaknya perhentian. Namanya berbeda-beda tergantung operator dan kecepatannya ada yang dinamakan  Super Express, Express, dan All-Stop (setiap statiun berhenti). Di Jepang, Shinkansen dioperasikan oleh beberapa perusahaan yang berbeda tergantung jalurnya, lima yang paling utama.

Pertama,  Tokaido Shinkansen (Tokyo-Shin Osaka) yang dioperasikan oleh JR Central, untuk jenis Super Express dinamakan Nozomi (seatable) Di bawahnya adalah jenis Hikari (unseatable) dan yang terakhir berhenti di semua stasiun adalah jenis Kodama (unseatable). Ketiga jenis tersebut menggunakan seri kereta 700 series. Untuk jenis Nozomi, kita  mendapatkan tipe Shinkansen yang paling baru, yaitu N700 series.Shinkansen ini dapat mencapai top speed 270-300km/jam, sedangkan Kodama  hanya sekitar 200km/jam karena  berhenti di setiap stasiun.

Kedua, Hokuriku Shinkansen  (Tokyo-Nagano-Kanazawa) dibedakan Kagayaki (paling cepat) dan Hakutaka. Keduanya menggunakan seri kereta  E7 series. Jalur ini sejak 2015 baru menyambung ke Kanazawa dan sangat populer untuk turis yang ingin menjelajah Murodo Dam, Alpine Route, dan Shirakawa-Go village.

Ketiga, Sanyo Shinkansen, sambungan dari Osaka ke Fukuoka (meliputi Kobe dan Hiroshima), dioperasikan oleh JR West.

Keempat, Tohoku Shinkansen, jalur Tokyo ke Utara hingga paling ujung pulau, dioperasikan JR East.

Kelima, Hokkaido Shinkansen, ini sambungan dari Tohoku Shinkansen, dibuka Maret 2016 yang menghubungkan Shin-Aomori dan Hakodate Hokuto melewati Seikan Tunnel bawah laut dengan kereta Shinkansen Hayabusa yang membuat jalur kereta ke Pulau Hokkaido semakin ringkas. Rencananya jalur shinkansen ini akan disambung hingga kota Sapporo.

IMG-20170303-WA0011
Shinkansen N700 series (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0036
Shinkansen sedang dibersihkan (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0020
Sinkansen jurusan Shin Osaka sedang dibersihkan oleh petugas (Dok. Cech)
DSC_0050
Keterangan di meja lipat tentang beberapa gerbang misalnya gerbong untuk perokok (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0024
Gerbong Shinkansen Nozomi dengan tempat dudul 2-3 (Dok. Cech)
DSC_0077
Pemandangan di luar Shinkansen (Dok. Cech)

10 menit sebelum Shinkansen berangkat (13.23 waktu Tokyo), kami diperbolehkan masuk  ke dalam gerbong 11 dengan nomor tempat duduk 11D dan 11E. Tipe tempat duduknya adalah 2-3. Kondisi gerbong bersih sekali dan sebagian penumpang adalah profesional yang bekerja atau bertempat tinggal di Nagoya, Kyoto dan Osaka.

Selama perjalanan, kami menikmati pemandangan di luar kereta walaupun agak sulit untuk mengabadikannya dengan kamera karena cepatnya kereta bergerak.  Terasa seperti berada di dalam pesawat terbang. Gelas atau botol minuman yang kami letakkan di atas meja tidak tergoncang sama sekali. Dibutuhkan waktu perjalanan ke Kyoto selama 2 jam 15 menit dan tepat waktu sesuai tertera di tiket.

Selanjutnya dari Kyoto Station ke Green Rich Hotel , kami berjalan kaki selama 20 menit (jaraknya sekitar 750 meter). Sepanjang jalan kami mengamati suasana perumahan dan daerah Minami-ku. Sore itu jalanan sepi, bersih, tenang dan aman. Sesampainya di hotel, kami disambut dengan ramah oleh resepsionis hotel. Kami diberitahu bahwa kedua koper yang dikirim dari Tokyo via Ta-Q-Bin telah berada di kamar.

Setelah rehat sejenak, malam hari dengan suhu 5 derajat Celcius kami memaksakan diri keluar untuk mencari restoran dekat hotel. Ternyata restoran Yoshinoya dekat dengan hotel dan malam itu kami makan menu khas Jepang dengan nikmatnya.

IMG-20170303-WA0031
Kyoto Station (Dok. Cech)
IMG-20170303-WA0013
Jalan menuju hotel nan sepi, bersih tapi aman (Dok. Cech)
Y346842131
Depan Green Rich Hotel
IMG-20170303-WA0039
Menu makan malam pertama di Kyoto (Dok. Cech)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Japan Trip : 2 Jam Terakhir di Tokyo

IMG-20170326-WA0082
Pemandangan Tokyo Tower dari lantai 4 Richmond Hotel Asakusa Premier International (Dok. Cech)

Pagi-pagi sekali, kami sudah bangun. Tanggal 3 Maret 2017 pukul 09.00 kami meninggalkan hotel. Tetapi sebelum keluar hotel, dari lantai 4 hotel kami sempat mengabadikan pemandangan Tokyo Tower. Rencana awal hari itu adalah berkunjung ke Senso-ji Temple dan Tokyo Imperial Palace. Karena hari Jumat, Tokyo Imperial Palace tutup untuk umum sehingga dari Senso-ji Temple kami menggunakan kereta bawah tanah dari Asakusa Station ke Tokyo Station.

Keluar dari hotel, kami berjalan kaki menuju Senso-ji Temple via 2 Chome 7 Asakusa. Dalam 10 menit kami sudah berada di komplek Senso-ji Temple. Suasana ramai orang terasa sekali di Komplek Senso-ji Temple terutama Main Hall yang sering disebut Hondo. Pengunjung yang berdatangan adalah wisatawan asing dan wisatawan lokal yang melakukan ibadah ritual di Senso-ji Temple.

DSCN3660
2 Chome 7 menuju Komplek Senso-ji Temple (Dok. Cech)
DSCN3661
WC Umum nan bersih di 2 Chome 7 (Dok. Cech)

Kuil Senso-ji adalah  kuil Budha tertua di  Tokyo yang dibangun  pada tahun 645. Berdasarkan keterangan yang tertulis di salah satu tiang kuil diceritakan pada tahun 628  saat sedang memancing di sungai Sumida, dua orang kakak beradik yang bernama Hinokuma Hanamari dan Hinokuma Takenari menemukan sebuah patung Dewi Kannon (Bodhisattva Kanon) atau yang lebih di kenal sebagai Dewi Welas Asih. Ketika mereka mengembalikannya ke dalam sungai, patung tersebut kembali lagi kepada mereka. Mendengar cerita Hinokuma bersaudara tersebut,  sebagai bentuk penghormatan maka kepala desa Haji Nakatomo memutuskan untuk membangun sebuah kuil yang awal nya bernama Asakusa Kannon Temple yang sekarang kita kenal dengan Kuil Sensoji ini.

Pada tahun 645, seorang pendeta Budha terkenal Shokai mengunjungi Asakusa dan melihat kuil tersebut. Kemudian oleh Pendeta Shokai, kuil tersebut diperluas bangunannya dengan menambah tempat untuk sembahyang sehingga bangunan kuil terlihat seperti saat ini yang sering disebut Main Hall atau Hondo. Senso-ji dan Asakusa mempunyai kaitan yang kuat. Apabila ditulis dalam aksara Cina maka pengucapannya akan berbeda. Pengucapannya menjadi “Senso” bagi orang Cina. Sedangkan bagi orang Jepang, pengucapannya “Asakusa”.

DSCN3679
Patung Budha (Dok. Cech)
DSCN3662
Bronze Statue of Uryu Iwako (Dok. Cech)
DSCN3668
Salah satu Kuil Budha di Komplek Senso-ji Temple (Dok. Cech)
DSCN3670
Kuil agama Shinto, Mitsumine Shrine (Dok. Cech)
DSCN3675
Kolam Ikan Koi (Dok. Cech)

Sebelah barat  terdapat beberapa bangunan kuil, patung dan kolam ikan koi. Diantaranya ada kuil agama Shinto, Mitsumine Shrine yang berdiri berdampingan dengan beberapa  kuil budha dalam komplek Senso-ji. Selain patung Budha, ada satu patung sosok perempuan yaitu Patung Perunggu Uryu Iwako.

Uryu Iwako lahir pada 15 Februari 1829 di Kitakata, Perfektur Fukushima. Nama sebenarnya adalah Iwa, sedangkan Iwako adalah nama populernya. Setelah Restorasi Meiji, Iwako mendorong anak-anak perempuan klan Aizu untuk sekolah. Selain itu Iwako mendirikan Fukushima Relief  Facility yang membantu kaum miskin dan anak yatim piatu. Iwako juga mendirikan Institut Riset Kebidanan (Midwifery Research Institute) dan Rumah Sakit Saisei di Kitakata. Iwako meninggal dunia pada 19 April 1897. Atas jasa dan pengabdiannya maka dibangunlah Patung Perunggu Uryu Iwako (Bronze Statue of Uryu Iwako) pada April 1901

Gerbang utama dari kompleks Kuil Sensoji ini disebut Kaminarimon Gate yang artinya Gerbang Halilintar. Gerbang ini pada awalnya terdiri atas dua panji raksasa dengan simbol trisula. Setelah melewati Kaminarimon Gate, pengunjung disuguhi dengan deretan toko   yang menjual bermacam-macam suvenir khas Asakusa.

Mereka menjual barang tradisional Jepang seperti yukata, gantungan kunci, kipas lipat, jimat keberuntungan, kaos, dan camilan lokal seperti  “Kibidango” yaitu snack yang dibuat berdasarkan cerita anak-anak terkenal di Jepang (Momotaro si Buah Persik) Kibidango sangat spesial karena hanya dijual di tempat ini, tidak dijual di toko kelontong atau supermarket.

Camilan lain yang dijual adalah penganan berbahan dasar kacang merah yang disebut Agemanju (kue bertabur roti yang digoreng) dan Ningyoyaki (camilan berbahan dasar kue). area deretan toko sepanjang 20 meter tersebut dikenal dengan nama  Nakamise DoriDari Nakamise Dori pengunjung dapat melihat  Hozomon Gate. Disebelah timur terdapat Bentendo Hall dan di sebelah barat terdapat  sebuah pagoda 5 tingkat yang di namakan Five Storied Pagoda

DSCN3716
Hozomon Gate (Dok. Cech)
DSCN3718
Foto sejenak di Nakamise Dori (Dok. Cech)
DSCN3720
Seorang pedagang es krim di Nakamise Dori (Dok. Cech)
DSCN3721
Suasana ramai di Nakamise Dori (Dok. Cech)

Setelah melewati Hozomon Gate pengunjung  akan melihat bangunan utama dari kuil ini yaitu Main Hall (Hondo). Di tempat utama ini, warga Jepang beragama Budha  melakukan ritual dan berdoa meminta segala sesuatu yang diinginkanya. Pengunjung non agama Budha  diperbolehkan untuk masuk ke dalam area Hondo.

Sebelum masuk, biasanya pengunjung melakukan ritual mengusapkan asap dari hio yang menyala ke wajah. Selanjutnya membersihkan tangan atau meminum air suci yang letaknya dekat dengan pintu masuk Hondo.

DSCN3683
Ritual mengusapkan asap hio ke wajah (Dok. Cech)
DSCN3685
Air Suci (Dok. Cech)

Di dalam Hondo pengunjung dapat melihat betapa megahnya bangunan tersebut dan indahnya mural (lukisan) di atap Hondo. Selain itu pengunjung dapat pula melakukan doa permohonan ala agama Budha atau disebut Omikuji. Omikuji dilakukan untuk mengetahui keberuntungan hidup kita.

Jadi pengunjung melakukan doa diikuti dengan menggoyang-goyangkan boks besi yang di dalamnya terdapat banyak batang kayu/bambu yang bertuliskan keberuntungan atau kesialan kita. Di boks besi tersebut terdapat lubang kecil yang cukup untuk mengeluarkan sebatang kayu/bambu. Pada batang kayu/bambu tersebut ada nomor bertuliskan kanji. Setelah sebatang kayu/bambu keluar dari boks, maka kita dapat melihat nomor berapa yang keluar.

Selanjutnya kita membuka salah satu loker kayu yang telah dinomori sesuai dengan nomor di batang kayu/bambu. Pengunjung tinggal mengambil selembar kertas yang menuliskan tentang keberuntungan atau kesialan. Selanjutnya kertas tersebut dilipat dan diikat ke sebuah kawat besi bersusun yang terletak dekat dengan pintu keluar.

DSCN3712
Kuil Senso-ji (Dok. Cech)
DSCN3700
Indahnya lukisan (mural) di atap Hondo (Dok. Cech)
DSCN3699
Tentang Senso-ji Temple (Dok. Cech)

Tak terasa selama  2 jam, kami mengelilingi komplek Senso-ji Temple. Selanjutnya kami makan siang sebelum melanjutkan perjalanan ke Tokyo Station untuk membeli tiket Kereta Cepat Shinkansen ke Kyoto. 2 jam terakhir di Tokyo yang  berkesan dan mungkin kelak kami dapat kembali ke Tokyo untuk mengunjungi beberapa tempat wisata menarik lainnya di Tokyo.

Japan Trip : Terima Kasih Ta-Q-Bin

Sengaja saya memulai tulisan tentang perjalanan ke Jepang pada awal Maret 2017 lalu tentang Ta-Q-Bin. Nama Ta-Q-Bin bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah nama yang terdengar asing. Apakah Ta-Q-Bin ?

Ta-Q-Bin adalah merek dagang sebuah perusahaan Jepang, Yamato Transport C0., Ltd. Dari nama perusahaannya sangat jelas perusahaan tersebut bergerak di bidang jasa pengiriman barang. Bagi traveller atau turis asing yang datang ke Jepang terutama dari Eropa dan Amerika sudah mengenal Ta-Q-Bin  dan sering menggunakan jasa pengiriman barang mereka selama di Jepang.

Saya mengetahui Ta-Q-Bin dari seorang teman yang baru saja jalan-jalan ke Jepang pada bulan Desember 2016. Menurut Teman, Ta-Q-Bin sangat membantu mereka terutama koper-koper besar dan kardus-kardus yang berisi barang oleh-oleh dari Jepang sehingga selama menikmati perjalanan di Jepang mereka hanya membawa ransel saja. Mendengar cerita teman tersebut maka kami pikir bagus untuk memakai jasa Ta-Q-Bin.

Dari awal, kami sudah merencanakan membawa 2 koper besar dan kecil untuk oleh-oleh dan pakaian. Kemudian selama perjalanan di Jepang dimana kami akan berpindah-pindah dari Tokyo ke Kyoto, Kyoto ke Kansai International Airport, Osaka cukup membawa dua buah ransel layaknya backpacker.

black-cat-kuroneko-yamato

index_img_01
Dok. Ta-Q-Bin

Tanggal 1 Maret 2017 pukul 23.30 WIB kami berangkat dari Soekarno-Hatta International Airport, Tangerang dan tiba di Haneda International Airport Tokyo, Jepang pada pukul 08.50 waktu Jepang tanggal 2 Maret 2017. Setelah melewati pemeriksaan Imigrasi Jepang, kami segera mencari lokasi Ta-Q-Bin di Bandara Haneda. Dengan lambang Kucing Hitam membawa Anak Kucing Hitam khas Ta-Q-Bin, kami pikir akan mudah menemukan lokasinya. Setelah bertanya ke bagian informasi ternyata Ta-Q-Bin berada dalam satu tempat dengan bagian barang maskapai penerbangan Jepang ANA.

Karena di Tokyo, kami hanya satu malam maka kami mempersiapkan beberapa pakaian yang akan dibawa ransel  dan beberapa barang yang diperkirakan memberatkan selama jalan-jalan kami simpan di koper besar. Setelah itu kami membawa 2 koper besar kami  ke Ta-Q-Bin. Dengan pelayanan petugas yang ramah dan membantu pengisian form pengiriman barang yang berbahasa Jepang sehingga kami merasa nyaman dan yakin 2 buah koper kami akan aman dan sampai ke tujuan.

20170322_133339
Dok. Cech

Kedua koper  kami ditimbang dan dihitung volumenya. Ta-Q-Bin hanya menerima koper dengan berat maksimal 25 kg. Selain itu volume koper dan tempat tujuan menentukan besaran biaya pengirimannya.Kedua koper tersebut, kami meminta untuk dikirim ke Hotel Green Rich Hotel di Kyoto dan tiba pada pukul 14.00 keesokkan harinya. Perhitungan biaya pengiriman sangat jelas. Kami dikenakan biaya pengiriman untuk 2 koper sebesar 3.700 Yen (sekitar IDR 436.600). Kami pikir biaya tersebut wajar sehingga kami tidak harus membawa-bawa kedua koper tersebut selama jalan-jalan di Tokyo atau melakukan perjalanan dari Tokyo ke Kyoto keesokan harinya.

Setelah urusan pengiriman kedua koper, kami dengan 2 buah ransel langsung melanjutkan perjalanan ke Gotemba dan Hakone. Pergerakan kami leluasa selama di sana dan dapat menikmati suasana perjalanannya terutama saat berada Gotemba Premium Outlet dan di dalam bus.

Keesokan harinya menjelang siang, kami menggunakan Shinkansen N 700 ke Kyoto. Sesampainya di Kyoto Station dengan berjalan kaki. kami dapat melenggang santai tanpa harus membawa-bawa koper besar menuju Green Rich Hotel yang letaknya tidak jauh dari Kyoto Station. Di Green Rich Hotel, resepsionis memberitahu kami bahwa kedua koper sudah berada di dalam kamar. Benar saja, kedua koper sudah berada di kamar dan setelah diperiksa kedua koper dalam kondisi baik dan tidak rusak sama sekali.

IMG-20170303-WA0028
Dok. Cech

Karena kami tinggal di Kyoto selama 4 malam maka kami memutuskan untuk mengirimkan beberapa koper yang berisi pakaian dan oleh-oleh pada tanggal 6 Maret 2017. Setelah melakukan wisata ke beberapa lokasi di Kyoto dan membeli barang keperluan barang pribadi dan oleh-oleh maka pada tanggal 6 Maret 2017, kami meminta hotel untuk menghubungi Ta-Q-Bin untuk mengirimkan dua koper besar dan satu koper kecil berisi oleh-oleh ke Kansai International Airport, Osaka, Jepang. Memang kami akan pulang ke Indonesia via Osaka.

Perlu diketahui, Ta-Q-Bin telah melakukan kerjasama dengan hotel, mini market, stasiun kereta api, terminal bus, bandar udara, mal besar dan lain-lain sehingga kami tidak perlu datang ke kantor Ta-Q-Bin. Di beberapa lokasi tersebut tersedia form pengiriman barang dengan mudah dan perhitungan biaya yang sudah standar dan mudah menghitungnya. Pengiriman dua koper besar dan satu koper dikenakan biaya 7.000 Yen (sekitar IDR 826.000)

ClXBX0iVAAEy3PQ
Beberapa sign Ta-Q-Bin yang mudah dilihat di beberapa lokasi di Jepang
200806261357001
Contoh sign Ta-Q-Bin yang sering terlihat di depan mini market

Sama dengan saat di Tokyo,  Kami hanya membawa dua ransel dalam perjalanan dengan kereta api dari Kyoto ke Osaka. Sesampainya di Osaka Station, kami jalan-jalan dahulu ke beberapa tempat wisata di Osaka sebelum ke Daiwa Roynet Hotel, Osaka tempat kami menginap selama 1 malam. Kami tiba di Osaka pada tanggal 7 Maret 2017.

Pada tanggal 8 Maret 2017 pukul 07.00 kami sudah meninggalkan hotel dan menuju Kansai International Airport Osaka dengan menggunakan kereta api. Sesampainya di Kansai International Airport, kami tidak mengalami kesulitan untuk mencari lokasi Ta-Q-Bin karena berada satu lokasi dengan bagian pengiriman barang maskapai JAL dan dekat dengan booth check in Garuda Indonesia.Dengan menunjukkan copy form pengiriman, tanpa membutuhkan waktu lama 2 koper besar dan satu koper kecil milik kami diserahkan dalam kondisi baik. Setelah itu kami langsung menuju boot check in Garuda Indonesia. Begitulah cerita tentang Ta-Q-Bin, merek dagang jasa pengiriman barang yang sangat membantu kami dan para turis asing terutama yang membawa keluarga sehingga tidak perlu direpotkan oleh bawaan koper-koper yang  berat bebannya. Sekadar informasi Ta-Q-Bin juga terdapat di Malaysia dan Hongkong. Terima kasih Ta-Q-Bin sehingga perjalanan kami di Jepang menjadi sangat menyenangkan. ありがとうございます Arigatou gozaimasu

IMG-20170308-WA0034
Booth Ta-Q-Bin di Kansai Internasional Airport, Osaka (Dok. Cech)
index_img_02
Dok. Ta-Q-Bin

Mesjid Bayan Beleq Yang Membuat Mata Melek

Suhu Lombok yang mendekati 33 derajat Celcius berimbas kepada kepala saya sakit. Selesai makan pagi di hotel, saya segera konsumsi obat sakit kepala. Akibatnya selama perjalanan menuju Pusuk Sembalun saya lebih banyak tertidur sehingga kurang dapat menikmati indahnya alam yang menuju ke sana.

Tanpa terasa kurang lebih 2 jam perjalanan terlewati dan saya terbangun karena mobil berhenti di satu tempat. Terpampang tulisan ” Taman Nasional Pusuk Sembalun “, segera saya keluar dari mobil dan mengikuti istri ke satu tempat yang kelihatannya bagus untuk foto-foto. Untungnya cuaca di Sembalun cerah tapi tidak panas menyengat bahkan boleh dikatakan sejuk.

DSCN2879
Dok. Cech 2016
DSCN2880
Dok. Cech 2016

Setelah 2 jam kami menikmati udara sejuk di Sembalun, perjalanan dilanjutkan menuju tempat pembuatan dan penjualan mutiara khas Lombok. Kembali saya tertidur rupanya pengaruh obat belum hilang juga.

Tiba-tiba mobil berhenti di satu tempat dan tanpa terasa kurang dari satu jam saya tertidur.

“Ini tempatnya Mas Cech yang kemarin saya ceritakan”  ujar Pak Nasib, sang supir.

” Tempat apa ya Pak? ” tanya saya.

” Mesjid tertua di Lombok, Mesjid Bayan Beleq ” jelasnya.

Segera saya keluar dari mobil, panas mulai terasa di badan. Letak mesjid tersebut berada di pinggir jalan utama Lombok Utara. Sebelum masuk terpampang tulisan Mesjid Kuno Bayan Beleq Yang termasuk National Heritage atau dilindungi negara. Tepatnya mesjid ini ada di Desa Bayan, Kecamatan Bayan Lombok Utara.

DSCN2904
Dok. Cech 2016

Di pintu masuk kami langsung dipandu oleh seorang anak muda yang sepertinya pemandu wisata mesjid tersebut. Kami diharuskan mengisi buku tamu dan dipersilakan untuk memberikan sumbangan sukarela karena tidak ada ketentuan membayar tiket masuk ke area mesjid tersebut.

Dari tempat pengisian buku tamu, bangunan tua seperti bangunan mesjid pada umumnya jelas terlihat. Posisinya berada di dataran tinggi, bentuk bangunan mesjid tersebut serupa dengan bentuk bangunan rumah-rumah tradisional asli masyarakat Bayan. Bangunan mesjid berbentuk bujursangkar berdinding anyaman bambu, beralaskan tanah liat yang dikeraskan dan dilapis dengan anyaman tikar bambu. Atap tumpangnya dibuat dari bilah-bilah bambu. Pondasi mesjid menggunakan batu kali tanpa semen.

DSCN2895
Tampak depan mesjid (Dok. Cech)
DSCN2891
Tampak belakang (Dok. Cech)
DSCN2893
Gentong penampung air wudhu (Dok. Cechgentong)

Di depan pintu mesjid terdapat gentong yang diikatkan pada sebuah pohon. Mungkin fungsinya untuk penyimpanan air wudhu. Seperti diketahui Lombok merupakan wilayah kering dan tadah hujan. Selanjutnya ketika saya ingin berjejak ke dalam mesjid. pintu mesjid tertutup dan istri ingin kembali ke mobil karena suhu udara saat itu panas sekali.

Menurut pemandu, Mesjid tidak lagi dipakai untuk umum dan hanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti acara Maulid Nabi SAW Itupun dengan peraturan yang sangat ketat karena daya tampungnya hanya untuk 40 orang saja dan sebagian besar adalah kyai. Itulah mengapa pintu mesjid terkunci rapat. Tetapi wisatawan masih diperkenankan mengambil foto dari celah dinding bambu yang seperti sengaja diberi celah yang cukup untuk kamera.

Selain itu pemandu juga menjelaskan tentang adanya makam besar (Beleq) yang terdapat di dalam tersebut yaitu makam Syekh Gaus Abdul Rozak, salah seorang penyebar agama Islam pertama di kawasan Bayan. Ada 4 tiang soko guru dari pohon nangka yang menyangga bangunan mesjid. Beduk kayu terlihat juga didalam mesjid dan tergantung di tiang atap mesjid. Di belakang kanan dan depan kiri mesjid terdapat 2 gubuk kecil. Di dalam kedua gubuk tersebut terdapat makam tokoh-tokoh agama yang turut membangun dan mengurus mesjid ini sedari awal. 

DSCN2897
Beduk kayu (Dok. Cech)
DSCN2899
Atap mesjid (Dok. Cech)
DSCN2902
Bangunan belakang kanan (Dok. Cech
DSCN2896
Bangunan depan kiri (Dok. Cech)

Berdasarkan informasi dari pemandu, Mesjid Bayan Beleq didirikan pada abad ke-17 oleh Sunan Ampel. Dalam penyebaran agama Islam di Lombok Sunan Ampel dibantu oleh salah satu muridnya Syekh Gaus Abdul Rozak yang berasal dari Irak. Tetapi berdasarkan beberapa literatur belum jelas diketahui siapa yang pertama kali membangun Mesjid Kuno Bayan Beleq.

Tidak terasa 1 jam saya berada di lingkungan mesjid tersebut. Setelah itu saya memberikan salam perpisahan kepada pemandu dan segera menuju ke mobil. Baru saja saya membuka pintu,  tiba-tiba istri mengatakan, “Serem Mas tempatnya maka itu tadi saya kabur duluan ke mobil. Kalau menurut mas bagaimana?” Saya pun menjawab ” Hmmm, justru Mesjid Kuno Bayan Beleq ini membuat mata saya melek. Melek adanya bukti penyebaran Islam di Lombok dan melek terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kasat mata seperti…. Iiiihhh serem!!!  “

Mobil langsung digas oleh Pak Nasib menjauhi lokasi mesjid kuno tersebut menuju Pantai Nipah untuk kembali melek menikmati Sunset.

DSC_0057
Sunset di Pantai Nipah (Dok. Cech)