Prabu Siliwangi Benar-Benar Turun Gunung

Tulisan bersambung dari Prabu Siliwangi Turun Gunung

Keesokan harinya minggu tepat jam 07.00, kami melakukan ziarah ke makam utama yang ada di gunung Simpay yaitu makam/petilasan Prabu Tajimalela pendiri kerajaan Sumedang Larang. Prabu Tajimalela adalah anak tunggal dari Eyang Aji Putih yang merupakan pendiri kerajaan Galeuh Pakuan.

Sebetulnya saya ingin sekali naik ke puncak gunung Simpay karena sudah hampir 8 tahun saya tidak pernah lagi mengunjungi makam/petilasan Prabu Tajimalela. Tetapi Uyut berpendapat lain, beliau menyuruh saya untuk tetap tinggal di Padepokan untuk mengurus dan mengawasi persiapan acara Maulid Nabi SAW. Disamping itu saya ditugaskan untuk menemani para tamu yang datang ke padepokan. Kelihatannya mudah tetapi berat dalam menjalankannya karena perlu ada ilmu dan pengalaman lebih untuk mengetahui pernak-pernik budaya Sunda dalam menyambut acara Maulid Nabi SAW.

Sejak jam 09.00 WIB, panggung telah siap dengan peralatan musik tradisional sebagai pengiring tarian dan lagu-lagu tradisional Sunda. Sinden, para penari dan pemain musik mulai sibuk mempersiapkan diri. Sementara itu petasan sepanjang 5 meter telah diikatkan di atas pohon karena nantinya akan diledakkan tepat rombongan Uyut yang baru pulang ziarah mau memasukki padepokan. Alhamdulillah semuanya sudah sesuai dengan rencana.

Petasan penyambutan (foto pribadi)

Tepat jam 12.30, satu persatu anggota rombongan tiba di ujung jalan sekitar 200 meter dari pintu masuk padepokan. Belum tampak Uyut dan rombongan besarnya tiba. Namun beberapa menit kemudian ada aba-aba untuk segera mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan rombongan dan ini menjadi tugas Pak Singgih selaku orang yang paling tua diantara kami yang tidak turut ziarah.

Pak Singgih dkk sebagai penyambut kedatangan Uyut dan rombongan (foto pribadi)

Pak Singgih dan aparat Polsek Cibugel (foto pribadi)

Memang Maulid Nabi SAW tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya tidak ada penyambutan rombongan Uyut yang baru pulang dari ziarah sebelum memasuki pintu padepokan. Awalnya saya kurang mengerti dengan adanya tambahan acara ini tetapi setelah mendapatkan penjelasan dari Uyut maka saya mengerti maksud penyambutan tersebut. Rupanya ada sesuatu yang istimewa.

Menjelang 100 meter menuju padepokan, tiba-tiba petasan diledakkan dan suaranya menggema kemana-mana. Alunan musik tradisionalpun dibunyikan. Tampak sekali suasana semarak dan magis. Tiba-tiba dari pintu padepokan keluarlah Ki Lengser dan Ambu untuk menyambut Uyut dan rombongannya. Dengan sedikit berpantun dalam bahasa Sunda, Ki Lengser (diperankan oleh seorang penari pria) memberikan sebuah penggambaran tentang suka citanya rakyat dan kerajaan Galeuh Pakuan menyambut kepulangan seorang raja yang habis bertapa atau lama pergi melanglang buana. Banyak adegan lucu Ki Lengser dan Ambu yang membuat saya tertawa.

Uyut dan rombongan ziarah (foto pribadi)
Ki Lengser memberikan penghormatan (foto pribadi)
Ki Lengser (foto pribadi)

Saya pikir ini hanya sebagai fragmen dari sebuah cerita sejarah jaman dulu. Ternyata perkiraan saya salah. Tiba-tiba Uyut tertawa terbahak-bahak dan suaranya telah berubah seperti suara seorang raja yang gagah perkasa sakti mandraguna. Suara tawanya keras sekali dan terdengar sampai radius 50 meter. Rupanya Uyut keancikan yaitu keancikan Prabu Tajimalela, Prabu Siliwangi pertama. Dari tatapan matanya saja sudah jelas ketegasan dan kewibawaan. Nyata sekali suasana mistis dan bulu kudukpun ikut berdiri.

Ki Lengser dan Ambu (foto pribadi)
Punggawa Kerajaan dengan payung agungnya (foto pribadi)
Uyut dan rombongan yang telah dipayungi (foto pribadi)

Di depan pintu padepokan telah berdiri punggawa istana dengan membawa payung agung dan diiringi oleh 4 orang hulubalang. Kemudian merekapun segera mendekati Uyut yang masih keancikan untuk memayunginya. Selanjutnya tiga orang penari perempuan cantik yang berpakaian seperti puteri raja menari dihadapan Uyut yang dianggap sebagai raja.

Para penari yang cantik menyambut kedatangan Uyut dan rombongan (foto pribadi)
Menuju masuk ke Padepokan (foto pribadi)

Sungguh sebuah pengalaman luar biasa yang saya peroleh dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini. Unsur budaya Sunda jaman dulu yang digabungkan dengan unsur keislaman jaman sekarang. Intinya adalah selalu mengingat sejarah masa lalu dan ambil hikmahnya untuk kehidupan yang akan datang yaitu sebagai makhluk Allah SWT maka kita harus bisa rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta).

Selanjutnya Uyut dan rombongan dituntun masuk ke dalam padepokan yang seolah-olah sebagai istana kerajaan. Dalam keadaan keancikan Uyut duduk di kursi kerajaan dan tampak tatapan mata beliau memperhatikan orang-orang yang hadir di dalam ruangan padepokan. Dengan menggunakan bahasa Sunda, Uyut memberikan wejangan kepada kami dan mendoakan agar hidup kami menjadi lebih baik daripada saat ini. Intinya adalah Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, kebahagiaan, keselamatan dunia dan akherat. Amin.

Uyut dan kursi kerajaan (foto pribadi)
Panggung hiburan (foto pribadi)

Setelah mendoakan kami, satu per satu dari kami memberikan penghormatan ala jaman dulu kepada Uyut yang masih keancikan. Kemudian Prabu Siliwangi yang ngancik ke Uyut mengucapkan rasa terima kasih dan mohon pamit meninggalkan kami semua. Beberapa saat kemudian uyutpun tersadar dan kembali normal seperti semula.

berjoget ria (foto pribadi)
Sinden panggung (foto pribadi)
Tari Jaipongan (foto pribadi)
Ini lagi menunggu cechgentong joget hehehehe (foto pribadi)

Sebagai acara penutup maka dipertunjukkanlah tari jaipongan, saweran, ngebodor dan sebagainya layaknya hiburan rakyat jaman baheula. Semuanya bergembira dan saling berinteraksi dalam ikatan silaturahim. Demikianlah acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun ini. Sampai jumpa Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 1432 H.

Prabu Siliwangi Turun Gunung

Tahun 2010 adalah tahun yang unik dan lain daripada yang lain. Mengapa ? Karena pada tahun inilah Tahun Baru Islam dan Maulid Nabinya tepat jatuh pada hari Jumat Kliwon. Menurut kepercayaan sebagian besar masyarakat Sunda, jumat kliwon dianggap sebagai hari yang penuh arti karena pada malam jumat kliwon itulah para karuhun (leluhur), malaikat dan makhluk-makhluk gaib diijinkan oleh Allah SWT untuk turun ke bumi. Untuk itulah mengapa setiap malam jumat kliwon diadakan acara tawasulan atau acara mendoakan para karuhun dan memohon kepada Allah memberikan rahmatNya dalam bentuk apapun.

Latihan Memainkan Kecapi Menjelang Ngebumbang (dokumen pribadi)

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran menggelar banyak acara dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Bagi keturunan Kusumah (Sumedang Larang), acara Maulid Nabi jatuh pada tanggal 14 Rabiul Awal. Karena bersamaan dengan Jumat Kliwon maka acaranya sudah dimulai sejak malam jumat kliwon.

Pada malam berikutnya (malam sabtu), diadakan acara ngebumbang dengan diiringi alunan musik kecapi atau dikenal dengan membuka sejarah dan ilmu Nabi Muhammad SAW dan para karuhun kepada para masyarakat yang datang ke Padepokan. Buka sejarah dan ilmu tersebut disampaikan oleh kakek buyut (Uyut) Ohan Wijaya Kusumah selaku Sesepuh Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran. Kami tidak tidur sampai subuh karena inilah momen yang tidak boleh dilepaskan dan banyak ilmu serta pengalaman Uyut yang sangat bermanfaat bagi diri kami.

Acara Ngebumbang (foto pribadi)
Beberapa orang yang masih melek mendengarkan petuah Uyut pada acara ngebumbang (foto pribadi)

Keesokan paginya acara dilanjutkan dengan melakukan ziarah ke makam Eyang Krincing Wesi yang merupakan salah satu patih kerajaan Galeuh Pakuan Pajajaran. Karena cuaca tidak yang diikuti dengan hujan deras, rencana melakukan ziarah ke Eyang Jangkung dan Eyang Wali Syekh Jafar Sidiq di gunung Masigit dibatalkan sehingga kami hanya ziarah ke Eyang Krincing Wesi di wilayah gunung Simpay saja.

Tampak jalan basah diguyur oleh hujan deras sebelum berangkat ziarah
Lokasi makam/petilasan Eyang Jangkung yang terhalang penglihatannya oleh kabut pada saat turun hujan (foto pribadi)

Pada malam minggunya, kami mengadakan tawasulan dalam menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW dengan membacakan doa dan Al Fatihah kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, para wali, alim ulama, karuhun sampai kepada orang tua kandung kami yang telah meninggal dunia.

Acara Tawasulan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW 1431 H (foto pribadi)
Kang Tajudin membuka acara tawasulan dengan memberikan keterangan yang detil tentang makna Maulid Nabi SAW dalam perspektif budaya Sunda (foto pribadi)

Seperti biasanya, acara dimulai pada pukul 21.30 dan berakhir pada pukul 00.00 WIB. Selanjutnya dilakukan acara ritual membersihkan diri dengan menggunakan air yang berasal dari mata air keramat sehingga diharapkan tubuh kami menjadi bersih dan mengurangi kotoran-kotoran yang melekat di tubuh dan hati kami.

(bersambung)

Keras Tulang: Apakah Kerasnya Seperti Tulang

Menanggapi tulisan Kawan Syam tentang BINAHONG maka saya akan menuliskan tentang tanaman yang namanya sedikit unik yaitu Tanaman Keras Tulang. Nama latinnya saya kurang mengerti, mungkin ada ahli botani yang bisa menerangkannya.

Awalnya saya mengenal tanaman keras tulang yaitu dari Uyut saya di Sumedang. Saat itu saya sempat terkena penyakit tidak bisa buang air kecil. Memang sudah sejak lama saya mempunyai kelainan organ ginjal. Melihat saya tidak bisa diam dan menahan sakit kalau sudah duduk lama maka uyut memberitahukan kalau ada tanaman yang mungkin cocok buat mengobati penyakit saya.

Oleh Uyut, saya disuruh menunggu sebentar. Rupanya Uyut pergi sebentar ke hutan Gunung Simpai dimana Padepokan kami berada. Setelah beberapa saat Uyut membawa sejenis tanaman yang kalau dilihat tanaman ini sangat familiar tapi setelah dilihat dari dekat ada perbedaannya yaitu batangnya berwarna hitam dan kalau dimakan mentah-mentah rasanya pahit seperti makan buah jambu biji yang belum matang. Uyut menyebutnya keras tulang.

Tumbuhan Keras Tulang (dok.pribadi)

Kemudian tanaman tersebut oleh uyut diambil beberapa batang dan dicuci. Setelah dicuci sampai bersih langsung direbus dengan takaran 4 gelas teh air mentah menjadi 1 gelas teh air rebusan tanaman tersebut. Tunggu sampai hangat-hangat kuku baru diminum. Air rebusan yang diperoleh berwarna hitam pekat seperti air kopi. Tapi ada yang menarik yaitu, keras tulang yang sudah direbus tidak dibuang tapi masih bisa dipakai keesokan harinya hingga air hasil rebusan diperoleh air rebusan berwarna bening.

Setelah minum rebusan pertama, saya mulai merasakan badan agak enakan dan beberapa jam kemudian saya mulai bisa buang air kecil. 3 hari kemudian badan terasa ringan dan segar. Selama 3 hari tersebut, warna air kencing saya berubah dari hitam kecoklat-coklatan sampai bening. Rupanya ada proses pembersihan di dalam tubuh saya. Uyut mengatakan kalau keras tulang memang cocok buat orang yang mempunyai masalah di ginjal. Karena selain berfungsi sebagai antibiotik alami, tanaman ini kalau di alam terbukti akarnya bisa membelah batu dengan proses alaminya.

Yang menariknya lagi tanaman ini juga bisa mengatasi orang yang terkena masalah di organ hati terutama yang terkena liver, hepatitis, lambung dan pencernaan. Tapi dapat juga untuk menambah stamina karena beberapa kali saya minum air rebusan ini pada malam hari keesokan paginya badan terasa segar. Memang agak sulit untuk membuktikannya secara ilmiah dan perlu adanya penelitian tentang khasiat tanaman ini.

Disamping itu tanaman keras tulang tidak mudah ditanam di sembarang tempat kecuali di habitatnya yaitu di gunung Simpai. Beberapa kali saya coba tanam di beberapa tempat termasuk di rumah maka tanaman ini tidak dapat tumbuh dengan baik bahkan cepat layu dan mati. Tidak tahu mengapa bisa demikian. Mungkin perlu ada penelitian kembali tentang lokasi yang tepat secara demografi agar tanaman ini bisa tumbuh dengan baik.

Demikian tulisan ini dibuat sebagai tambahan pengetahuan bagi pembaca. Ini membuktikan bahwa Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati. Siapa lagi yang mau melestarikan dan mencari manfaat kalau bukan kita sebagai anak bangsa pemilik sah bangsa dan negara Indonesia.

Sanghyang Sirah : Sirahnya Pulau Jawa

Sanghyang Sirah ? Ya Sanghyang Sirah, letaknya persis di ujung pulau Jawa atau kepalanyanya pulau Jawa dan posisinya termasuk dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon Propinsi Banten (lebih jelasnya dapat dilihat di WIKIMAPIA). Sirah dalam bahasa Jawa/Sunda berarti kepala.

Sudah sejak lama saya ingin sekali mengunjungi daerah Sanghyang Sirah ini. Beberapa kali tertunda dengan berbagai kendala. Baru tahun 2009 ini, keinginan saya tercapai. Dan ini tidak lepas dari adanya amanah karuhun (leluhur) untuk berziarah ke Sanghyang Sirah. Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa di Sanghyang Sirah terdapat maqam atau petilasan Prabu Siliwangi. Ada yang mengatakan petilasannya Prabu Kian Santang, Prabu Tajimalela, Prabu Sungging Perbangkala dan lain-lain. Tetapi intinya berkaitan dengan para karuhun Sunda khususnya dan karuhun pulau Jawa pada umumnya.

Perjalanan Sanghyang Sirah dimulai dengan bertemunya saya dan rombongan Uyut di Padepokan Banyu Biru, Kampung Sulang, Sepatan, Mauk Tangerang pada hari Jumat (25/12/2009) jam 14.45 WIB. Setelah berkumpul, kami mengadakan rapat untuk merencanakan segala kemungkinan yang terjadi sepanjang perjalanan ke Sanghyang Sirah. Setelah dihitung seluruhnya ternyata rombongan yang pergi berjumlah 14 orang dan diputuskan memakai 2 buah mobil,

Tepat jam 20.00 WIB dengan diiringi oleh hujan gerimis, kami memulai perjalanan ke Sanghyang Sirah. Alhamdulillah sepanjang perjalanan hujan selalu menyertai kami. Dari Tangerang ke Sanghyang Sirah, kami menggunakan rute via jalan tol Jakarta-Merak dan keluar di Serang Timur. Dari Serang, kendaraan menuju Kabupaten Pandeglang dimana Sang Hyang Sirah merupakan bagian dari Kabupaten Pandeglang.

Tetapi untuk menuju ke Sanghyang Sirah hanya bisa dengan 2 jalur yaitu jalur darat dengan jalan kaki melewati Pos Pertama Taman Nasional Ujung Kulon di Taman Jaya yang membutuhkan waktu 3 hari 3 malam dan jalur laut menggunakan kapal nelayan jenis trawl yang singgah di pantai Bidur kemudian perjalanan dilajutkan dengan jalan kaki ke Sanghyang Sirah yang jaraknya tinggal 1 km lagi.

Kami memutuskan untuk mengambil jalur laut. Tetapi sebelumnya harus lapor dulu ke Juru Kunci Abah Syargani di Cipining dan kemudian baru lapor ke Petugas Taman Nasional Ujung Kulon di Pulau Peucang sebelum memasuki kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.

Kami tiba di desa Cipining, Sumur sekitar jam 04.00 pagi WIB (Sabtu 26/12/2009). Karena kondisi hujan deras maka kami sempat beberapa kali kesasar untuk menemukan rumah Abah Syargani, juru kunci Sanghyang Sirah. Setelah istirahat sejenak sambil menunggu hujan reda, pada pukul 07.00 WIB, kami berhasil menemukan rumahnya Abah Syargani.

Rupanya Uyut sudah sangat mengenal Pak Syargani dan terjadilah obrolan ringan sesama kami. Kami disediakan berbagai macam hidangan oleh tuan rumah. Tanpa terasa sudah 4 jam kami berbicara panjang lebar tentang segala hal mengenai Sanghyang Sirah. Kami disuruh menunggu kedatangan kapal nelayan yang dipesan oleh anak buahnya Abah. Tepat pukul 11.00, kami diajak Abah menuju pantai Cipining sebagai tempat merapatnya kapal nelayan yang kami pesan. Memang kapal nelayan tidak bisa langsung merapat ke pinggir pantai yang berpasir. Untuk membawa kami ke kapal trawl tersebut maka digunakan perahu kecil yang kapasitasnya untuk 2 orang dan sangat terbatas beban muatannya. Sambil menunggu barang-barang kami diangkut maka ajang potret memotret menjadi aktivitas kami saat itu. Akhirnya satu persatu dari kami dapat diangkut dan dinaikkan ke kapal nelayan yang berkapasitas untuk 40 orang tersebut. Perlu diketahui selain kami yang berjumlah 14 orang, Abah Syargani menyertakan seorang anaknya dan Kang Ajut, anak buahnya yang berfungsi sebagai tukang masak, pengangkut barang dan lain-lain.

Obrolan Santai Dengan Juru Kunci Sanghyang Sirah Abah Syargani
Menuju Pantai Harus Menyeberangi Sungai

Gaya Dulu Ahhhhh
Foto Bersama Sebelum Berangkat
Perahu Pengantar ke Kapal

Sepanjang perjalanan di laut, banyak pemandangan indah yang dapat dinikmati dan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan alam Indoneia yang cantik. Ada salah satu pengalaman menarik yang saya dapat dari para nelayan disana yaitu mengetahui kedalaman air laut dengan melihat dari warna airnya. Kata mereka, air laut berwarna hijau menandakan kedalamam sampai 75 meter, air laut berwarna biru langit menandakan kedalaman sampai 200 meter dan air laut berwarna biru kehitam-hitaman menandakan kedalaman lebih dari 500 meter.

Setelah beberapa jam perjalanan kami yang diringi dengan hujan deras dan gerimis, akhirnya kami sampai juga di Pulau Peucang untuk melaporkan dan meminta ijin kepada petugas Taman Nasional Ujung Kulon tentang maksud dan tujuan kami ke Sanghyang Sirah yang merupakan daerah yang masuk dalam wilayah Taman Nasional. Kurang lebih 45 menit kami menunggu di Pulau Peucang.

Aktivitas di Kapal
Foto Atas: Kang Ajut (seb.kiri) dan Abah Syargani (seb.kanan) Foto Bawah: ada yang mabuk euy

Tepat pukul 15.50, perjalanan dilanjutkan ke Sanghyang Sirah. Pada awalnya gelombang ombak masih normal dan cuaca sungguh cerah. Tetapi ketika memasuki wilayah Tanjung Layar tiba-tiba, cuaca berubah menjadi pasang dan hujan gerimis. Beberapa kali lambung kapal dihantam ombak. Memang tidak salah kami membawa Abah Syargani yang sangat menguasai medan, dengan sigapnya beliau memerintahkan nahkoda untuk balik dan tidak memaksakan untuk melawan alam. Kapal kami dibelokkan kembali dan mencari tempat di pinggir kawasan Taman Nasional. Abah Syargani memerintahkan nahkoda untuk merapat dulu ke pantai Cibom sambil menunggu cuaca dan gelombang laut normal. Jam menunjukkan pukul 16.50 WIB. Setelah berdiskusi sejenak, kami meminta Abah Syargani untuk melanjutkan perjalanan lewat darat karena ada seorang teman dari TNI asal Aceh yang tidak bisa berlama-lama dan sudah harus ada di Aceh pada hari senin pagi (ada tugas mendadak dari Pangdam katanya). Rupanya dari Cibom ke Sanghyang Sirah berjarak 10,2 km (itu baru kata Abah yang sebenarnya lebih dari itu). Akhirnya kami memutuskan perjalanan dengan jalan kaki dan kapal diperintahkan menunggu dan ditambatkan di pantai Cibom.

Persinggahan Pertama di Ujung Kulon

Rupanya medan yang kami hadapi tidak semudah yang dibayangkan. Dari Cibom, kami memasuki hutan Taman Nasional yang berstruktur bukit dan masih asri karena jarang dilewati sehingga perlu dilakukan pembabatan tumbuhan-tumbuhan yang menutupi jalan setapak yang telah dibuat sebelumnya. Naik turun bukit yang cukup melelahkan membaut saya agak kelelahan (harap maklum sudah lama tidak olahraga dan tubuh juga tambun. Jadi sudah susah bawa badan ditambah lagi barang bawaan hehehe). Sekitar perjalanan 1 jam akhirnya kami sampai di pantai Ciramea dengan panorama indah menjelang malam. Di Ciramea kami istirahat dulu dan Kang Ajut mulai sibuk membuat air minum, memasak ikan, mie instan dan sebagainya. Setelah perut kenyang, ba’da Isya kami melanjutkan perjalanan ke Sang hyang Sirah.

Karena kondisi gelap gulita dan medan yang dilalui cukup berat dengan tanjakan dan turunan yang membuat kaki bisa sampai ke dada. Saya dan seorang teman, Pak Singgih merasakan keletihan yang luar biasa. Saya merasakan kaki seperti tidak mau digerakkan dan Pak Singgih merasakan kepala pusing seperti dunia berputar. Lagi pula ada hal aneh, beberapa kali Abah Syargani kebingungan mencari jalan yang biasa dilalui dan kesasar beberapa kali. Akhirnya oleh Uyut diperintahkan untuk berhenti dahulu karena Beliau menganggap saya dan Pak Singgih sudah tidak bisa dipaksakan untuk melanjutkan perjalanan. Beliau menduga ada hal-hal yang aneh yang membuat kami seperti berputar-putar di dalam hutan Taman Nasional.

Setelah beberapa menit, Uyut memutuskan saya, Pak Singgih, Budi (anak kandung Pak Budi), Jali (supir), Abah Syargani dkk (7 orang) untuk tinggal di tempat. Sementara beliau dengan 10 orang lainnya melanjutkan perjalanan). Kami diperintahkan untuk menunggu beliau sampai balik kembali dari Sanghyang Sirah. Karena sudah keletihan tanpa terasa kami semua tertidur di tengah hutan tanpa ada rasa takut. Tanpa terasa juga, jam 04.00 pagi (27/12/2009) kami terbangun dan sudah tampak air kopi di hadapan kami. Langsung saja kami menikmati kopi yang dibuat oleh Kang Ajut. Kemudian Abah Syargani menyuruh saya dan Pak Singgih untuk berbaring sejenak dan Abah mengurut kaki kami supaya dapat melanjutkan perjalanan.

Kami sempat bertanya kepada Abah untuk menunggu Uyut sesuai dengan perintahnya. Tetapi kata Abah, uyut dan rombingan belum sampa. Benar saja baru menaiki satu bukit dengan tanjakan yang curam, tiba-tiba terdengar suara Pak Lili (salah seorang rombongan Uyut) memanggil nama saya dan diikuti oleh 2 orang lainnya. Pak Lili mengatakan bahwa Uyut menyuruh kami untuk meneruskan perjalanan dan beliau tidak akan ke Sanghyang Sirah alias balik ke Cibom bersama 6 orang lainnya.

Kok bisa begitu ya ? Itulah yang sempat terpikir dalam otak saya. Rupanya ada maksud tertentu yang tidak mau diungkapkan oleh Uyut. Akhirnya persis berjumlah 7 orang (sisa orang dari rombongan yang tadinya berjumlah 14 orang) melanjutkan perjalanan ke Sanghyang Sirah.

Dengan perasaan pasrah dan ikhlas, akhirnya tepat pukul 11.40 WIB saya dan Pak Lili sampai di Sanghyang Sirah sebagai rombongan terakhir dengan kondisi yang sangat lelah dan lapar. Kemudian kami melepaskan lelah dengan membuat minuman sesuai dengan kesukaan masing-masing. Ada beberapa yang makan roti dan biskuit yang tersisa dari perjalanan panjang tersebut. Kebetulan di dekat persinggahan tersebut ada sungai yang airnya sejuk, menyegarkan dan dingin sehingga membuat kami membersihkan dan mendingnkan tubuh kami terlebih dahulu di sungai tersebut.

Panorama Sepanjang Perjalanan ke Sanghyang Sirah
Pulau Karang di dekat Sanghyang Sirah

Tepat pukul 12.30, kami memasuki wilayah petilasan Sanghyang Sirah yang sangat dikeramatkan oleh beberapa kalangan yang mempunyai perhatian terhadap sejarah nenek moyang atau karuhun Sunda. Tampak sebuah tebing tinggi dan sebuah mushola yang sekaligus sebagai tempat istirahat. Selain itu persis di pinggir pantai tamapak berdiri tegak 2 buah pulau karang yang sangat indah pemandangannya.

Setelah menunggu sejenak, kami disuruh Abah Syargani untuk mandi terlebih dahulu di sumur dari mata air Saman yang letaknya di depan pintu masuk gua Sanghyang Sirah yang dikeramatkan. Kemudian kami melakukan ritual Rasulan sesuai dengan adat Sunda dengan berbagai macam sajian penghirmatan kepada karuhun dan juga ungkapan rasa bersyukur kami karena dengan perlindungan Allah maka bisa sampai dengan selamat di Sanghyang Sirah.

Mata Air Saman
Rasulan: Ungkapan Rasa Syukur kepada Karuhun Karena Selamat Sampai Sanghyang Sirah
Beberapa Menu Makanan Dalam Rasulan

Setelah itu kami diajak Abah Syargani masul ke dalam gua Sanghyang Sirah. Di dalam gua kami dilarang melakukan aktivitas pemotretan dan harus melepas alas kaki. Tepat di depan petilasan yang katanya petilasan Prabu Siliwangi, kembali kami melakukan doa dipimpin oleh Abah Syargani.

Selanjutnya kami diajak masuk ke dalam lokasi yang masih dalam gua keramat tersebut. Namanya lokasi Batu Qur’an, tampak sebuah batu yang berada ditengah kolam air yang katanya air tersebut berasal dari 4 mata air yang berada di 4 sudut kolam tersebut. Kemudian satu persatu kami dimandikan oleh Abah dan disuruh melakukan tawaf (berjalan mengelilingi layaknya mengelilingi Ka’bah pada ibadah haji) sebanyak 7 kali sambil mengucapkan shalawat nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah seluruh kegiatan ritual di dalam gua keramat tersebut dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar. Abah mengatakan bahwa disitulah pusatnya ilmu secara spiritual di pulau Jawa dan dengan dimandikannya kami maka diharapkan terbukalah pikiran/wawasan berpikir yang ada di dalam otak tentang jati diri dan mengerti tentang asal usul kita sebagai manusia ciptaan Allah SWT.

Gua Sanghyang Sirah

Karena saat itu, sudah ada rombongan lain yang menunggu dimandikan Abah maka kami disuruh untuk jalan terlebih dahulu dan menunggu Abah di pantai Bidur. Setelah mempersiapkan segalanya, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Bidur untuk menunggu Abah dan sekalian melihat kapal nelayan yang mungkin bisa membawa kami ke pantai Cibom. Satu jam kemudian tampak rombonga Abah sudah datang ke pantai Bidur untuk menemui kami. Setelah melihat-lihat sekeliling laut dan tidak ada kapal nelayan yang lewat dan lagipula waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB maka Abah menyuruh kami untuk menunggu di pantai Bidur. Sementara itu Abah dkk melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke pantai Cibom dan menyuruh kapal kami yang ditambatkan disana untuk menjemput kami walaupun malam haripun kami akan dijemput.

Akibat cuaca yang kurang mendukung dengan hujan yang sangat deras dan diikuti oleh gelombang laut yang pasang maka kami mengambil kesimpulan bahwa kapal kami tidak mungkin dapat menjemput kami. Untuk itulah sebelumnya kami sudah menyiapkan tempat dan membangun saung sederhana dengan atap daun sejenis kelapa sebagai tempat berteduh kami malam harinya.

Tanpa terasa kami ketiduran dan tepat jam 7 pagi (28/12/2009), sebuah kapal mendekati pantai Bidur. Dan benar dugaan kami bahwa kapal tersebut adalah kapal kami yang akan membawa kami kembali ke pantai Cipining dimana dari tempat itulah kami memulai perjalanan. Wao sebuah perjalanan yang luar biasa menurut kami serta penuh dengan perjuangan yang melelahkan. Sesampainya di kapal kami merasakan kepuasan dan rasa syukur yang amat sangat kepada Allah SWT serta ucapan terima kasih kepada para orang tua kami yang turut mendokan kami sepanjang perjalanan spiritual ini.

Sesampainya di Cipining, kami langsung pamit kepada orang-orang yang telah membantu kelancaran perjalanan ini. Rupanya Uyut dan 6 orang teman kami telah pulang dan menunggu kami doi Padepokan Banyu Biru Kampung Sulang, Sepatan, Mauk Tangerang. Langsung saja kami meluncur ke Tangerang, persis jam 19.00 WIB, kami tiba di Padepokan dan sudah banyak sekali orang yang menyambut kedatangan Kami. Bak pahlawan yang disambut dengan meriahnya. Begitu sampai langsung kami bertujuh melakukan sungkem lepada Uyut dengan perasaan gembira dan haru.

Selanjutnya Uyut melakukan acara selamatan atas keberhasilan kami sampai di Sanghyang Sirah dan kembali dengan selamat tiba di Padepokan Banyu Biru. Setelah itu, kami bisa santai dan menceritakan pengalaman kami kepada para tamu yang hadir. Sungguh sebuah kepuasan lahir dan batin. Dan tanpa terasa obrolan santai tersebut membuat kami tidak bisa tidur sampai pagi harinya.

Pukul 09.00 WIB (29/12/2009), saya dan rombongan lainnya pamit diri kepada Pak Singgih, pendiri Padepokan Banyu Biru dan mengucapkan terima kasih atas segala pelayanannya kepada kami dengan baik.

Syukuran Atas Kembalinya Rombongan Dengan Selamat Sampai di Rumah
Foto-foto dan Obrolan Santai Melepas Lelah Sebelum Pulang Ke Rumah Masing-masing

” SAYA INI ORANG TUA, BUKAN DUKUN…..DASAR JALMA GELO !!!!!! “

Seperti menjadi suatu kebiasaan/tradisi pada setiap menjelang pemilihan umum baik pemilihan caleg secara nasional maupun daerah dan pemilihan kepala daerah.


Beberapa bulan terakhir ini, Uyut saya dengan padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran sering didatangi oleh orang-orang yang punya hajat ingin menjadi anggota legislatif maupun kepala daerah bahkan mau jadi camat atau lurah. Mereka berpikir bahwa Uyut mempunyai kemampuan yang dapat mewujudkan segala keinginan dan cita-cita mereka.


Sebagai orang tua, sudah pasti Uyut akan menyambutnya dengan baik dan bersahaja. Cuma masalahnya, mereka yang merasa terhormat itu kurang mengerti dan bersikap santun dengan uyut sebagai orang tua. Banyak yang sudah berhasil maka setelah itu menghilang tanpa bekas dan tidak pernah lagi bersilaturahmi. Memang itu adalah hak mereka untuk tidak kembali lagi. Mungkin mereka menganggap kami bukan siapa-siapa dan hanya ingin memenuhi rasa keingin tahuan mereka saja.

Uyut Ohan Wijaya Kusumah (dok.pribadi)

Tetapi minggu lalu adalah puncak kemarahan, kegelisahan, kegalauan dan semua emosi Uyut terhadap mereka-mereka yang punya niat mencalonkan diri jadi anggota parlemen yang terhormat dan kepala daerah. Begini ceritanya :

Bertepatan Padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran menyelenggarakan perayaan Maulud nabi Muhammad SAW, satu per satu berdatangan para caleg dengan berbagai macam atribut/bendera di mobil mereka dan diikuti oleh tim suksesnya. Wao jadi ramai nich acara Maulud Nabi-nya (pikir saya saat itu). Saya dan tamu yang datang sudah dapat menebak maksud dan tujuan mereka datang ke acara tersebut.

” Uyut, perkenalkan saya dari Partai A/B/C dan seterusnya “

” Maksud kedatangan kami, ingin meramaikan acara Maulud Nabi ini “

” Apa yang bisa kami bantu agar acara ini bisa sukses….. “

Hahahahahaha saya hanya bisa tertawa dalam hati dan membuat saya tidak bisa menahan tertawa saat Uyut mengatakan

” Uyut mah sering kedatangan orang dari mana saja baik Partai A, Partai B, partai C dst sampai Partai yang tidak lulus verifikasi KPU bahkan baru dalam angan-angan yaitu Partai Grandong dengan Sekjennya Mak Lampir…tuh ketuanya ada disini (sambil menunjuk ke arah saya ….teu balek wakakakakak) “

Mereka dan tim suksesnya datang ke padepokan kami hampir rata-rata dibawa oleh orang-orang yang belum mengerti tentang karakteristik Uyut dan selalu merasa akrab dengan Beliau. Bahkan menjadi sinterklas dengan membagi-bagikan kaos, jaket, bola sepak/voli dan lain-lain dengan embel-embel atribut partai. Itulah mengapa saya sering menghindari dan menjauhi Uyut walaupun kadang-kadang Uyut memanggil saya untuk diperkenalkan kepada mereka sekaligus dipaksa oleh Uyut untuk mendengar ocehan mereka.

Sampai pada hari terakhir perayaan Maulud Nabi yang selalu dilakukan tawasulan/doa bersama, bersalawat (kebetulan tawasulan malam Jumat Kliwon berbarengan dengan Maulud Nabi, sehingga dijadikan satu), satu per satu tamu pulang. Saya pikir tidak ada masalah atau suatu hal yang perlu dibicarakan dengan Uyut. karena saya dan teman-teman rombongan terakhir pulangnya maka sempat kaget ketika Uyut bercerita demikian :

” Tahu ga Cech mengenai para caleg yang datang kesini ”

” Ada apa ya “

” Teu balek, jalma gelo masak mereka pulang nyelonong aja tanpa pamit kepada saya “

” Emangnya mereka pulang kapan Yut ? “

” Ya abis tawasulan jam 1 malam tadi, langsung kabur tanpa pamit atau permisi dulu. Padahal mereka kemarin bersikap manis dan memohon-mohon kepada saya agar keinginannya ya tercapai. Ya sudah sebagai orang tua Uyut doakan saja semalam dalam acara tawasulan semalam.. “

” Berarti Uyut ga ikhlas dong doanya semalam ? “

” Bukannya ga ikhlas, setidaknya ada sopan santun, karena saya ini orang tua bukan dukun tahu !!!! Kalo Uyut itu dukun/paranormal yang ada di koran di TV bolehlah mereka langsung kabur tanpa pamit karena para dukun itu dibayar dengan uang. Uyut ini orang tua yang ikhlas mendoakan kepadsa mereka asal mereka benar-benar menjalankan amanah orang tua berupa amal ibadah yang baik, memperhatikan dan berjuang untuk orang-orang yang diwakilkannya dan lain-lain. Yang parahnya, tanpa seijin Uyut mereka menaruh barang di dalam kamar pusaka lagi “

” Apa tuh Yut ? “

” Buku QS Yassin dengan gambar-gambar partai mereka, Khan kurang ajar amat Cech masak Tuhan mau disamakan dengan mereka Dasa Geloooo “

” Begini aja Yut, bagaimana kalau ada yang datang lagi kita kenakan tarif Rp 75 juta per orangnya “

” Heeeeehehehehehe benar juga tuh “

” Nanti saya ngatur Yut, 50 juta buat saya, yang 25 juta buat Uyut……..”

” Apa ????? dasar gelo @#$#%^$#^%&$&*(%#$#$ Saya ini orang tua bukan dukun …… “

” Baru tahu kalo Uyut orang tua hahahahaha “

” Dasar Manusia paling Kejam dan keji ….sudah sana ngomong saja ama pohon pisang “

HAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAAAAAA

AAA HAHAHAHAHAHAHA (suara tawa membahana di padepokan Galeuh Pakuan Pajajaran)

NB : Uyut, maafkan kami karena sering kurang ajar, ceroboh dan melanggar amanah orang tua dan doakan kami menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak…..(berharap disumpahin Uyut jadi orang kaya baik kaya harta, ilmu, amal dan masuk surga hehehhehe)

HIDUP JAHE SURADE HIDUP DURENNNNNN !!!!!!!